Share

Bab 5

Author: Moona
Alya menatap Nadia dengan tidak percaya. "Apa yang kamu bicarakan?"

"Demi menyelamatkan orang, berkorban sedikit memangnya kenapa?" balas Nadia dengan penuh percaya diri. "Nenek itu sangat kasihan!"

Alya benar-benar dibuat marah oleh cara berpikir Nadia yang begitu mencengangkan. Dia berbalik hendak pergi, tetapi tiba-tiba tengkuknya terasa nyeri.

Sebelum kesadarannya tenggelam dalam kegelapan, hal terakhir yang dilihatnya adalah senyum Nadia.

Saat membuka mata lagi, aroma bedak dan parfum yang menyengat membuat Alya terbatuk-batuk.

Dia mendapati dirinya terbaring di ranjang berkelambu merah. Di tubuhnya hanya melekat sehelai gaun tipis bak sayap jangkrik yang memperlihatkan sebagian besar kulitnya.

"Oh, sudah bangun rupanya?" Seorang mucikari dengan riasan wajah yang menor mencengkeram dagunya sambil mengamatinya. "Meski bukan perawan lagi, wajahmu benar-benar sangat cantik."

Dia menoleh ke luar sambil berteriak, "Hei! Dandani gadis ini. Malam ini juga dia mulai menerima tamu!"

"Kurang ajar!" Alya berusaha bangkit. "Aku Nyonya Adipati Wira! Beraninya kalian!"

Mucikari itu langsung menamparnya. "Kalau kamu Nyonya Adipati Wira, berarti aku Permaisuri! Begitu sudah dijual ke tempat ini, kamu harus melayani tamu. Percuma saja bicara!"

Mucikari itu melambaikan tangan ke arah luar. "Pengawal! Pukul dia sampai menurut!"

Lima atau enam pria bertubuh besar menerobos masuk sambil membawa tongkat. Tanpa ampun mereka menghajar Alya.

Tongkat-tongkat itu menghantam tubuhnya berkali-kali dengan suara yang berat dan tumpul. Alya meringkuk di lantai. Tidak lama kemudian, dia sudah memuntahkan darah.

"Benar-benar tidak tahu diri." Mucikari itu mencibir. "Aku tanya sekali lagi. Mau melayani tamu atau tidak?"

Alya meludahkan darah dari mulutnya, lalu berkata dengan menggertakkan gigi, "Kalau kamu berani menyentuhku, kediaman adipati tidak akan melepaskanmu."

"Pukul lagi!"

Tepat ketika tongkat-tongkat itu hendak kembali menghantamnya, pintu mendadak ditendang hingga terbuka.

Sesosok pria yang dikenalnya berdiri membelakangi cahaya. Suaranya sedingin es.

"Berhenti!"

Alya mengangkat kepalanya dengan susah payah. Di balik pandangannya yang kabur, Adrian berdiri di ambang pintu dengan aura membunuh yang mengerikan.

Alya membuka mulut, tetapi yang keluar hanya seteguk darah. Tidak lama kemudian, pandangannya gelap dan dia kehilangan kesadaran.

Alya terbangun karena rasa sakit yang luar biasa.

Baru saja dia menggerakkan jemarinya, terdengar suara Adrian yang dingin dari balik penyekat ruangan. "Sudah dibereskan semuanya?"

"Lapor, Adipati. Ketiga puluh delapan orang di Wisma Anggrek Merah telah dihukum mati dengan cambuk. Preman yang pernah menyentuh nyonya dipotong kedua tangannya, sedangkan sang mucikari dicungkil kedua matanya. Semua mayat telah dibuang ke kuburan massal untuk menjadi santapan anjing liar."

"Sudah diketahui siapa yang menjual nyonya ke sana?"

"Ini ...." Pengawal rahasia itu terdiam sejenak. "Pelakunya adalah Nona Nadia. Namun, Nona Nadia mengatakan bahwa dia melakukannya demi menolong nenek tua yang terlilit utang ...."

"Cukup." Nada suara Adrian menjadi makin dingin. "Kamu boleh pergi."

Suara langkah kaki perlahan menjauh. Tidak lama kemudian, sosok yang begitu dikenalnya muncul dari balik penyekat.

Hari itu, Adrian mengenakan jubah panjang berwarna putih gading. Giok yang tergantung di pinggangnya bergoyang pelan mengikuti langkahnya. Dia masih tetap Adipati Wira yang elegan dan tiada duanya.

"Alya." Adrian memanggil namanya. Suaranya selembut dulu. Di matanya bahkan tampak sedikit rasa iba. "Masih sakit? Jangan takut. Semua orang yang pernah menyentuhmu sudah mati."

Alya memalingkan wajahnya, menghindari sentuhannya. Rasa amis kembali memenuhi tenggorokannya. "Orang yang paling pantas Adipati bunuh adalah Nadia!"

