MasukDinginnya mata pisau yang menempel di urat nadinya membuat adrenalin Lia berpacu kencang. Dia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang bertalu di lehernya, tepat di ujung logam tajam milik Kael. Satu gerakan kecil, satu tarikan napas yang terlalu dalam, dan nyawanya akan melayang untuk kedua kalinya.
Namun, Lia tidak berteriak. Dia tidak menangis seperti Arischa yang asli jika sedang terpojok.
Lia justru menatap lurus ke dalam mata biru Kael yang berkilat emosi. Dia melihat kemarahan, luka, tapi juga... gairah yang berusaha ditekan habis-habisan oleh pria itu.
"Apa yang kau tunggu, Jenderal?" bisik Lia. Suaranya tidak bergetar. "Tanganmu gemetar. Apakah membunuh seorang wanita di atas ranjang lebih sulit daripada membantai ribuan prajurit di medan perang?"
Kael menggeram. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. "Kau tidak tahu seberapa besar aku ingin melihat darahmu mengalir di lantai ini, Arischa. Kau menghancurkan negaraku. Kau menjadikan aku seorang Panglima hanya sebagai penghias ranjangmu. Kau pikir aku akan luluh hanya karena kau bersikap sedikit berbeda hari ini?"
Lia memberikan senyum yang paling tenang namun paling menyakitkan. Dia mengangkat tangannya perlahan. Kael waspada dan hampir menekan pisaunya, tapi Lia hanya menggunakan ujung jarinya untuk menyentuh permukaan pisau itu, lalu perlahan menjauhkannya dari lehernya.
"Negaramu hancur karena rajanya lemah, Kael. Dan kau ada di sini karena kau masih hidup. Kau memilih hidup sebagai selirku daripada mati sebagai pahlawan yang kalah. Jadi, jangan berlagak suci di depanku."
Lia menarik kerah leher Kael, memaksa wajah pria itu semakin dekat hingga hidung mereka bersentuhan.
"Jika kau ingin membunuhku, lakukan dengan tatapan seorang pria yang bebas. Tapi saat ini... matamu menunjukkan bahwa kau adalah budak. Bukan budakku, tapi budak dari nafsumu sendiri yang kau sangkal selama ini."
Wajah Kael memerah karena murka, atau mungkin karena malu. Cengkeramannya pada bahu Lia mengendur, tapi berat tubuhnya masih menindih Lia, memerangkapnya di antara kasur dan otot-ototnya yang keras.
"Kau benar-benar ingin mati," desis Kael.
"Aku sudah pernah mati sekali, Kael. Dan percayalah, itu tidak semenakutkan hidup dikelilingi pria yang ingin membunuhku tapi tidak punya nyali untuk melakukannya," tantang Lia.
Tiba-tiba, Kael melempar pisaunya ke sudut ruangan. Bunyi dentingan logam yang menghantam lantai marmer terdengar seperti tanda dimulainya babak baru. Tanpa peringatan, Kael membungkam bibir Lia dengan ciuman yang kasar dan menuntut.
Ini bukan ciuman cinta, ini seperti peperangan.
Lia tersentak, tangannya refleks mencengkeram punggung Kael yang kokoh. Rasa sakit dan kenikmatan bercampur menjadi satu. Kael menciumnya seolah ingin menghisap seluruh nyawa Lia, seolah ingin menghapus rasa benci itu dengan gairah yang meledak-ledak. Tangan Kael yang besar mulai menjelajah dengan liar, merobek jubah sutra Lia hingga memperlihatkan keindahan tubuh sang Ratu yang selama ini hanya bisa dia bayangkan dalam mimpi buruknya.
Lia mendesah di sela ciuman mereka, tangannya merambat ke rambut hitam Kael, menariknya agar pria itu semakin dalam menciumnya. Di dunia lamanya, dia adalah sampah yang tak tersentuh. Di sini, dia adalah pusat gravitasi yang membuat pria paling berbahaya sekalipun kehilangan akal sehatnya.
Namun, saat suasana di dalam kamar itu mencapai titik didih, sebuah suara hantaman keras terdengar dari arah pintu balkon.
BRAKK!
Lia dan Kael tersentak. Kael langsung berdiri dan memasang posisi waspada, sementara Lia berusaha menutupi tubuhnya dengan sisa pakaiannya yang robek.
Di balkon yang diterangi cahaya bulan, berdiri sesosok pria lain. Dia adalah Xavier, selir ke-3 yang dikenal dengan wajahnya yang cantik seperti malaikat namun memiliki reputasi sebagai ahli racun dan mata-mata. Xavier sedang duduk santai di pagar balkon, memainkan sebuah botol kecil berisi cairan hijau neon di tangannya.
"Astaga, Jenderal... aku tidak tahu kau begitu agresif di tempat tidur," ucap Xavier dengan nada mengejek yang sangat ringan. Matanya yang berwarna hijau emerald menatap Lia dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara cemburu dan haus darah.
