Share

Bab 3

Author: Moona
Alya bagai disambar petir. Seluruh darah di tubuhnya seolah membeku.

"Semua ini salah saya karena gagal mendidik istri saya dengan baik hingga melakukan kesalahan sebesar ini." Adrian membungkuk memberi hormat. "Mohon Bibi berkenan mengampuni. Keponakan ini pasti akan menyiapkan hadiah ulang tahun yang baru sebagai bentuk permohonan maaf."

Setiap katanya bagaikan pisau yang menusuk jantung Alya berkali-kali. Dia membuka mulut, tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

"Nyonya Wijaya," kata Permaisuri sambil menggeleng kecewa. "Dulu, kamu dikenal di ibu kota sebagai wanita yang berbudi luhur dan bijaksana. Aku selalu menyukaimu. Tidak kusangka, sekarang kamu justru melakukan kesalahan sebesar ini. Kamu benar-benar mengecewakanku."

"Demi menghormati statusmu sebagai nyonya kediaman adipati, hukuman mati bisa diampuni. Namun, hukuman tetap harus dijalankan. Pengawal!"

"Tampar dia seratus kali!"

"Yang Mulia, mohon berlaku adil!" Alya merangkak maju dua langkah sambil berlutut. "Hamba difitnah!"

Namun, sebelum sempat menyelesaikan ucapannya, dua orang pelayan tua sudah menerjang maju. Tangan mereka yang sekeras besi mencengkeram bahunya.

Plak!

Tamparan pertama mendarat keras. Separuh wajah Alya langsung mati rasa. Rasa amis memenuhi mulutnya, sementara darah mengalir dari sudut bibirnya.

Plak!

Tamparan kedua lebih keras lagi. Pandangannya mulai menggelap, telinganya berdengung, dan pipinya terasa terbakar seolah disiram besi panas.

....

Adrian berdiri di samping, memandangi Alya yang ditekan ke lantai dan ditampar tanpa henti. Darah terus mengalir dari sudut bibirnya hingga membasahi kerah pakaiannya.

Jemarinya sedikit bergetar. Tanpa sadar dia hendak melangkah maju.

"Adipati ...." Nadia tiba-tiba menarik lengan bajunya. Suaranya bergetar. "A ... aku takut ...."

"Seandainya aku tidak memberikan hadiah itu ... semua ini salahku ...."

Adrian memejamkan mata sejenak. Saat membukanya kembali, tatapannya sudah kembali tenang.

Dia mengangkat tangan dan menutupi mata Nadia dengan lembut. "Jangan takut."

"Walaupun kamu membuat masalah sebesar apa pun, aku tetap akan melindungimu."

Setelah seratus tamparan selesai, kesadaran Alya sudah nyaris hilang.

Dia dibawa kembali ke kediaman adipati, lalu dikurung di aula leluhur. Sebagai hukuman, dia diperintahkan menyalin kitab suci untuk Permaisuri dengan darahnya sendiri sebagai bentuk penebusan.

Nyala lilin bergoyang tertiup angin. Alya berlutut di atas bantalan. Dengan jemari yang gemetar, dia mencelupkan kuas ke tinta, lalu menulis goresan demi goresan.

Setiap goresan terasa seperti mengiris hatinya.

Ingatannya kembali melayang pada masa ketika Adrian selalu menjadi tameng baginya.

Pada senyumnya yang hangat saat berkata, "Istriku, tidak seorang pun boleh menindasmu."

Terlebih lagi, yang paling membekas adalah kejadian hari ini — ketika dia menutupi mata Nadia dan berkata, "Jangan takut, aku akan melindungimu."

Pluk!

Setetes air mata jatuh di atas kertas, mengaburkan tulisan berwarna darah.

Alya akhirnya tidak sanggup bertahan lagi. Pandangannya menggelap, lalu dia jatuh pingsan.

Saat sadar kembali, Alya mendapati dirinya terbaring di ranjang yang empuk.

