LOGIN"Kamu meragukan nama besar suami kamu, Sayang?""Ihhh... bukan begitu. Tapi aku kan nggak nyangka saja Papa bisa membeli tanah ini. Aku tahu kok seberapa besar nama Bramasta. Kan yang punya orang Kalimantan, jauh loh dari Jakarta. Gimana Papa mencari kontak yang punya tanah ini?"Rose masih penasaran bagaimana suaminya bisa membeli tanah yang terkenal susah untuk di jual karena pemiliknya masih sayang dengan tanahnya. Lokasinya memang sangat strategis dan ia yakin suaminya membelinya dengan harga yang mahal."Pemilik tanah ini masih saudara dari kolega bisnisku, Sayang. Jadi semuanya dimudahkan," jawab Arthur."Pasti harganya mahal kan, Pa?"Arthur mengusap kepala istrinya dengan lembut. "Berapa pun harganya jika memang digunakan untuk hal baik, aku nggak mempermasalahkan itu. Ayo kita keluar sekarang," ajak Arthur.Ia langsung keluar dari dalam mobil dan langsung mengitari belakang mobil untuk membukakan pintu mobil untuk istrinya."Terima kasih, Papa." Rose tersenyum ke arah suaminy
Hari ini Arthur mengajak Rose untuk pergi ke tempat dimana perpustakaan milik Rose yang sedang di bangun. Arthur memang sengaja mengajak istrinya ke sana sekedar melihat progres pembangunan perpustakaan itu. Mumpung hari sabtu dan ia tidak berangkat ke kantor sekaligus ingin mengajak istrinya jalan-jalan karena beberapa kali Rose sudah mengadu padanya jika gadis itu bosan di rumah terus.Tentu saja Arthur berusaha untuk tidak membuat istrinya bad mood. Maklum saja mood ibu hamil itu sangat sensitif dan Arthur tidak ingin buruknya mood istrinya akan berpengaruh pada kesehatan Rose dan janinnya."Pa, masih jauh letak perpustakaannya?" tanya Rose karena sudah dua puluh menit mereka di jalan dan belum juga tiba di lokasi perpustakaan yang dihadiahkan oleh Arthur padanya di bangun.Arthur tersenyum saja karena ia memang ingin memberi kejutan pada istrinya yang memang belum pernah ke lokasi pembangunan perpustakaan itu.Pria itu masih merahasiakan lokasi pembangunan perpustakaan itu."Papa
Rose keluar kamar untuk bertemu suaminya yang sedang berada di ruang kerja. Pelan-pelan Rose turun ke bawah karena ruang kerja Arthur berada di lantai satu.Di tangannya ada ponselnya karena ia ingin menunjukkan sesuatu yang baru saja ia lihat.Tokk... Tokk... Tokk....Rose mengetuk pintu ruang kerja Arthur. Meski itu ruang kerja suaminya tapi Rose tidak ingin langsung masuk saja."Masuk..."Terdengar suara Arthur dari dalam mempersilahkannya untuk masuk. Rose pun langsung membuka pintu ruang kerja suaminya.Sementara Arthur yang di dalam ruang kerjanya, ia masih fokus dengan beberapa dokumen yang sedang ia periksa. Dokumen yang Ken kasih padanya itu memang belum sempat ia periksa saat di kantor tadi.Saat mendengar pintu ruang kerjanya di buka, ia mendongak dan terkejut melihat istrinya masuk ke ruang kerjanya.Arthur langsung berdiri dan menghampiri Rose."Sayang. Aku kira kamu sudah tidur." Arthur melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. "Kenapa jam segini be
Alana tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Sejak mereka keluar dari hotel milik Bramasta grup, senyum di bibirnya tidak pernah luntur.Setelah pertunjukan kembang api selesai, Ken langsung mengajak Alana untuk pulang. Meski besok adalah hari weekend, tapi ia tahu jika Alana pasti lelah karena di kantor tadi banyak deadline yang harus gadis itu selesaikan.Ia menatap cincin yang tersemat di jari manisnya.Ken menoleh sebentar ke arah calon istrinya yang duduk di sampingnya lalu ia kembali menoleh ke depan karena ia harus fokus menyetir.Sebelah tangannya mengusap kepala Alana dengan lembut. "Bahagia banget, Sayang?" Ken tersenyum.Alana mengangguk sembari tersenyum lebar. Lalu ia mendekat ke arah Ken dan bersandar ke bahu Ken meski pria itu sedang menyetir. "Aku memang sangat bahagia karena kekasihku baru saja melamarku tadi. Karena terlalu bahagia sampai senyuman di bibirku tidak bisa aku hentikan. Mungkin nanti aku tidur sambil tersenyum," ucap Alana hingga membuat Ken tertawa.
