Compartir

Bab 136

Autor: Millanova
last update Última actualización: 2026-01-06 23:27:49

Mobil sedan hitam itu meluncur perlahan memasuki gerbang rumah mewah berlantai tiga di kawasan elite Jakarta Selatan. Hari sudah beranjak senja, menyisakan semburat jingga yang perlahan ditelan kelabu malam.

Arka menghela napas panjang saat mesin mobil dimatikan oleh Anton. Lelah di tubuhnya bukan karena fisik, melainkan sisa ketegangan mental di ruang interogasi Kejaksaan tadi. Namun, melihat pilar-pilar kokoh rumahnya, perasaan lega perlahan menjalar.

Rumah ini adalah saksi bisu segalanya. Dulu, lantai dua adalah tempat Clara mengubah ruang kerja Arka menjadi kamar bayi yang tak pernah diinginkannya, sebuah simbol dominasi Clara yang menyesakkan. Kini, Arka telah memindahkan pusat komandonya ke lantai tiga sebuah ruang kerja baru yang luas, privat, dan tak tersentuh oleh jejak masa lalu. Lantai tiga adalah simbol kebangkitannya.

"Istirahatlah, Anton. Besok kita punya agenda besar," kata Arka saat turun dari mobil.

"Siap, Tuan Muda," jawab Anton sigap, meski matanya juga menyiratkan
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 144

    Ruslan tersentak hebat, seolah tersengat listrik. Dia menatap Arka dengan horor. "Darimana... darimana Tuan tahu soal itu? Itu masa lalu! Itu masalah pribadi!""Di mata saya, cara seseorang memperlakukan keluarganya adalah cerminan cara dia berbisnis," kata Arka, condong ke depan, menatap mata Ruslan dengan intensitas yang membuat nyali pria tua itu menciut. "Dan Anda, Pak Ruslan, adalah pengkhianat di kedua bidang itu."Ruslan tidak bisa membantah. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Dia merasa telanjang di hadapan pria muda ini. Dia tidak tahu siapa Arka sebenarnya, tapi dia tahu Arka memegang kartu mati-nya."Apa... apa yang Tuan inginkan?" tanya Ruslan akhirnya, suaranya parau. "Tuan tidak memanggil saya ke sini cuma untuk menghina saya, kan? Kalau Tuan mau aset saya, ambil saja. Tapi tolong sisakan rumah saya. Istri saya... dia butuh tempat tinggal."Arka mengepalkan tangan di sandaran kursi. Istri. Clara. Arka harus menahan diri sekuat tenaga untuk tidak meneriakkan

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 143

    Udara di dalam gudang logistik tua di kawasan Cakung itu terasa pengap, berbau kardus basah dan oli mesin yang mengendap bertahun-tahun. Kipas angin industri di langit-langit berputar malas, gagal mengusir hawa panas Jakarta yang menyengat siang itu.Namun, Arka Adhiguna tampak tidak terganggu sama sekali.Dia duduk di sebuah kursi kulit single-seater mewah yang sengaja dibawa Anton dari kantor, diletakkan tepat di tengah-tengah lantai beton yang kotor. Pemandangan itu sangat kontras: seorang pria berjas Armani seharga ratusan juta, duduk seperti raja di tengah tumpukan stok mie instan dan sabun cuci yang hampir kadaluarsa.Arka melirik jam tangan Patek Philippe-nya."Dia terlambat tiga menit," gumam Arka dingin."Dia sudah di depan gerbang, Tuan. Sedang diperiksa oleh tim keamanan," jawab Anton yang berdiri tegak di belakangnya, memegang tablet.Arka mendengus. "Orang yang datang untuk mengemis seharusnya datang sepuluh menit lebih awal."Suara pintu besi gudang yang berat digeser te