Adrian sedang duduk di sisi ranjang sambil memegang semangkuk obat. Dia meniupnya perlahan agar tidak terlalu panas.

Melihat Alya membuka mata, raut wajahnya langsung melunak. "Kamu sudah bangun? Masih sakit?"

Suaranya selembut dulu. Untuk sesaat, Alya merasa seolah kembali ke masa lalu.

Namun, rasa perih yang membakar di luka cambuk pada punggungnya segera menyadarkannya kembali.

Pria yang dulu begitu menyayanginya itu, kini demi wanita lain, tega menyaksikan dirinya ditampar seratus kali di depan matanya sendiri.

"Kenapa Adipati tidak menemani Nona Nadia? Untuk apa datang ke sini?" Alya memalingkan wajah. Suaranya serak.

Adrian meletakkan mangkuk obat, lalu menghela napas. "Sejak perjamuan di istana, Nadia terus ketakutan dan murung."

Dia mengulurkan tangan hendak membelai rambut Alya, tetapi wanita itu menghindar. "Aku sudah mencoba segala cara, tapi tidak berhasil. Sampai tadi dia berkata ...."

"Dia ingin melihatmu menarikan Tarian Angsa Terbang."

Alya langsung mengangkat kepala. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Apa katamu?"

"Cukup sekali saja." Nada suara Adrian melunak. "Agar dia senang saja."

"Aku tidak akan menari." Alya menggenggam erat selimutnya hingga buku-buku jarinya memutih. "Adrian, lihatlah keadaanku sekarang. Bagaimana mungkin aku bisa menari?"

"Alya." Wajah Adrian tiba-tiba mengeras. Mata yang dulu selalu dipenuhi kasih sayang kini sedingin es. "Kamu adalah nyonya kediaman adipati. Sebagai istri, kamu harus mematuhi suamimu."

Dia berdiri dan menatap Alya dari atas. "Aku menyuruhmu menari, jadi kamu harus menari."

Adrian mengangkat tangan memberi isyarat. Beberapa pelayan wanita bertubuh kekar segera masuk. Tanpa memberi kesempatan Alya membantah, mereka menyeretnya turun dari ranjang.

Alya terus meronta. Luka-lukanya kembali robek hingga rasa sakit membuat pandangannya menggelap. Namun, tenaganya tidak mampu melawan para pelayan itu.

"Adrian!" Alya menjeritkan namanya dengan memilukan. Namun, yang dia dapatkan hanyalah punggung pria itu yang perlahan menjauh.

Di paviliun tengah danau, Alya dipaksa menari di atas panggung batu giok.

Seluruh tubuhnya penuh luka. Setiap gerakan membuat rasa sakit menjalar hingga keringat dingin membasahi tubuhnya. Namun, Tarian Angsa Terbang menuntut gerakan yang ringan dan mengalir tanpa putus, sehingga dia hanya bisa menggertakkan gigi dan menahan semuanya.

Di paviliun di tepi danau, Nadia bersandar di pelukan Adrian. Matanya berbinar-binar. "Nyonya menari dengan sangat indah!"

Melihat mereka saling bersandar, Alya tiba-tiba teringat asal mula tarian itu.

Dulu, Adrian pernah berkata bahwa Tarian Angsa Terbang hanya boleh dipersembahkan kepada orang yang dicintai. Karena itulah, Alya berlatih selama tiga bulan penuh hanya untuk memberikan Adrian kejutan pada hari ulang tahunnya.

Saat melakukan putaran terakhir, kaki Alya tiba-tiba terpeleset.

Byur!

Air danau yang sedingin es seketika menelan tubuhnya. Alya berjuang muncul ke permukaan, lalu melihat Adrian tiba-tiba berdiri.

"Alya!" Raut wajahnya sempat dipenuhi kepanikan.

Tepat ketika Adrian hendak berlari, pelayan Nadia tiba-tiba menjerit, "Adipati, nona tersedak duri ikan!"

Tubuh Adrian langsung terhenti. Dia menoleh ke arah Alya yang masih berjuang di dalam air, lalu memandang Nadia yang sedang batuk kesakitan di paviliun.