Tangan Adrian membeku di udara. Keningnya sedikit berkerut. "Alya, Nadia tidak sengaja. Dia hanya terlalu baik hati dan ingin menolong nenek tua itu."

"Baik hati?" Alya tiba-tiba tertawa. Dia tertawa hingga air matanya mengalir. "Memukulku sampai pingsan, lalu menjualku ke rumah bordil, itu yang kamu sebut baik hati?"

Alya menopang tubuhnya hingga duduk. Setiap gerakan menarik luka-luka di sekujur tubuhnya hingga terasa nyeri. Adrian refleks hendak membantunya, tetapi dia mendorong pria itu dengan keras. "Adrian, bagaimana bisa hatimu begitu berat sebelah? Bahkan jika aku mati di rumah bordil, apa itu masih tidak sebanding dengan setetes air mata Nadia?"

"Apa kamu sudah lupa? Dulu, saat kamu berlutut di tengah salju memohon agar aku menikah denganmu, apa yang kamu katakan? Kamu bilang, 'Alya, seumur hidup ini aku tidak akan pernah mengkhianatimu'. Kamu juga bilang, 'Seumur hidup, hanya akan ada kita berdua'."

Suara Alya tercekat hingga tidak sanggup melanjutkan. "Jadi ... seumur hidup yang kamu maksud hanya berlangsung tiga tahun?"

Kamar tidur itu diliputi keheningan yang mencekam. Yang terdengar hanya isak tangis Alya yang histeris.

Sepanjang waktu, Adrian tetap diam. Jemarinya yang panjang perlahan mengusap giok di pinggangnya, seolah tangisan dan pertanyaan yang mengoyak hati itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Hati Alya perlahan menjadi dingin.

Dulu, melihatnya sedikit mengernyit saja sudah membuat Adrian cemas sepanjang hari. Sekarang, meski dia menangis hingga hatinya hancur berkeping-keping, pria itu tetap tidak bergeming.

Tampaknya, Adrian benar-benar sudah tidak mencintainya lagi.

"Sudahlah." Baru setelah Alya menangis hingga kelelahan, Adrian akhirnya membuka suara dengan nada datar. "Anggap saja masalah ini selesai. Mulai sekarang, jangan lagi mencari gara-gara dengan Nadia."

Alya memejamkan mata. Air matanya mengalir tanpa suara.

Dia lelah. Benar-benar lelah.

Tubuhnya sudah dipenuhi luka. Hatinya pun telah hancur berkeping-keping.

Rina seharusnya sudah hampir tiba di Kota Nordan.

Begitu dekret kekaisaran itu sampai, dia akan pergi dari tempat ini. Pergi untuk selamanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 23

    Adrian mengulurkan tangan, tetapi bagaimanapun juga, dia tidak mampu meraih sosok itu.Dia hanya bisa terpaku di tempat, menyaksikan Alya pergi meninggalkannya.Beberapa saat kemudian, Nadia merangkak hingga ke dekat kakinya."Adipati, lihatlah aku. Asal kamu menyelamatkanku, aku pasti tidak akan meninggalkanmu seperti wanita jalang Alya itu. Aku ...." Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Adrian menendangnya dengan keras."Siapa yang mengizinkanmu menghina Alya? Kamulah biang keladinya! Nadia, kalau bukan karena ulahmu, mana mungkin aku dan Alya berakhir seperti ini!" Dalam amarahnya, dia terus menendang Nadia hingga kesadarannya hampir hilang.Mungkin karena menyadari bahwa dirinya benar-benar sudah tidak memiliki harapan lagi, di tengah rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya, Nadia justru tertawa getir."Adrian, kamu terus menyalahkanku, tapi kamu menutup mata atas semua penderitaan yang dialami Alya! Kalau bukan karena persetujuan diam-diam darimu, mana mungkin aku bisa melak

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 22

    Tujuan mereka adalah ibu kota. Dari Kota Nordan ke ibu kota, bahkan melalui rute tercepat pun membutuhkan waktu setengah bulan. Selama setengah bulan di perjalanan itu, Adrian terus membicarakan masa lalu. Dia berharap bisa melihat sedikit saja tanda bahwa Alya masih memiliki perasaan padanya. Namun, sebesar apa pun usahanya, di mata Alya hanya ada Ryan.Setiap hari mereka duduk bersama sambil mengobrol dan tertawa. Senyum mereka begitu menyilaukan di mata Adrian. Tangan mereka pun hampir tidak pernah terlepas. Bahkan saat Alya tertidur, Ryan tetap menggenggam tangannya dan sesekali memainkan jemarinya dengan lembut.Hari-hari itu terasa sangat menyiksa bagi Adrian. Namun, demi bisa terus berada di dekat Alya, dia hanya bisa menahan semuanya.Hari mereka tiba di ibu kota adalah hari yang paling membahagiakan bagi Adrian.Dengan penuh semangat, dia memimpin jalan menuju sebuah gang kumuh. Di sana dipenuhi orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal, yaitu para pengemis. Alya tidak me

