LOGINSetelah berkali-kali mencoba menghubungi Ara tanpa jawaban, Mama Indri terduduk lemas di kursi tunggu rumah sakit.
Matanya sembab, suaranya serak. Tapi di lubuk hatinya ia tahu satu hal: dia tidak bisa hanya duduk diam. Kalau Ara tidak mau menjawab telepon, maka dia sendiri yang harus mendatangi anaknya.Dengan langkah goyah, Indri keluar dari rumah sakit.Sambil menyeka air matanya, ia menghubungi sopir pribadi untuk mengantarnya ke alamat apartemen Aga alamat yang dulu pernah dia ketahui dari Ara sendiri, saat Ara dengan polos bercerita kalau sering singgah di sana.Sepanjang perjalanan, Indri terdiam. Pikirannya kalut.‘Ya Allah, bagaimana cara Mama meyakinkan dia kalau Mama cuma ingin bicara dari hati ke hati?’Mobil berhenti di depan apartemen. Indri menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, lalu melangkah masuk dengan perasaan berat. Tangannya dingin, jantungnya berdetak cepat.Sesampainya di lantai tempat unit Aga, Indri berdiri cukup lamPagi itu, halaman rumah masih basah oleh embun ketika mobil Miko melaju perlahan meninggalkan gerbang. Tidak seperti biasanya, motor sport kesayangannya terparkir rapi di garasi. Hari ini ia memilih mobil, bukan karena gengsi, melainkan karena satu alasan sederhana namun penting: kondisi Kayla belum sepenuhnya pulih. Kayla duduk di kursi penumpang, mengenakan seragam sekolah dengan rapi. Rambutnya tergerai sederhana, wajahnya masih terlihat pucat, tapi jauh lebih tenang dibanding kemarin pagi. Sesekali ia menatap keluar jendela, menyaksikan pepohonan yang berlalu, seolah masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua ini nyata rumah besar, keluarga, dan kini… kakak yang mengantarnya ke sekolah. “Kamu yakin gak apa-apa?” tanya Miko sambil meliriknya sekilas. Kayla mengangguk pelan. “Iya. Cuma agak pusing dikit.’’ Miko tidak menjawab, hanya memperlambat laju mobilnya. Tangannya menggenggam setir dengan
“Tetep aja, Kay,” balasnya ngotot. “Aku kakak kamu!” Kayla menghela napas berat, menyerah sambil tersenyum. “Oke… Kak Miko.” “Good job,” sahut Miko puas. Keduanya tertawa kecil. Tawa yang ringan, tulus, dan hangat, tanpa beban, tanpa luka. Untuk pertama kalinya, mereka tidak hanya merasa aman…mereka merasa utuh. ** Pagi harinya, Kayla terbangun setelah tidur yang begitu nyenyak. Matanya perlahan terbuka, menatap langit-langit kamar dengan cat lembut dan hiasan yang masih terasa asing baginya. Aroma kamar ini berbeda bersih, hangat, dan menenangkan. Tirai putih bergoyang pelan tertiup angin pagi yang masuk melalui jendela besar. Sinar matahari menyelinap, jatuh tepat di wajahnya. Kayla mengedip beberapa kali. Tidak mimpi. Semua ini nyata. Rumah besar. Kamar indah. Orang tua kandung. Keluarga yang selama ini hanya ada di lubuk hatinya sebagai angan-angan.
