Home / Urban / Sentuhan Pembalasan / Bab 103: Cermin yang Pecah

Share

Bab 103: Cermin yang Pecah

Author: Beya
last update publish date: 2026-04-06 09:50:36

Sisa-sisa reruntuhan The Monolith melayang di ruang hampa Sektor 09 seperti bangkai raksasa yang membusuk dalam cahaya dingin. Di tengah badai logam dan api yang padam, Arka Adiwangsa berdiri di atas sebuah lempengan kristal yang terlepas, memegang tubuh Valerie dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rambut putihnya yang berlumuran debu perunggu berkibar oleh sisa-sisa tekanan atmosfer yang bocor. Di matanya, yang kini kembali ke warna ungu pekat, terpancar kilat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 105: Kiamat di Tanah Kelahiran

    Keheningan yang menyelimuti sisa-sisa supernova The Origin terasa begitu murni, seolah-olah ruang hampa itu sendiri baru saja dibaptis oleh kehancuran. Di atas anjungan Aethelgard yang kini berpendar oleh aura kristalin ungu, Arka Adiwangsa duduk bersimpuh. Nafasnya berat, setiap tarikan udara terasa seperti menelan serpihan kaca. Zirah obsidiannya telah hancur di bagian dada, memperlihatkan kulit pucat yang kini dihiasi oleh jaringan parut bercahaya—tanda permanen dari energi yang diperas keluar oleh sang Prime Sovereign.Di depannya, Valerie berdiri membelakangi kegelapan semesta. Sosoknya bukan lagi sekadar wanita yang pernah ia culik dari jalanan Jakarta. Valerie kini adalah entitas yang memancarkan otoritas kosmik; rambut peraknya melayang tanpa bobot, dan setiap helainya tampak membawa kode-kode biner yang terus berdenyut.Arka menatap punggung istrinya dengan rasa haus yang menyakitkan. Posesifnya tidak hilang, ia justru bermutasi menjadi semacam pemujaan yang gila. Ia merangk

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 104: Panen Sang Pencipta

    Ruang di sekitar struktur bunga teratai mekanis The Origin bergetar hebat, bukan oleh ledakan fisik, melainkan oleh tekanan eksistensial yang dipancarkan oleh entitas yang baru saja bangun. Di tengah ribuan jarum perak yang melayang, Arka Adiwangsa berdiri dengan zirah yang retak, menggenggam pedang entropinya yang kini berpendar ungu kristalin. Ia menatap ke pusat struktur itu, di mana sesosok wanita raksasa yang terbuat dari cahaya murni mulai mewujud.Wajahnya adalah wajah Valerie. Namun, matanya tidak memiliki emosi; mereka adalah dua lubang hitam yang berisi kode-kode penciptaan semesta. Inilah The Prime Sovereign, iterasi nol yang menjadi cetak biru bagi semua "Katalisator" di galaksi. Kehadirannya membuat gravitasi di sekitar Aethelgard menjadi tidak stabil, menarik logam-logam kapal seolah-olah mereka hanyalah debu."Arka... lihat dia," bisik Valerie yang asli dari anjungan kapal. Suaranya bergetar, tercekik oleh rasa ngeri yang mendalam. Ia merasa seolah sedang menatap kemat

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 103: Cermin yang Pecah

    Sisa-sisa reruntuhan The Monolith melayang di ruang hampa Sektor 09 seperti bangkai raksasa yang membusuk dalam cahaya dingin. Di tengah badai logam dan api yang padam, Arka Adiwangsa berdiri di atas sebuah lempengan kristal yang terlepas, memegang tubuh Valerie dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rambut putihnya yang berlumuran debu perunggu berkibar oleh sisa-sisa tekanan atmosfer yang bocor. Di matanya, yang kini kembali ke warna ungu pekat, terpancar kilat kemurkaan yang hampir menelan kewarasan."Jangan menatapku seperti itu, Victoria," desis Arka. Suaranya serak, bergetar oleh amarah yang ia arahkan pada alam semesta, bukan pada wanita di pelukannya. "Kau bukan alat. Kau bukan senjata. Kau adalah milikku. Dan siapa pun yang berani mengklaim telah 'menciptakanmu', aku akan menghapus jejak sejarah mereka dari garis waktu ini!"Valerie bersandar pada dada Arka, napasnya memburu. Pendaran emas di pupil matanya mulai memudar, namun gema Malakor di da