Keraguan sesaat itu bagaikan pisau tumpul yang mengoyak hati Alya menjadi dua.

"Panggil tabib istana!"

Pada akhirnya, Adrian berbalik dan melangkah cepat menuju Nadia. Dia mengangkat wanita itu ke dalam pelukannya, lalu membawanya pergi.

Alya terus terombang-ambing di permukaan danau sambil terus memanggil nama Adrian. Namun, yang dilihatnya hanya sosok punggungnya yang kian menjauh, lalu lenyap di ujung selasar.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 23

    Adrian mengulurkan tangan, tetapi bagaimanapun juga, dia tidak mampu meraih sosok itu.Dia hanya bisa terpaku di tempat, menyaksikan Alya pergi meninggalkannya.Beberapa saat kemudian, Nadia merangkak hingga ke dekat kakinya."Adipati, lihatlah aku. Asal kamu menyelamatkanku, aku pasti tidak akan meninggalkanmu seperti wanita jalang Alya itu. Aku ...." Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Adrian menendangnya dengan keras."Siapa yang mengizinkanmu menghina Alya? Kamulah biang keladinya! Nadia, kalau bukan karena ulahmu, mana mungkin aku dan Alya berakhir seperti ini!" Dalam amarahnya, dia terus menendang Nadia hingga kesadarannya hampir hilang.Mungkin karena menyadari bahwa dirinya benar-benar sudah tidak memiliki harapan lagi, di tengah rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya, Nadia justru tertawa getir."Adrian, kamu terus menyalahkanku, tapi kamu menutup mata atas semua penderitaan yang dialami Alya! Kalau bukan karena persetujuan diam-diam darimu, mana mungkin aku bisa melak

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 22

    Tujuan mereka adalah ibu kota. Dari Kota Nordan ke ibu kota, bahkan melalui rute tercepat pun membutuhkan waktu setengah bulan. Selama setengah bulan di perjalanan itu, Adrian terus membicarakan masa lalu. Dia berharap bisa melihat sedikit saja tanda bahwa Alya masih memiliki perasaan padanya. Namun, sebesar apa pun usahanya, di mata Alya hanya ada Ryan.Setiap hari mereka duduk bersama sambil mengobrol dan tertawa. Senyum mereka begitu menyilaukan di mata Adrian. Tangan mereka pun hampir tidak pernah terlepas. Bahkan saat Alya tertidur, Ryan tetap menggenggam tangannya dan sesekali memainkan jemarinya dengan lembut.Hari-hari itu terasa sangat menyiksa bagi Adrian. Namun, demi bisa terus berada di dekat Alya, dia hanya bisa menahan semuanya.Hari mereka tiba di ibu kota adalah hari yang paling membahagiakan bagi Adrian.Dengan penuh semangat, dia memimpin jalan menuju sebuah gang kumuh. Di sana dipenuhi orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal, yaitu para pengemis. Alya tidak me

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 21

    Ryan bergegas datang. Tanpa sedikit pun gentar, dia berdiri di antara Adrian dan Alya, menggunakan tubuhnya untuk melindungi wanita itu.Alya pun tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Kamu tadi pergi ke mana, Ryan?"Senyum Alya dipenuhi kelembutan dan kepercayaan, sesuatu yang sudah lama tidak dilihat Adrian. Hanya dengan melihatnya, hatinya langsung diliputi kepanikan. Dengan suara berat, dia membentak, "Siapa kamu? Alya adalah wanitaku! Siapa yang mengizinkanmu memanggilnya seperti itu?"Ryan berbalik. Baru saat itu Alya menyadari bahwa biasanya pria itu selalu mengenakan pakaian putih sederhana dari kain biasa. Namun, hari ini, pakaian putihnya dihiasi motif-motif samar yang membuatnya tampak jauh lebih elegan dan mewah. Meski tidak mencolok, jelas terlihat bahwa pakaian itu dibuat dari bahan yang mahal.Untuk sesaat, sebuah pertanyaan muncul di benak Alya. Benarkah Ryan hanyalah seorang tabib biasa di Kota Nordan?Ryan memandang Adrian sambil mencibir. "Kalian sudah bercerai. Orang yang d

