Share

Bab 150

Author: Mommy_Ar
last update Huling Na-update: 2025-11-03 14:47:14

“Iya, dari tadi aku belum makan apa-apa,” kata Marsha sambil mengelus perutnya, mencoba tersenyum walau matanya masih sembab.

“Aku pikir sambil pulang aja, nanti aku pikirin mau makan di mana.”

Rafi tersenyum, nada kecil tawa keluar dari tenggorokannya. “Oke, terserah kamu, Nyonya manja.”

Tapi baru beberapa langkah mereka berjalan dari taman menuju parkiran, Marsha tiba-tiba berhenti. Ia menatap Rafi dengan ekspresi bingung.

“Aku gak mau bawa mobil sendiri. Aku mau sama kamu. Tapi… mobil aku gimana?”

Rafi menghela napas, tersenyum lembut sambil menggeleng pelan. “Kamu tuh ya…” Ia mendekat, menggandeng tangan Marsha lagi. “Nanti aku suruh Edwin ambil mobil kamu di sini, ya.”

Marsha menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum lega. “Oke!” katanya pelan tapi penuh semangat. Ia menyandarkan kepala di bahu Rafi, merasa aman.

Rafi memeluk bahunya sambil berjalan menuju parkiran. Langit mulai sedikit mendung, t
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (5)
goodnovel comment avatar
puspa Andriati
wkakakakaka... bisa aja nih mom yanh suka ama DJ landa buat rafi cemburu dehhh karena ganteng kata mars
goodnovel comment avatar
Bundanya Khaliza
rafi cemburu.. tenang Raf.. dia gak suka bungkus. suka nya di bungkus
goodnovel comment avatar
Mommy_Ar
wkwkkwkwkwkw
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 108 s2

    Sepulang sekolah, Kayla tidak menoleh ke mana pun. Tidak ke ruang keluarga, tidak ke dapur, bahkan tidak ke arah Miko yang duduk sambil memainkan ponselnya. Ia hanya melewati laki-laki itu dengan langkah cepat, wajah tertunduk, dan tanpa sepatah kata pun.“Kay, makan siang dulu. Kamu belum makan,” panggil Miko dari ruang tengah, nada suaranya khawatir.Tidak ada jawaban. Hanya suara pintu kamar yang tertutup dan langsung terkunci dari dalam.Miko menghela napas, menatap pintu yang kini membatasi dirinya dan gadis yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu. Ada sesuatu yang berbeda dari Kayla sejak pagi tadi. Wajahnya pucat, pandangannya kosong, dan ia bahkan tidak menyentuh sarapan.Di dalam kamar, Kayla berdiri terpaku beberapa detik, seolah mencoba menahan dunia yang terasa berguncang. Tangannya gemetar saat melepaskan tas dan meletakkannya begitu saja di lantai. Sepatunya pun ia tendang keluar tanpa peduli apakah terlempar jauh atau tidak.Langkahnya gontai menuju kamar ma

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 107 s2

    Hoekkkk! Hoeekkk! Suara muntah itu memecah sunyi pagi. Udara kamar mandi masih dingin, sementara cahaya matahari baru saja menyelinap melalui celah jendela. Kayla berdiri terpaku di depan wastafel, kedua tangannya mencengkeram tepinya erat-erat seolah tubuhnya bisa roboh kapan saja. Perutnya bergejolak hebat, rasanya mual tak tertahankan. Kepalanya pening, pandangannya berkunang-kunang. Wajahnya pucat pasi, hampir tak ada darah yang tersisa di sana. “Aku kenapa…” gumamnya lirih, suaranya nyaris tak terdengar, sebelum rasa mual itu kembali menyerang. Hoekk! Tubuh Kayla gemetar. Setelah muntah untuk kesekian kalinya, tenaganya benar-benar terkuras. Kakinya melemah, membuatnya terpaksa terduduk di lantai kamar mandi yang dingin. Nafasnya memburu, dadanya naik turun tidak beraturan. Tok tok tok. Dari luar kamar terdengar suara ketukan, disusul teriakan khas Miko yang selalu c

