LOGINMoncong baja Glock 19 menekan pelipis kanan Arka, mengantarkan hawa dingin yang kontras dengan peluhnya.Waktu seakan membeku. Di bawah tenda itu, hanya desah napas Victor dan bunyi pelatuk yang menegang yang memecah keheningan.Insting purba Arka meronta, mendesaknya untuk mematahkan leher Dimas sekarang juga sebelum peluru meletus. Namun, bayangan Gendhis berkelebat. Diikuti tatapan Nia yang berdiri tak jauh dari sana. Jika isi kepalanya berceceran di karpet ini, keluarganya tak lagi punya pelindung.Rahang Arka mengeras. Perlahan, otot lengannya yang sekaku beton mulai mengendur. Kuncian maut itu terlepas.Dimas langsung ambruk ke atas karpet merah. Ia meringkuk sambil memegangi lehernya yang kini dihiasi cetakan jari kemerahan. Suara batuknya terdengar menyiksa, diselingi bunyi tarikan napas kasar dan serakah saat paru-parunya kembali meraup oksigen.Tanpa membuang detik, Victor menendang lipatan lutut Arka dari belakang. Sang Mastermind terpaksa jatuh berlutut."Jangan bergerak,"
"...Karena hantu... tidak akan bisa melindungi putri kecilnya dari monster yang sebenarnya."Kalimat itu meluncur dari bibir Dimas, rendah, nyaris seperti bisikan, namun ditutup oleh tarikan senyum miring yang meremehkan. Di kepalanya, kalimat itu adalah skakmat. Sebuah gertakan pamungkas yang ia yakini akan membuat pria di hadapannya menciut, menelan ludah, dan menunduk dalam diam demi menjaga penyamarannya tetap aman.Dimas salah perhitungan.Dua kata itu—"putri kecilnya"—memotong habis tali kendali yang sudah mati-matian dijaga Arka selama bertahun-tahun. Topeng 'Rudi' si tukang servis lusuh retak, lalu hancur tak bersisa. Di detik itu juga, sosok Arka Adhiguna mengambil alih, merangkak naik ke permukaan membawa amarah murni yang membekukan.Prang!Nampan perak yang menyangga tumpukan piring kotor merosot dari cengkeraman Arka, menghantam lantai berbatu. Pecahan keramik dan porselen berhamburan ke segala arah, bunyinya merobek dengung pidato membosankan yang sedari tadi mengalun da
"Ba-baik, Tuan Bos... hampura... hampura abdi, Tuan. Teu dihaja..."Suara itu keluar dari tenggorokan Arka dengan getaran yang meyakinkan. Ia menjepit pita suaranya sendiri hingga menghasilkan nada parau melengking suara khas pria kecil yang ketakutan setengah mati di hadapan penguasanya.Bahunya diturunkan, punggung dibungkukkan hingga ia tampak sepuluh sentimeter lebih pendek. Arka buru-buru merogoh saku celana komprangnya. Dikeluarkannya sehelai lap kain kusam penuh noda kecap, lalu tangannya terulang ke atas meja berlapis taplak putih itu.Arka tidak sekadar berakting. Ia menjadi. Jari-jari kasarnya mulai bergetar hebat tremor pura-pura yang nyaris sempurna. Ia mengelap tumpahan kopi dengan gerakan panik dan kikuk, sengaja menyenggol pinggiran piring kecil hingga berbunyi cling keras."Aduh, hampura, Bos. Leungeun abdi ngeleper, duka teuing kunaon. Panginten can sarapan," celoteh Arka sambil terus mengelap meja, kepalanya menunduk dalam-dalam, tak berani menatap mata pria berpakai
"Teh Lastri! Cilaka!"Gebrakan keras di meja kayu membuat Nia tersentak. Mandor Haris berdiri di depan warung dengan napas memburu. Helm proyeknya miring dan seragamnya basah kuyup oleh keringat.Di sudut warung, Arka menghentikan putaran obengnya pada kipas angin rusak. Instingnya langsung awas."Ada apa, Pak Mandor? Pucat amat," tanya Nia. Ia menyodorkan gelas teh tawar hangat, menjaga intonasi suaranya tetap seperti ibu warung yang keheranan.Haris menenggak teh itu sampai tandas, lalu mengusap wajahnya kasar. "Katering VIP dari hotel Cianjur kecelakaan di tikungan Puncak. Mobilnya guling, makanannya hancur semua. Padahal sejam lagi acara groundbreaking mulai. Bos-bos Jakarta sama Singapura udah di jalan!"Nia mengerjapkan mata. "Terus... apa hubungannya sama warung saya, Pak?""Mister Victor yang nyuruh saya ke mari," Haris menatap Nia memelas. "Mister bilang bos Jakarta lumayan penasaran sama masakan lokal di sini. Tolong banget, Teh. Teteh yang handle meja VIP siang ini. Geco, a
