LOGIN[Senang melihatmu sukses dan akhirnya kaya, Sayang. Tapi aku tidak suka melihatmu dekat-dekat dengan pria lain.]
Meysa terpaku menatap layar ponselnya. Itu pesan dari Dimas. Mantan kekasihnya yang toxic, posesif, dan pengkhianat. Kedua tangan Meysa sedikit gemetar. Perasaan takut dan risih langsung hinggap, hingga bulu kuduknya meremang. Wildan menyadari Meysa tidak mengikutinya. Ia pun menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang. “Hei, penulis Rudal, ayo cepat! Ngapain kamu bengong di sana? Kita harus bicara bisnis ini secepatnya. Aku tidak punya waktu banyak, karena bukan cuman kamus aja penulis yang aku urusin,” katanya dengan nada ketus. “Maaf!” seru Meysa. Ia segera memasukan kembali ponselnya ke dalam tas kulit selempangnya. Ia berjalan cepat dari lobi mewah kantor PenaKata menuju area lift bersama Wildan. Di dalam lift, atmosfer tegang menyelimuti mereka. Kemeja putih Meysa yang licin dan rok hitam formalnya terasa terlalu kaku di samping Wildan yang tampak santai namun dominan. Pintu lift tertutup. Wildan menyandarkan bahunya ke dinding baja. “Masih tersinggung dengan sebutan anak magang?” tanya Wildan, tanpa menoleh, suaranya yang dalam memenuhi ruang sempit itu. Meysa mendengus. “Aku penulis, Wildan. Karya yang kamu ubah itu bernilai ratusan juta. Seharusnya kamu lebih menghormati partner kerjamu. Jadi jangan sepert anak SD yang suka meledek.” Wildan akhirnya menoleh. “Aku sangat menghormati partner yang menghasilkan uang, Meysa. Tapi, dengan penampilan sesopan itu, kamu tidak akan bisa menulis adegan ‘Rudal’ di kantor dengan meyakinkan. Kamu terlalu bersih untuk menulis cerita kotor.” Meysa tak percaya pria dingin yang dominan ini mengatakan dirinya terlalu bersih, dan seolah mendorongnya untuk main ‘kotor-kotoran’. Mulut Meysa sudah terbuka dan hendak menimpali. Namun tiba-tiba terdengar suara lift berdenting. Mereka sudah berada di lantai lima. Begitu pintu terbuka, Meysa langsung menuju ruang meeting yang tidak terlalu luas itu, ia berusaha menjauh dari tekanan Wildan. "Sudah siap belajar bagaimana cara mengubah rindu menjadi uang, Meysa?" sambut Wildan, senyum meremehkan terpampang jelas saat mereka tiba di depan ruang kaca. "Aku datang untuk bekerja, Wildan. Bukan untuk dibimbing," balas Meysa dingin. Wildan membuka pintu dan mempersilakan Meysa masuk. Mereka duduk berhadapan. “Mari kita langsung ke intinya,” ujar Wildan, menunjuk naskah di depannya. “Novel kamu yang berjudul Secangkir Kopi dan Rindu yang Menguap. Judul membosankan yang hanya menghasilkan kurang dari sepuluh ribu tayangan, sudah aku injeksi dengan ‘sentuhan panas’.” Meysa langsung menyambar. “Sentuhan panas? Judul menjijikkan? Kehangatan Rudal Paman Mantanku?! Kamu mengubah esensinya! Novelku idealis tentang melankolia dan hujan, bukan ... main kekotoran!” Wildan bersandar santai, menyilangkan tangan di depan dada. “Aku tidak mengubah esensi secara drastis. Aku hanya menambahkan garnish dan sedikit membelokkan alurnya agar sesuai tren pasar.” Meysa menghela nafas panjang. Air mukanya terlihat tidak nyaman. Wildan sadar Meysa keras kepala. Lalu ia menjentikkan jari ke arah layar ponsel Meysa yang tergeletak di meja. "Aku hanya mengubah sedikit kata-kata dan alur, dan lihat hasilnya: 3,4 juta tayangan. Ini bukti, Meysa. Idealismu gagal, realitas pasar menang.” Meysa terdiam, pipinya memerah karena amarah bercampur malu. Wildan melanjutkan, nadanya kini lebih tenang namun penuh penekanan. “Karena aku mengambil risiko ini, novelmu jadi populer, dan sekarang sedang ditawar untuk diadaptasi menjadi mini-series eksklusif oleh ViewMax. Mereka bahkan sudah meminta Season 2.” Meysa menarik napas, melihat print-out naskah di meja. Ratusan juta. Pindah dari rusun bobrok. Kehidupan yang lebih baik. Kesempatan ini benar-benar tidak akan datang dua kali. Keuntungan yang Wildan tawarkan jauh lebih besar daripada harga diri yang compang-camping. Hening. Terjadi keheningan yang mencekam dalam beberapa menit yang terasa seperti berabad-abad. “Meysa … Ini kesempatan langka, dan tidak mungkin akan ada