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 106 s2

    Pagi itu, halaman rumah masih basah oleh embun ketika mobil Miko melaju perlahan meninggalkan gerbang. Tidak seperti biasanya, motor sport kesayangannya terparkir rapi di garasi. Hari ini ia memilih mobil, bukan karena gengsi, melainkan karena satu alasan sederhana namun penting: kondisi Kayla belum sepenuhnya pulih. Kayla duduk di kursi penumpang, mengenakan seragam sekolah dengan rapi. Rambutnya tergerai sederhana, wajahnya masih terlihat pucat, tapi jauh lebih tenang dibanding kemarin pagi. Sesekali ia menatap keluar jendela, menyaksikan pepohonan yang berlalu, seolah masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua ini nyata rumah besar, keluarga, dan kini… kakak yang mengantarnya ke sekolah. “Kamu yakin gak apa-apa?” tanya Miko sambil meliriknya sekilas. Kayla mengangguk pelan. “Iya. Cuma agak pusing dikit.’’ Miko tidak menjawab, hanya memperlambat laju mobilnya. Tangannya menggenggam setir dengan

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 105 s2

    “Tetep aja, Kay,” balasnya ngotot. “Aku kakak kamu!” Kayla menghela napas berat, menyerah sambil tersenyum. “Oke… Kak Miko.” “Good job,” sahut Miko puas. Keduanya tertawa kecil. Tawa yang ringan, tulus, dan hangat, tanpa beban, tanpa luka. Untuk pertama kalinya, mereka tidak hanya merasa aman…mereka merasa utuh. ** Pagi harinya, Kayla terbangun setelah tidur yang begitu nyenyak. Matanya perlahan terbuka, menatap langit-langit kamar dengan cat lembut dan hiasan yang masih terasa asing baginya. Aroma kamar ini berbeda bersih, hangat, dan menenangkan. Tirai putih bergoyang pelan tertiup angin pagi yang masuk melalui jendela besar. Sinar matahari menyelinap, jatuh tepat di wajahnya. Kayla mengedip beberapa kali. Tidak mimpi. Semua ini nyata. Rumah besar. Kamar indah. Orang tua kandung. Keluarga yang selama ini hanya ada di lubuk hatinya sebagai angan-angan.

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 104 s2

    Beberapa hari berlalu sejak Kayla siuman. Kondisinya berangsur membaik, meski tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih. Luka-luka itu perlahan sembuh, namun bekasnya tetap ada, bukan hanya di kulit, tapi juga di hati.Hari itu dokter akhirnya memperbolehkannya pulang.Namun, Kayla tidak kembali ke kontrakan sempit yang selama ini ia sebut rumah. Tidak ada lagi kunci berkarat, dinding lembap, atau kasur tipis yang setiap malam menemaninya menangis diam-diam. Mobil yang ia tumpangi justru melaju ke arah yang sama sekali berbeda menuju sebuah kawasan elit yang bahkan dulu hanya bisa ia lihat dari kejauhan.Mobil berhenti perlahan di depan sebuah rumah besar.Kayla turun dengan langkah ragu. Kakinya sedikit gemetar, entah karena lemah atau karena perasaannya yang terlalu penuh. Ia mendongak.Rumah itu berdiri megah di hadapannya. Bangunan dua lantai dengan pilar kokoh, jendela-jendela besar berbingkai putih, dan halaman luas yang dipenuhi bunga berwarna-warni. Mawar, melati, dan anggrek

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 103 s2

    Rafi menatap putranya lekat-lekat. “Nyatanya dia memang suka sama kamu. Dan karena itu, dia yang menyuruh Vania menyamar jadi Mikha. Supaya posisinya aman, supaya tidak ada yang menghalangi dia mendekati kamu.” Kata-kata itu seperti pukulan telak bagi Miko. Dadanya terasa berat. Ingatannya berputar cepat, memutar ulang kejadian-kejadian kecil yang dulu ia anggap sepele. Sikap Adel yang selalu ingin tahu, caranya terlalu sering ikut campur, tatapannya yang kadang terasa aneh semua itu kini terasa masuk akal. Miko terdiam lama, mencoba mencerna semuanya. Tanpa sadar, bayangan Dinda muncul di kepalanya. Dinda yang dulu berkali-kali memperingatkannya. Dinda yang mengatakan bahwa Adel bukan gadis sebaik yang terlihat. Dinda yang sering cemburu setiap kali ia pulang sekolah dibonceng Adel, sampai berkali-kali memilih putus karena merasa tidak didengarkan. Saat itu Miko tidak percaya. Ia mengira Dinda hanya berlebihan, terlalu posesif, terlalu manja. Kini, saat semua terbong

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status