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 20

    Keesokan harinya, Adrian menunggang kuda hingga tiba di depan toko Alya di Kota Nordan.Sebagai Adipati Wira, menemukan Alya adalah perkara yang sangat mudah baginya. Karena itu, Alya tidak terkejut dengan kemunculan pria tersebut. Setelah mendapat penghiburan dari Ryan, dia sudah memikirkannya baik-baik. Bagaimanapun juga, hubungan antara dirinya dan Adrian memang harus diselesaikan dengan jelas.Begitu melihat Alya, Adrian langsung menghampirinya.Selama beberapa bulan berada di medan perang, Adrian selalu memikirkan Alya setiap detik. Bahkan setelah memenangkan perang, satu-satunya orang yang memenuhi hatinya tetaplah Alya. Dia pun memacu kudanya kembali ke ibu kota secepat mungkin. Kaisar berjanji akan memberinya kenaikan pangkat dan gelar, tetapi semuanya Adrian tolak. Dia hanya menginginkan sebuah dekret kekaisaran yang memberinya kesempatan untuk mendapatkan Alya kembali.Setelah melewati hidup dan mati, bertemu kembali dengan Alya membuatnya merasa seolah menemukan kembali sesu

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 19

    Setelah itu, Alya membuat sendiri sebuah payung dan menghadiahkannya kepada Ryan sebagai bayaran atas jasa pengobatannya selama ini. Saat menerimanya, Ryan tampak begitu bahagia. Sorot matanya dipenuhi kegembiraan yang tidak mampu dia sembunyikan.Tatapan penuh kehangatan itu membuat jantung Alya ikut berdebar lebih cepat.Tanpa terasa, tiga bulan pun berlalu. Alya sudah terbiasa dengan kehadiran Ryan di sisinya. Bahkan Rina terkadang tidak kuasa mengeluh karena tabib itu selalu mengambil alih pekerjaannya dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk tampil menonjol di depan nonanya.Melihat Rina merajuk dengan pipi menggembung, Alya tidak kuasa menahan tawa.Namun, sebelum cuaca panas benar-benar berakhir, kabar dari ibu kota akhirnya sampai ke Kota Nordan. Adipati Wira, Adrian, kembali setelah meraih kemenangan besar. Kabarnya, dia bertempur dengan sangat gagah berani hingga berhasil memenggal kepala Raja Borea dan membawanya kembali untuk dipersembahkan kepada Kaisar.Rumor yang ber

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 18

    Tentu saja Alya tidak keberatan.Sebenarnya, dia sempat mengajak Rina untuk ikut, tetapi Rina buru-buru kabur menjauh. Mau tidak mau, akhirnya hanya Alya dan Ryan yang pergi bersama.Belum lama mereka berjalan, hujan mulai turun. Wilayah Kota Nordan memang sering diguyur hujan, terlebih saat musim semi yang kerap diselingi gerimis. Ryan sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini. Dia segera membuka payung dan mengarahkannya ke atas kepala Alya."Hati-hati, jangan sampai kehujanan." Sambil berkata begitu, dia sengaja menggeser payung sedikit ke arah Alya.Air hujan membasahi sebagian bahu pria itu, tetapi dia sama sekali tidak menyadarinya.Baru setelah mereka tiba di tujuan, Alya menyadari bahwa bahu Ryan hampir seluruhnya basah, memancarkan hawa lembap."Kenapa tadi tidak bilang? Bajumu sudah basah kuyup." Nada suara Alya menyiratkan kekhawatiran.Namun, Ryan hanya menepuk-nepuk air di pakaiannya dengan acuh tak acuh, lalu tersenyum kepadanya. "Tubuhmu lemah. Kalau sampai kamu kehujanan,

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status