lagi,” tegas Wildan dengan nada lugas. Meysa mengatupkan bibirnya. Baginya ini adalah keputusan sulit. Begitu bingungnya ia memilih antara tetap menjadi penulis idealis atau penulis realistis? Suasana terasa semakin tegang. Hingga suara detik jam dinding yang menggantung terdengar seperti suara alarm kematian. Kedua mata Wildan menatap tajam Meysa. Akhirinya Meysa menarik nafas panjang dan dalam, lalu menelan ludah. "Oke! Aku terima." Wildan tersenyum tipis. “Keputusan cerdas, Penulis Rudal.” Meysa menghela napas panjang. “Tapi aku tetap tidak suka dengan judulnya.” Wildan mengabaikannya. “Bagus. Karena kita sudah resmi bekerja sama, dengarkan baik-baik. Sesuai kontrak novel eksklusif di PenaKata, aplikasi memiliki hak penuh untuk menunjuk editor dan pemegang proyek adaptasi. Aku bertanggung jawab penuh atas adaptasi Season 1 dan pengembangan naskah untuk Season 2. Dengan novelmu yang dibutuhkan ViewMax, kita akan bekerja sama selamanya.” Kata 'Selamanya' menekan Meysa. Ia harus bekerja dengan pria arogan ini. "Keberatan tidak akan mengubah apa-apa," Wildan memotong. "Tugasku bukan hanya mengedit, tapi mengotori tanganmu agar kamu bisa menulis gairah terlarang dengan meyakinkan.” Selama jam-jam berikutnya, Wildan mendominasi. Ia merangkai ide, mengubah dialog kaku Meysa menjadi percakapan yang menggoda, dan menciptakan alur yang membuat Meysa bergidik ngeri sekaligus kagum. Saat matahari mulai terbenam, Wildan meregangkan tubuh. "Cukup untuk hari ini. Tugasmu: ubah deskripsi hujan yang melankolis itu menjadi deskripsi gairah yang membara," katanya. "Aku akan mencoba," jawab Meysa. "Jangan hanya mencoba. Lakukan. Aku tahu kamu bisa," ucap Wildan, senyum tulus pertama yang Meysa lihat. Senyum itu terasa hangat dan ... menawan. Tepat saat Meysa bangkit, ponsel Wildan berdering. Ia meraihnya, dan Meysa melihat nama yang tertera di layar: Alya – My Wife. Wildan segera berbalik, membelakangi Meysa, dan mengangkat telepon. "Ya, Alya. Aku masih di kantor. Kenapa?" Meysa tercekat. Istri? Tiba-tiba, Wildan kembali menjadi pria terlarang. ‘Oh jadi dia udah punya istri,’ ucapnya di dalam hati. Bersambung"Makasih ya, sudah mau nungguin kabar bareng-bareng. Aku nggak tahu gimana jadinya kalau aku sendirian di sini tadi."Wildan terdiam. Ia tidak langsung menyahut. Matanya hanya tertuju pada jemari Meysa yang gemetar memainkan ujung selimut. Ada dorongan kuat untuk menggenggam tangan itu, namun Wildan hanya mengepalkan tangannya sendiri di atas lutut."Sama-sama," jawab Wildan singkat, suaranya datar namun berat. "Sudah jadi tanggung jawabku memastikan penulisku baik-baik saja."Ia membuang muka, seolah menghindari tatapan Meysa yang terlalu tulus. "Lagi pula, aku juga nggak akan bisa tidur kalau tahu ada orang ketakutan di ruangan yang sama."Meskipun kata-katanya terdengar kaku, Wildan bergerak. Ia berdiri, membetulkan letak selimut Meysa dengan gerakan yang sangat rapi dan protektif, memastikan tidak ada celah udara dingin yang masuk. Tangannya yang sehat sempat menyentuh dahi Meysa sebentar, hanya sepersekian detik untuk mengecek suhu tubuhnya, lalu segera ditarik kembali."Malam in
Wildan akhirnya menyerah pada egonya. Ia menyibakkan kain putih yang selama beberapa jam terakhir menjadi simbol batas suci antara profesionalisme dan perasaan pribadinya.Cahaya lilin yang berada di nakas sisi Meysa seketika menerangi wajah Wildan, memberikan siluet keemasan pada rahang tegasnya."Meys? Tadi kamu panggil, ada apa?" tanya Wildan, suaranya sedikit serak. Ia menggunakan panggilan Meysa tadi sebagai alasan yang aman untuk melanggar batas yang ia buat sendiri.Meysa masih berbaring miring, selimutnya ditarik hingga menutupi separuh wajah. Matanya yang bulat menatap Wildan dengan sisa-sisa kecemasan. Melihat Wildan kini berdiri tanpa penghalang di depan ranjangnya, Meysa merasa dadanya sedikit lebih lapang dan tenang."Aku ... aku cuma nggak bisa tidur, Wil," bisik Meysa pelan. Ia menurunkan sedikit selimutnya, menampakkan bibirnya yang sedikit pucat. "Aku kepikiran Pak Adam sama Kak Fio. Rasanya nggak tenang kalau belum tahu keadaan mereka yang sebenarnya. Gimana kalau lu