Beberapa hari berlalu sejak Kayla siuman. Kondisinya berangsur membaik, meski tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih. Luka-luka itu perlahan sembuh, namun bekasnya tetap ada, bukan hanya di kulit, tapi juga di hati.Hari itu dokter akhirnya memperbolehkannya pulang.Namun, Kayla tidak kembali ke kontrakan sempit yang selama ini ia sebut rumah. Tidak ada lagi kunci berkarat, dinding lembap, atau kasur tipis yang setiap malam menemaninya menangis diam-diam. Mobil yang ia tumpangi justru melaju ke arah yang sama sekali berbeda menuju sebuah kawasan elit yang bahkan dulu hanya bisa ia lihat dari kejauhan.Mobil berhenti perlahan di depan sebuah rumah besar.Kayla turun dengan langkah ragu. Kakinya sedikit gemetar, entah karena lemah atau karena perasaannya yang terlalu penuh. Ia mendongak.Rumah itu berdiri megah di hadapannya. Bangunan dua lantai dengan pilar kokoh, jendela-jendela besar berbingkai putih, dan halaman luas yang dipenuhi bunga berwarna-warni. Mawar, melati, dan anggrek
Rafi menatap putranya lekat-lekat. “Nyatanya dia memang suka sama kamu. Dan karena itu, dia yang menyuruh Vania menyamar jadi Mikha. Supaya posisinya aman, supaya tidak ada yang menghalangi dia mendekati kamu.” Kata-kata itu seperti pukulan telak bagi Miko. Dadanya terasa berat. Ingatannya berputar cepat, memutar ulang kejadian-kejadian kecil yang dulu ia anggap sepele. Sikap Adel yang selalu ingin tahu, caranya terlalu sering ikut campur, tatapannya yang kadang terasa aneh semua itu kini terasa masuk akal. Miko terdiam lama, mencoba mencerna semuanya. Tanpa sadar, bayangan Dinda muncul di kepalanya. Dinda yang dulu berkali-kali memperingatkannya. Dinda yang mengatakan bahwa Adel bukan gadis sebaik yang terlihat. Dinda yang sering cemburu setiap kali ia pulang sekolah dibonceng Adel, sampai berkali-kali memilih putus karena merasa tidak didengarkan. Saat itu Miko tidak percaya. Ia mengira Dinda hanya berlebihan, terlalu posesif, terlalu manja. Kini, saat semua terbong
Sepulang sekolah, langkah Miko terasa jauh lebih berat dari biasanya. Seragamnya masih rapi, tas masih menggantung di bahu, tapi pikirannya sudah berlari lebih dulu ke satu tempat rumah sakit. Dadanya berdebar tanpa alasan yang jelas, seolah ada firasat yang sejak tadi menekan dari dalam. Begitu pintu ruang perawatan dibuka, Miko sontak terhenti. Matanya membola. Kayla sudah sadar. Gadis itu setengah duduk di atas brankar, wajahnya masih pucat namun matanya terbuka dan hidup. Di sampingnya, Marsha tengah menyuapi potongan buah dengan gerakan lembut, penuh kesabaran. Sementara di sofa dekat jendela, Rafi duduk tenang sambil menatap layar ponselnya, sesekali melirik ke arah Kayla. Pemandangan itu membuat Miko bingung sekaligus terkejut. “Mama sama Papa ngapain di sini?” tanya Miko spontan, suaranya sedikit tertahan. Rafi mendongak, menatap putranya sekilas sebelum menjawab santai, “Kamu baru p
Air mata Kayla jatuh tanpa mampu ia tahan. Pertanyaan itu meluncur dari bibirnya dengan suara bergetar, seolah ia sendiri takut mendengar jawabannya. “Jadi… benar, aku anak kalian?” ulang Kayla lirih. Dadanya naik turun tak beraturan. “Aku… aku punya orang tua?” Marsha tak sanggup lagi berdiri tegak. Lututnya melemas, ia segera mendekat dan memeluk Kayla erat-erat, seakan takut gadis itu akan menghilang jika dilepas sedetik saja. Tangisnya pecah, bukan lagi isak yang ditahan, melainkan tangisan panjang yang selama belasan tahun terpendam. “Iya, sayang…” suara Marsha serak, penuh luka dan rindu. “Kamu anak kami. Kamu putri mama. Maaf… maafkan mama yang terlalu lama kehilangan kamu.” Rafi berdiri di samping ranjang, dadanya sesak melihat dua perempuan yang paling berharga dalam hidupnya saling berpelukan dalam air mata. Tangannya gemetar saat akhirnya ikut memeluk mereka berdua, menyatukan pelukan yang terasa sangat rapuh n







