MasukDenting sendok aluminium yang beradu dengan dasar piring kaca menjadi satu-satunya suara yang mengisi sudut tenda itu.Dari balik etalase, Arka pura-pura sibuk menata rentengan kopi saset, tapi matanya tak lepas dari meja pojok. Ia memperhatikan cara Victor Huang makan. Tidak ada gestur membungkuk atau menikmati hidangan. Pria itu mengunyah dengan efisiensi mesin suapannya teratur, punggungnya tetap tegak, dan matanya terus memindai lalu lalang di jalanan depan warung.Tepat saat suapan terakhirnya tandas, Victor meletakkan sendok. Ia menarik selembar tisu kasar dari atas meja, mengusap sudut bibirnya dengan gerakan pelan dan presisi."Gimana, Mister Bos?" pancing Jajang, suaranya terdengar cemas takut tamunya sakit perut. "Masuk, kan, rasanya?"Victor menoleh lambat ke arah panci kukusan, menatap Nia yang berdiri kaku di baliknya. "Rasa yang... unik," ucapnya dengan pelafalan bahasa Indonesia yang patah-patah tapi jelas. "Bumbunya tajam. Saya tidak pernah makan yang seperti ini. Good
Victor menunduk menatap kursi plastik merah itu. Ekspresinya sepenuhnya kosong. Ia tidak terlihat jijik, hanya menganggap tempat ini tidak pantas menyita waktunya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia duduk. Punggung tegaknya sama sekali tidak menyentuh sandaran kursi yang reyot."Teh Lastri," Jajang beralih memanggil Nia yang masih berdiri di balik uap kukusan. "Bikinin yang spesial satu. Nggak usah pakai sambal. Ini bos pengawas dari Singapura. Kasih piring yang paling bersih, Teh. Jangan sampai sakit perut dia makan di sini."Nia menelan ludah kering. Ia melepaskan cengkeramannya pada gagang pisau, memaksa ujung bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman ramah. "Siap, Kang! Spesial buat tamu jauh. Duduk dulu, ya."Arka mengambil teko plastik berisi teh tawar hangat, menuangkannya ke gelas kosong di depan Victor. "Wah, dari Singapura ya, Bos? Pantesan rapi bener bawaannya. Dingin ya, Bos, di mari? Maklum desa di atas gunung," celoteh Arka sok akrab, tertawa kecil.Sementara mul
Aroma tauco yang ditumis bersama ulekan cabai dan bawang putih menguasai udara pagi di bawah tenda terpal biru itu. Uap panas mengepul tebal dari panci kukusan bambu setiap kali Nia membuka tutupnya untuk membalik tauge. Di luar, jalanan berbatu Ciloto masih basah oleh embun, memantulkan cahaya matahari pagi yang baru saja mengintip dari balik punggung bukit."Mas Rudi! Meja yang pojok pinggir jalan dilap lagi, tadi malam kena tampias hujan!" seru Nia. Suaranya melengking sewajarnya seorang istri yang sedang repot mengurus dapur.Di sudut warung, Arka yang mengenakan kaus partai pudar dan celana kargo selutut, mengibaskan lap basahnya. "Iya, Neng. Ini lagi digosok sampai mengkilap!" sahutnya dengan logat Sunda yang kental.Arka meletakkan kembali kursi-kursi plastik merah yang semalaman ditumpuk di atas meja. Ini adalah rutinitas yang sudah mereka jalani selama berbulan-bulan. Menyatu dengan debu, menjadi Rudi si tukang servis elektronik keliling, dan Lastri si pemilik warung Geco. Me
"Dapat sesuatu?" tanya Arka. Suaranya datar, nyaris tenggelam oleh desau angin gunung.Di seberang sambungan, terdengar suara helaan napas panjang yang diiringi gemerisik statis sesaat."Dapat, Bos," jawab Anton. Suara peretas kepercayaannya itu terdengar berat dan serak. Kentara sekali ia belum beranjak dari depan layar komputernya sejak semalam suntuk. "Bos benar. Sistem pengenal wajah mengonfirmasi fotonya. Namanya Victor Huang. Mantan paramiliter yang sekarang beroperasi di area abu-abu. Spesialisasinya ekstraksi target dan spionase korporat tingkat tinggi."Arka mengalihkan pandangannya ke arah siluet bedeng proyek di kejauhan. "Dia orang mahal. Tidak masuk akal orang dengan kaliber seperti dia mau menginjak lumpur Ciloto cuma untuk menyamar jadi mandor bangunan.""Itu kesimpulanku juga.""Clara," timpal Arka tanpa ragu. "Berapa banyak uang dari Lioncrest yang masuk ke rekeningnya?"Terdengar jeda yang cukup panjang dari ujung sana. Hanya ada suara angin yang mengisi keheningan d