Suara derit engsel pintu bambu membuat Arka otomatis menoleh.Ia sedang duduk bersila di lantai, memegang alat solder bersuhu tinggi di atas papan sirkuit radio butut. Namun, ujung timah yang baru saja meleleh itu seketika ia lupakan saat melihat sosok istrinya berdiri di ambang pintu.Nia tidak langsung masuk. Tangannya mencengkeram kusen pintu. Wajahnya pucat pasi, dan dadanya naik turun dengan ritme yang terlalu cepat.Tanpa membuang waktu, Arka mencabut colokan solder. Ia meletakkannya begitu saja ke lantai, lalu melangkah cepat menghampiri Nia. Ia menarik istrinya masuk, menutup pintu kayu itu, dan menggeser slot kuncinya."Ada apa?" tanya Arka pelan, langsung pada intinya. Ia memegang kedua bahu Nia. Kulit istrinya terasa dingin menembus kain baju. "Victor bikin ulah di warung?"Nia menelan ludah, membiarkan Arka menuntunnya duduk di tepi kasur. Aroma bumbu tauco di celemeknya kalah oleh bau keringat dingin yang mengucur di pelipisnya."Tadi pagi," suara Nia keluar berupa bisika
Satu bulan berlalu. Tiga puluh hari yang terasa seperti tarikan napas panjang yang tak kunjung diembuskan.Bertentangan dengan antisipasi Arka, tidak ada baku hantam atau kejar-kejaran berdarah yang terjadi. Victor Huang ternyata tipe pemburu yang sangat sabar. Dalam sebulan ini, pria itu hanya muncul di warung Geco empat kali. Selalu datang mengekor Mandor Haris, memesan menu yang sama, makan tanpa banyak bicara, lalu pergi.Rutinitas yang acak itu justru lebih menggerogoti kewarasan. Arka dan Nia dipaksa terus berjaga di ujung tanduk, tanpa tahu kapan jebakan sebenarnya akan menutup.Pagi itu, langit Ciloto masih kelabu. Arka memilih tetap berada di rumah kontrakan mereka yang merangkap sebagai bengkel servis, sibuk membongkar televisi tabung berdebu milik warga. Mereka sengaja membagi area pengawasan Nia menjaga warung di pinggir jalan utama, sementara Arka memantau dari rumah sebuah taktik dasar untuk memperluas radius pandang dan menghindari kesan bahwa mereka selalu menempel ber
Hujan deras mengguyur atap villa, menciptakan tirai suara alami yang mengisolasi kamar utama dari dunia luar. Di balik jendela kaca besar yang berembun, hutan pinus hanya terlihat sebagai bayangan hitam yang bergoyang diterpa angin.Di dalam, suhu ruangan hangat dan temaram. Lampu tidur di sisi ran
"Selamat sore," sapa Arka pada petugas wanita di balik kaca loket. Suaranya datar, menyembunyikan badai di kepalanya. "Saya ingin mengajukan permohonan kunjungan khusus. Ini mendesak."Petugas itu membetulkan letak kacamata bacanya. "Atas nama siapa warga binaannya, Pak?""Clara Puspita," jawab Ark
Udara Puncak sore itu turun dengan cepat, membawa kabut tipis yang menyelimuti hutan pinus di sekitar villa pribadi milik Arka. Namun, dinginnya udara luar kontras dengan hangatnya suasana di area kolam renang air hangat (heated pool) yang terletak di membelakangi lembah hijau.Liburan singkat ini
"Bella!"Teriakan Dimas menggema di ballroom yang sunyi senyap itu. Dengan gerakan refleks yang cepat, Dimas sudah berlutut di samping tunangannya, menahan tubuh Bella yang terduduku lemas di anak tangga marmer.Wajah Bella pucat, matanya berkaca-kaca menahan sakit. Ia memegangi pergelangan kakinya







