Mag-log in
“Aah!”
“Terus Sayang ...!” “Aw … Please ….” “Yes! Baby … Yeees!” Suara racauan dan desahan itu memecah kesunyian malam, terdengar begitu vulgar seolah dinding tipis kamar kos itu tak lagi mampu meredamnya. Bunyi ranjang yang berderit, menyatu dengan nafas memburu dan lenguhan asing, menusuk langsung ke ulu hati Meysa. ‘Tidak! Tidak mungkin!’ Langkah Meysa terhenti tepat di depan pintu kamar kos nomor empat di lantai enam. Sebuah kos-kosan bebas tanpa pengawasan. Meysa mengepalkan tangan hingga urat lehernya menegang. Jantungnya berdentum kencang, memompa amarah yang siap meledak. Dengan sisa tenaga, Meysa menerjang pintu itu. Sayangnya, pintu kayu itu terlalu tebal. Serangan mendadaknya hanya menyisakan nyeri hebat di bahu kanannya. Pintu itu tetap tertutup, seolah mengejeknya dengan suara-suara laknat dari dalam. Meysa tak menyerah. Matanya melirik ke arah Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di sudut koridor. Ia menyambar tabung merah itu dan menghantamkannya sekuat tenaga ke arah daun pintu. Braaaak!! Pintu terbuka. Dunia Meysa seolah berhenti berputar. Dimas, kekasihnya, tampak telanjang dengan seorang wanita di atas ranjang. Keduanya terkesiap, membeku di tengah aktivitas kotor mereka. Asam lambung Meysa naik seketika. Ia mual, namun pandangannya terkunci pada wanita itu. Meysa mengenalnya. Saat netra mereka bertemu, wanita itu tidak menunjukkan rasa malu sedikit pun. Sebaliknya, bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang penuh kemenangan. Senyum itu begitu puas, seolah ia baru saja memenangkan taruhan besar dengan menjadikan hati Meysa sebagai bayarannya. Lutut Meysa lemas. Kepalanya pening. Seluruh tubuhnya mendadak sakit. Kekasihnya berselingkuh dengan Gina, sepupunya sendiri. Meysa tidak menyangka jika alur cerita yang biasa ia tuliskan pada salah satu novelnya, kini menjadi kisah nyata pada kehidupan asmaranya sendiri. *** Kring! Kring! Kring! Suara nyaring ponsel menyentak Meysa kembali dari jurang memori kelam. Ia mengerjap, merasakan peluh membasahi dahi. Ia bukan lagi di depan kamar kos Dimas, melainkan duduk di kursi kerja rumah susun miliknya. Semua itu hanya lamunan. Trauma yang selalu menghantuinya setiap kali ia lengah. Meysa menarik napas panjang dan meraih ponselnya. ‘Vina is calling ....’ "Halo, Vin?" "MEYS! KENAPA LAMA BANGET JAWABNYA, SIH?!" Suara Vina melengking penuh kegembiraan. "Santai, Vin. Kenapa, sih?" "Heh, santai gimana? Ini berita besar! Kamu sekarang mendadak jadi penulis terkenal!" Meysa terkesiap. "A-apa? Jangan bercanda, Vin. Aku ... penulis terkenal?" "Iya, serius! Novelmu meledak di mana-mana! Coba buka aplikasi PenaKata sekarang! Liat Ins ta gram-mu, followers-mu melonjak gila-gilaan! Kamu jadi author papan atas, Meys!" Gemetar, Meysa memutuskan panggilan dan membuka Ins ta gram. Matanya terbelalak. Notifikasi DM menunjukkan angka 99+. Followers-nya melonjak dari 421 menjadi 2.560 hanya dalam semalam. Namun, saat ia menggulir pesan yang masuk, raut wajahnya berubah ngeri. @RajaaHarem88: Wih, Mbak Meysa! Keren banget cerita 'Rudal'-nya. Detailnya nendang! Kapan kita bisa check-in bareng? @_PenegakMoral: Tobat Mbak! Novelmu menjerumuskan. Dasar penulis murahan, jualannya cabul! Calon penghuni neraka! @Ucimaniez98: Mbak, tulisanmu itu bakalan jadi dosa jariah! Penulisnya mantan pengguna michat ya? Meysa merasakan darah naik ke kepala. Rudal? Check-in? Jualan cabul? Ia segera memeriksa kolom komentar di foto lamanya. @MurniSari: Judul lamanya 'Secangkir Kopi'? Hahaha! Bagusan 'Rudal Paman Mantan' ke mana-mana, Mbak! @KritikusJujur: Ternyata kamu penulis ecek-ecek yang rela ganti genre demi uang. Kecewa berat! Jantung Meysa berdebar hebat. Masalah ini bermula dari novelnya yang berjudul Secangkir Kopi dan Rindu yang Menguap. Ia segera membuka aplikasi PenaKata. Di sana, novel lamanya yang biasanya hanya mendapat ribuan tayangan, kini terpampang mencolok dengan angka 3.4 JUTA TAYANGAN! Namun, judul dan sampulnya telah berubah total. Sampul gelap dengan tulisan tebal: KEHANGATAN RUDAL PAMAN MANTANKU: PENGAKUAN SEKRETARIS NAKAL. Wajah Meysa memucat. Ia