Share

Bab 140

Penulis: Mommy_Ar
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-25 09:47:50

Cahaya mentari pagi mulai menembus celah tirai kamar. Sinar lembutnya menari di atas seprai putih yang kusut, menelusuri kulit Marsha yang masih dibalut selimut tebal.

Udara kamar masih terasa hangat, menyimpan aroma samar parfum dan jejak malam yang baru saja berlalu.

Marsha membuka matanya perlahan, tubuhnya terasa sedikit pegal namun ada rasa aneh yang membuatnya enggan beranjak.

Ia menatap langit-langit kamar beberapa detik sebelum akhirnya menunduk menyadari sesuatu. Tubuhnya yang polos di balik selimut, lalu… sosok Rafi yang tertidur di sampingnya.

Jantungnya berdetak tak beraturan. Napasnya tercekat.

Ia menatap wajah Rafi yang tampak damai dalam tidurnya. Rambutnya sedikit berantakan, rahangnya tegas, dan ada senyum samar di sudut bibirnya. Sesuatu di dada Marsha terasa bergetar.

“Aku benar-benar sudah jadi istrinya…” bisiknya lirih, hampir seperti takut pada suaranya sendiri.

Ia mengeratkan genggaman pada selimutnya, seolah ingin memastikan bahwa ini bukan mimpi.

Setelah se
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (5)
goodnovel comment avatar
puspa Andriati
wkakakakaka... mars nih polos atau pura2 polos ya??? kalau mau pegang gak usah pakai bilang sakit donk mars.... biarkan rafi junior segera bersemayam di kandungan kamu ya mars
goodnovel comment avatar
enur .
hahaha itu fakta Mom
goodnovel comment avatar
Mommy_Ar
wkwkwkwkwkekeke
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 106 s2

    Pagi itu, halaman rumah masih basah oleh embun ketika mobil Miko melaju perlahan meninggalkan gerbang. Tidak seperti biasanya, motor sport kesayangannya terparkir rapi di garasi. Hari ini ia memilih mobil, bukan karena gengsi, melainkan karena satu alasan sederhana namun penting: kondisi Kayla belum sepenuhnya pulih. Kayla duduk di kursi penumpang, mengenakan seragam sekolah dengan rapi. Rambutnya tergerai sederhana, wajahnya masih terlihat pucat, tapi jauh lebih tenang dibanding kemarin pagi. Sesekali ia menatap keluar jendela, menyaksikan pepohonan yang berlalu, seolah masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua ini nyata rumah besar, keluarga, dan kini… kakak yang mengantarnya ke sekolah. “Kamu yakin gak apa-apa?” tanya Miko sambil meliriknya sekilas. Kayla mengangguk pelan. “Iya. Cuma agak pusing dikit.’’ Miko tidak menjawab, hanya memperlambat laju mobilnya. Tangannya menggenggam setir dengan

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 105 s2

    “Tetep aja, Kay,” balasnya ngotot. “Aku kakak kamu!” Kayla menghela napas berat, menyerah sambil tersenyum. “Oke… Kak Miko.” “Good job,” sahut Miko puas. Keduanya tertawa kecil. Tawa yang ringan, tulus, dan hangat, tanpa beban, tanpa luka. Untuk pertama kalinya, mereka tidak hanya merasa aman…mereka merasa utuh. ** Pagi harinya, Kayla terbangun setelah tidur yang begitu nyenyak. Matanya perlahan terbuka, menatap langit-langit kamar dengan cat lembut dan hiasan yang masih terasa asing baginya. Aroma kamar ini berbeda bersih, hangat, dan menenangkan. Tirai putih bergoyang pelan tertiup angin pagi yang masuk melalui jendela besar. Sinar matahari menyelinap, jatuh tepat di wajahnya. Kayla mengedip beberapa kali. Tidak mimpi. Semua ini nyata. Rumah besar. Kamar indah. Orang tua kandung. Keluarga yang selama ini hanya ada di lubuk hatinya sebagai angan-angan.

