LOGINLift berkecepatan tinggi meluncur turun menuju kedalaman seribu meter di bawah permukaan tanah Jakarta, menuju sebuah sektor yang bahkan tidak tercatat dalam cetak biru resmi Adiwangsa Tech. Sektor itu disebut sebagai Lab Sembilan, sebuah tempat yang dibangun Arka Adiwangsa untuk menyimpan kega
Tiga hari adalah waktu yang sangat singkat bagi sebuah peradaban untuk bersiap menghadapi kiamat, namun bagi Malakor Adiwangsa, tiga hari adalah keabadian yang harus ia manfaatkan untuk mengukuhkan kedaulatannya. Di dalam ruang kerja ayahnya yang kini telah ia bersihkan dari sisa sisa energi Lilith, Malakor menatap layar monitor yang menampilkan file Proyek Reinkarnasi Kedua. Data di dalamnya bukan sekadar instruksi biologis, melainkan sebuah algoritma pemindahan kesadaran dimensi tinggi kembali ke dalam materi organik.Arka Adiwangsa ternyata tidak pernah berniat membiarkan Valerie dan dirinya sendiri terjebak di singgasana ketiadaan selamanya. Ia telah membangun jalan pulang, namun harga yang harus dibayar adalah pengorbanan seluruh cadangan energi Void yang
Lift berkecepatan tinggi meluncur turun menuju kedalaman seribu meter di bawah permukaan tanah Jakarta, menuju sebuah sektor yang bahkan tidak tercatat dalam cetak biru resmi Adiwangsa Tech. Sektor itu disebut sebagai Lab Sembilan, sebuah tempat yang dibangun Arka Adiwangsa untuk menyimpan kegagalan kegagalan penciptaan yang terlalu berbahaya untuk dimusnahkan. Di dalam lift yang sempit itu, Malakor berdiri diam, tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih. Arion berada di sampingnya, mengenakan zirah cadangan yang masih dialiri energi perak, meski napasnya masih terasa berat akibat luka sebelumnya. Tuan Muda, jika apa yang dikatakan Gerry benar, Lilith tidak hanya ingin membangkitkan monster biasa, ucap Arion. Dia mencari raga. Sebuah wadah
Kemenangan atas Galactic Collectors seharusnya membawa ketenangan bagi penduduk Bumi, namun bagi Malakor Adiwangsa, aroma kemenangan itu terasa amis oleh firasat buruk. Setelah serangan di atmosfer berakhir, Malakor kembali ke kantor pribadi ayahnya di puncak gedung Adiwangsa Tech. Ruangan itu telah disegel selama dua puluh tahun, hanya bisa dibuka oleh seseorang yang memiliki frekuensi biologis yang identik dengan sang pemilik asli.Begitu pintu geser logam itu terbuka, Malakor merasakan tekanan udara yang aneh. Suhu di dalam ruangan sangat dingin, namun bukan dinginnya es Himalaya, melainkan dingin yang hampa, seolah-olah oksigen di tempat itu telah dihisap oleh sesuatu yang tidak terlihat. Arion, yang selalu waspada di belakang Malakor, segera menghunus ped
Pesawat siluman yang membawa Malakor dan Arion meninggalkan puncak Himalaya yang membeku, meluncur menembus awan tebal menuju markas besar Adiwangsa Tech di Jakarta. Namun, pemandangan dari jendela kokpit tidak lagi menampilkan langit biru yang jernih. Di atas atmosfer, bintik bintik perak raksasa mulai terlihat melalui sensor optik pesawat. Itu bukan satelit, dan bukan pula sampah luar angkasa. Itu adalah armada kapal induk milik Galactic Collectors, entitas pengumpul sumber daya yang telah mengincar Bumi sejak jatuhnya para Arsitek.Malakor menatap layar hologram yang menampilkan analisis data dari Gerry. Kapal kapal itu memiliki panjang ribuan kilometer, ditenagai oleh mesin penghisap inti planet. Mereka tidak datang untuk menjajah atau berkomunikasi; merek
Pesawat siluman yang membawa Malakor dan Arion membelah badai salju di atas pegunungan Himalaya dengan kecepatan supersonik. Di bawah mereka, puncak-puncak gunung yang tajam tampak seperti taring raksasa yang mencoba menggapai langit yang terluka. Lokasi ini bukan sekadar tempat penyimpanan; ini adalah sebuah fasilitas yang dibangun dengan teknologi isolasi termal dan gravitasi tingkat tinggi, tempat di mana raga fisik Arka Adiwangsa dibekukan dalam kondisi stasis abadi.Malakor duduk di kursi pilot, matanya menatap lurus ke arah radar. Tato ular di lengan kanannya terasa panas, seolah-olah energi Void yang baru saja ia jinakkan di dasar samudra sedang bereaksi terhadap kedekatan dengan sumber aslinya. Malakor bisa merasakan detak jantung yang samar, bukan mil
Malam di Jakarta tidak pernah terasa sesunyi ini. Meskipun lampu-lampu kota masih berpijar, ada frekuensi rendah yang membuat bulu kuduk berdiri, sebuah getaran yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memiliki koneksi dengan dimensi di luar nalar manusia. Malakor Adiwangsa berdiri di pusat kendali bawah tanah rumahnya, menatap barisan layar yang menampilkan data satelit real-time. Di sampingnya, Arion berdiri diam seperti patung perak, sementara Gerry sibuk mengoperasikan sistem Protokol Warisan Terakhir yang baru saja diaktifkan.Tuan Muda, koordinat yang diberikan oleh Nyonya Valerie mengarah pada sebuah lokasi di kedalaman Samudra Pasifik, tepat di atas Palung Mariana, ucap Gerry. Suaranya mengandung kecemasan yang mendalam. Ada aktivitas seismik yang ti
Lautan Selat Singapura malam itu tampak seperti hamparan obsidian yang cair, hitam pekat dan menyimpan maut di setiap riaknya. Kapal cepat stealth yang dikemudikan Bima membelah ombak dengan kecepatan tinggi, meninggalkan buih putih yang segera hilang ditelan kegelapan. Di depan mereka,
Kegelapan menyergap restoran mewah di puncak Marina Bay Sands itu seperti kain kafan yang dilemparkan oleh maut. Suara ledakan bohlam kristal masih berdenging di telinga, meninggalkan bau ozon dan belerang yang mencekam. Di tengah kegelapan itu, Arka Adiwangsa tidak lagi tampak seperti
Suara di telepon itu mati dengan klik yang dingin, meninggalkan denging statis yang seolah mengejek kewarasan Arka. Arka perlahan menurunkan gagang telepon, tangannya bergetar bukan karena takut, melainkan karena amarah murni yang membakar setiap sel di tubuhnya. Bibiana Adiwangsa—adik
Pangkalan udara rahasia di Thailand menjadi tempat transit yang singkat namun krusial bagi Arka dan tim kecilnya. Di dalam sebuah hanggar tua yang pengap oleh bau bahan bakar jet, Arka duduk di depan deretan layar monitor yang disiapkan Bima. Wajahnya yang diterangi cahaya biru monitor