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 21

    Ryan bergegas datang. Tanpa sedikit pun gentar, dia berdiri di antara Adrian dan Alya, menggunakan tubuhnya untuk melindungi wanita itu.Alya pun tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Kamu tadi pergi ke mana, Ryan?"Senyum Alya dipenuhi kelembutan dan kepercayaan, sesuatu yang sudah lama tidak dilihat Adrian. Hanya dengan melihatnya, hatinya langsung diliputi kepanikan. Dengan suara berat, dia membentak, "Siapa kamu? Alya adalah wanitaku! Siapa yang mengizinkanmu memanggilnya seperti itu?"Ryan berbalik. Baru saat itu Alya menyadari bahwa biasanya pria itu selalu mengenakan pakaian putih sederhana dari kain biasa. Namun, hari ini, pakaian putihnya dihiasi motif-motif samar yang membuatnya tampak jauh lebih elegan dan mewah. Meski tidak mencolok, jelas terlihat bahwa pakaian itu dibuat dari bahan yang mahal.Untuk sesaat, sebuah pertanyaan muncul di benak Alya. Benarkah Ryan hanyalah seorang tabib biasa di Kota Nordan?Ryan memandang Adrian sambil mencibir. "Kalian sudah bercerai. Orang yang d

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 20

    Keesokan harinya, Adrian menunggang kuda hingga tiba di depan toko Alya di Kota Nordan.Sebagai Adipati Wira, menemukan Alya adalah perkara yang sangat mudah baginya. Karena itu, Alya tidak terkejut dengan kemunculan pria tersebut. Setelah mendapat penghiburan dari Ryan, dia sudah memikirkannya baik-baik. Bagaimanapun juga, hubungan antara dirinya dan Adrian memang harus diselesaikan dengan jelas.Begitu melihat Alya, Adrian langsung menghampirinya.Selama beberapa bulan berada di medan perang, Adrian selalu memikirkan Alya setiap detik. Bahkan setelah memenangkan perang, satu-satunya orang yang memenuhi hatinya tetaplah Alya. Dia pun memacu kudanya kembali ke ibu kota secepat mungkin. Kaisar berjanji akan memberinya kenaikan pangkat dan gelar, tetapi semuanya Adrian tolak. Dia hanya menginginkan sebuah dekret kekaisaran yang memberinya kesempatan untuk mendapatkan Alya kembali.Setelah melewati hidup dan mati, bertemu kembali dengan Alya membuatnya merasa seolah menemukan kembali sesu

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 19

    Setelah itu, Alya membuat sendiri sebuah payung dan menghadiahkannya kepada Ryan sebagai bayaran atas jasa pengobatannya selama ini. Saat menerimanya, Ryan tampak begitu bahagia. Sorot matanya dipenuhi kegembiraan yang tidak mampu dia sembunyikan.Tatapan penuh kehangatan itu membuat jantung Alya ikut berdebar lebih cepat.Tanpa terasa, tiga bulan pun berlalu. Alya sudah terbiasa dengan kehadiran Ryan di sisinya. Bahkan Rina terkadang tidak kuasa mengeluh karena tabib itu selalu mengambil alih pekerjaannya dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk tampil menonjol di depan nonanya.Melihat Rina merajuk dengan pipi menggembung, Alya tidak kuasa menahan tawa.Namun, sebelum cuaca panas benar-benar berakhir, kabar dari ibu kota akhirnya sampai ke Kota Nordan. Adipati Wira, Adrian, kembali setelah meraih kemenangan besar. Kabarnya, dia bertempur dengan sangat gagah berani hingga berhasil memenggal kepala Raja Borea dan membawanya kembali untuk dipersembahkan kepada Kaisar.Rumor yang ber

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 18

    Tentu saja Alya tidak keberatan.Sebenarnya, dia sempat mengajak Rina untuk ikut, tetapi Rina buru-buru kabur menjauh. Mau tidak mau, akhirnya hanya Alya dan Ryan yang pergi bersama.Belum lama mereka berjalan, hujan mulai turun. Wilayah Kota Nordan memang sering diguyur hujan, terlebih saat musim semi yang kerap diselingi gerimis. Ryan sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini. Dia segera membuka payung dan mengarahkannya ke atas kepala Alya."Hati-hati, jangan sampai kehujanan." Sambil berkata begitu, dia sengaja menggeser payung sedikit ke arah Alya.Air hujan membasahi sebagian bahu pria itu, tetapi dia sama sekali tidak menyadarinya.Baru setelah mereka tiba di tujuan, Alya menyadari bahwa bahu Ryan hampir seluruhnya basah, memancarkan hawa lembap."Kenapa tadi tidak bilang? Bajumu sudah basah kuyup." Nada suara Alya menyiratkan kekhawatiran.Namun, Ryan hanya menepuk-nepuk air di pakaiannya dengan acuh tak acuh, lalu tersenyum kepadanya. "Tubuhmu lemah. Kalau sampai kamu kehujanan,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status