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 142

    Satu jam kemudian.Sebuah mobil SUV biasa bukan Rolls-Royce parkir di seberang sebuah minimarket besar berwarna dominan merah dan kuning: WIJAYA MART.Arka dan Nia duduk di dalam mobil, mengenakan topi baseball dan kacamata hitam. Penampilan mereka seperti pasangan suami istri biasa yang sedang menunggu pesanan makanan.Dari balik kaca mobil yang gelap, Nia menatap bangunan itu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa benci, tapi juga rasa penasaran."Itu kerajaannya," gumam Nia. "Dibangun di atas air mata Ibu."Tiba-tiba, pintu kaca otomatis minimarket itu terbuka. Seorang pria paruh baya bertubuh gemuk, dengan rambut yang mulai menipis dan wajah yang memerah, keluar sambil memarahi seorang karyawan kasir.Itu Ruslan. Bapaknya Nia.Meski sudah 20 tahun berlalu sejak malam pengusiran itu, Nia masih mengenali guratan wajahnya. Wajah yang dulu dia panggil Bapak, wajah yang membuangnya ke dalam hujan."Kerja yang bener kamu! Kalau ada selisih uang lagi, saya potong gaji kamu tiga bulan!" su

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 141

    Dua minggu setelah kepulangan dari kampung, suasana di rumah tiga lantai Arka terasa lebih sibuk dari biasanya.Ruang tengah lantai dua telah disulap menjadi butik mini. Beberapa desainer ternama Jakarta yang dulu sering melayani Clara namun kini berbalik arah melayani Arka datang membawa belasan gaun pengantin.Nia berdiri di depan cermin besar, mengenakan kebaya putih modern dengan payet kristal yang berkilau lembut. Perutnya yang mulai membuncit di usia kehamilan lima bulan tersamarkan dengan elegan oleh potongan kebaya yang longgar namun mewah."Bagaimana, Tuan Arka?" tanya sang desainer, seorang pria flamboyan, dengan nada gugup. Dia tahu standar Arka sangat tinggi.Arka yang duduk di sofa sambil memegang tablet, mendongak. Matanya melembut seketika."Sempurna," puji Arka tulus. Dia berdiri, menghampiri Nia, dan menyentuh bahu istrinya dari belakang. Pantulan mereka berdua di cermin pria matang yang gagah dan wanita muda yang anggun terlihat sangat serasi meski terpaut usia. "Kam

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 140

    Angin siang yang panas berhembus membawa debu, namun waktu seolah berhenti di halaman sempit itu.Arka masih berlutut. Satu lututnya menumpu di tanah kering, celana bahan mahalnya kotor oleh debu. Di pipi kirinya, jejak merah bekas tamparan Bu Ratih mulai terlihat jelas, kontras dengan kulitnya yang bersih. Darah segar merembes sedikit dari sudut bibirnya yang sobek.Anton dan para pengawal di ujung gang menegang, tangan mereka mengepal, siap menerjang jika ada serangan kedua. Namun, satu tatapan tajam dari Arka membuat mereka mematung di tempat. Tidak ada yang boleh bergerak.Bu Ratih berdiri gemetar. Napasnya memburu. Tangan kanannya yang baru saja menampar Arka masih melayang di udara, terasa panas dan kebas. Dia menatap pria di hadapannya dengan campur aduk amarah, jijik, tapi kini perlahan menyusup rasa bingung.Kenapa dia tidak marah? Kenapa orang kaya ini justru berlutut?"Ibu..." Nia menangis, bersimpuh di samping Arka, memegang lengan suaminya. "Ibu jangan pukul Mas Arka lagi

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 139

    Rumah itu berdiri di sana. Dinding batako yang belum diplester sepenuhnya, atap asbes yang sudah kusam, dan halaman tanah yang baru saja disapu bersih. Di teras, tampak seorang wanita paruh baya sedang duduk menjahit di kursi rotan tua.Bu Ratih.Wanita itu mengenakan daster batik yang warnanya sudah pudar. Kacamata minus murahan bertengger di hidungnya. Dia fokus memasukkan benang ke jarum, belum menyadari kehadiran rombongan tamu agung di depan pagarnya."Bu..." panggil Nia, suaranya tercekat di tenggorokan.Bu Ratih mendongak. Matanya menyipit di balik lensa kacamata, mencoba mengenali sosok di depannya karena silau matahari siang.Lalu, dia berdiri. Kursi rotannya berderit."Nia?"Nia berlari kecil, membuka pagar bambu yang reyot, dan langsung menghambur ke pelukan ibunya. "Bu... Nia pulang..."Arka berdiri di luar pagar, menunggu dengan sabar. Dia memberi isyarat pada Anton dan pengawal untuk tetap di belakang, tidak masuk dulu agar tidak mengintimidasi.Setelah tangis rindu itu

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status