로그인"Welcome home, Sasha ...." Bayi perempuan mungil Surya dan Sissy akhirnya pulang hari itu dan rumah keluarga mereka begitu ramai, apalagi si kembar David dan Raline juga ada di sana menantikan teman baru mereka. "Adik bayi!" "Adik bayi!" David dan Raline sudah antusias dan melongokkan kepala untuk melihat Sasha. "Oh, lihatlah Sasha Sayang, banyak yang menunggumu!" pekik Sissy. "Sekali lagi selamat, Sissy! Selamat!" Rania terus memeluk sahabatnya dan tidak terhitung berapa kali ia menangis melihat Sissy menggendong bayinya. "Haha, ini membahagiakan tapi kau terus menangis, Rania." "Aku hanya ingat bagaimana kita dulu bekerja bersama di Skyline. Dan persahabatan itu masih sama sampai sekarang kita sudah punya anak." "Oh, kau membuatku ingin ikut menangis, Rania. Kau adalah sahabat terbaikku, Rania!" Sissy memberikan Sasha pada ibunya dan ia pun memeluk Rania juga, sebelum mereka mulai membicarakan perut Sissy yang menggelambir setelah melahirkan. "Apa aku bisa seksi lagi na
"Oek ... oek ...." Setelah drama keganasan sang istri yang membuat Surya terus meringis, akhirnya suara tangisan bayi itu pun terdengar.Seketika rasa sakit yang Sissy alami tadi tidak berarti lagi melihat bayi mungil itu diangkat oleh dokter. Begitu juga Surya. Seketika rasa sakit disiksa oleh Sissy tadi juga terbayar begitu melihat bayi mereka akhirnya lahir juga. "Selamat, Bu, Pak. Bayinya perempuan, lengkap, dan sangat sehat," kata sang dokter sumringah. Air mata langsung mengalir di wajah Surya dan Sissy. "Surya ...." "Anak kita, Sissy. Anak kita ...." "Iya, Surya. Aku ternyata bisa, aku bisa melahirkannya secara normal. Tadi aku takut sekali, Surya. Tapi aku bisa ...." "Kau hebat, kau luar biasa, Sayang." Surya dan Sissy mendadak melow dan akhirnya berpelukan di sana sambil menatap bayi mereka dengan penuh haru. Sementara di luar ruangan, semua orang yang mendengar bahwa Sissy sudah melahirkan langsung bersorak bahagia. "Syukurlah! Cucu kita sudah lahir, Bu." Ibu Sissy
"Untung tusukannya tidak dalam dan hanya menggores di pinggang saja." Dokter akhirnya selesai mengobati luka Raynard di UGD rumah sakit yang ternyata tidak parah sama sekali. Lira sampai tidak percaya mendengarnya. "Dokter yakin tidak parah? Tidak perlu dioperasi? Tidak ada bagian yang terkoyak? Mengapa darahnya banyak sekali?" "Yakin, Bu. Semua sudah diobati, tidak ada masalah. Tinggal menunggu lukanya mengering saja. Darahnya tidak sebanyak itu, jumlahnya normal. Mungkin karena di kemeja putih, jadi seolah sangat banyak." Lira mengerjapkan mata sambil bernapas lega. "Ah, baiklah, terima kasih banyak, Dokter." "Baiklah, aku permisi dulu!" Setelah dokter pergi, Raynard mengembuskan napas panjangnya. "Untung aku tidak jadi meninggal, Sayang." Lira yang mendengarnya bersyikur, tapi tetap ada yang janggal, tadi Raynard benar-benar seperti sekarat. "Jadi ... kau tidak sekarat?" "Hei, kau mau kekasihmu ini sekarat?" "Tidak, bukan begitu. Hanya saja, kupikir ....""Jangan memikirk
"Polisi sudah siap, Surya?" "Mereka sudah di belakang." "Bagus! Langsung kurung gudang itu dan jangan biarkan satu pun lolos. Raynard sudah di sana menyusul Lira." "Baik, Pak." Surya melajukan mobilnya makin cepat sambil memberi instruksi pada para polisi yang mengikuti di belakang.Sementara itu, di dalam gudang, suasana masih hening. Bos rentenir terdiam melihat tas uang dan langsung meminta anak buahnya mundur. "Kau benar-benar membawa uangnya?" "Tentu saja! Ada di sini!" Suara Lira bergetar. Sang bos memberi kode anak buahnya untuk mengambil uangnya, tapi Lira memeluk tasnya erat-erat. "Tidak! Lepaskan dulu Ruli dan Dinda baru aku akan memberikan uangnya," seru Lira dengan gagah berani. Bos rentenir tertawa. "Kau pikir aku bodoh, hah? Kau mau menipuku? Ambil uangnya!" titah sang bos lagi. Namun, Lira buru-buru mengeluarkan amplop dari tasnya. "Sudah kubilang ini uangnya." Lira mengeluarkan bendel uang itu dan bos rentenir terdiam lagi. "Baiklah, itu memang uang. Tapi be
