Short
Kepergian yang Tak Berujung Pulang

Kepergian yang Tak Berujung Pulang

By:  LionCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
5views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pada malam Festival Hari Kasih Sayang, aku meminta seseorang mengantarkan surat cerai kepada Andias Wirawan. Belum genap 15 menit, kepala pelayan sudah kembali membawa balasan singkat yang ditulis langsung olehnya. [ Bagus sekali. ] Pelayan pribadiku yang ikut mengantarku mulai memerah matanya. Dia merasa perlakuan yang kuterima sungguh tidak adil. "Kalian sudah tujuh tahun menjadi suami istri. Demi mengurus rumah tangga, kesehatan Nyonya sendiri bahkan terabaikan. Kenapa Pangeran begitu tega?" Aku menyibak tirai kereta kuda, membiarkan angin dingin menerpa wajahku. "Karena dia bahkan tidak membuka surat itu." Segel pada amplop masih utuh tanpa sedikit pun kerusakan. Dia bahkan tidak sudi meliriknya. Selama bertahun-tahun ini, surat-surat dari keluarga maupun kabar tentang keselamatanku hanya dibalasnya dengan dua kata "Bagus sekali". Dulu, aku mengira bahwa sebagai Pangeran Pemangku Raja, dia memikul tanggung jawab atas seluruh negeri, sehingga tidak memiliki ruang tersisa untuk urusan asmara. Hingga tadi malam, saat aku melewati ruang bacanya, aku melihatnya mengambil separuh lembar kertas dengan coretan asal-asalan oleh teman perempuan masa kecilnya, memasukkannya ke dalam bingkai, lalu menyimpannya di kompartemen tersembunyi, seolah-olah benda itu adalah harta yang tak ternilai. Tatapan penuh penghargaan dan kehati-hatian di matanya adalah sesuatu yang tidak pernah kulihat selama tujuh tahun kami bersama. Saat itulah aku baru menyadari bahwa tujuh tahun pengorbanan dan jerih payahku tidak sebanding dengan sebuah coretan asal-asalan dari perempuan lain. Aku menurunkan tirai kereta, memisahkan diriku dari gemerlap cahaya ribuan rumah di luar. Mulai sekarang, aku tidak akan lagi berharap menemukan cinta di ibu kota ini.

View More

Chapter 1

Bab 1

Kereta kuda itu tidak kembali ke Kediaman Pangeran Pemangku Raja.

Aku meminta kusir mengubah arah menuju Rumah Dagang Guandra di selatan kota. Tempat itu merupakan usaha milik pamanku yang ditinggalkannya di ibu kota. Usaha tersebut menjalin perdagangan antara utara dan selatan, dengan kapal-kapal dagang yang berlayar menuju Kota Rama setiap bulan.

Melihatku datang larut malam, Kepala Rumah Dagang terkejut dan buru-buru menyambutku dari balik konter.

Aku meletakkan selembar uang kertas di atas meja. "Lima belas hari lagi, aku mau satu tiket kapal menuju Kota Rama."

Kepala Rumah Dagang melirik pakaian Putri yang kukenakan dan tidak menerima uang itu.

"Kalau Tuan mengetahui bahwa Anda pergi ke selatan seorang diri, saya khawatir beliau akan menyalahkan hamba."

"Gunakan nama Susan Gunawan untuk tiket kapal itu. Tidak perlu beri tahu siapa pun."

Susan Gunawan adalah nama lain yang diberikan ibu kepadaku. Tidak banyak orang di ibu kota yang mengetahuinya. Tentu saja Andias tidak akan tahu juga.

Kepala Rumah Dagang ragu dalam waktu cukup lama. Pada akhirnya, dia mengeluarkan daftar nama rombongan dagang dan mencantumkan namaku di urutan paling bawah.

Dia menyerahkan sebuah plakat tembaga bertuliskan kata "Rumah Dagang Guandra" kepadaku. "Lima belas hari lagi, kapal akan berangkat pada tengah malam. Kapal tidak akan menunggu siapa pun yang terlambat."

Saat meninggalkan rumah dagang itu, Ingga masih menyeka air matanya. Dia sudah menemaniku dari aku masih tinggal di Kediaman Keluarga Gunawan hingga menikah dan tinggal di Kediaman Pangeran. Dia menyaksikan sendiri bagaimana aku berubah menjadi seorang Putri dari Pangeran Pemangku Raja yang piawai mengurus pembukuan dan memahami seluk-beluk hubungan antarmanusia.

"Nona, apakah Anda benar-benar tega meninggalkan semua ini?"

Tidak tega. Tujuh tahun bukanlah tujuh hari.

