Share

Bab 312

Auteur: Millanova
last update Date de publication: 2026-03-19 22:37:04
"Habis lagi hari ini, Mas. Malah tadi Bu Ningsih sampai protes karena tidak kebagian ketupat. Besok sepertinya aku harus tambah porsi rebusannya jadi dua kali lipat."

Suara tawa kecil Sulastri berpadu dengan gemerincing uang koin yang sedang ia susun di atas lincak bambu.

Enam bulan telah berlalu sejak insiden ponsel berbodi titanium milik Siska. Di Ciloto, waktu seolah berjalan dengan ritme yang lambat dan menenangkan. Sore itu, udara pegunungan terasa sejuk setelah diguyur gerimis sehabis loho
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 315

    "Seriusan sepuluh kali lipat, Mang? Ah, ngelindur kali orang kelurahan! Mana ada pengembang zaman sekarang mau buang duit jor-joran begitu!"Suara tawa dan bantahan keras dari Kang Deden memecah keheningan malam di pos kamling RW 03. Pemuda itu menepuk pahanya sendiri, menggeleng-gelengkan kepala sambil mengocok kartu remi di tangannya dengan lincah."Lah, dibilangin kok nggak percaya kamu tuh, Den!" balas Mang Udin tak mau kalah. Pedagang sayur itu membetulkan letak sarung kotak-kotak yang melilit lehernya, lalu mencondongkan tubuhnya ke tengah tikar. "Adik ipar saya kan honorer di kelurahan. Dia sendiri yang ngintip draf pembebasan lahan yang dibawa sama orang-orang berdasi itu kemarin siang. Angkanya emang gila-gilaan, bikin jantungan yang baca!"Rabu malam itu, udara di perbukitan Ciloto terasa lebih menusuk dari biasanya. Kabut tipis mulai turun menyelimuti jalanan aspal yang lengang, membiaskan cahaya kekuningan dari bohlam lima watt yang menggantung di tengah pos bambu tersebut

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 314

    "Sudah pulang Pak RT-nya, Mas?" tanya Sulastri. Tangannya dengan cekatan memungut gelas bekas kopi dan piring kecil sisa camilan dari atas meja servis.Rudi menoleh, memamerkan selembar kertas berlaminating di tangannya."Sudah, Las. Cuma mampir sebentar buat kasih ini," jawab Rudi santai, meletakkan kertas itu ke atas meja.Sulastri meliriknya sekilas sambil menumpuk gelas kotor ke atas nampan. "Jadwal siskamling? Wah, Mas Rudi kebagian ronda sekarang?""Iya. Pak RT merombak jadwal karena banyak warga baru. Aku kebagian setiap malam Rabu," Rudi menarik kursi plastiknya dan kembali duduk, meregangkan bahunya yang kaku. "Nanti malam Rabu aku tutup servis lebih awal biar bisa tidur sebentar sebelum ke pos.""Nggak apa-apa, Mas. Namanya juga hidup bertetangga," Sulastri tersenyum mendukung. Ia tidak langsung kembali ke dalam, melainkan ikut duduk di kursi seberang suaminya. "Terus, tadi ngobrolin apa lagi? Wajah Mas kelihatannya serius banget waktu aku intip dari balik tirai."Rudi terke

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 313

    "Assalamualaikum! Pak Rudi, ada di rumah?"Suara ketukan di tiang pagar bambu memecah keheningan malam Ciloto yang menggigit.Setelah seharian berkutat dengan timah solder dan papan sirkuit, Rudi Hidayat baru saja selesai menidurkan Gendhis. Ia melangkah keluar dari ruang tengah, menyibakkan tirai pintu, dan mendapati sosok Pak Asep berdiri di teras depan. Sang Ketua RT tampak mengenakan sarung yang dikalungkan di leher dan peci hitam andalannya, sebelah tangannya memegang selembar kertas yang dilaminating."Waalaikumsalam! Ada, Pak RT. Mari, silakan duduk dulu," sambut Rudi dengan senyum ramah, segera membuka grendel pagar. "Tumben malam-malam, Pak? Ada iuran bulanan yang terlewat?"Pak Asep tertawa renyah. Ia melangkah masuk dan duduk di kursi plastik merah di teras."Aman kalau urusan iuran mah, Pak Rudi," jawab Pak Asep seraya meletakkan kertas berlaminating itu di atas meja servis. "Saya cuma mau membagikan jadwal ronda malam yang baru. Karena warga di blok kita nambah, jadwalnya