mengklik Bab 1. Deskripsi hujan yang puitis kini berganti menjadi: “Nafasnya memburu di belakang leherku. Kemeja putihku sudah tak karuan, dan bunyi detak jam dinding seolah menertawakan segala kepura-puraanku sebagai wanita baik-baik ... aku begitu menikmati sentuhannya ....” Ini jelas bukan karyanya. Ini novel erotis murahan! Meysa, sang penulis idealis, merasa integritasnya telah diinjak-injak. Tiba-tiba, sebuah notifikasi DM masuk dari akun anonim dengan fitur “Lihat Sekali”. Dalam kondisi syok, Meysa refleks menekannya. Layar ponselnya menampilkan video pendek seorang pria tanpa wajah yang sedang memuaskan hasratnya sendiri. Fokus utama video itu adalah bagian intim pria tersebut yang tampak sangat vulgar. “AAAKH!” Meysa menjerit histeris dan melempar ponselnya ke lantai. Rasa jijik, marah, dan takut bercampur menjadi satu. Ini sudah melampaui batas! Ia tersadar, badai ini berawal dari satu pihak yang memiliki akses penuh ke naskahnya: Editor! Meysa segera memungut kembali ponselnya dan mencari kontak Ayu, editor yang ia kenal. “Halo, Kak Ayu?” tanya Meysa tanpa basa-basi. “Gawat, Kak! Kenapa judul novelku ganti jadi vulgar? Dan isinya ... kenapa berubah jadi cerita erotis eksplisit kebangetan?!” Suara Ayu di seberang terdengar bingung. “Halo, Meys? Novel yang mana? Aku kan sudah nggak di PenaKata. Aku sudah resign empat bulan lalu buat ngurus pernikahan. Maaf banget aku lupa ngabarin!” Sekujur tubuh Meysa lemas. “Jadi, siapa yang pegang novelku sekarang, Kak?” “Editor penggantiku namanya Wildan. Nanti aku kirim nomornya. Dia agak strict tapi profesional. Kamu hubungi dia saja, ya. Maaf, aku lagi di salon. Bye!” Panggilan terputus. Tak lama, pesan masuk: WILDAN: EDITOR PENGGANTI. 0812-XXXX-XXXX. Meysa menatap nomor itu dengan nafas memburu. Wildan adalah kunci untuk memahami mengapa karyanya yang damai diubah menjadi komoditas panas yang mendatangkan teror. Tanpa ragu, jarinya menekan tombol panggil. Telepon tersambung dalam dua kali dering. “Halo?” Suara berat, bariton, dan sangat maskulin terdengar di seberang sana. Meysa terdiam sejenak, mengumpulkan keberanian untuk meledakkan kemarahannya pada pria bernama Wildan itu. BersambungEpilog,Deburan ombak di Pantai Uluwatu terdengar seperti musik latar yang menenangkan bagi siapa pun, tapi bagi Meysa, itu adalah suara inspirasi. Di sebuah resor mewah yang bertengger di atas tebing, Meysa duduk bersila di atas daybed empuk. Alih-alih menikmati kelapa muda atau memandangi laut biru yang membentang luas, jarinya justru menari-nari lincah di atas keyboard laptop."Sedikit lagi ... satu paragraf lagi …," gumamnya dengan dahi berkerut serius.Tiba-tiba, sebuah bayangan tinggi menutupi layar laptopnya. Meysa mendongak dan mendapati Wildan berdiri di sana, hanya mengenakan kemeja linen putih yang kancing atasnya terbuka dan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Pria itu memegang sebuah jam tangan dengan ekspresi yang sangat kental seperti seorang ... editor."Waktu istirahat sudah lewat lima belas menit, Meysa Haryani Atmadja," suara berat Wildan menginterupsi.Meysa meringis, memberikan senyum paling manis yang ia punya. "Tanggung, Wil! Adegan ini lagi se
Dua hari setelah badai di dermaga itu berlalu, udara pagi terasa jauh lebih ringan bagi Meysa. Meskipun proses hukum terhadap Mira Atmadja dan Lia Zanetti masih berjalan panas di luar sana, Meysa merasa beban di pundaknya mulai terangkat satu per satu. Namun, masih ada satu kepingan teka-teki yang mengganjal hatinya, Siapa pria yang membawanya ke panti asuhan dan memberikan peringatan keras demi keselamatannya?Di dalam mobil mewah milik Surya Atmadja, suasana terasa hening namun tidak lagi mencekam. Meysa duduk di kursi belakang, tangannya digenggam erat oleh Wildan. Kehangatan telapak tangan suaminya itu selalu menjadi jangkar bagi Meysa agar tidak hanyut dalam kegelisahan."Kamu gugup?" bisik Wildan pelan, hanya untuk telinga istrinya.Meysa menoleh, memberikan senyum tipis yang tampak sedikit dipaksakan. "Sedikit. Aku cuma nggak nyangka kalau jawaban dari pertanyaanku selama dua puluh tahun ini ada di depan mata."Surya yang duduk di kursi depan menoleh sebentar. Wajah pria itu t