Pria itu pernah menggendongku melewati hamparan salju. Pada malam pernikahan kami, dia juga pernah melepaskan mahkota pengantinku dengan tangannya sendiri dan berjanji bahwa dia tidak akan membiarkanku menderita sepanjang hidupku.

Namun, tidak tega meninggalkannya bukan berarti aku harus mengorbankan sisa hidupku demi dirinya.

"Justru karena aku tidak tega, aku pun harus pergi."

Saat kembali ke Kediaman Pangeran, waktu sudah lewat pukul tujuh malam. Pintu aula utama terbuka. Dinda Santoso duduk di sisi Andias. Di atas meja tersaji arak dan kue buatannya sendiri.

Andias mengenakan pakaian sehari-harinya. Raut wajahnya tampak dingin. Dia biasanya tidak menyukai makanan manis. Namun, ketika Dinda menyodorkan kue kepadanya, dia malah tidak menolak.

Melihatku memasuki ruangan, Andias hanya melirik sekilas surat yang kupegang. "Sebagai Putri, kamu semakin bertingkah. Bahkan surat keluarga pun kamu jadikan bahan untuk membuat keributan."

Andias mengira surat itu adalah surat keluarga. Betul juga, bagaimana mungkin dia tahu bahwa isinya adalah surat cerai jika dia bahkan tidak pernah membukanya?

Aku berdiri di ambang pintu, memberinya satu kesempatan terakhir untuk menyadari kesalahannya.

"Apa Pangeran benar-benar mengira surat itu hanya surat keluarga biasa?"

Andias mengangkat cawan araknya. Ekspresinya sama sekali tidak berubah. "Paling-paling hanya berisi urusan sepele di kediaman ini. Kalau kamu kekurangan uang, ambil saja dari bagian keuangan."

Ternyata, di matanya, segala kepedihan yang kurasakan bisa diringkas menjadi pengeluaran.

Dinda berdeham pelan.

Andias segera meletakkan cawan araknya, lalu mengambil jubah tebal dari sandaran kursi dan menyampirkannya ke bahu wanita itu.

"Malam hari udaranya dingin. Kondisi tubuhmu lemah, tidak seharusnya kamu terlalu lama di luar."

Dinda merapatkan jubah itu ke tubuhnya, lalu tersenyum kepadaku dengan wajah penuh rasa bersalah. "Kak, jangan salah paham. Pangeran hanya mengkhawatirkanku karena kondisi tubuhku memang lemah sejak kecil."

Jubah tebal itu kubuat dengan buru-buru untuk Andias pada musim dingin tahun lalu. Kini, jubah itu berada di tubuh wanita lain. Ukurannya malah tergolong pas.

Sepertinya Andias akhirnya menyadari bahwa aku terus terdiam. Kedua alisnya sedikit berkerut.

"Kalau kamu juga merasa dingin, besok aku akan menyuruh seseorang mengantarkan jubah lain ke kediaman utama."

Andias bersedia memberiku kompensasi. Dia tidak pernah pelit dalam memberikan pakaian, perhiasan, maupun uang. Hanya satu hal yang tidak pernah rela dia kembalikan kepadaku, yaitu kasih sayang istimewanya.

Aku berlutut dan memberi hormat. "Terima kasih, Pangeran. Tidak perlu."

Tatapan Andias berhenti beberapa saat di wajahku. Dia tampak tidak terbiasa melihatku setenang ini.

Aku tidak memberinya kesempatan untuk bertanya lebih jauh. Aku berbalik dan meninggalkan aula utama.

Setibanya di kediaman utama, aku menyuruh Ingga membuka seluruh gudang penyimpanan. Harta sesanku terdiri dari 128 tandu barang. Selama tujuh tahun terakhir, 40 persen di antaranya telah digunakan untuk menambal pengeluaran Kediaman Pangeran Pemangku Raja.

Aku mengeluarkan satu per satu surat kepemilikan tanah dan toko, serta surat berharga yang masih tersisa, lalu mulai merapikannya.

Sementara itu, perhiasan dan kain yang dihadiahkan Andias kepadaku kucatat secara terpisah dalam buku lainnya. Semuanya tetap kusimpan utuh di dalam gudang.

Saat membalik halaman terakhir, aku melihat surat pernikahan kami dari tujuh tahun lalu. Kertas merah itu sudah sedikit usang, tetapi tulisan di atasnya masih tampak jelas dan tegas.

Andias pernah menuliskan sendiri bahwa dia bersedia menua bersama Sandora Gunawan hingga akhir hayat.

Aku menatapnya selama beberapa saat, lalu meletakkan surat pernikahan itu di dasar kotak. Lima belas hari kemudian, surat itu tidak akan bisa mengikatku lagi.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status