Share

Bab 239

Author: Millanova
last update Last Updated: 2026-02-14 23:21:34
"Saya baru saja keluar dari kantor kelurahan setempat, Pak," suara Anton kembali terdengar, kali ini lebih stabil namun terdengar lelah. "Saya mengirimkan foto dokumennya ke pesan terenkripsi Bapak sekarang. Tolong dibuka."

Arka menjauhkan ponsel dari telinga, mengaktifkan speaker, dan membuka aplikasi pesan khususnya. Sebuah gambar masuk.

Itu adalah foto selembar Kartu Keluarga (KK) yang terlihat agak kusam. Kertasnya berwarna biru muda khas dokumen kependudukan lama, namun tintanya masih terba
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 251

    "Pak Arka, maaf mengganggu. Ini laporan audit internal bulan lalu yang Bapak minta kemarin sore. Saya taruh di meja atau perlu saya jelaskan poin-poinnya sekarang?"Suara itu lembut, mendayu, namun penuh percaya diri.Arka tidak menoleh dari layar laptopnya. Ia tahu siapa pemilik suara itu bahkan sebelum pintu ruangannya tertutup rapat. Aroma parfum jasmine yang samar namun memabukkan sudah lebih dulu menyusup ke indera penciumannya."Taruh saja di situ," jawab Arka datar, matanya tetap terpaku pada grafik saham Adhiguna yang sedang merah. "Saya sedang sibuk."Namun, tidak ada suara kertas diletakkan. Tidak ada suara langkah kaki menjauh.Hening beberapa detik.Arka akhirnya mendongak, sedikit kesal. "Bella, saya bilang..."Kalimatnya terhenti di tenggorokan.Bella berdiri tepat di samping mejanya, bukan di depan meja seperti karyawan biasa. Jarak mereka sangat dekat, mungkin kurang dari setengah meter.Wanita itu mengenakan blus sutra berwarna cream yang potongannya sedikit lebih ren

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 250

    Dimas berhenti, tapi tidak menoleh. "Apa lagi?""Tunda tanda tangannya," perintah Arka tegas. "Beri waktu satu minggu. Kakak minta satu minggu aja. Kalau dalam seminggu kamu masih yakin, silakan angkat dia. Tapi tolong, pelajari dulu track record-nya. Lakukan background check profesional, standar prosedur HRD untuk level direktur."Dimas diam sejenak, menimang-nimang."Oke. Seminggu," jawab Dimas singkat tanpa menoleh. "Tapi hasilnya nggak bakal berubah, Kak. Bella orang baik."Pintu tertutup. Dimas pergi."Kita kehabisan waktu, Anton. Situasinya jauh lebih buruk dari dugaan kita. Dimas... dia gila. Dia baru saja meminta izin untuk mengangkat Bella sebagai Direktur Keuangan Barata Logistik."Hening sejenak di ujung telepon. Suara napas Anton terdengar berat, seolah baru saja dipukul di ulu hati."Direktur Keuangan? Itu bunuh diri, Pak," suara Anton akhirnya terdengar, nadanya bercampur antara kaget dan ngeri. "Barata Logistik itu memegang arus kas operasional terbesar di grup. Kalau B

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 249

    "Kak, jujur aja, aku masih nggak bisa lupa sama pidato Bella malam itu. Caranya ngomong, caranya natap audiens, bahkan cara dia bangkit setelah jatuh... dia punya mental baja, Kak. Dia punya aura pemimpin yang selama ini aku cari buat dampingin aku."Dimas meletakkan cangkir kopinya dengan semangat yang meluap-luap. Matanya berbinar, sorot mata khas orang yang sedang dimabuk asmara sekaligus kekaguman buta."Dia bukan cuma cantik, Kak Arka. Dia cerdas. Dia 'intan yang belum diasah', persis seperti kata Kak Nia dulu."Arka Adhiguna hanya menyandarkan punggungnya di kursi kulit besarnya, menatap adik sepupunya itu dengan wajah datar yang sulit ditebak.Siang itu, matahari Jakarta bersinar terik menembus kaca jendela ruang kerja Arka di lantai 40 Menara Adhiguna. Jarum jam menunjukkan pukul 13.15 WIB.Suasana di ruangan itu sebenarnya tenang, dengan pendingin udara yang mendesis halus. Namun, bagi Arka, kata-kata Dimas barusan terasa seperti sirene bahaya yang meraung-raung.Empat hari t

