Início / Romansa / Sentuhan Panas Editorku / Editor yang menyebalkan

Compartilhar

Editor yang menyebalkan

last update Última atualização: 2025-11-28 17:52:03

“Halo. Wildan?”

“Siapa ini?” Suara di seberang menjawab. Berat, dalam, dan terdengar seperti suara yang tidak pernah tersenyum.

“Halo, ini Meysa. Meysa Haryani. Penulis Secangkir Kopi dan Rindu yang Menguap … atau yang sekarang jadi Kehangatan Rudal Paman Mantanku!” seru Meysa, nadanya langsung melengking tinggi, kontras tajam dengan ketenangan yang menyelimuti suara Wildan.

Terdengar jeda singkat di seberang, diikuti helaan napas berat. “Oh, Kak Meysa. Aku sudah menduga panggilan ini datang. Ya, aku yang mengubahnya. Kamu pasti ingin tahu kenapa novel idealis kamu yang gak laku itu mendadak jadi hot commodity dan populer, pencarian nomer satu di PenaKata.”

“Kenapa?! Editor macam apa yang mengubah novel idealis tentang deskripsi hujan dan melankolia menjadi novel dewasa, Wildan?! Dan judulnya?! Kehangatan Rudal Paman Mantanku?! Astaga! Kamu tahu nggak itu melanggar integritas moralku sebagai penulis?” Meysa memekik. Ia melangkah mondar-mandir di antara sofa lusuh.

“Integritas moral katamu? Mari kita bicara angka, bukan fantasi murahan. Tiga tahun, dan novel idealis kamu hanya dibaca kurang dari sepuluh ribu kali. Itu namanya gagal idealis,” balas Wildan, suaranya tetap tenang, terkontrol, dan menghina.

“... Setelah aku lakukan penyesuaian pasar yang kamu sebut perusakan, novel kamu mencapai 3,4 juta tayangan dalam waktu kurang dari enam bulan, duduk di puncak popularitas, dan sekarang diincar ViewMax untuk adaptasi serial. Itu berarti ratusan juta, Meysa. Aku menyelamatkan karya kamu dari kuburan digital dan membuatnya jadi mesin uang.”

“Apa? ViewMax?”

“Iya. Kanal film streaming berbayar. Kita bisa bekerjasama dengan mereka. Mereka menawarkan ratusan juta.”

Meysa terhenyak. Langkahnya terhenti. Pipinya terasa panas, menyadari kebenaran pahit itu. Ratusan juta.

“Kamu mencuri dan merusak karyaku! Aku tidak mau bekerja di bawah kendali penuhmu!” tuntut Meysa, suaranya tercekat. “Dan hentikan memanggilku dengan sebutan Kak Meysa! Aku bukan kakakmu!”

Wildan tertawa kecil, tawa kering yang terdengar seperti gesekan ampas kopi di dasar cangkir. “Tentu. Aku mengerti. Kamu seorang penulis idealis yang menjunjung tinggi emosi. Tapi ingat, Meysa, kita bicara bisnis di sini. Aku tidak bisa menjelaskan semua detailnya hanya lewat telepon, itu terlalu membuang waktuku.”

Wildan menjeda. “Jika kamu ingin semua informasi lengkap, semua data penjualan, dan semua alasan logis mengapa aku mengambil keputusan yang secara finansial menguntungkan kamu ini, datanglah ke kantor PenaKata hari ini, jam sepuluh. Kita bicara tatap muka.”

Meysa mengepalkan tangan, kuku-kukunya menancap di telapak tangannya. Ia menelan ludah pahit, membiarkan naluri bertahan hidup menguasai logikanya. Ini adalah kesempatannya untuk melihat langsung apa yang telah dilakukan Wildan pada karyanya.

“Oke! Aku akan datang!” desisnya, suaranya hampir tak terdengar. “Hari ini jam sepuluh pagi. Aku akan menuntut kamu untuk mengubah kembali semua isinya.”

“Kita lihat. Sampai jumpa, Meysa.” Panggilan terputus.

Meysa menjatuhkan ponselnya ke sofa lusuh. Rasa frustrasi dan kemarahan memuncak. Pria arogan itu benar-benar harus diberikan pelajaran.

Ia segera membersihkan dirinya dan mulai memilih pakaian. Jika dia akan bertemu dengan editor yang arogan, yang kini bertanggung jawab atas ratusan juta rezekinya, dia tidak bisa datang dengan penampilan biasa. Ini adalah pertarungan harga diri dan profesionalisme.

Meysa mengeluarkan kemeja putih terbaiknya dan rok hitam formal selutut. Pakaian yang selalu ia kenakan saat menghadiri acara seminar kepenulisan.

Setelah mengenakan pakaian rapi tersebut, Meysa berdiri di depan cermin. Ia memandangi pantulan bayangan dirinya yang mengenakan kemeja putih, rok hitam, dan sepatu flat yang bersih. Penampilan formal yang ia paksakan demi menutupi kecemasan internalnya.