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 102: Rahasia Sang Katalisator

    Vakum ruang angkasa di Sektor 09 tidaklah sunyi; ia berderit oleh frekuensi distorsi yang ditinggalkan oleh armada The Forgotten. Di pusat kekacauan ini, kapal induk Aethelgard meluncur seperti hiu obsidian yang terluka namun tetap mematikan. Di dalamnya, Arka Adiwangsa berdiri di anjungan utama, tangannya mencengkeram pinggiran meja taktis kristal hingga retak. Rambut putihnya berpendar di bawah cahaya merah darurat, memberikan kesan iblis yang sedang menanti mangsa. Di sampingnya, Valerie berdiri dengan ketenangan yang menghantui. Cincin emas di pupil matanya terus berputar, menandakan bahwa Malakor sedang melakukan simulasi tempur secara real-time di dalam benaknya."Mereka keluar dari lubang cacing dalam sepuluh detik," suara Valerie terdengar ganda—lembut seperti sutra namun tajam seperti sirkuit listrik."Ayah, aktifkan perisai entropi di sektor empat. Xerxes tidak akan menyerang secara frontal; dia akan mencoba membelah realitas kita," tambah

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 101: Ratu yang Memiliki Dua Jiwa

    Keheningan yang menyelimuti aula singgasana Aethelgard setelah badai kosmik mereda terasa lebih berat daripada gravitasi planet raksasa. Cahaya bintang Andromeda yang masuk melalui jendela kristal yang retak tampak pucat, seolah-olah alam semesta sendiri sedang menahan napas menyaksikan apa yang tersisa dari keluarga Adiwangsa. Arka Adiwangsa berdiri di depan singgasana obsidiannya, napasnya pendek dan kasar. Rambutnya yang memutih seluruhnya berkibar ditiup angin buatan yang dingin, sementara tangannya yang masih ternoda darah perak gemetar hebat. Di depannya, Valerie berdiri tegak. Ia tidak lagi tampak lemas atau butuh perlindungan. Ada keanggunan yang tidak wajar dalam setiap gerakannya, sebuah presisi yang biasanya hanya dimiliki oleh Malakor. Matanya yang ungu kini memiliki cincin emas di sekitar pupilnya yang berdenyut selaras dengan sirkuit elektronik di dinding istana. "Victoria..." bisik Arka, suaranya parau oleh emos

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 100: Klimaks – Apoteosis Kehampaan

    Ruang angkasa di sekitar Andromeda tidak lagi hitam; ia memutih, seputih tulang yang terbakar, akibat pancaran frekuensi "Nol" yang dilepaskan oleh ribuan jarum kristal The Erasers. Gelombang penghapusan itu menghantam benteng Aethelgard dengan massa energi yang sanggup menguapkan jutaan matahari dalam sekejap. Di pusat badai ini, Arka Adiwangsa menjerit—sebuah raungan yang melampaui pita suara manusia, bergema melalui kanal Void ke seluruh penjuru galaksi. Ia terikat pada Throne of Agony, tubuhnya kini menjadi medan perang material. Garis-garis putih kode pencipta di kulitnya beradu dengan kabut hitam entropi, menciptakan ledakan mikro-nuklir di setiap sel tubuhnya."BAKAR AKU, TAPI JANGAN SENTUH DIA!" raung Arka. Matanya menyemburkan api ungu yang pekat.Arka bertindak sebagai Heat Sink raksasa. Ia menyerap setiap radiasi penghapusan yang seharusnya menghancurkan planet-planet di belakangnya. Ia merasakan jiwanya diparut, memori tentang masa l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status