Meysa menarik selimutnya hingga menutupi dagu. Hawa dingin Puncak malam ini terasa berkali-kali lipat lebih menusuk karena ia merasa sendirian. Padahal, hanya berjarak satu meter darinya, ada Wildan. Namun, pembatas kain sprei putih itu seolah menjadi tembok raksasa yang memisahkan dunia mereka kembali.Lidah Meysa terasa kelu. Berkali-kali ia membuka mulut, ingin memanggil nama Wildan, ingin memintanya kembali duduk di sisi ranjangnya, atau sekadar memintanya bicara agar suasana tidak semencekam ini. Namun, gengsi yang masih tersisa dan ketakutan akan penolakan membuat suaranya tertahan di tenggorokan.‘Tadi dia bilang 'Aku suamimu', tapi sekarang dia malah balik ke ranjangnya sendiri dengan nada sedingin itu,’ batin Meysa pilu.Ia meratapi betapa cepatnya takdir mempermainkan perasaan manusia. Baru saja mereka tertawa kecil karena cerita hantu bodoh, baru saja ia merasakan debaran jantung yang menggila saat wajah Wildan hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya, kini semuanya beru
"Andi ... asisten Pak Adam yang kirim pesan ini," gumam Wildan, suaranya terdengar hampa. Matanya masih terpaku pada layar ponsel yang menunjukkan detail lokasi rumah sakit di daerah Cisarua, tak jauh dari gerbang tol Gadog.Meysa menutup mulut dengan telapak tangan, tubuhnya gemetar. Rasa benci dan kesalnya pada Fiona menguap seketika, berganti dengan rasa nger dan juga kasihan. "Parah banget ya, Wil? Sampai masuk jurang? Ya Tuhan ... baru saja mereka pergi dari sini."Wildan segera bangkit dari posisi berbaringnya. Ia mengacak rambutnya dengan frustrasi. Instingnya menyuruhnya untuk segera meluncur ke rumah sakit, memastikan keadaan pimpinannya yang sudah dianggapnya seperti orang tua sendiri, sekaligus melihat kondisi Fiona."Aku harus ke sana, Meys. Aku harus lihat kondisi Pak Adam," ujar Wildan cepat. Ia menyambar jaketnya yang tersampir di kursi. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu kamar. Ia terdiam, bahunya merosot lesu saat logika kembali menghantam kepalanya."Tapi ...
“Wildan ... makasih ya buat semuanya. Makasih sudah selalu membantuku, bahkan di saat aku sendiri hampir menyerah sama kelakuanku," ucap Meysa pelan. Suaranya tulus, mengalun lembut di antara suara hujan yang menghantam atap villa.Wildan yang masih menatap langit-langit kamar merasakan dadanya berdesir. Pujian sesederhana itu dari Meysa ternyata punya efek yang lebih dahsyat dari pada bonus tahunan dari Pak Adam. Sudut bibirnya nyaris berkedut membentuk senyuman, namun ia segera mengeraskan otot wajahnya. Gengsi setinggi langitnya masih bertahan kokoh.Ia berdeham kecil, mencoba menormalkan suaranya yang mendadak terasa kering. "Tumben kamu bilang makasih ke aku tanpa disuruh? Kamu ... nggak lagi mabuk anggur lagi, kan?"Pertanyaan itu meluncur begitu saja, berniat untuk mencairkan suasana. Namun, bukannya tertawa, keduanya justru terdiam seketika. Kata 'anggur' seolah menjadi mantra yang menarik ingatan mereka kembali ke beberapa minggu lalu.Kejadian konyol saat mati lampu di apart
"Masih takut?" tanya Wildan. Suaranya terdengar datar, nyaris tanpa emosi, namun frekuensinya yang rendah entah bagaimana berhasil menyusup ke dalam gendang telinga Meysa dengan cara yang menenangkan. Tidak ada lagi nada ejekan terang-terangan seperti sebelumnya, hanya ada sisa-sisa ketegasan yang menjadi ciri khasnya sebagai editor yang dingin.Meysa menggeleng pelan, meski tangannya masih memegang erat lilin putih yang kini menjadi satu-satunya sumber kehidupan di dapur itu. "Sedikit. Tapi lebih mendingan karena ada lilin."Wildan menyandarkan punggungnya ke pinggiran meja dapur, melipat tangan di depan dada. Cahaya lilin yang temaram mempertegas garis rahangnya yang kokoh dan memberikan efek bayangan yang misterius pada wajahnya. "Atau karena ada aku?"Meysa merengut, meski ia tidak bisa menyembunyikan rona merah yang menjalar hingga ke telinganya. "PD banget sih jadi orang. Aku cuma butuh cahayanya, bukan orangnya."Wildan mendengus pendek, sebuah senyum tipis yang sangat sulit d