"Apa yang terjadi, Raynard?" Suara Lucas memecah keheningan setelah Raynard menutup teleponnya. "Apa yang terjadi pada Lira, Raynard?" tanya Rania juga dengan kecemasan yang sama. Raynard sudah bangkit berdiri dari duduknya dan tatapannya sangat cemas. "Lira dalam bahaya, aku harus menolongnya." Jantung Rania seperti jatuh ke perutnya. "Apa maksudmu dalam bahaya?""Adiknya membuat masalah dengan rentenir. Ada wanita yang diculik, dan Lira pergi menyelamatkannya. Aku harus pergi sekarang!" Tanpa basa-basi lagi, Raynard langsung melesat pergi. Sementara Lucas langsung bangkit berdiri juga. "Aku akan menyusulnya! Siapkan orang dan panggil polisi, Surya!" "Baik, Pak!" "Surya!" seru Sissy cemas. "Aku mau melahirkan! Hati-hati ya!" "Aku akan hati-hati! Tolong temani Sissy, Rania!" "Aku akan menemaninya." Dan para pria pun menghilang dengan cepat. "Ya Tuhan, mengapa ada hal seperti ini di hari bahagia ini? Mendadak perutku mulas memikirkannya, Rania!" "Tenang, Sissy! Tidak akan
Dinda melajukan motornya pulang malam itu. Ia sekantor dengan Ruli dan mereka pulang di jam yang sama. Sudah lama Dinda menyukai Ruli, tapi akhir-akhir ini, Dinda mulai merasa lelah. Ia memang bukan orang kaya sedangkan Ruli menyukai wanita kaya. Dinda mulai pasrah, walaupun hatinya masih belum berubah. Karena itu, saat melihat Ruli mendadak diserang oleh dua pria yang entah siapa, hati Dinda bergejolak. Selain memang hatinya yang baik, tapi yang di sana adalah pria yang ia sukai. Dinda ketakutan dan sangat cemas, apalagi ia melihat bagaimana para pria itu memukuli Ruli. Dinda menoleh ke sekeliling dan tidak ada siapa pun di sana. Ia sempat menelepon polisi, tapi entah itu nomor yang benar atau tidak karena tidak ada yang mengangkatnya. Dan Dinda tidak bisa menunggu. Ia pun akhirnya mengambil keputusan untuk menyelamatkan Ruli. Bukan agar dicintai oleh pria itu, tapi ia tidak akan tega membiarkan Ruli diserang. Dinda masih berpikir para pria itu adalah perampok. Tin tin tin tin .
Raynard tidak pernah menyangka ia akan bertemu dengan Lira. Lagi-lagi secara kebetulan. Sejak Lira keluar dari mobilnya dan menutup pintu mobil dengan penuh emosi, Raynard sudah melihatnya. Dinding kafe itu dari kaca sehingga Raynard bisa melihat kondisi di luar. Raynard takjub dan tersenyum keci
Lira melangkah dengan percaya diri masuk ke ballroom hotel. Beberapa orang yang mengenalinya langsung menyapanya. "Selamat malam, Bu Lira." "Selamat malam, Pak." "Bu Melinda tidak datang?" "Iya, aku mewakilinya."Lira pun tersenyum dengan ramah dan langsung mengobrol dengan orang yang dikenalny
Lira tidak sempat berpikir lagi saat tangannya ditarik oleh Raynard. Ia hanya mengikuti langkah itu sampai akhirnya Raynard membawanya masuk ke mobil. Dengan cepat, Raynard melajukan mobilnya dan Lira tidak bisa protes lagi. Tidak ada waktu untuk protes karena debaran jantungnya tidak karuan. Hany
Raynard masih mematung di tempatnya, belum benar-benar mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sampai tidak lama kemudian, suara Lira terdengar duluan. Untung saja Lira sudah melepaskan tangannya dari Raynard atau akan terjadi salah paham di sana. "Selamat malam semua," sapa Lira sambil menunduk sop







