แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Moona
Air danau yang dingin menyeret tubuh Alya makin tenggelam. Cahaya di depan matanya perlahan memudar.

Sebelum kesadarannya hilang, dia seolah kembali melihat Kota Nordan pada tahun itu. Adrian menunggang kuda menghampirinya. Dengan pakaian putih sebersih salju, pria itu mengulurkan tangan kepadanya. "Alya, ikutlah denganku ke ibu kota."

"Aku akan melindungimu selamanya."

"Nyonya! Nyonya!"

Alya tiba-tiba membuka mata dan terengah-engah menghirup udara.

Seorang pelayan muda berlutut di samping ranjang dengan mata memerah. "Syukurlah, Anda sudah sadar!"

Alya memandang sekeliling. Dia mendapati dirinya terbaring di kamar yang begitu dikenalnya, tetapi tidak ada seorang pun di sana.

Rasa sesak saat tenggelam di danau seolah masih menghantuinya. Begitu teringat punggung Adrian yang berbalik meninggalkannya, hatinya terasa seperti dicabik hidup-hidup hingga nyaris membuatnya tidak bisa bernapas.

"Siapa ... yang menyelamatkanku?"

"Pelayan dapur, Bibi Lestari, melihat Nyonya jatuh ke danau. Dia segera memanggil beberapa pelayan wanita untuk mengangkat Anda."

Alya tersenyum pahit.

Seorang nyonya kediaman adipati yang terjatuh ke danau justru diselamatkan para pelayan. Sementara suaminya sedang menemani wanita lain.

Hari-hari berikutnya, Alya hanya bisa berbaring memulihkan diri.

Di sela-sela suara tonggeret di luar jendela, dia selalu mendengar para pelayan bergunjing.

"Kemarin, adipati sendiri yang merebuskan obat untuk Nona Nadia. Tangannya sampai melepuh, tetapi dia sama sekali tidak peduli."

"Tadi pagi Nona Nadia bilang ingin makan kue osmanthus dari selatan kota. Adipati bahkan pergi membelinya sebelum fajar menyingsing."

"Aku dengar adipati menyuruh orang membuatkan baju zirah sutra berlapis benang emas semalaman. Katanya supaya Nona Nadia tidak terluka sedikit pun. Benar-benar dimanjakan setengah mati."

Setiap kalimat menusuk hati Alya seperti sebilah pisau.

Dia teringat saat baru menikah masuk ke kediaman adipati dan jatuh sakit karena masuk angin. Adrian juga selalu menjaganya tanpa pernah meninggalkan sisinya. Bahkan sebelum menyuapinya obat, pria itu selalu mencicipinya terlebih dahulu.

Saat itu, Adrian berkata, "Alya, kalau terjadi sesuatu padamu, aku juga tidak ingin hidup lagi."

Kini, Alya nyaris tenggelam hingga kehilangan nyawanya. Namun, Adrian bahkan tidak datang menjenguknya.

Tiga hari kemudian, Alya akhirnya bisa turun dari ranjang meski masih tertatih. Tiba-tiba Nadia menerobos masuk ke kamarnya.

"Nyonya, hari ini jadwal belanja kediaman adipati. Ikutlah denganku ke pasar. Aku akan menunjukkan bahwa hidup dengan sepuluh koin tembaga sehari juga bisa baik-baik saja."

Alya tidak ingin pergi, tetapi Nadia tetap memaksanya keluar.

Pasar sangat ramai. Sambil memilih sayuran yang sudah busuk, Nadia bertanya, "Dulu, kalian menghabiskan berapa uang untuk belanja kebutuhan kediaman?"

"Lima ratus tahil."

"Lima ratus tahil!" Nadia tiba-tiba berteriak hingga orang-orang di sekitar menoleh. "Tahukah kamu berapa banyak rakyat miskin yang bisa makan dan berpakaian layak dengan lima ratus tahil? Negara ini jadi kacau karena orang-orang seperti kalian, para benalu!"

Makin lama dia makin berapi-api. Bahkan di tengah jalan, dia mulai mencaci-maki Alya di depan orang banyak.

Alya hanya menatap tumpukan sayuran busuk dan beras berjamur yang dibeli Nadia. "Jadi, selama lebih dari setengah tahun ke depan, kamu berencana memberi seluruh penghuni kediaman adipati makanan seperti ini?"

Nadia menjawab tanpa merasa bersalah, "Memangnya kenapa? Bukannya orang miskin memang tumbuh besar dengan makanan seperti ini?"

"Benarkah?" Alya mengangkat sehelai sayuran kering. Lubang-lubang bekas dimakan ulat memenuhi permukaannya. "Kalau begitu, kenapa setiap pagi kamu selalu meminta dapur membuat bubur millet segar yang baru digiling? Kenapa pakaianmu juga selalu dibuat dari kain katun halus yang baru?"

Alya mencibir. "Kamu menyuruh seluruh penghuni kediaman makan dedak dan sayuran busuk, sementara kamu sendiri tidak pernah melewatkan sayuran segar di setiap jam makan. Kamu terus mengaku membenci orang kaya. Yang sebenarnya kamu benci itu kekayaan, atau orang yang hidupnya lebih baik darimu?"