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 104 s2

    Beberapa hari berlalu sejak Kayla siuman. Kondisinya berangsur membaik, meski tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih. Luka-luka itu perlahan sembuh, namun bekasnya tetap ada, bukan hanya di kulit, tapi juga di hati.Hari itu dokter akhirnya memperbolehkannya pulang.Namun, Kayla tidak kembali ke kontrakan sempit yang selama ini ia sebut rumah. Tidak ada lagi kunci berkarat, dinding lembap, atau kasur tipis yang setiap malam menemaninya menangis diam-diam. Mobil yang ia tumpangi justru melaju ke arah yang sama sekali berbeda menuju sebuah kawasan elit yang bahkan dulu hanya bisa ia lihat dari kejauhan.Mobil berhenti perlahan di depan sebuah rumah besar.Kayla turun dengan langkah ragu. Kakinya sedikit gemetar, entah karena lemah atau karena perasaannya yang terlalu penuh. Ia mendongak.Rumah itu berdiri megah di hadapannya. Bangunan dua lantai dengan pilar kokoh, jendela-jendela besar berbingkai putih, dan halaman luas yang dipenuhi bunga berwarna-warni. Mawar, melati, dan anggrek

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 103 s2

    Rafi menatap putranya lekat-lekat. “Nyatanya dia memang suka sama kamu. Dan karena itu, dia yang menyuruh Vania menyamar jadi Mikha. Supaya posisinya aman, supaya tidak ada yang menghalangi dia mendekati kamu.” Kata-kata itu seperti pukulan telak bagi Miko. Dadanya terasa berat. Ingatannya berputar cepat, memutar ulang kejadian-kejadian kecil yang dulu ia anggap sepele. Sikap Adel yang selalu ingin tahu, caranya terlalu sering ikut campur, tatapannya yang kadang terasa aneh semua itu kini terasa masuk akal. Miko terdiam lama, mencoba mencerna semuanya. Tanpa sadar, bayangan Dinda muncul di kepalanya. Dinda yang dulu berkali-kali memperingatkannya. Dinda yang mengatakan bahwa Adel bukan gadis sebaik yang terlihat. Dinda yang sering cemburu setiap kali ia pulang sekolah dibonceng Adel, sampai berkali-kali memilih putus karena merasa tidak didengarkan. Saat itu Miko tidak percaya. Ia mengira Dinda hanya berlebihan, terlalu posesif, terlalu manja. Kini, saat semua terbong

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 102 s2

    Sepulang sekolah, langkah Miko terasa jauh lebih berat dari biasanya. Seragamnya masih rapi, tas masih menggantung di bahu, tapi pikirannya sudah berlari lebih dulu ke satu tempat rumah sakit. Dadanya berdebar tanpa alasan yang jelas, seolah ada firasat yang sejak tadi menekan dari dalam. Begitu pintu ruang perawatan dibuka, Miko sontak terhenti. Matanya membola. Kayla sudah sadar. Gadis itu setengah duduk di atas brankar, wajahnya masih pucat namun matanya terbuka dan hidup. Di sampingnya, Marsha tengah menyuapi potongan buah dengan gerakan lembut, penuh kesabaran. Sementara di sofa dekat jendela, Rafi duduk tenang sambil menatap layar ponselnya, sesekali melirik ke arah Kayla. Pemandangan itu membuat Miko bingung sekaligus terkejut. “Mama sama Papa ngapain di sini?” tanya Miko spontan, suaranya sedikit tertahan. Rafi mendongak, menatap putranya sekilas sebelum menjawab santai, “Kamu baru p

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 101 s2

    Air mata Kayla jatuh tanpa mampu ia tahan. Pertanyaan itu meluncur dari bibirnya dengan suara bergetar, seolah ia sendiri takut mendengar jawabannya. “Jadi… benar, aku anak kalian?” ulang Kayla lirih. Dadanya naik turun tak beraturan. “Aku… aku punya orang tua?” Marsha tak sanggup lagi berdiri tegak. Lututnya melemas, ia segera mendekat dan memeluk Kayla erat-erat, seakan takut gadis itu akan menghilang jika dilepas sedetik saja. Tangisnya pecah, bukan lagi isak yang ditahan, melainkan tangisan panjang yang selama belasan tahun terpendam. “Iya, sayang…” suara Marsha serak, penuh luka dan rindu. “Kamu anak kami. Kamu putri mama. Maaf… maafkan mama yang terlalu lama kehilangan kamu.” Rafi berdiri di samping ranjang, dadanya sesak melihat dua perempuan yang paling berharga dalam hidupnya saling berpelukan dalam air mata. Tangannya gemetar saat akhirnya ikut memeluk mereka berdua, menyatukan pelukan yang terasa sangat rapuh n

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status