LOGINArthur, Rose dan Zumi sudah berada di ruang makan.Mereka sedang makan malam. Suasana di ruang itu hanya terdengar bunyi dentingan sendok dan garpu yang memecahkan keheningan.Baik Arthur, Rose maupun Zumi memang saling diam saja.Rose yang memilih bicara seperlunya dengan suaminya karena ia memang tidak ingin bicara dengan Zumi. Entah kenapa setiap melihat wajah Zumi membuatnya sangat kesal."Sayang, makannya kenapa hanya sedikit saja. Nggak selera dengan menu malam ini?" tanya Arthur."Menu malam ini enak kok. Tapi aku sudah kenyang. Mungkin gara-gara tadi sore setelah kita bangun tidur, aku makan dimsum mentai lagi. Makanya sekarang makan sedikit saja sudah kenyang.""Ya sudah. Nanti susu Ibu hamilnya jangan lupa di minum ya," ucap Arthur."Iya, Sayang."Arthur tersenym mendengar panggilan Sayang dari istrinya. Setelah itu ia menoleh ke arah Zumi."Kamu jadi ingin bicara denganku, Zumi?"Zumi yang tadinya makan sambil menunduk, langsung mengangkat kepalanya. Pria itu menoleh ke ar
"Kamu kesini.." ucap Zumi yang memanggil Salimah saat gadis itu melewati ruang keluarga.“Saya, Tuan?”“Iya kamu. Memangnya ada orang lain selain kamu?” tanya Zumi ketus.Salimah pun mendekati Zumi. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda Zumi?”“Kamu ke atas ke kamarnya Papa. Bilang sama Papa kalau aku sudah menunggunya,” ucap Zumi.Salimah menoleh ke arah lantai dua. “Maaf, Tuan Muda Zumi. Bukannya saya nggak mau menjalankan permintaan Tuan Muda, tetapi kalau Tuan Arthur sudah masuk kamar bersama Nona Rose, kami para asisten rumah tangga tidak berani mengganggu sampai Tuan Arthur sendiri yang keluar kamar. Apalagi tadi Tuan kan baru pulang, mungkin Tuan sedang menemani Nona Rose istirahat. Tuan Muda paham sajalah kalau Ibu hamil itu harus banyak istirahat. Tuan Arthur akan marah kalau waktunya di ganggu jika berduaan dengan Nona Rose. Jadi maaf saya nggak berani. Kenapa tidak Tuan Muda sendiri yang ke atas. Bukannya Tuan Muda anaknya Tuan Arthur, pasti kemarahan Tuan Arthur tidak akan
“Pa...”“Hmm....”Rose sedang membantu suaminya untuk membuka dasi Arthur. Mereka sudah berada di kamar mereka.“Menurut Papa, apa yang akan Zumi bahas dengan Papa. Kayaknya itu hal serius deh.”“Aku juga penasaran, nggak biasanya dia begitu. Biasanya dia sering memendam masalahnya sendiri. Mungkin kali ini dia ingin minta masukan untuk masalahnya. Atau dia sedang mengalami masalah yang dia sendiri tidak bisa menyelesaikannya.”Rose mengangguk-angguk. Setelah dasi suaminya terlepas, ia juga membuka satu per satu kancing kemeja yang dipakai oleh Arthur.“Bagaimana triplets hari ini? Rewel nggak mereka?”Rose menggeleng. “Hari ini triplets sangat pintar, nggak rewel sama sekali. Buktinya aku nggak mual dan pusing. Mungkin mereka senang karena hari ini di ajak masak-masak sama Mama mereka. Di tambah mereka juga ketemu Oma Julia.”“Oma Julia?”“Hum! Tante Julia tadi bilang mau di panggil Oma sama triplets. Meski triplet anak Papa yang seharusnya keponakan Tante Julia, tetapi Tante Julia n
"Julia, siapa pria yang memuji makanan yang di buat oleh istriku?" tanya Arthur."Duh posesif banget kamu Arthur sama Rose," ucap Dave."Mau tahu saja atau mau tahu banget," goda Julia sambil menahan tawanya. Apalagi saat melihat ekspresi Arthur yang begitu dingin.Ia memang sengaja karena ingin melihat ekspresi Arthur saat cemburu."Papa, tadi itu..." ucapan Rose terhenti saat Arthur memberi kode untuk diam."Tadi sebelum kami ke sini setelah selesai membuat dimsum, Zumi turun ke bawah untuk ambil air minum. Nah kan dimsum sudah matang semua itu, jadi aku yang menawari dimsum buatan Rose ini pada Zumi. Lalu sama Zumi langsung di makan dong. Bahkan dia sampai habis tujuh atau delapan gitu. Katanya enak banget, bahkan lebih enak buatan Rose di banding dengan dimsum di restoran yang menjadi favoritenya. Nggak hanya Zumi saja kok yang puji dimsum buatan Rose, tadi Dave juga bilang enak banget. Dimsum buatan Rose memang sangat enak jadi wajar kalau setiap orang yang mencicipinya akan bila