"Kamu bicara apa? Tentu saja aku ...."

Nadia langsung naik pitam karena dipermalukan. Baru saja hendak membalas, terdengar keributan dari sebuah kedai arak di depan.

"Cucuku masih menungguku pulang untuk memasak!" Seorang nenek tua berambut putih berusaha melepaskan diri dari cengkeraman pemilik kedai. "Tolonglah, biarkan aku pergi."

"Melepaskanmu?" Pemilik kedai itu sampai melotot marah. "Kamu memecahkan tiga guci arak yang sudah disimpan selama sepuluh tahun! Harganya sepuluh tahil! Ganti rugi!"

"Aku benar-benar tidak sengaja." Nenek itu menangis tersedu-sedu.

Melihat kejadian itu, Nadia langsung melepaskan Alya dan berlari menghampiri. "Kenapa kamu begitu tidak punya hati? Tidak dengar cucunya sedang menunggunya di rumah?"

Pemilik kedai tercengang sesaat, lalu membalas dengan marah, "Apa urusannya denganmu? Kalau memang begitu baik hati, gantilah kerugiannya!"

"Aku ...." Nadia langsung kehabisan kata-kata. Nenek itu seolah menemukan penyelamat. Dia segera memegang tangan Nadia. "Terima kasih, Nona! Terima kasih!"

Setelah berkata begitu, dia langsung hendak kabur.

Pemilik kedai segera mengejar, tetapi dihalangi Nadia.

"Berhenti! Apa kamu tidak punya rasa iba?" Nadia menegurnya dengan penuh keyakinan. "Usianya sudah setua itu ...."

"Sudah cukup!" Pemilik kedai benar-benar murka. "Kalau tidak ganti rugi, aku akan melaporkan kalian ke pihak berwenang!"

Nadia menggigit bibir, lalu mengeluarkan beberapa puluh koin tembaga dari kantongnya dan membantingnya di atas meja. "Aku yang bayar!"

Pemilik kedai memandang beberapa keping uang tembaga itu, lalu tertawa saking marahnya. "Arak seharga sepuluh tahil, kamu cuma bayar segini? Kamu pikir aku pengemis?"

"Cepat ganti seluruh kerugiannya. Kalau tidak, akan kulaporkan kamu ke pihak berwenang agar kau ditangkap!"

Wajah Nadia berganti pucat dan merah. "Tenang saja. Aku pasti akan membayarnya."

Namun, setelah merogoh seluruh kantongnya, dia tetap tidak menemukan satu keping uang pun. Akhirnya, Nadia menggertakkan gigi, lalu melirik rumah bordil di seberang jalan, dan menoleh ke Alya. "Masuklah ke sana dan jual dirimu beberapa hari. Gunakan uangnya untuk mengganti kerugian nenek itu."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 23

    Adrian mengulurkan tangan, tetapi bagaimanapun juga, dia tidak mampu meraih sosok itu.Dia hanya bisa terpaku di tempat, menyaksikan Alya pergi meninggalkannya.Beberapa saat kemudian, Nadia merangkak hingga ke dekat kakinya."Adipati, lihatlah aku. Asal kamu menyelamatkanku, aku pasti tidak akan meninggalkanmu seperti wanita jalang Alya itu. Aku ...." Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Adrian menendangnya dengan keras."Siapa yang mengizinkanmu menghina Alya? Kamulah biang keladinya! Nadia, kalau bukan karena ulahmu, mana mungkin aku dan Alya berakhir seperti ini!" Dalam amarahnya, dia terus menendang Nadia hingga kesadarannya hampir hilang.Mungkin karena menyadari bahwa dirinya benar-benar sudah tidak memiliki harapan lagi, di tengah rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya, Nadia justru tertawa getir."Adrian, kamu terus menyalahkanku, tapi kamu menutup mata atas semua penderitaan yang dialami Alya! Kalau bukan karena persetujuan diam-diam darimu, mana mungkin aku bisa melak

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 22

    Tujuan mereka adalah ibu kota. Dari Kota Nordan ke ibu kota, bahkan melalui rute tercepat pun membutuhkan waktu setengah bulan. Selama setengah bulan di perjalanan itu, Adrian terus membicarakan masa lalu. Dia berharap bisa melihat sedikit saja tanda bahwa Alya masih memiliki perasaan padanya. Namun, sebesar apa pun usahanya, di mata Alya hanya ada Ryan.Setiap hari mereka duduk bersama sambil mengobrol dan tertawa. Senyum mereka begitu menyilaukan di mata Adrian. Tangan mereka pun hampir tidak pernah terlepas. Bahkan saat Alya tertidur, Ryan tetap menggenggam tangannya dan sesekali memainkan jemarinya dengan lembut.Hari-hari itu terasa sangat menyiksa bagi Adrian. Namun, demi bisa terus berada di dekat Alya, dia hanya bisa menahan semuanya.Hari mereka tiba di ibu kota adalah hari yang paling membahagiakan bagi Adrian.Dengan penuh semangat, dia memimpin jalan menuju sebuah gang kumuh. Di sana dipenuhi orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal, yaitu para pengemis. Alya tidak me

