Home / Romansa / Sentuhan Panas Editorku / Wildan nggak terima

Share

Wildan nggak terima

Author: Risya Petrova
last update Last Updated: 2026-01-17 23:22:38

Meysa tidak membantah. Ia berdiri dan melangkah mendekati ranjang, lalu menyerahkan ponselnya ke tangan Wildan. “Ini … Suamiku,” ucapnya lirih.

“Ya. Terima kasih istriku,” balas Wildan.

“Kita bukan di drama kolosan Dracin atau Drakor, Wil. Berhenti berkarta ‘istriku’ dengan nada demikian,” ujar Meysa sembari mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Nada suara Wildan tadi seolah mengejek. Padahal Wildan memang tulus menyebutkan kata ‘istri’.

Wildan bedeham, berusaha menstabilkan emosinya. Ia menerima ponsel itu, matanya menatap tajam rentetan panggilan tak terjawab dari nomor tanpa nama tersebut. Ia menekan nomor itu, mencoba memindai digit demi digit di kepalanya. Namun, sebelum ia sempat berkomentar lebih jauh, perhatiannya teralih pada notifikasi pesan di bar bagian atas yang terus-menerus muncul dari grup "PenaKata News".

Wildan menggeser layar, membuka aplikasi chat tersebut. Matanya membelalak lebar saat melihat foto yang menjadi bahan perbincangan panas di sana.

Itu adalah foto mereka.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Editorku   Pernikahan kita wajib rahasia

    Suasana di dalam kabin mobil pick up L300 milik Bi Aam mendadak terasa mencekik. Bau sisa sayuran yang tadi sempat membuat Meysa tersenyum, kini terasa memuakkan bercampur dengan rasa sesak yang menghimpit dadanya."V-Vin, nanti aku lihat sendiri di grup. Aku tutup dulu ya," ucap Meysa dengan suara gemetar. Tanpa menunggu balasan dari Vina, ia langsung mematikan sambungan telepon.Meysa menatap layar ponselnya yang kini menggelap dengan pandangan kosong. Air mata yang sejak tadi terbendung akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang masih kemerahan sisa suhu dingin Puncak dan sisa kehangatan semalam.Wildan, yang sejak tadi menepi di bahu jalan, memutar tubuhnya menghadap Meysa. Tangannya yang masih memegang kemudi tampak menegang, urat-urat di punggung tangannya menonjol."Ada apa, Meys? Apa yang dibilang Vina?" tanya Wildan tegas. Meskipun suaranya terdengar kaku seperti biasanya, ada gurat kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.Meysa menyeka air matanya dengan kasa

  • Sentuhan Panas Editorku   Fitnah jadi penulis kesayangan

    Meysa tersenyum canggung, melirik Wildan yang tetap datar. "Iya, alhamdulillah betah, Vin. Lagi fokus nyelesaiin naskah. Tumben kamu telepon pagi-pagi begini, ada apa?""Habis aku penasaran banget! Padahal tadi aku sudah chat dan tag kamu berkali-kali di grup dan di jalur pribadi, tapi kayaknya karena ketumpuk atau kamu lagi asyik 'revisi' makanya nggak kamu baca, ya?" goda Vina dengan nada jenaka.Meysa berdehem, berusaha menormalkan suaranya. "Maaf ya, Vin. Memang ketumpuk banget. Sinyal di sini juga naik turun, jadi aku belum sempat baca pesan masuk.""Oalah, pantesan. Jadi ... kamu kayaknya juga belum baca apa yang lagi rame banget di grup penulis PenaKata sekarang, ya?" nada suara Vina mendadak berubah sedikit lebih serius, meski masih ada sisa-sisa rasa penasaran.Kening Meysa berkerut dalam. Perasaan tidak enak yang tadi sempat ditenangkan oleh Wildan kini kembali menyeruak. Ia menoleh ke arah Wildan lagi. Kebetulan, Wildan juga sedang menoleh ke arahnya sebentar, menatapnya de