“Alana, be my wife please.”Alana terdiam namun detak jantungnya semakin berdegup kencang. Ia tidak menyangka Ken akan melamarnya malam ini. Ia dan Ken memang sudah berkomitmen akan menjalin hubungan yang serius dan muaranya pada pernikahan. Tetapi ia tidak menyangka akan secepat ini.“Al, aku bukan pria yang mudah untuk merangkai kata-kata manis. Aku mungkin nggak pandai bikin kamu terpesona lewat kalimat-kalimat indah seperti di film atau novel,” ucap Ken dengan suara bergetar namun penuh keyakinan. “Tapi aku janji satu hal sama kamu, perasaanku sangat tulus padamu, Al. Aku memang bukan pria sempurna tapi bersama kamu aku merasakan kesempurnaan itu. Aku ingin menjadi orang yang selalu ada bersama kamu dalam keadaan apapun. Al, jadilah teman hidupku dan rumah untuk aku pulang.”Alana menggigit bibirnya, menahan haru yang semakin meluap. Air mata Alana akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan.“Aku ingin menghabiskan sisa waktuku bersama kamu, Al. Bangun setiap pagi dengan kamu, berbagi ceri
“Lagi?” tanya Alana terkejut.Ken mengangguk sembari tersenyum. “Sekarang kita makan saja dulu,” ajak Ken.Mereka pun mulai memakan makan malam yang sudah tersaji di depan mereka. “Kamu suka sama menu yang aku pesan?”Alana mengangguk beberapa kali. Setelah makanan di depannya ini masuk ke dalam mulutnya, Alana memang langsung cocok dengan citarasanya. “Enak. Aku suka. Aku bukan picky eatrer sih sebenarnya. Aku cuma nggak bisa kalau rasanya aneh di lidah. Kayak terlalu pahit, atau aneh banget sampai nggak masuk akal. Tapi selain itu, aku bisa makan apa aja,” kata Alana dengan santai.Ken terkekeh pelan, matanya tidak lepas dari wajah Alana. “Jadi kalau aku masakin sesuatu, kamu bakal mau coba?”Alana menyipitkan mata, pura-pura curiga. “Masalahnya kamu bisa masak apa dulu, Ken?”“Wah, meragukan sekali nadanya. Aku itu bisa masak loh,” ucap Ken yang pura-pura tersinggung.“Benaran kamu bisa masak? Menu apa yang kamu paling jago?”“Aku bisa masak mie instan level chef profesional.”Ala
Sudah seminggu sejak penyataan perasaan mereka di balkon itu, kini hubungan Rose dan Arthur semakin meningkat. Tidak hanya di rumah mereka bertemu tapi juga di kantor.Sejak kejadian itu, Rose terlihat semakin ceria. Ia ingin melupakan sejenak masalahnya dengan sang suami. Ia ingin menikmati masa-m
Rose masih memejamkan mata setelah bibirnya menyentuh bibir Arthur. Kecupan begitu lembut namun membuat detak jantung mereka berdegup kencang. Setelah beberapa saat bibir mereka hanya bersentuhan, perlahan Arthur membuka bibirnya begitu juga dengan Rose, ciuman lembut tanpa diikuti nafsu hanya m
"Apakah kamu lelah, Sayang?" tanya Arthur yang sedang baring di samping Rose.Mereka baru saja menyelesaikan satu ronde dengan durasi yang cukup panjang bagi Rose.Napas mereka masih sama-sama memburu efek euforia dari puncak nikmat yang mereka rasakan.Tubuh keduanya sama-sama basah oleh keringat
"Kenapa kamu terlihat gugup, Rose?" tanya Arthur pura-pura tidak tahu alasan kegugupan Rose. "Aku nggak gugup kok, Pa. Biasa aja," ucap Rose yang berusaha untuk biasa saja. Rose tidak ingin Arthur atau yang lain tahu tentang koleksinya. Tentu saja ia akan malu luar biasa jika Arthur mengetahu