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 21

    Ryan bergegas datang. Tanpa sedikit pun gentar, dia berdiri di antara Adrian dan Alya, menggunakan tubuhnya untuk melindungi wanita itu.Alya pun tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Kamu tadi pergi ke mana, Ryan?"Senyum Alya dipenuhi kelembutan dan kepercayaan, sesuatu yang sudah lama tidak dilihat Adrian. Hanya dengan melihatnya, hatinya langsung diliputi kepanikan. Dengan suara berat, dia membentak, "Siapa kamu? Alya adalah wanitaku! Siapa yang mengizinkanmu memanggilnya seperti itu?"Ryan berbalik. Baru saat itu Alya menyadari bahwa biasanya pria itu selalu mengenakan pakaian putih sederhana dari kain biasa. Namun, hari ini, pakaian putihnya dihiasi motif-motif samar yang membuatnya tampak jauh lebih elegan dan mewah. Meski tidak mencolok, jelas terlihat bahwa pakaian itu dibuat dari bahan yang mahal.Untuk sesaat, sebuah pertanyaan muncul di benak Alya. Benarkah Ryan hanyalah seorang tabib biasa di Kota Nordan?Ryan memandang Adrian sambil mencibir. "Kalian sudah bercerai. Orang yang d

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 20

    Keesokan harinya, Adrian menunggang kuda hingga tiba di depan toko Alya di Kota Nordan.Sebagai Adipati Wira, menemukan Alya adalah perkara yang sangat mudah baginya. Karena itu, Alya tidak terkejut dengan kemunculan pria tersebut. Setelah mendapat penghiburan dari Ryan, dia sudah memikirkannya baik-baik. Bagaimanapun juga, hubungan antara dirinya dan Adrian memang harus diselesaikan dengan jelas.Begitu melihat Alya, Adrian langsung menghampirinya.Selama beberapa bulan berada di medan perang, Adrian selalu memikirkan Alya setiap detik. Bahkan setelah memenangkan perang, satu-satunya orang yang memenuhi hatinya tetaplah Alya. Dia pun memacu kudanya kembali ke ibu kota secepat mungkin. Kaisar berjanji akan memberinya kenaikan pangkat dan gelar, tetapi semuanya Adrian tolak. Dia hanya menginginkan sebuah dekret kekaisaran yang memberinya kesempatan untuk mendapatkan Alya kembali.Setelah melewati hidup dan mati, bertemu kembali dengan Alya membuatnya merasa seolah menemukan kembali sesu

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 19

    Setelah itu, Alya membuat sendiri sebuah payung dan menghadiahkannya kepada Ryan sebagai bayaran atas jasa pengobatannya selama ini. Saat menerimanya, Ryan tampak begitu bahagia. Sorot matanya dipenuhi kegembiraan yang tidak mampu dia sembunyikan.Tatapan penuh kehangatan itu membuat jantung Alya ikut berdebar lebih cepat.Tanpa terasa, tiga bulan pun berlalu. Alya sudah terbiasa dengan kehadiran Ryan di sisinya. Bahkan Rina terkadang tidak kuasa mengeluh karena tabib itu selalu mengambil alih pekerjaannya dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk tampil menonjol di depan nonanya.Melihat Rina merajuk dengan pipi menggembung, Alya tidak kuasa menahan tawa.Namun, sebelum cuaca panas benar-benar berakhir, kabar dari ibu kota akhirnya sampai ke Kota Nordan. Adipati Wira, Adrian, kembali setelah meraih kemenangan besar. Kabarnya, dia bertempur dengan sangat gagah berani hingga berhasil memenggal kepala Raja Borea dan membawanya kembali untuk dipersembahkan kepada Kaisar.Rumor yang ber

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 18

    Tentu saja Alya tidak keberatan.Sebenarnya, dia sempat mengajak Rina untuk ikut, tetapi Rina buru-buru kabur menjauh. Mau tidak mau, akhirnya hanya Alya dan Ryan yang pergi bersama.Belum lama mereka berjalan, hujan mulai turun. Wilayah Kota Nordan memang sering diguyur hujan, terlebih saat musim semi yang kerap diselingi gerimis. Ryan sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini. Dia segera membuka payung dan mengarahkannya ke atas kepala Alya."Hati-hati, jangan sampai kehujanan." Sambil berkata begitu, dia sengaja menggeser payung sedikit ke arah Alya.Air hujan membasahi sebagian bahu pria itu, tetapi dia sama sekali tidak menyadarinya.Baru setelah mereka tiba di tujuan, Alya menyadari bahwa bahu Ryan hampir seluruhnya basah, memancarkan hawa lembap."Kenapa tadi tidak bilang? Bajumu sudah basah kuyup." Nada suara Alya menyiratkan kekhawatiran.Namun, Ryan hanya menepuk-nepuk air di pakaiannya dengan acuh tak acuh, lalu tersenyum kepadanya. "Tubuhmu lemah. Kalau sampai kamu kehujanan,

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status