LOGIN"Egghhh..." Rose membuka matanya, masih dalam posisi baring.Ia diam sejenak sambil mengumpulkan nyawanya.Selang beberapa menit, ia menatap kesekeliling dan hanya ia sendiri di kamar itu. Kemudian ia mengambil ponselnya yang ada di dalam tasnya yang tadi Arthur simpan di atas nakas.Di kamar itu memang tidak ada jam dinding hingga Rose tidak bisa melihat saat ini sudah pukul berapa.Gadis itu mengambil ponselnya di dalam tas kemudian ia langsung menyalakannya. "Ternyata sudah pukul sebelas," gumamnya.Ia pun membuka akun sosial medianya di aplikasi bewarna merah muda. Ia melihat status di akun sosial media Alana. "Pengantin baru yang mau berangkat honey moon. Lancar-lancar honey moonnya kalian berdua di Maldives ya Al. Aku senang banget sekarang kamu sudah menikah dengan Ken," ucap Rose sambil tersenyum bahagia melihat postingan Alana di storynya yang menampilkan gambar kedua tangan saling bertautan dengan backgroundnya di Bandara. Sudah jelas tautan tangan itu milik Alana dan Ken.
Arthur menatap istrinya yang sudah terlelap karena kelelahan menangis. Tadi Rose cukup lama menangis di pelukan Arthur, hingga ia kelelahan dan mengeluh mengantuk. Arthur membawa istrinya ke kamar pribadinya yang memang ada di ruangannya ini. Dulu saat ia masih sendiri bahkan belum mengenal Rose, Arthur sering menggunakan kamar pribadi ini untuk ia menginap jika ia malas pulang ke rumah.Tetapi sejak mengenal Rose apalagi dulu Zumi membawa Rose untuk tinggal di rumahnya, ia sudah tidak pernah menginap di kantor lagi..Jika ada pekerjaan yang belum selesai, ia pasti bawa pulang ke rumah. Apalagi di saat Rose sedang mengalami masa-masa sedihnya karena masalah rumah tangganya dengan Zumi, Arthur lebih sering berada di rumah hanya demi Rose.Dulu Arthur termasuk pria yang sangat workaholic, tetapi semua itu berubah sejak ia bersama Rose. Rasanya ia ingin menghabiskan waktunya bersama istrinya ini.Arthur mengusap lembut pipi istrinya dengan lembut. Sejak masuk ke kamar ini tadi, Rose la
"Matanya Mama kok melah?"Miranda langsung tersenyum dan cepat-cepat ia menghampiri putranya. Wanita itu berjongkok di depan putranya, senyuman di wajahnya tidak luntur."Tadi matanya Mama kemasukan debu makanya jadi merah. Tapi debunya sudah hilang kok. Mama baik-baik saja Sayang. Tadi Rio sama Tante Rose darimana saja?" tanya Miranda.Rose berjalan mendekati mereka. Sementara Arthur dan Agam tetap berdiri di tempat mereka tadi."Tadi Tante cantik ajak Lio makan. Nasinya bewalna kuning, lasanya enak sekali. Lio suka. Telus tadi Lio juga makan ayam goleng," celoteh Rio.Anak laki-laki itu terlihat ceria tidak seperti tadi yang diam saja sebelum di ajak keluar bersama Rose.Miranda menepuk keningnya. "Astaga tadi sebelum kesini Mama lupa ajak Rio sarapan dulu. Maafin Mama ya Sayang. Sudah terima kasih dengan Tante Rose?"Rio langsung mengangguk dengan mantap. "Sudah Mama. Kan Mama selalu bilang kalau di kasih sesuatu sama olang lain kita halus beltelima kasih. Lio benal kan Mama.""Pin
"Miranda..." ucap Agam pelan.Tatapan Agam dan Miranda bertemu. Helaan napas panjang terdengar dari pria itu."Aku belum bisa memutuskannya sekarang aku menerima permintaan kamu atau menolaknya karena jujur saja aku bingung harus melakukan apa. Yang menentukan hidup dan mati manusia itu Tuhan, Miranda meski dokter bisa memvonis peluang hidup pasiennya. Daripada menitipkan putramu sendiri pada orang lain, alangkah baiknya jika kamu berjuang untuk sembuh. Aku tahu kanker bukan penyakit yang ringan, tetapi bukankan peluang untuk sembuh tetap ada. Kamu sudah menjalani operasi?" tanya Agam.Miranda menggeleng. Sejak dirinya tahu menghidap kanker ginjal dua tahun yang lalu, Miranda menolak saran dokter untuk melakukan operasi. Hal itu karena ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya saat di meja operasi dan meninggalkan putranya yang masih kecil.Sejak ia hamil, kondisi Miranda memang tidak pernah baik. Ia berjuang sendiri menyembuhkan mentalnya agar janin yang ia kandung tetap baik
