LOGIN"Papa, aku bosan. Kita jalan-jalan yuk. Dari tadi pagi kita di kamar saja. Apa kata Bi Arum dan yang lain, hampir sepanjang hari kita di kamar terus. Sarapan dan makan siang saja di kamar. Aku malu sama mereka, Pa." Rose merengek pada Arthur agar suaminya itu mengajaknya jalan-jalan. Tidak harus jauh, jalan-jalan santai di kompleks saja ia sudah senang. Apalagi Rose tahu jika Dave dan Julia menginap di rumah yang baru dibeli mereka. Ia juga ingin mengajak Julia untuk jalan-jalan santai di kompleks."Kita nonton film saja biar nggak bosan ya. Jalan-jalan juga bisa buat lelah, Sayang."Rose cemberut. "Sekurang-kurangnya kalau jalan-jalan itu aku bisa menggerakkan tubuhku, Pa. Sejak tadi aku lebih banyak baring. Badanku sakit semua kalau tidak bawa aktivitas. Jalan kaki nggak melelahkan kok, Pa. Lagian aku ini hanya hamil bukan sakit, Pa. Boleh ya kita jalan-jalan santai sekalian ajak Tante Julia ya, Pa. Tante Julia dan Om Dave belum kembali ke Bali kan?" tanya Rose.Arthur tersenyum m
Pagi ini terasa berbeda dari biasanya. Pagi pertama setelah Artur dan Rose sah menjadi pasangan suami istri.Cahaya matahari pagi menyelinap lembut melalui celah tirai kamar, menerangi ruangan yang masih dipenuhi aroma bunga dari sisa dekorasi pernikahan semalam. Di atas ranjang besar itu, Rose masih terlelap dalam pelukan hangat Arthur. Tangan pria itu melingkar protektif di pinggang sang istri, seolah tidak ingin melepaskannya sedikit pun.Arthur terbangun lebih dulu.Perlahan ia membuka matanya, menatap wajah Rose yang masih tertidur dengan damai di pelukannya. Bibir Arthur tersenyum tipis. Ada rasa hangat yang memenuhi dadanya. Rasa yang belum pernah ia rasakan sekuat ini sebelumnya.“Istriku…” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.Tangannya bergerak lembut, menyibakkan rambut Rose yang menutupi sebagian wajah gadis itu. Ia mengecup kening Rose dengan penuh kasih, lalu tanpa sadar mengusap perut sang istri dengan sangat hati-hati.“Selamat pagi, kesayangan Papa…” gumamnya lembut.
Arthur baring di samping Rose, lalu ia membawa sang istri dalam pelukannya."Kamu bahagia hari ini, Sayang?" tanya Arthur.Rose mengangguk. Saat ia mendongak untuk menatap sang suami, Arthur mencium bibirnya. "Bahagia banget. Papa benar-benar mengabulkan semua keinginanku. Intimate wedding dan hanya dihadiri oleh orang-orang yang dekat denganku dan juga Papa. Terima kasih banyak ya, Pa. Aku tidak akan bosan-bosan mengucapkan terima kasih sama Papa. Jika tidak bersama Papa, mungkin aku tidak akan mendapatkan kebahagian yang luar biasa seperti ini. Kadang aku pernah berpikir jika semua ini mimpi sampai aku berharap tidak terbangun dari mimpi ini. Setelah semua sakit yang aku alami, aku sama sekali tidak berekspektasi akan mendapatkan kebahagiaan yang sangat besar, Pa."Arthur mengusap punggung sang istri dengan lembut. "Kamu tidak sedang mimpi, Sayang. Kebahagiaan ini nyata. Kamu sangat pantas untuk mendapatkannya. Ini hadiah dari Tuhan karena selama ini kamu sudah sabar, Sayang. Kamu h
Acara perayaan pernikahan Arthur dan Rose sudah selesai. Para tamu undangan sudah pulang satu jam yang lalu.Tim dekor sudah mulai melepaskan dekorasi tempat pernikahan Arthur dan Rose tadi. Begitu juga dengan tim catering yang sudah mulai berkemas.Para asisten rumah tangga juga ikut membantu.Arthur dan Rose sudah masuk ke kamar karena Arthur meminta Rose untuk segera istirahat. Sejak mereka selesai melaksanakan ijab qobul, Rose memang lebih banyak berdiri karena bercengkrama dengan para tamu undangan dan asisten rumah tangga. Arthur yang sangat mengkhawatirkan kondisi sang istri, akhirnya memaksa Rose untuk istirahat.Belum lagi gaun pengantin yang Rose gunakan pasti berat, Arthur tidak ingin Rose kelelahan."Aku bantu lepas gaun pengantinnya ya, Sayang." Arthur yang sudah berdiri di belakang Rose langsung membuka risleting gaun pengantin Rose."Makasih, Papa." Rose menatap Arthur lewat pantulan cermin. Mereka memang berdiri di dekat meja rias Rose. Tidak membutuhkan waktu yang la
Ken mengusap bahunya yang baru saja ditampar oleh Agam karena pria itu kesal. Siapa yang tidak kesal saat dicurigai tidak normal alias penyuka batangan."Habisnya kamu itu sudah lama sendiri, Gam. Mana tidak nampak dekat dengan satu gadis pun," ucap Ken."Artinya aku boleh dong curiga sama kamu. Sebelum kamu menjalin hubungan dengan Alana, kamu itu jomblo sejati, Ken. Ingat itu. Alana itu kekasih pertama kamu," gerutu Agam.Arthur hanya bisa geleng-geleng melihat dua sahabat itu."Sudah-sudah. Aku doakan kamu segera bertemu dengan kekasih yang akan menjadi pendamping kamu, Agam.""Terima kasih, Tuan." Agam tersenyum tulus ke arah Arthur.Bagi Agam, Arthur tidak hanya sekedar atasannya melainkan lebih dari itu. Sama seperti Ken yang menganggap Arthur malaikat penolongnya.Bahkan Agam sudah menganggap Arthur sebagai orang tuanya.Ia sangat bahagia, Arthur kembali mendapatkan kebahagian bersama Rose. Apalagi sebentar lagi Arthur dan Rose akan menjadi orang tua. Impian Arthur yang sudah
Praaanggg....Ririn melemparkan gelas ke dinding saat ia menerima pesan dari Zumi jika Arthur dan Rose menikah pada hari ini.Wanita itu merasa sangat marah pada Zumi karena baru memberitahunya setelah Arthur dan Rose telah resmi menjadi pasangan suami istri. Suaminya itu seolah sengaja baru memberitahunya."Aarrrkkkhhh.... Sial. Beruntung sekali Rose bisa menjadi Nyonya Bramasta. Harusnya aku yang menjadi istri Papa, bukan gadis itu. Kenapa dia bisa seberuntung itu. Dulu aku pikir dengan menyuruh Zumi mengabaikan dan menceraikan Rose, gadis itu akan menderita karena gara-gara dia aku hanya menjadi istri siri Zumi padahal aku yang dicintai Zumi. Ternyata setelah Zumi yang menceraikannya justu dia mendapatkan yang lebih lagi. Kekayaan yang Zumi miliki tidak ada apa-apanya dibanding dengan kekayaan Papa. Aakhh... Sial, aku terlambat." Napas Ririn naik turun karena ia menahan emosinya.Ririn mengusap wajahnya dengan kasar. Ia kalah start. Rose dengan mudah mendapatkan Arthur karena gadi







