MasukKen mengusap bahunya yang baru saja ditampar oleh Agam karena pria itu kesal. Siapa yang tidak kesal saat dicurigai tidak normal alias penyuka batangan."Habisnya kamu itu sudah lama sendiri, Gam. Mana tidak nampak dekat dengan satu gadis pun," ucap Ken."Artinya aku boleh dong curiga sama kamu. Sebelum kamu menjalin hubungan dengan Alana, kamu itu jomblo sejati, Ken. Ingat itu. Alana itu kekasih pertama kamu," gerutu Agam.Arthur hanya bisa geleng-geleng melihat dua sahabat itu."Sudah-sudah. Aku doakan kamu segera bertemu dengan kekasih yang akan menjadi pendamping kamu, Agam.""Terima kasih, Tuan." Agam tersenyum tulus ke arah Arthur.Bagi Agam, Arthur tidak hanya sekedar atasannya melainkan lebih dari itu. Sama seperti Ken yang menganggap Arthur malaikat penolongnya.Bahkan Agam sudah menganggap Arthur sebagai orang tuanya.Ia sangat bahagia, Arthur kembali mendapatkan kebahagian bersama Rose. Apalagi sebentar lagi Arthur dan Rose akan menjadi orang tua. Impian Arthur yang sudah
Praaanggg....Ririn melemparkan gelas ke dinding saat ia menerima pesan dari Zumi jika Arthur dan Rose menikah pada hari ini.Wanita itu merasa sangat marah pada Zumi karena baru memberitahunya setelah Arthur dan Rose telah resmi menjadi pasangan suami istri. Suaminya itu seolah sengaja baru memberitahunya."Aarrrkkkhhh.... Sial. Beruntung sekali Rose bisa menjadi Nyonya Bramasta. Harusnya aku yang menjadi istri Papa, bukan gadis itu. Kenapa dia bisa seberuntung itu. Dulu aku pikir dengan menyuruh Zumi mengabaikan dan menceraikan Rose, gadis itu akan menderita karena gara-gara dia aku hanya menjadi istri siri Zumi padahal aku yang dicintai Zumi. Ternyata setelah Zumi yang menceraikannya justu dia mendapatkan yang lebih lagi. Kekayaan yang Zumi miliki tidak ada apa-apanya dibanding dengan kekayaan Papa. Aakhh... Sial, aku terlambat." Napas Ririn naik turun karena ia menahan emosinya.Ririn mengusap wajahnya dengan kasar. Ia kalah start. Rose dengan mudah mendapatkan Arthur karena gadi
Arthur berjalan menuju balkon hanya untuk melihat tempat dilaksanakan prosesi pernikahannya bersama Rose. Ia sengaja belum turun ke bawah karena masih cukup lama hingga waktu pernikahannya tiba.Dari balkon, ia bisa melihat dengan jelas dekorasi yang sangat cantik sesuai dengan keinginan Rose. Kali ini ia benar-benar hanya mengikuti pernikahan impian Rose. Ia tahu saat menikah dengan Zumi, Rose lebih banyak mengalah karena semuanya diatur oleh Zumi.Ia berdiri di pembatas balkon, seketika ia mengingat pernikahan sebelumnya.Pernikahan pertamanya dulu penuh kebahagiaan tapi juga berakhir dengan luka kehilangan.Sedangkan kali ini—Ia akan memulai kehidupan baru bersama wanita yang benar-benar ia cintai.Wanita yang kini juga tengah mengandung anak-anaknya.Arthur menutup matanya sejenak, lalu berdoa dalam hati.Semoga kali ini, ia bisa menjaga kebahagiaan itu sampai akhir.“Semua sudah siap di luar, Tuan,” ujar Ken saat pria itu menghampiri Arthur di balkon.Arthur membuka matanya dan
Beberapa hari kemudian....Hari yang sangat ditunggu Arthur dan Rose akhirnya tiba.Hari ini mereka akan melangsungkan pernikahan di rumah Arthur. Bagian belakang rumah tepatnya di dekat taman bunga sudah di dekor sangat cantik. Walau pernikahan Arthur dan Rose bertema intimate wedding, namun Arthur tetap ingin memberikan pernikahan yang cantik untuk Rose.Arthur sengaja memesan catering serta pelayan dari restoran tempat Arthur memesan karena ia juga ingin para asisten rumah tangga hari ini diliburkan dan menyaksikan pernikahannya dengan Rose.Pria itu ingin semua orang di rumah ini menikmati perayaan pernikahannya bersama Rose.Ia juga sudah menghubungi Zumi bahwa hari ini ia akan menikah dengan Rose, namun Zumi tidak bisa datang ke Jakarta karena bersamaan dengan jadwal terapinya.Arthur tidak mempermasalahkan hal itu karena ia memang hanya ingin memberitahu Zumi saja dan tidak mengharapkan putranya hadir. Arthur tidak ingin kehadiran putranya yang artinya Ririn akan ikut bersama Z
Sejak bangun tidur, Rose merasa lebih ringan. Perasaannya jauh lebih tenang. Percakapannya dengan Arthur semalam benar-benar menenangkan pikirannya.Rasa cemburu, kesal, dan tidak nyaman yang sempat menguasai hatinya perlahan menghilang, tergantikan oleh rasa hangat dan keyakinan bahwa Arthur benar-benar hanya miliknya.Hari ini Arthur berangkat ke kantor walau sebenarnya pria itu ingin mengambil cuti tapi klien dari Paris datang dan ingin bertemu dengannya.Sebelum berangkat, pria itu sempat mengecup kening Rose dengan penuh perhatian, mengingatkan agar Rose tidak terlalu lelah dan tidak lupa makan tepat waktu.Rose hanya tersenyum dan mengangguk.“Jangan banyak bergerak, ya. Kalau butuh apa-apa, panggil Bi Arum atau Salimah saja,” pesan Arthur.“Iya, Tuan Arthur,” jawab Rose sambil menggoda.Arthur terkekeh, lalu menoel ujung hidung mancung Rose karena gemas dengan gadis itu. Lalu ia kembali mencium kening Rose sebelum akhirnya benar-benar pergi.Rumah terasa lebih tenang setelah ke
Setelah Ririn pulang, Rose langsung naik ke atas untuk ke kamar.Begitu pintu kamar tertutup, Rose langsung berjalan menuju sisi tempat tidur tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia duduk di tepi ranjang, tangannya terlipat di pangkuan, pandangannya kosong ke arah lantai. Wajahnya tidak lagi menampilkan senyum elegan seperti di ruang makan tadi. Yang tersisa hanyalah diam dan rasa kesal yang ia tahan sejak tadi.Arthur yang masuk beberapa detik setelahnya langsung menangkap perubahan itu.Ia menutup pintu pelan, lalu bersandar sejenak di sana, menatap calon istrinya dengan penuh perhatian.“Rose…” panggilnya lembut.Tidak ada jawaban.Rose tetap diam.Arthur berjalan mendekat, lalu duduk di sampingnya. Ia sedikit mencondongkan tubuh, mencoba menangkap sorot mata Rose.“Sayang…”Rose akhirnya menoleh, tapi hanya sebentar. Setelah itu ia kembali menatap ke depan.“Aku tidak apa-apa,” ucap Rose sangat pelan. Namun Arthur tahu jika itu bohong.Ekspresi Rose saat ini seperti buku yang terbu