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 312

    "Habis lagi hari ini, Mas. Malah tadi Bu Ningsih sampai protes karena tidak kebagian ketupat. Besok sepertinya aku harus tambah porsi rebusannya jadi dua kali lipat."Suara tawa kecil Sulastri berpadu dengan gemerincing uang koin yang sedang ia susun di atas lincak bambu.Enam bulan telah berlalu sejak insiden ponsel berbodi titanium milik Siska. Di Ciloto, waktu seolah berjalan dengan ritme yang lambat dan menenangkan. Sore itu, udara pegunungan terasa sejuk setelah diguyur gerimis sehabis lohor. Aroma tanah basah dan getah pinus menguar di sekitar teras rumah kontrakan mereka.Rudi, yang sedang duduk bersila membersihkan debu dari bilah kipas angin milik pelanggan, menoleh. Ia tersenyum melihat wajah Sulastri. Meski guratan lelah tercetak di bawah matanya, wanita itu memancarkan kepuasan yang luar biasa.Dalam waktu setengah tahun, warung sarapan "Geco Bu Lastri" tidak lagi sekadar meja lipat kecil di ujung gang. Warung itu kini dinaungi tenda terpal biru sederhana, memiliki dua meja

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 311

    Tangan Sulastri dengan lincah memotong ketupat menggunakan pisau dapur, mengambil sejumput tauge dan mi kuning, meletakkannya di atas piring, lalu mengguyurnya dengan kuah tauco panas yang kental. Ia menaburkan kerupuk merah sebagai pelengkap sebelum menyajikannya.Dari posisinya duduk di dekat pagar, Arka mengamati seluruh interaksi itu dengan kacamata intelijen.Ia memperhatikan ekspresi Mang Udin saat menyuapkan sendok pertama ke dalam mulutnya. Pria paruh baya itu membelalakkan matanya sedikit, lalu mengunyah dengan penuh nikmat."Buset, Bu Lastri! Ini mah enak pisan! Bumbu tauconya medok, dagingnya kerasa gurih," puji Mang Udin tulus, langsung menyuap sendok kedua dengan lahap. "Kalah ini mah Geco yang di pertigaan pasar!"Mendengar testimoni langsung dari warga lokal itu, beberapa ibu-ibu yang awalnya hanya melihat-lihat dari jauh akhirnya ikut mendekat."Wah, masa sih, Mang? Jadi ikutan ngiler saya," sahut Bu Ningsih, ibu dari Rara teman sekolah Gendhis, yang ikut menepi. "Bu L

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 310

    "Agak ke kiri sedikit meja lipatnya, Mas. Nah, ya, di situ. Biar orang yang baru pulang salat subuh dari arah masjid langsung bisa lihat etalasenya."Suara Sulastri yang bersemangat sukses mengalahkan embusan angin pagi Ciloto yang masih sedingin es.Jam di layar ponsel Rudi baru menunjukkan pukul setengah enam pagi. Langit di ufuk timur masih berwarna biru gelap keabuan. Kabut tebal merayap turun dari perbukitan, menyelimuti aspal di depan gang rumah kontrakan mereka. Di bawah temaram lampu jalan yang kekuningan, Rudi baru saja selesai memosisikan sebuah meja kayu lipat yang kokoh, lengkap dengan etalase kaca berukuran kecil di atasnya.Rudi menepuk-nepuk tangannya membersihkan debu, lalu mundur selangkah. Mata elangnya mengawasi sang istri yang mulai sibuk menata barang dagangan.Sulastri mengenakan daster lengan panjang yang dirangkap jaket rajut tebal, kerudung instan cokelat, dan sebuah celemek kain bermotif kotak-kotak. Dengan sangat telaten, wanita itu memindahkan sebuah panci

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 95

    Arka memberi jeda sedetik, cukup untuk menciptakan ketegangan, lalu melanjutkannya dengan nada datar seolah menyebut nama benda mati."...Nia."Mata Clara membelalak seketika. Dia menegakkan punggungnya yang sakit."Nia?! Pembantu itu?!" pekik Clara. "Kamu membawanya ke Singapura? Untuk apa? Dia ta

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-22
  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 96

    Pesawat Singapore Airlines menembus awan putih tebal sebelum mendarat mulus di Bandara Changi. Bagi Arka, pendaratan itu bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan pelepasan beban yang selama berbulan-bulan menekan dadanya.Di kursi sebelahnya, Nia masih menatap ke luar jendela oval, matanya be

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-22
  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 87

    Di RS Medika, pemeriksaan berjalan menegangkan bagi Clara.Dokter Ratna, wanita paruh baya dengan hijab rapi dan wajah keibuan namun tegas, memeriksa perut Clara dengan teliti."Hmm," gumam Dokter Ratna, matanya fokus ke layar monitor.Jantung Clara berdegup kencang. Arka, yang berdiri di samping r

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-22
  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 84

    Cahaya matahari pagi yang hangat menyinari ruang makan, namun suasana di meja makan terasa dingin. Arka berdiri sambil merapikan manset kemejanya, bersiap untuk pergi. Di hadapannya, Clara duduk dengan wajah masam, mengaduk-aduk oatmeal yang disiapkan Nia tanpa selera."Aku ikut, Arka," ucap Clara

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-22
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status