Angin Ciloto di luar masih menderu kencang, tapi bagi Arka, dunia mendadak senyap.Telunjuknya yang menempel di atas mouse membeku. Pegangannya pada tepi meja kayu itu menguat hingga buku-buku jarinya memutih, satu-satunya tanda bahwa otaknya baru saja menerima hantaman telak.Anak perempuan seumuran TK.Satu nama langsung meledak di kepalanya: Gendhis. Target mereka bukan dirinya. Bukan Nia. Tapi Gendhis.Nia menahan napas. Ia bisa melihat perubahan itu. Punggung suaminya yang tadinya rileks kini tegak kaku. Saat Arka menoleh perlahan menatapnya, tidak ada amarah yang meledak-ledak di matanya hanya ada kekosongan yang dingin dan kelam. Tatapan yang jauh lebih mengerikan."Mas..." panggil Nia parau. Ia meraih punggung tangan suaminya. Dingin sekali.Sentuhan Nia membuat Arka memejamkan mata kuat-kuat. Ia menarik napas panjang, menahannya sejenak, lalu mengembuskannya perlahan dari mulut. Saat matanya kembali terbuka, kepanikan yang sempat melintas telah ia kunci rapat-rapat. Pria itu
"Dapat," serak Arka. Suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin pegunungan Ciloto yang menghantam bilik bambu kontrakan mereka, namun kilat matanya menyiratkan kemenangan.Di sudut ruang tiga kali tiga itu, pendar biru dari layar laptop mencetak tegas rahangnya. Ruangan sempit itu penuh dengan aroma kopi hitam dan fluks solder yang menyengat.Nia yang di desa ini dikenal dengan nama Sulastri merapatkan pintu kamar Gendhis tanpa suara. Ia menarik kerah jaket rajutnya untuk menghalau udara dingin, lalu melangkah pelan menghampiri meja kerja suaminya."Tembus ke server proyeknya, Mas?" bisik Nia. Tangannya memijat pelan bahu Arka yang kaku. Selama tiga hari ini, pria yang membangun Adhiguna Group dari nol itu praktis tak memejamkan mata."Nggak langsung," Arka bersandar, membiarkan sentuhan istrinya mengurai sedikit ketegangan di lehernya. "Jaringan utama mereka rapi, garapan profesional. Kalau aku paksa masuk pakai laptop rongsokan ini, alarm mereka pasti bunyi."Arka menggeser kursor, m
Matahari pagi menembus jendela ruang makan dengan cerah, namun atmosfer di meja makan terasa sepanas lahar gunung berapi.Arka duduk di kepala meja, menyesap kopinya dengan ketenangan yang mengerikan. Di hadapannya, piring sarapan masih utuh. Dia tidak menyentuhnya karena dia tahu, sebentar lagi na
Arka duduk di sofa ruang tengah, menumpuk beberapa berkas lama di atas meja kopi kaca. Dia membuka laptopnya, mengetik dengan cepat, menciptakan suasana sibuk yang meyakinkan."Duduk, Nia," perintah Arka, suaranya cukup lantang untuk terdengar sampai ke ruang makan di mana Clara mungkin masih mengu
Nia bergerak cepat, menyisipkan bahunya di bawah lengan Clara untuk menopang tubuh majikannya yang tiba-tiba terlihat rapuh. Namun, begitu mereka melangkah menjauh dari ruang kerja dan mulai menaiki anak tangga pertama, Arka yang mengawasi dari bawah bisa melihat perubahan bahasa tubuh Clara.Bahu
Arka berdiri membelakangi ruangan, menatap taman samping melalui jendela besar sambil berbicara serius dengan Anton di telepon."Tentu, Pak Anton. Laporan audit awal akan kami kirimkan sore ini. Semua kontrak vendor sudah diamankan dan diarsip."Di belakang punggung Arka, suasana di "kantor darurat