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 248

    Jam dinding digital di kamar tidur utama menunjukkan pukul 01.30 dini hari.Arka melepas jas tuksedonya dan melemparnya sembarangan ke sofa. Ia melonggarkan dasi kupu-kupunya yang terasa mencekik leher, sementara Nia duduk di tepi ranjang, masih memijat keningnya yang pening akibat emosi di pesta tadi."Mas..." panggil Nia pelan. "Kamu mikirin apa? Kok tiba-tiba diam begitu?"Arka tidak langsung menjawab. Ia berdiri mematung di depan jendela kamar yang gelap, matanya menatap kosong ke arah hujan di luar. Rahangnya mengeras, seolah sedang menahan amarah yang meledak di kepalanya."Aku baru saja menyadari betapa bodohnya aku, Nia," gumam Arka getir."Bodoh kenapa?"Arka berbalik, menatap istrinya dengan tatapan tajam namun penuh penyesalan. "Kamu ingat beberapa bulan lalu? Waktu aku cerita kalau aku tidak sengaja melihat mobil Bella di parkiran Rutan Pondok Bambu?"Nia mengernyit, mencoba mengingat. "Oh... yang waktu itu kamu pulang marah-marah, tapi besoknya kamu bilang kalau kamu sala

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 247

    Gemuruh tepuk tangan perlahan mereda, berganti dengan denting gelas dan tawa renyah para sosialita yang kini kembali sibuk dengan obrolan mereka. Namun, topik utama malam itu sudah bergeser. Bukan lagi tentang lelang amal, melainkan tentang Bella gadis "biasa" yang berhasil memukau semua orang dengan pidato yang menyentuh hati.Dimas tampak seperti pria paling bahagia di dunia. Ia dikelilingi oleh rekan-rekan bisnis mendiang ayahnya yang memberinya selamat karena telah menemukan "berlian yang belum diasah".Sementara itu, Bella meminta izin sebentar untuk mengambil minuman. Dimas, yang sedang sibuk meladeni seorang direktur bank, mengangguk dan membiarkan tunangannya berjalan sendirian ke arah meja prasmanan VIP yang agak sepi.Arka dan Nia, yang sejak tadi mengawasi dari balik pilar marmer besar, bergerak mengikuti arah Bella. Mereka menjaga jarak, bersembunyi di balik keramaian, namun mata mereka setajam elang."Lihat langkah kakinya," bisik Nia pelan. "Tadi di panggung dia pura-pur

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 246

    "Bella!"Teriakan Dimas menggema di ballroom yang sunyi senyap itu. Dengan gerakan refleks yang cepat, Dimas sudah berlutut di samping tunangannya, menahan tubuh Bella yang terduduku lemas di anak tangga marmer.Wajah Bella pucat, matanya berkaca-kaca menahan sakit. Ia memegangi pergelangan kakinya yang tampak bengkok di balik belahan gaun midnight blue-nya."Sayang, kamu nggak apa-apa? Mana yang sakit?" tanya Dimas panik, tangannya gemetar saat menyentuh kaki Bella.Bella mendongak, menatap Dimas dengan mata basah yang membuat hati siapa pun yang melihatnya akan luluh."Maaf, Mas..." isaknya pelan, namun cukup terdengar oleh tamu-tamu di barisan depan yang hening. "Aku... aku ceroboh. Aku bikin kamu malu di depan semua orang penting ini.""Nggak, Sayang. Jangan ngomong gitu. Kamu nggak bikin malu siapa-siapa," hibur Dimas lembut, membantu Bella untuk berdiri perlahan."Gaun ini..." Bella menarik napas panjang, seolah menahan tangis. "Gaun ini terlalu indah, terlalu mewah buat aku, Ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status