***

Meysa akhirnya sudah tiba di gedung perkantoran PenaKata. Dia datang dua belas menit lebih awal. Lobby kantor itu mewah, berbanding terbalik dengan rusunnya yang kumuh.

Saat ia melangkah masuk, seorang pria sudah berdiri di dekat meja resepsionis, seolah memang menunggunya. Pria itu tampak familiar dari foto profil W******p yang sempat ia lihat.

Wildan.

Dia adalah pria dengan tinggi sekitar 178 cm, tampan dengan pesona yang dingin. Wajahnya keras, rahang tegas, dan matanya yang tajam seakan menembus Meysa. Ia mengenakan kemeja biru tua yang pas di badan, dan menunjukkan sedikit otot di lengan bawahnya. Auranya terasa dominan, seorang pria yang terbiasa memegang kendali.

Meskipun minim senyum, penampilannya yang rapi dan tatapannya yang intens memberikan kesan yang kuat. Meysa mengakui, Wildan adalah pria yang sangat menarik.

Wildan mendongak, matanya yang gelap bertemu dengan mata Meysa. Senyum tipis, nyaris tidak terlihat, terukir di bibirnya. Senyum yang tampak seperti ejekan, bukan sambutan hangat.

“Tepat waktu. Aku suka disiplin,” kata Wildan, suaranya berat dan maskulin, persis seperti yang Meysa dengar di telepon.

Ia melangkah mendekat, memutar tubuh untuk meneliti Meysa dari ujung rambut hingga kaki.

“Pakaianmu bagus. Kemeja putih dan rok hitam. Rapi sekali, seperti … anak magang baru di hari pertamanya.”

Pujian dengan nada merendahkan itu langsung membakar amarah Meysa. Dia datang sebagai penulis yang karyanya bernilai jutaan, bukan sebagai karyawan magang.

Meysa menarik napas, berusaha menjaga profesionalisme, tetapi bibit ketidakakuran di antara penulis idealis dan editor yang pragmatis itu sudah mulai tumbuh.

“Aku Meysa Haryani. Dan aku di sini bukan untuk magang,” balas Meysa tajam, membalas tatapan Wildan tanpa gentar. “Aku di sini untuk membahas karya yang kamu ubah seenaknya.”

Wildan tidak terkejut dengan nada bicara Meysa. Ia justru menyeringai sedikit, seolah menikmati perlawanan itu.

“Bagus. Kalau begitu, mari kita bicara bisnis. Ruang rapat ada di lantai atas. Ikuti aku, Penulis Rudal.”

Bersambung

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Sentuhan Panas Editorku   Epilog - Bulan madu Meysa dan Wildan

    Epilog,Deburan ombak di Pantai Uluwatu terdengar seperti musik latar yang menenangkan bagi siapa pun, tapi bagi Meysa, itu adalah suara inspirasi. Di sebuah resor mewah yang bertengger di atas tebing, Meysa duduk bersila di atas daybed empuk. Alih-alih menikmati kelapa muda atau memandangi laut biru yang membentang luas, jarinya justru menari-nari lincah di atas keyboard laptop."Sedikit lagi ... satu paragraf lagi …," gumamnya dengan dahi berkerut serius.Tiba-tiba, sebuah bayangan tinggi menutupi layar laptopnya. Meysa mendongak dan mendapati Wildan berdiri di sana, hanya mengenakan kemeja linen putih yang kancing atasnya terbuka dan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Pria itu memegang sebuah jam tangan dengan ekspresi yang sangat kental seperti seorang ... editor."Waktu istirahat sudah lewat lima belas menit, Meysa Haryani Atmadja," suara berat Wildan menginterupsi.Meysa meringis, memberikan senyum paling manis yang ia punya. "Tanggung, Wil! Adegan ini lagi se

  • Sentuhan Panas Editorku   TAMAT

    Dua hari setelah badai di dermaga itu berlalu, udara pagi terasa jauh lebih ringan bagi Meysa. Meskipun proses hukum terhadap Mira Atmadja dan Lia Zanetti masih berjalan panas di luar sana, Meysa merasa beban di pundaknya mulai terangkat satu per satu. Namun, masih ada satu kepingan teka-teki yang mengganjal hatinya, Siapa pria yang membawanya ke panti asuhan dan memberikan peringatan keras demi keselamatannya?Di dalam mobil mewah milik Surya Atmadja, suasana terasa hening namun tidak lagi mencekam. Meysa duduk di kursi belakang, tangannya digenggam erat oleh Wildan. Kehangatan telapak tangan suaminya itu selalu menjadi jangkar bagi Meysa agar tidak hanyut dalam kegelisahan."Kamu gugup?" bisik Wildan pelan, hanya untuk telinga istrinya.Meysa menoleh, memberikan senyum tipis yang tampak sedikit dipaksakan. "Sedikit. Aku cuma nggak nyangka kalau jawaban dari pertanyaanku selama dua puluh tahun ini ada di depan mata."Surya yang duduk di kursi depan menoleh sebentar. Wajah pria itu t

  • Sentuhan Panas Editorku   Ketahuan!