"Xavier," desis Kael dengan suara parau. "Keluar dari sini sebelum kupatahkan lehermu."
Xavier melompat turun dari pagar balkon dengan gerakan anggun seperti kucing. Dia berjalan mendekati ranjang, mengabaikan ancaman Kael. Dia berhenti tepat di depan Lia, lalu berlutut dan mengambil tangan Lia untuk diciumnya dengan lembut sangat kontras dengan kekasaran Kael tadi.
"Maaf mengganggu momen panas kalian, Yang Mulia," ucap Xavier sambil menatap Lia dari bawah bulu matanya yang lentik. "Tapi saya membawa kabar buruk. Sembilan selir lainnya sedang berkumpul di aula bawah. Mereka mendengar Jenderal Kael mencoba membunuh Anda, dan sekarang mereka sedang bertaruh... siapa yang akan mendapatkan potongan tubuh Anda pertama kali setelah sang Jenderal selesai."
Lia mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Xavier tersenyum manis, namun senyum itu tidak mencapai matanya. "Maksud saya... malam ini bukan hanya tentang siapa yang akan tidur dengan Anda, Ratu. Tapi tentang siapa yang akan bertahan hidup saat matahari terbit nanti."
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki banyak orang dari lorong istana. Suara dentingan pedang dan teriakan para pengawal yang kalah terdengar semakin dekat.
Xavier berdiri, lalu mengeluarkan sebuah belati kecil dan memberikannya kepada Lia. "Pegang ini, Ratu. Karena sepertinya, selir-selir kesayangan Anda yang lain sudah tidak sabar untuk melayani Anda dengan cara mereka masing-masing."
Pintu kamar utama ditendang hingga hancur dari luar. Tiga pria tampan lainnya masuk dengan senjata terhunus dan pakaian yang berantakan, wajah mereka penuh dengan ambisi yang gelap.
Lia berdiri di atas ranjangnya, memegang belati itu dengan tangan gemetar namun mata yang berkilat tajam. Dia menatap ke arah pintu, lalu ke arah Kael, dan terakhir ke arah Xavier.
"Kalian ingin bermain-main denganku?" Lia tertawa, suara tawanya terdengar gila namun mempesona di tengah kekacauan itu. "Baiklah. Mari kita lihat, siapa di antara sepuluh serigala ini yang akan berakhir sebagai peliharaanku... dan siapa yang akan berakhir di tiang gantungan!"
Tepat saat pria pertama melompat ke arahnya dengan pedang terangkat.
*********
Mobil sport hitam itu melaju kencang mendaki bukit menuju Menara Transmisi. Di samping Lia, Kael mencengkeram kemudi dengan urat-urat tangan yang menonjol. Luka bakar di bahunya masih mengepulkan asap tipis, tapi dia tidak peduli."Jika kita menghancurkan server itu, Lia... kita mungkin tidak akan punya jalan pulang lagi," ucap Kael, suaranya parau tertutup deru mesin."Dunia ini bukan rumah kita, Kael. Rumah kita adalah tempat di mana aku adalah Ratumu," jawab Lia tajam.Mereka tiba di puncak. Kael menabrakkan mobil itu ke dinding kaca gedung pusat data.BRAKK!Pecahan kaca berhamburan. Mereka melompat keluar, disambut oleh Dimas yang berdiri di depan superkomputer raksasa."Selamat datang di akhir dunia, Lia!" teriak Dimas gila. Dia menekan tombol Delete. "Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak akan ada yang bisa!"Tiba-tiba, seluruh ruangan bergetar. Kode-kode digital di layar mulai pecah dan berubah menjadi kelopak mawar hitam, kekuatan anomali Lia di simulasi ternyata terbawa
Alarm peringatan melengking memekakkan telinga, lampu-lampu merah berputar menciptakan suasana distopia di dalam laboratorium bawah tanah itu. CEO Neuro-Core yaitu ayah Arlan berteriak histeris memerintahkan pengawal untuk mengamankan aset mereka.Namun, mereka lupa satu hal... Kael bukan lagi sekadar data. Tubuh Bio-Vessel itu diciptakan dengan spesifikasi militer tingkat tinggi, dan memori di dalamnya adalah memori seorang Jenderal yang telah memenangkan ribuan pertempuran.Kael bergerak seperti badai. Meskipun tubuhnya baru saja keluar dari tabung, insting tempurnya tidak bisa dibendung. Dia menyambar sebatang pipa besi dari reruntuhan tabung dan dalam hitungan detik, tiga pengawal bersenjata sudah terkapar di lantai dengan tulang rusuk hancur."Ayo, Lia!" Kael menyambar tangan Lia.Sentuhan itu... tidak lagi menyakitkan. Tidak ada sengatan listrik dan tidak ada rasa sesak. Hanya kehangatan kulit bertemu kulit yang begitu nyata. Kael menarik Lia melewati lorong-lorong laboratorium
