LOGINPagi itu, rumah nenek Anne masih diselimuti suasana yang menegangkan. Sinar matahari musim gugur menembus jendela, tapi tidak sepenuhnya mampu menghangatkan hati orang-orang di dalamnya.Sejak kejadian tadi malam, suasana di rumah besar sedikit lebih mencekam daripada sebelumnya. Apalagi karena kini, pagi ini, Leon sudah bertamu bersama dengan Adrian.Pagi ini Leon sudah berdiri di ruang tamu rumah itu dengan sikap tenang, meski sorot matanya menunjukkan tekad yang bulat dan membara. Anne berdiri di sebelahnya. Tangan kiri Leon menggenggam jemari Anne, seolah takut wanita itu akan menghilang lagi jika ia lengah sesaat.Di sana, Valerie duduk bersebelahan dengan kakek dan nenek Anne. Megan berdiri di sebelahnya. Sesekali matanya bertatapan dengan Adrian yang tampak beberapa kali mencuri pandang ke arahnya.“Jadi apa yang kau inginkan sekarang?" tanya Valerie dengan nada dingin dan datar, matanya seolah enggan menatap Leon."Ma, hari ini aku ingin meminta izin. Aku ingin membawa Anne pu
Valerie jatuh tepat di depan mereka. Tubuhnya terkulai lemas di lantai teras, membuat suasana yang semula tegang kini berubah menjadi kepanikan total.“Mama!” jerit Anne histeris.Dengan cemas, Anne langsung berlutut di samping ibunya itu. Tangannya gemetar saat menggenggam bahu Valerie yang terasa dingin. Wajah wanita itu pucat pasi, dan napasnya tersengal panik.“Leon, tolong!” suara Anne bergetar hebat. Bahkan di saat genting seperti ini, justru Leon tetap menjadi orang pertama yang ia butuhkan.Leon bergerak cepat menghampiri Anne. Ia berlutut di sisi lain tubuh Valerie. Dengan sigap, ia mengecek napas dan denyut nadi mertuanya itu dengan wajah tegang.“Anne, mama pingsan karena shock,” ujar Leon cepat. “Kita harus segera menolongnya. Aku akan hubungi Adrian untuk memanggil dokter sekarang!”“Lakukan yang terbaik untuk mama, Leon." Suara Anne serak karena menahan tangis.Leon mengangguk. Dengan hati-hati, ia menggendong tubuh Valerie dan membawanya masuk ke ruang tengah. Anne berj
Sosok yang berdiri dalam bayang-bayang itu akhirnya melangkah mundur perlahan. Lampu-lampu Heidelberg masih berkilau indah, tapi bagi Damara, pemandangan itu terasa seperti ejekan. Ia sangat muak melihatnya.Dada pria itu naik turun menahan amarah yang membakar. Tangannya mengepal semakin kuat saat melihat Leon memeluk Anne dengan erat. Ia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat ini wanita yang sejak awal ingin ia lindungi dan ingin ia lindungi, justru sedang menyandarkan tubuhnya dalam pelukan Leon, rival abadinya itu.“Jadi pada akhirnya, kau tetap memilih dia, Anne,” gumam Damara dengan suara rendah dan dingin.Matanya memerah, bukan hanya karena luka, tapi karena ego yang terinjak. Ia bukan pria yang terbiasa kalah. Terlebih kalah dari Leon, musuh yang selama ini selalu berusaha keras ia kalahkan dengan cara halus.“Aku sudah memberimu ruang,” lanjutnya lirih, senyum tipis berbahaya terukir di bibirnya.“Dan aku juga sudah membiarkanmu untuk mengambil keputusanmu sendiri
“Lepaskan aku, Leon! Aku bukan milikmu.” Anne berontak dan berusaha berpaling untuk pergi dari Leon, tetapi pria itu dengan cepat menahan tangan Anne dan menariknya ke dalam pelukannya.“Tidak, Sayang. Sampai kapan pun, kau adalah milikku. Kau masih istriku, selamanya." Leon mendekap tubuh Anne semakin erat.Kedua tangannya melingkar di pinggang Anne, dagunya ia letakkan di puncak kepala Anne, dan sesekali Leon mengecup kepala wanita yang sangat dicintainya itu.Anne berontak, tapi ia tak bisa lepas. Ia tak punya pilihan lain, selain hanya diam beberapa saat dan merasakan pelukan Leon yang sebenarnya selama ini sangat dia rindukan.Malam di Heidelberg itu terasa begitu sunyi, seolah dunia sengaja menahan napas hanya untuk mereka berdua. Angin dingin menyapu pelan, membawa aroma sungai dan semerbak dedaunan. Cahaya kota tua berkilau di kejauhan, sementara Anne dan Leon terdiam dengan posisi saling berpelukan.“Leon, lepaskan aku! Jangan seperti ini!" Anne berusaha mendorong dada Leon.
Anne menatap layar ponselnya cukup lama. Nomor itu tidak asing dan tidak tersimpan di ponselnya, tapi entah kenapa dadanya langsung terasa berat begitu membaca pesannya. Ia tidak perlu menebak terlalu lama.“Pasti Leon,” gumamnya lirih.Tangannya sedikit gemetar saat menggenggam ponsel. Ia menoleh ke arah pintu kamar, memastikan rumah sedang sepi. Valerie dan Megan masih berada di dapur, nenek dan kakeknya sedang tidur di kamar belakang.“Sepertinya aku harus menemui dia sekali saja. Setidaknya aku harus membuat perhitungan dengannya." Anne menarik napas dalam-dalam, lalu meraih mantel dan melangkah turun tanpa banyak suara.Beberapa menit kemudian, Anne sudah berdiri di depan pagar rumah neneknya. Udara malam Hamburg terasa dingin menusuk tulang. Lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di aspal yang basah.Baru saja Anne berhenti di sana, tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti perlahan di hadapannya. Beberapa saat kemudian, pintu pun terbuka. Dari dalam sana, terlihat sosok Leon ya
Leon masih berdiri di luar gedung itu ketika kelas ibu hamil berakhir. Ia tidak masuk dan tidak mendekat sama sekali. Ia hanya mengamati dari balik kaca seperti seseorang yang takut menghancurkan sesuatu yang rapuh.Sebab ia tahu, jika dirinya mendekat, maka Anne bisa saja ketakutan dan semakin membenci dirinya. Leon tak ingin itu terjadi. Ia ingin membangun kepercayaan Anne lagi, dan ia harus sedikit bersabar untuk itu.Satu jam ini terasa seperti seharian penuh bagi Leon.Hingga akhirnya pintu kelas itu pun terbuka. Para ibu hamil keluar satu per satu, disusul tawa kecil dan obrolan ringan.Anne juga muncul di antara mereka. Ia berjalan pelan dengan Megan di sisinya. Tangannya masih mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang. Aksi kecilnya itu refleks yang membuat dada Leon kembali bergemuruh kencang.“Adrian, ayo kita sembunyi! Jangan sampai Anne dan Megan melihat kita." “Baik, Tuan." Leon pun mundur selangkah dengan diikuti oleh Adrian. Mereka bersembunyi di balik pilar agar ti