    Malam semakin larut, namun udara di sebuah dermaga pribadi di pinggiran Jakarta terasa jauh lebih membekukan dari pada rintik hujan yang tersisa. Lia Zanetti berdiri gelisah, merapatkan jaket mantelnya sambil sesekali melirik jam tangan. Pukul 11.05 malam.Suara deru mobil mewah memecah kesunyian. Sebuah sedan putih berhenti beberapa meter dari tempat Lia berdiri. Pintu terbuka, dan seorang wanita paruh baya dengan keanggunan yang dingin melangkah keluar. Dia adalah Mira Atmadja, istri Surya Atmadja.Lia tersenyum sinis, mengangkat amplop cokelat di tangannya. "Ternyata Anda benar-benar datang, Nyonya Mira. Saya pikir Anda akan lebih memilih tidur nyenyak di mansion mewah Anda."Mira menatap Lia dengan pandangan merendahkan. "Cukup omong kosongnya, Lia. Berikan dokumen itu dan sebutkan hargamu. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni penulis picisan seperti kamu."Lia tertawa, langkahnya maju mendekati Mira. "Picisan? Mungkin. Tapi dokumen di tangan saya ini adalah tiket menuju pe

  • Sentuhan Panas Editorku   Nama asli Meysa

    Di sisi lain kota, Surya Atmadja berdiri di balkon rumah utamanya. Rumah megah itu kini terasa sangat luas dan hampa. Ia menatap taman yang diterangi lampu temaram, membayangkan seorang gadis kecil berusia dua tahun berlari-lari di sana dua dekade lalu."Tuan, semua sudah siap," suara Baskara menginterupsi lamunannya. "Pengamanan di sekitar apartemen Meysa sudah diperketat tanpa mereka sadari. Saya juga sudah menugaskan tim untuk memantau pergerakan Lia Zanetti."Surya berbalik, wajahnya yang berwibawa tampak sangat lelah. "Dia sangat mirip dengan Sheila, Baskara. Cara dia membela dirinya tadi di depan Adam ... itu benar-benar jiwa Sheila yang ada padanya.""Nona Meysa adalah wanita yang kuat, Tuan. Dia sudah melewati banyak hal sendirian," ujar Baskara tenang."Itu yang membuatku sedih," desis Surya. "Dia harus menderita di panti asuhan dan bekerja keras sebagai SPG, sementara orang yang menyebabkan kecelakaan itu mungkin sedang bersantai di suatu tempat."Surya mendekati mejanya, me

  • Sentuhan Panas Editorku   Orang dalam?

    Malam merangkak pelan menyusuri jalanan Jakarta yang masih basah. Di dalam taksi yang membawa mereka menjauh dari gedung PenaKata, Meysa menyandarkan kepalanya di bahu Wildan. Matanya terpejam, tapi pikirannya berputar hebat. Kejadian di ruangan Pak Adam tadi terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata. Bagaimana mungkin hidupnya yang selama ini terasa 'kosong' mendadak dipenuhi oleh silsilah keluarga konglomerat yang paling berpengaruh di industri literasi?Wildan menggenggam tangan Meysa, sesekali mengusap ibu jarinya di punggung tangan istrinya itu. Ia bisa merasakan denyut nadi Meysa yang masih cepat."Masih pusing?" tanya Wildan lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh suara deru mesin taksi dan rintik hujan yang kembali turun.Meysa membuka matanya sedikit, menatap pantulan lampu jalanan pada jendela mobil. "Rasanya aneh, Wil. Tiba-tiba dipanggil 'Anggita'. Rasanya seperti aku sedang memakai kostum orang lain. Aku merasa ... aku bukan Meysa, tapi aku juga belum siap jadi Anggita.

  • Sentuhan Panas Editorku   Puluhan tahun yang lalu

    "Cukup," suara Meysa keluar pelan, namun getarannya sanggup membungkam perdebatan dua raksasa industri penerbitan di depannya. "Tolong, cukup."Ia menarik nafas panjang, mencoba meredakan gemuruh di dadanya. Matanya menatap Surya Atmadja dengan sorot yang sulit diartikan, campuran antara rindu yang tak disadari dan penolakan yang nyata."Pak Surya ... atau Paman ... saya butuh waktu untuk bernapas. Selama dua puluh empat tahun, saya percaya saya tidak punya siapa-siapa di dunia ini kecuali bayangan saya sendiri. … Saya tumbuh di panti asuhan yang atapnya bocor, saya bekerja jadi SPG sampai kaki saya mati rasa, dan saya dicaci maki saat naskah saya ditolak berkali-kali. Dan sekarang, dalam satu malam yang gila, Bapak bilang saya adalah pewaris tunggal keluarga Atmadja?"Meysa kemudian beralih pada Pak Adam, yang masih tampak syok. "Dan Pak Adam ... terima kasih atas kejujuran Bapak menunjukkan hasil DNA ini. Setidaknya sekarang saya tahu saya bukan anak buangan yang tidak diinginkan.

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status