LOGINNIKAH WOYY NIKAHHH!! 🤣🤣
“Pak Leon,” panggil Ricky, meraih tangan Leon setelah suara gebrakan menggema lantang membungkam ruang rapat. Melihat dari sepasang telinganya yang memerah, Ricky tahu Leon sudah dikuasai oleh amarah. Terlebih, kalimat Josh yang barusan seperti terang-terangan melontarkan penghinaan untuk Brianna. Ricky khawatir ini akan memengaruhi Leon dan bagaimana RN Empire ke depannya. Hal yang harus mereka lakukan sekarang ini adalah menjauh dari keributan, dan memikirkan solusinya. “Ulangi sekali lagi!” Leon bangkit dari duduknya, menepis tangan Ricky. Mata birunya membara menatap Josh yang bergerak tidak nyaman di tempatnya berdiri. Tak ada yang berani bicara, ruangan senyap, jauh dari kebisingan yang beberapa saat lalu mereka lontarkan. Sebelum berubah kacau, Ricky membereskan dokumen yang ada di atas meja dengan cepat, berbisik pada Leon, “Akan semakin kacau kalau Anda marah di sini. Sebaiknya kita keluar.” Ricky tak menunggu persetujuan Leon, pemuda itu meraih lengan tuannya yang ber
Di balik meja kerjanya, pagi ini Leon menerima email balasan dari Brianna terkait persetujuannya untuk project yang ia tawarkan beberapa hari yang lalu. Karena tidak melalui Arcadia dan disampaikan padanya secara langsung, Brianna memberitahukan untuk menunggu sebentar. Ia akan membicarakannya dengan kepala cabang dan pihak-pihak yang terkait. Ia meraba leher belakangnya, seperti yang dikatakan oleh Fiona tentang bekas cakaran di sana, Leon baru menyadari bahwa itu pasti karena Brianna yang melakukannya. ‘Pantas rasanya perih saat mandi,’ gumamnya seorang diri. Leon mengangkat wajahnya saat mendengar suara langkah yang mendekat. Ricky, pemuda itu meletakkan beberapa map di atas meja seraya berujar, “Meeting dengan penilai independen dalam setengah jam, Pak Leon. Mereka bilang akan ada agenda tambahan.” Kedua alis Leon seketika terangkat, “Agenda tambahan?” “Iya.” “Apa itu, Rick?” “Saya belum mendapat informasi soal itu,” jawab Ricky. Leon mengangguk sebelum bangkit dari kursi
“Laki ... laki?”Katie mengangguk, membenarkan Brianna yang rahangnya menegang.Brianna mendorong napas, menyentuh garis dagunya yang terasa nyeri. Baru saja ia lakukan itu, mendadak tangannya ditarik oleh Katie.Brianna nyaris kehilangan keseimbangan saat temannya itu menatap cincin yang ada di jari manisnya dengan kedua mata yang melebar.“Woah … ini cantik sekali, Brie,” pujinya.“Benarkah?”Katie mengangguk, “Iya. Harganya pasti mahal. Di mana kamu membelinya?”Brianna mengerjap beberapa kali, menyusun kalimat kebohongan untuk menutupi kebenaran dari siapa cincin itu berasal.“A-akan aku antar kamu tempatnya nanti kalau mau beli.”“Hm … mungkin aku baru bisa membelinya setelah karirku berjalan sepanjang karirmu, Brie.”Brianna tertawa, mencubit pipinya.“Kalau begitu ayo kita bekerja lebih keras. Aku ada project baru dengan RNE.”“Serius?”Brianna mengangguk, “Iya.”“Project apa?”“Nanti kita baca, sekarang makan dulu bagaimana?”Katie mendengus, tak bersemangat, “Aku penasaran de
Brianna sudah merencanakan ini, ia akan kembali setelah memastikan Katie tidak di rumah. Temannya itu sebelumnya mengatakan ia sedang berada di apartemen milik salah satu bawahannya yang bernama Mia.Sehingga sebelum akhir pekan benar-benar usai, Brianna sudah tiba di depan rumahnya.Sedan milik Leon berhenti sekitar pukul lima sore hari, pria itu membawakan barangnya masuk dan meletakkannya di sofa ruang tamu.“Terima kasih,” kata Brianna, menghampiri Leon setelah meletakkan makanan yang ia bawa ke ruang makan.Leon mengangguk tak keberatan sebelum bertanya, “Jam berapa Katie akan datang?” “Katanya sebentar lagi.”Leon mengedarkan pandangannya sejenak sebelum melangkah pergi dan Brianna mengantarnya hingga ke teras.Pria itu berhenti, menatap lurus ke rumah seberang jalan.“Kamu benar-benar belum pernah melihat siapa yang tinggal di sana?” tanya Leon.“Belum. Aku dan Katie sudah menunggunya beberapa kali sampai malam. Tapi dia tidak pernah datang.”Helaan napas Leon terdengar dalam
Brianna merapatkan luaran yang ia kenakan saat berjalan memasuki ruang makan. Langkahnya terasa berat sebab ia harus menahan keram yang ada di area femininnya. Meski Brianna tak akan menampik bagaimana rasa nikmatnya, tapi selalu seperti ini setiap kali selesai dengan Leon. Padahal percintaan mereka sudah usai beberapa saat yang lalu dan keduanya tertidur lelap hingga sore hari. Saat membuka mata, Brianna tak menjumpai Leon di sampingnya. Ia memutuskan untuk membersihkan diri lebih dulu dan turun ke lantai satu. Di sanalah pria itu akhirnya terlihat. Duduk di ruang makan dan menoleh pada kedatangannya dengan seulas senyumnya sebagai sambutan. “Sudah bangun?” sapanya. “I-iya.” “Lapar?” Brianna mengangguk karena Leon memang benar. Pergumulan berjam-jam di atas ranjang telah merenggut sebagian besar energinya. “Makanan yang tadi kamu bawa sudah aku habiskan,” kata Leon, menunjuk pada beberapa piring kosong yang ada di atas meja. “Jadi aku minta pelayan untuk membuatkan makanan lai
Wajah Brianna merah padam, untuk sesaat bibirnya hanya terkatup. Jari tangannya yang tengah menyusuri garis dagu Leon mendadak kebas. Leon mengendus lehernya, kakinya yang terlipat di atas kaki Brianna memenjara agar ia tak ke mana-mana. “Kalau aku jawab tidak, kamu juga akan tetap melakukannya, ‘kan?” Leon tersenyum samar, jemarinya yang sempat terhenti saat menarik panties brokat Brianna kembali bergerak. Ia membawa kain kecil itu turun, keluar dari kaki. Brianna menahan sejenak napas saat kancing di dadanya teruraikan satu demi satu. Dress itu meninggalkan dirinya, menyisakan kain penutup di tubuh depannya yang tak benar-benar dapat menutupi. Semudah menjentikkan jari, kain itupun kini tersisih. Pandangan Leon mengedar liar, senyumnya tipis menggoda kala ia menunduk dan menjatuhkan bibirnya. Dalam terpejamnya mata, Brianna dapat merasakan sentuhan Leon yang menyinggahi celah di antara kakinya yang mengenali siapa yang sedang bersinggungan dengannya sekarang ini. Ia tergeliti