Kutukan itu menghantamnya dengan kekuatan sepuluh kali lipat karena dia merasa dicintai oleh Lia di saat jiwanya sedang hancur. Tubuhnya bergetar hebat, keringat membanjiri otot-ototnya yang tegang.Namun, Lia tidak melepaskannya. Dia justru menggigit bibir bawah Kael hingga berdarah, lalu membisikkan sesuatu di sela-sela ciuman panas itu. "Gunakan rasa sakit ini, Arlan. Jika kau mencintaiku, jangan mati sekarang. Bakar sistem ini dengan rasa sakitmu!"Tiba-tiba, tato mawar hitam di punggung Lia bersinar terang, menyalurkan energi gelap ke dalam tubuh Kael. Bukannya meredam kutukan, energi Lia justru meledakkan rasa sakit itu hingga menjadi kekuatan fisik murni.Kael bangkit, tubuhnya kini diselimuti aura hitam dan ungu yang menyambar-nyambar seperti petir. Matanya berubah menjadi putih sepenuhnya. Rasa sakit yang seharusnya membunuhnya kini menjadi bahan bakar kemarahannya.Lia melepaskan Kael, menatap Julian dengan senyum kemenangan yang kejam. "Lihat, Arlan yang asli. Sampahmu baru
Lia menanggalkan jubah luar yang dikenakannya, menyisakan gaun tidur transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya di bawah cahaya lilin. Dia merangkak naik ke atas tubuh Kael, menduduki pangkuan pria itu dengan posisi yang sangat intim.Kael mengerang keras. Wajahnya memerah, otot-otot lengannya menegang hingga urat-uratnya terlihat jelas. Setiap inci kulit Lia yang bersentuhan dengan tubuhnya mengirimkan gelombang rasa sakit yang mematikan ke jantungnya, namun kejantanannya justru menegang keras di bawah sana, menuntut penyatuan."Kau sangat menderita, ya?" Lia berbisik di telinga Kael, lalu menjilat daun telinganya dengan sengaja."L-Lia... kau akan... membunuhku..." Kael terengah-engah, tangannya yang gemetar mencoba mencengkeram sprei agar tidak menyentuh Lia, karena jika dia membalas sentuhan itu, kutukan tersebut bisa menghentikan jantungnya seketika."Lalu matilah di dalam diriku, Arlan," tantang Lia.Lia menarik tangan Kael, memaksa telapak tangan besar yang kasar itu untuk m
Cahaya biru itu semakin menyilaukan, mengeluarkan bunyi dengung frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga. Tubuh Alaric mulai berpendar, memperlihatkan garis-garis sirkuit di bawah kulit porselennya. Kael mencengkeram leher Alaric, urat-urat di lengannya menonjol, sementara dadanya terus memercikkan cahaya ungu sebuah tanda kutukan itu sedang merobek jantungnya dari dalam."Arlan, jangan bodoh! Lari!" teriak Xenon, mencoba menarik tangan Lia. "Sistem ini akan melakukan format pada ruangan ini. Kita akan terhapus kalau tetap di sini!"Lia menepis tangan Xenon dengan kasar. Matanya terpaku pada Kael. Dia melihat pria itu, pria yang dulu menghancurkan dunianya dan kini hancur demi memberinya waktu satu detik untuk bernapas."Tidak," desis Lia. "Aku sudah pernah mati sekali karena tidak punya kekuatan. Aku tidak akan membiarkan takdir atau sistem sialan ini menentukan siapa yang harus mati lagi!"Tiba-tiba, tato mawar hitam di punggung Lia terasa membara. Rasa panasnya menjalar ke seluruh
Kael memejamkan mata sesaat. Kata-kata itu lebih tajam daripada pedang Alaric. "Sesuai perintah Anda, Yang Mulia."Lia beralih ke Xenon. "Dan kau, Xenon. Kau bilang kau ingin membantuku? Baiklah. Kau akan menjadi peliharaan baruku di paviliun barat. Kau akan mengajariku segala hal yang kau tahu tentang dunia lain itu. Jika kau berbohong sedikit saja, aku akan memastikan lidahmu dipotong."Xenon mendongak, mencoba memberikan senyum liciknya, namun saat melihat tatapan Lia yang kosong, senyum itu hilang. "Tentu, Ratu... atau haruskah kupanggil Lia?"PLAK!Kael bergerak lebih cepat dari kilat. Dia menampar wajah Xenon dengan sangat keras hingga pria itu tersungkur ke lantai marmer. Tapi saat telapak tangan Kael bersentuhan dengan udara di sekitar Xenon yang berada dekat dengan jangkauan Lia, Kael langsung tersungkur, memegangi dadanya dengan wajah pucat.Rasa sakit dari kutukan itu menghantamnya. Jantungnya terasa seperti diremas oleh tangan raksasa yang berduri."Kael!" Alaric berseru,