Malam semakin larut, namun udara di sebuah dermaga pribadi di pinggiran Jakarta terasa jauh lebih membekukan dari pada rintik hujan yang tersisa. Lia Zanetti berdiri gelisah, merapatkan jaket mantelnya sambil sesekali melirik jam tangan. Pukul 11.05 malam.Suara deru mobil mewah memecah kesunyian. Sebuah sedan putih berhenti beberapa meter dari tempat Lia berdiri. Pintu terbuka, dan seorang wanita paruh baya dengan keanggunan yang dingin melangkah keluar. Dia adalah Mira Atmadja, istri Surya Atmadja.Lia tersenyum sinis, mengangkat amplop cokelat di tangannya. "Ternyata Anda benar-benar datang, Nyonya Mira. Saya pikir Anda akan lebih memilih tidur nyenyak di mansion mewah Anda."Mira menatap Lia dengan pandangan merendahkan. "Cukup omong kosongnya, Lia. Berikan dokumen itu dan sebutkan hargamu. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni penulis picisan seperti kamu."Lia tertawa, langkahnya maju mendekati Mira. "Picisan? Mungkin. Tapi dokumen di tangan saya ini adalah tiket menuju pe
Di sisi lain kota, Surya Atmadja berdiri di balkon rumah utamanya. Rumah megah itu kini terasa sangat luas dan hampa. Ia menatap taman yang diterangi lampu temaram, membayangkan seorang gadis kecil berusia dua tahun berlari-lari di sana dua dekade lalu."Tuan, semua sudah siap," suara Baskara menginterupsi lamunannya. "Pengamanan di sekitar apartemen Meysa sudah diperketat tanpa mereka sadari. Saya juga sudah menugaskan tim untuk memantau pergerakan Lia Zanetti."Surya berbalik, wajahnya yang berwibawa tampak sangat lelah. "Dia sangat mirip dengan Sheila, Baskara. Cara dia membela dirinya tadi di depan Adam ... itu benar-benar jiwa Sheila yang ada padanya.""Nona Meysa adalah wanita yang kuat, Tuan. Dia sudah melewati banyak hal sendirian," ujar Baskara tenang."Itu yang membuatku sedih," desis Surya. "Dia harus menderita di panti asuhan dan bekerja keras sebagai SPG, sementara orang yang menyebabkan kecelakaan itu mungkin sedang bersantai di suatu tempat."Surya mendekati mejanya, me
Malam merangkak pelan menyusuri jalanan Jakarta yang masih basah. Di dalam taksi yang membawa mereka menjauh dari gedung PenaKata, Meysa menyandarkan kepalanya di bahu Wildan. Matanya terpejam, tapi pikirannya berputar hebat. Kejadian di ruangan Pak Adam tadi terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata. Bagaimana mungkin hidupnya yang selama ini terasa 'kosong' mendadak dipenuhi oleh silsilah keluarga konglomerat yang paling berpengaruh di industri literasi?Wildan menggenggam tangan Meysa, sesekali mengusap ibu jarinya di punggung tangan istrinya itu. Ia bisa merasakan denyut nadi Meysa yang masih cepat."Masih pusing?" tanya Wildan lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh suara deru mesin taksi dan rintik hujan yang kembali turun.Meysa membuka matanya sedikit, menatap pantulan lampu jalanan pada jendela mobil. "Rasanya aneh, Wil. Tiba-tiba dipanggil 'Anggita'. Rasanya seperti aku sedang memakai kostum orang lain. Aku merasa ... aku bukan Meysa, tapi aku juga belum siap jadi Anggita.
"Cukup," suara Meysa keluar pelan, namun getarannya sanggup membungkam perdebatan dua raksasa industri penerbitan di depannya. "Tolong, cukup."Ia menarik nafas panjang, mencoba meredakan gemuruh di dadanya. Matanya menatap Surya Atmadja dengan sorot yang sulit diartikan, campuran antara rindu yang tak disadari dan penolakan yang nyata."Pak Surya ... atau Paman ... saya butuh waktu untuk bernapas. Selama dua puluh empat tahun, saya percaya saya tidak punya siapa-siapa di dunia ini kecuali bayangan saya sendiri. … Saya tumbuh di panti asuhan yang atapnya bocor, saya bekerja jadi SPG sampai kaki saya mati rasa, dan saya dicaci maki saat naskah saya ditolak berkali-kali. Dan sekarang, dalam satu malam yang gila, Bapak bilang saya adalah pewaris tunggal keluarga Atmadja?"Meysa kemudian beralih pada Pak Adam, yang masih tampak syok. "Dan Pak Adam ... terima kasih atas kejujuran Bapak menunjukkan hasil DNA ini. Setidaknya sekarang saya tahu saya bukan anak buangan yang tidak diinginkan.