Arthur menatap dua orang di depannya secara bergantian."Sekarang lebih baik kamu jujur saja, Nona. Apa tujuan kamu sebenarnya menemui Agam? Kalau kamu jujur, aku akan mempertimbangkan langkah selanjutnya apakah akan menuntut kamu jika sampai menjelekkan nama asisten pribadi saya," ucap Arthur.Ia harus segera menyelesaikan masalah ini karena tidak ingin membuatnya bertele-tele.Di sini ia juga harus sebagai penengah karena membiarkan Agam sendiri yang menyelesaikan di saat asisten pribadinya sedang emosi bukan pilihan yang bijak.Ia yakin pasti ada alasan mengapa wanita itu berani datang ke kantornya hanya untuk menemui Agam.Miranda tampak menghela napas panjang. Ia menatap Arthur sebentar lalu mengalihkan pandangannya ke arah Agam yang menatapnya dengan tatapan tajam.Ia tahu Agam pasti kesal dengan apa yang ia lakukan pagi ini. Tapi semua itu karena ia sedang dalam kondisi terdesak. Bahkan ia harus mengabaikan harga diri yang ia agung-agungkan selama ini.Bagi Miranda, hanya Agam
Melani menghela napas panjang, hatinya saat ini masih tidak baik-baik saja.Banyak pertanyaan yang ada di benaknya saat ini tentang apa yang ia lihat tadi di lobby kantor. Meski tadi Agam terlihat ingin menjelaskan, tetapi ia lebih memilih menghindar karena tidak siap dengan apa yang akan ia dengar dari mulut pria itu."Tenang Mel, abaikan semua yang membuat moodmu rusak hari ini," bisiknya pada dirinya sendiri.Ia kembali menghela napas panjang, lalu membuka tas bekalnya.Melani keluarkan satu kotak bekal yang ia bawa tadi karena ia harus sarapan meski nafsu makannya hilang entah kemana. Mengingat deadline pekerjaannya hari ini banyak, Melani harus tetap memaksakan sarapan agar ia fokus mengerjakan pekerjaannya. Apalagi ada kerjaan tambahan karena Alana masih cuti menikah.Melani menoleh ke arah meja Alana yang berada di samping mejanya. "Andai Alana ada," bisiknya.Kemudian gadis itu membuka kotak bekalnya. Ia menatap satu kotak bekal yang ada di dalam tes bekalnya. Sebenarnya Mel
Beberapa jam sebelum Rose di culik.Arthur dan Ken dalam perjalanan menuju Bogor."Ken, kamu sudah tahukan dimana kita bertemu dengan Tuan Helmi," ucap Arthur.Tuan Helmi adalah orang yang ingin menjual tanahnya pada Arthur."Sudah Tuan. Tuan Helmi sudah mengirimkan lokasi tempat pertemuan kita nan
Plaaaak!Satu tamparan dari Rio hingga membuat sudut bibir Rose terluka dan mengeluarkan darah.Mendengar ucapan Rose yang mengatakan Arthur akan menghancurkan mereka membuat emosi Rio tersulut karena sejak kecelakaan yang ia alami dulu membuat ia sulit mengontrol emosinya jika berkaitan dengan Art
Di ruang kerja yang ada di rumah milik David yang berada di pinggir kota.Rose memang di bawa ke rumah David yang ada di pinggir kota. David, Jessica, Zumi dan Rio sedang duduk di sofa yang ada di ruangan itu."Aku ingin semua rencana yang sudah kita susun sejak lama harus berhasil. Sudah lama aku
Rose membuka matanya, lalu ia menoleh ke samping ternyata Arthur sudah tidak ada di sampingnya. Ia mengambil ponsel yang ada di atas nakas untuk melihat jam yang ternyata sudah jam enam pagi. Perlahan ia bangun dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya, aroma bekas olahraga ranjang yang i