  • Sentuhan Panas Editorku   Sindiran

    Meysa masih mematung di pinggir tempat tidur, menatap punggung tegap Wildan yang kini sudah tertutup kemeja biru dongker yang sedikit kusut. Pria itu tampak begitu sibuk, gerakannya efisien namun memancarkan ketegangan yang nyata. Bayangan tentang kehangatan yang mereka bagi beberapa jam lalu seolah tersapu bersih oleh dinginnya kenyataan pagi ini."Wil ...," panggil Meysa pelan.Wildan menoleh sebentar sambil mengancingkan pergelangan tangannya. "Ya?""Kita ke rumah sakit mana? Dan ... kita naik apa? Mobil kamu kan masih di bengkel gara-gara kejadian kemarin. Di sini mana ada taksi pagi-pagi begini," tanya Meysa dengan nada bingung. Ia melirik keluar jendela, jalanan setapak di depan villa masih basah dan sepi."Aku sudah bilang sama Bi Aam semalam lewat pesan singkat kalau aku butuh kendaraan darurat pagi ini. Dia bilang aku bisa pakai mobilnya."Kening Meysa berkerut. "Mobil Bi Aam? Maksudnya ... mobil pick up L300 yang biasa buat angkut sayur ke pasar itu?"Wildan mengangguk manta

  • Sentuhan Panas Editorku   Wildan nggak terima

    Meysa tidak membantah. Ia berdiri dan melangkah mendekati ranjang, lalu menyerahkan ponselnya ke tangan Wildan. “Ini … Suamiku,” ucapnya lirih.“Ya. Terima kasih istriku,” balas Wildan.“Kita bukan di drama kolosan Dracin atau Drakor, Wil. Berhenti berkarta ‘istriku’ dengan nada demikian,” ujar Meysa sembari mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Nada suara Wildan tadi seolah mengejek. Padahal Wildan memang tulus menyebutkan kata ‘istri’.Wildan bedeham, berusaha menstabilkan emosinya. Ia menerima ponsel itu, matanya menatap tajam rentetan panggilan tak terjawab dari nomor tanpa nama tersebut. Ia menekan nomor itu, mencoba memindai digit demi digit di kepalanya. Namun, sebelum ia sempat berkomentar lebih jauh, perhatiannya teralih pada notifikasi pesan di bar bagian atas yang terus-menerus muncul dari grup "PenaKata News".Wildan menggeser layar, membuka aplikasi chat tersebut. Matanya membelalak lebar saat melihat foto yang menjadi bahan perbincangan panas di sana.Itu adalah foto mereka.

  • Sentuhan Panas Editorku   Mulai cemburu

    Semburat cahaya keemasan mulai menyeruak masuk melalui celah gorden yang sedikit tersingkap, menyapu lantai kayu villa dan naik ke atas ranjang yang masih berantakan. Wildan mengerang pelan, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Hal pertama yang ia rasakan adalah hawa dingin yang menyentuh sisi kirinya, sisi yang seharusnya ditempati oleh tubuh hangat Meysa.Sisi yang semalaman telah memberikannya kehangatan mutlak yang penuh makna.Secara refleks, tangan Wildan meraba kasur di sampingnya. Kosong.Kesadarannya langsung pulih seratus persen. Ia mendudukkan tubuhnya yang masih bertelanjang dada, membiarkan selimut meluncur turun hingga ke pinggang. Matanya menyisir sekeliling kamar yang temaram, hingga pandangannya jatuh pada sesosok wanita yang sedang duduk di kursi kayu dekat jendela, membelakanginya.Meysa sudah mengenakan kembali pakaiannya, sebuah sweater kebesaran yang menyembunyikan lekuk tubuh yang semalam baru saja Wildan jelajahi dengan penuh damba. Ra

  • Sentuhan Panas Editorku   Wildan jago ranjang

    Tangan Wildan mengusap lembut di sepanjang garis punggung Meysa. Tubuh Meysa semakin gemetar. Wildan melumat bibir Meysa dengan gerakan lembut yang semakin lama semakin menuntut. Ciuman ternikmat yang pernah ia rasakan. Bahkan mantan kekasihnya dulu, Dimas tidak bisa membuatnya meleleh bak jeli seperti ini, hanya karena sebuah ciuman.Beberapa menit pagutan itu berlalu, dan Wildan melepaskan ciumannya. Lalu memberi jarak. “Meys ….”“Hm … Apa?” Suara Meysa juga tidak kalah paraunya.“Apa kamu yakin jika aku boleh menyentuhmu?” Wildan takut. Takut Meysa akan menyesalinya. Karena ia masih berpikir, pernikahan mereka terjadi karena paksaan.Meysa mengangguk pelan. Lidahnya kelu tidak mampu bicara. Hanya mampu menganggukkan kepala. Wajahnya merah bak kepiting rebus karena malu.Wildan menatap wajah Meysa dari cahaya bulan yang mendadak muncul setelah hujan lebat barusan. Cahaya bulan itu masuk dari kisi-kisi jendela dan membias wajah Meysa yang terlihat semakin cantik dan lembut.Wildan m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status