INICIAR SESIÓNSuara nada sambung di ponsel Wildan mendadak terputus. Bukan karena diangkat, melainkan karena suara operator yang menyatakan bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif. Wildan menjauhkan ponsel dari telinganya, menatap layarnya dengan kening berkerut dalam."Gimana, Wil? Pak Adam angkat?" tanya Meysa cemas. Ia berdiri sangat dekat dengan Wildan, hingga ia bisa mencium aroma maskulin bercampur sisa parfum yang masih menempel di jaket pria itu.Wildan menggeleng pelan. "Enggak. Sekarang malah dimatikan."Meysa mengerjapkan mata, rasa takut kembali merayap di dadanya. "Dimatikan? Kok bisa? Pak Adam kan orang bisnis, apalagi posisinya CEO. Nggak mungkin dia mematikan ponsel di jam-jam krusial begini, kan?""Itulah yang aneh," sahut Wildan sembari mencoba mengirim pesan singkat lewat aplikasi hijau. "Ceklis satu. Ini ganjil banget. Pak Adam selalu siaga, apalagi dia tahu kita lagi dikejar deadline besar. Masalah distribusi yang tadi dia bahas sama aku di beranda saja belum selesai detailn
"Siapa yang mengirimkan pesan ini, Wil?" tanya Meysa dengan suara lirih, nyaris menyerupai bisikan angin. Jemarinya yang memegang ponsel masih bergetar hebat.Wildan mengambil ponsel itu, matanya menyipit tajam menatap foto buram namun sangat jelas menampilkan wajah mereka di rumah Pak RT. Pria itu menggeretakkan rahangnya. "Aku punya firasat kuat... ini ulah Dimas. Mantanmu yang obsesif itu ternyata masih punya nyali berkeliaran di sekitar sini."Meysa menggeleng pelan, raut keraguan tampak jelas di wajahnya yang pucat. "Dimas? Tapi gimana bisa dia tahu kita di sana semalam? Bukannya dia harusnya sudah menjauh setelah insiden terakhir?" Meysa menjeda kalimatnya, menelan ludah dengan susah payah. "Aku justru lebih curiga sama Kak Fio, Wil. Kamu lihat sendiri kan gimana bencinya dia sama aku tadi? Dia baru saja menutup aksesku, dan sekarang ada ancaman ini."Wildan terdiam sejenak, menimbang teori Meysa. Namun, ia menggeleng tegas. "Kalau Fiona yang kirim, itu artinya dia sudah tahu se
Layar ponsel Wildan yang masih menyala redup di atas meja seolah menjadi hakim yang menjatuhkan vonis mati bagi karier Meysa. Meysa masih terisak, bahunya berguncang hebat. Dunianya yang baru saja terasa sedikit cerah karena pujian Pak Adam, kini kembali runtuh dalam hitungan menit.Wildan menatap layar itu dengan kemarahan yang mendidih di bawah permukaan kulitnya. Tanpa membuang waktu lagi, ia menyambar ponselnya lagi. Jemarinya bergerak lincah mencari nama Fiona di daftar kontak. Ia tidak peduli jika ini tidak sopan, ia tidak peduli jika Pak Adam mungkin ada di samping wanita itu sekarang.Tut ... tut ... tut ....Panggilan itu tersambung. Di dering ketiga, suara Fiona terdengar. Suaranya sangat tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja melempar bom atom di grup perusahaan."Halo, Wildan? Kenapa? Ada yang tertinggal di villa?" tanya Fiona dengan nada ringan, seolah-olah pengumuman di grup itu hanyalah angin lalu.Wildan tidak basa-basi. Ia berdiri dan melangkah menjauh
"Jadi maksudmu, gimana? Udah deh, kita bicara langsung ke intinya aja." Suara Pak Adam terdengar berat, bergema di ruang sempit kabin mobil yang kedap suara. Beliau tidak menoleh, matanya menatap lurus ke arah jalanan Puncak yang berkelok dan berkabut.Fiona menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. Ia mendekatkan posisi duduknya ke arah Pak Adam, aroma parfum mahalnya memenuhi udara di dalam kabin mobil. Suaranya merendah, nyaris berbisik namun penuh tekanan manipulatif."Lebih baik kita putuskan kontrak kerja dengan Meysa sekarang saja, Om. Jangan ambil risiko lebih jauh. Bilang saja progresnya tidak sesuai standar kualitas perusahaan kita," ujar Fiona dengan nada meyakinkan. Ia menatap profil samping pamannya, mencari celah keraguan. "... Kita fokuskan Wildan untuk memimpin tim naskah Season 2 sendirian. Dia punya nama, dia punya basis penggemar. Dengan begitu, kita nggak perlu pusing lagi dengan drama-drama penulis amatir yang nggak profesional kayak
Mobil mewah berwarna hitam itu melaju membelah jalanan Puncak yang berkelok. Di dalamnya, hawa dingin dari AC yang menderu halus tidak mampu mendinginkan gejolak emosi di hati Fiona. Ia duduk bersandar, namun jemarinya tidak bisa diam, terus memainkan kuku-kuku cantiknya dengan gelisah.Pak Adam, yang duduk di sampingnya sambil sesekali mengecek tablet kerja, akhirnya menyadari ketidaktenangan keponakannya itu. Beliau menaruh tabletnya, lalu menoleh."Kamu kenapa, Fio? Dari tadi Om lihat kamu tarik nafas panjang terus. Kursinya nggak nyaman? Atau Pak Mamat bawa mobilnya terlalu kasar?" tanya Pak Adam pada sopir pribadi yang sedang fokus mengemudi di depan."Eh? Nggak kok, Om. Pak Mamat bawa mobilnya enak, kok," jawab Fiona cepat, mencoba memaksakan senyum kecil.Pak Adam tertawa pendek, suara tawanya terdengar berwibawa namun tetap hangat. "Jangan bohong sama Om. Om kan paman kamu yang kenal kamu dari kecil, Fio. Kalau ada masalah, ngomong saja. Nggak perlu risau, kamu kan punya Om. A
"Dari cara Kakak menatap Wildan, dari cara Kakak selalu berusaha memisahkan kami, dan dari cara Kakak menyerang aku sekarang ... semuanya kelihatan jelas. Kakak cemburu, kan? Kakak takut kalau perhatian Wildan teralihkan ke aku?" Meysa kembali melajutkan kata-katanya.Fiona berdiri dari kursinya, tangannya menggebrak meja makan dengan keras. "Jaga mulut kamu, Meysa! Aku ini Direktur di PenaKata. Aku tahu apa yang terbaik buat perusahaan dan buat Wildan. Dan yang terbaik buat dia adalah jauh-jauh dari penulis pembawa masalah kayak kamu! Dasar penulis pembawa sial!"Meysa ikut berdiri. Ia tidak ingin lagi terlihat lemah. Pernikahan siri semalam, meski dilakukan karena terpaksa, telah memberikan semacam kekuatan baru di dalam dirinya. Ia merasa memiliki hak untuk membela keberadaannya di samping Wildan."Kalau Kakak memang peduli sama Wildan sebagai editor, harusnya Kakak senang kalau karyaku bagus karena bantuan dia. Tapi Kakak lebih peduli sama perasaan pribadi Kakak sendiri," ujar Mey