"Sayang, aku pulang."Arthur masuk ke dalam rumah bersama Dave.Setelah mereka meeting tadi, Arthur dan Dave memutuskan untuk pulang ke rumah karena ingin melihat istri mereka.Mereka penasaran apa yang dilakukan istri mereka sampai pesan yang mereka kirim saja tidak di balas. Jangankan di balas, di baca saja tidak. Saat mereka telpon tetapi baik Julia maupun Rose sama-sama tidak mengangkat panggilan telepon dari mereka.Arthur memang sengaja tidak menghubungi Bi Arum atau siapa pun karena ia sudah memutuskan untuk pulang ke rumah saja.Apalagi kerjaannya di kantor sudah selesai semua sebelum meeting bersama klien dari Bali. Ia menyerahkan urusan kantor dengan Agam."Dimana mereka," ucap Arthur saat belum menemukan istrinya."Aku hubungi Julia juga nggak diangkat teleponku. Kemana mereka berdua," ucap Dave.Arthur menuju dapur untuk menemui Bi Arum. Karena baik di ruang tamu maupun ruang keluarga memang tidak ada orang. Di rumah Arthur ini, setelah jam makan siang setelah semua kerj
"Loh Zumi, kapan kamu datang ke Jakarta."Julia langsung menyambut kedatangan Zumi. Meski ia sempat sangat kesal dengan putra angkatnya Arthur ini gara-gara menyakiti Rose, tapi saat ini ia sudah lebih melunak. Apalagi sekarang Rose sudah mendapatkan pengganti yang sangat jauh lebih baik dari Zumi."Aku baru saja datang hari ini, Tante. Ini aku dari bandara langsung ke sini. Aku pikir Papa ada di rumah," jawab Zumi."Kalau sekarang mana ada Papa kamu di rumah. Tentu saja dia masih di kantor," ucap Julia.Lalu ia menoleh ke arah Rose yang kembali melanjutkan membuat adonan untuk dimsum, seolah mengabaikan keberadaan Zumi di dapur.Ia paham mengapa Rose seperti itu. Meski sudah berdamai dan melupakan, tetap saja Zumi adalah masa lalu Rose dan apa yang dilakukan oleh pria itu pasti sangat membekas di Rose."Aku pikir kalau siang hari Papa akan pulang ke rumah untuk makan siang bersama istrinya," ucap Zumi. Lalu dia mendekati Rose dan Julia yang sedang membuat dimsum."Papa hari ini ngga
Rose membuka matanya dan ia menoleh ke samping, pria yang ia cintai masih terlelap, wajah damai pria itu terlihat begitu menawan. Dalam kondisi apapun Arthur memang selalu tampan.Tangan Rose mengusap rahang Arthur, semua yang ada di wajah Arthur, Rose sangat menyukainya. Diam-diam ia berdoa jika n
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Arthur menekuk wajahnya karena ia masih kesal yang sebenarnya hal sepele.Sebelum berangkat, Arthur meminta Rose untuk menghapus make up-nya. Tidak ingin membuat mood Arthur buruk pagi ini karena mereka akan ada meeting penting, akhirnya Rose mengikuti keinginan
Arthur mengangkat tubuh Rose ke atas meja yang ada di ruang kerjanya. Berkas serta laptop yang ada di atas kerja ia geser hingga gelas yang berisi kopi di bawa oleh Rose tadi juga tergeser dan....Praaaang!!"Papa.." ucap Rose terkejut karena gelas kopi itu terjatuh ke lantai hingga pecah."Aku sud
“Harusnya kamu berterima kasih yang benar, Rose,” bisik Arthur di telinganya dengan suara rendah dan sedikit berat.Rose langsung melepaskan pelukannya, menatap Arthur dengan wajah memerah sampai ke telinga.“Ma-maksud Papa apa? Aku udah bilang terima kasih, kan?”Arthur menatapnya dengan ekspresi







