LOGINSinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden sutra emas, menyilaukan mata Lia yang masih terpejam. Dia menggeliat, merasakan keempukan kasur yang luar biasa, namun seketika dia tersentak. Ingatan tentang kecelakaan tragis, transmigrasi, dan sosok Rian yang berlutut di kakinya semalam menghantam kepalanya.
"Ratu, apakah Anda sudah bangun?" suara lembut terdengar dari balik pintu.
Belum sempat Lia menjawab, sekelompok pelayan wanita masuk dengan kepala tertunduk. Mereka bergerak secepat kilat namun tanpa suara, menyiapkan bak mandi besar yang diisi air hangat bertabur kelopak mawar dan minyak esensial yang harumnya memabukkan.
Lia membiarkan mereka menanggalkan gaun tidur tipisnya. Saat dia berdiri polos di depan cermin besar, dia kembali terpaku. Tubuh Arischa benar-benar karya seni. Kulitnya tidak hanya putih, tapi bercahaya seolah memancarkan daya tarik magnetis. Lekuk pinggangnya begitu ramping, kontras dengan pinggul yang berisi. Di punggung bawahnya, terdapat tato kecil berbentuk mawar hitam simbol kekuasaan tiran yang dia emban.
"Hari ini adalah jadwal Audiensi Pagi dengan para selir di Taman Teratai, Yang Mulia," lapor kepala pelayan dengan suara gemetar. Dia bahkan tidak berani menatap bahu Lia yang terbuka.
“Audiensi Pagi? Dengan para selir? Memang ada berapa banyak selirku saat ini?” tanya Lia, pelayan pun kebingungan.
“10 Yang Mulia.”
“Se-sepu-luh??”
Berarti aku akan bertemu dengan sembilan pria lainnya? Jantung Lia berdegup kencang. Antara gugup dan... penasaran.
Setelah mandi dan mengenakan gaun sutra berwarna hitam dengan belahan tinggi hingga ke paha yang dihiasi permata rubi, Lia melangkah keluar. Setiap langkah kakinya yang beralaskan sandal emas bergemerincing halus, menciptakan irama yang menuntut kepatuhan.
***
Taman Teratai adalah mahakarya. Namun, pemandangan paling indah di sana bukanlah bunganya, melainkan sepuluh pria yang sudah berdiri berjejer menunggunya.
Lia duduk di kursi kebesarannya, menatap mereka satu per satu. Ingatan Arischa mulai muncul seperti katalog di otaknya.
Di sana ada Xavier, si pemuda cantik dengan mata jenaka yang selalu tersenyum namun menyimpan racun di balik lidahnya. Ada Hanz, pria raksasa dengan otot lengan yang bisa mematahkan leher manusia dalam sekejap. Dan di tengah-tengah mereka, berdiri seorang pria yang auranya paling berbeda.
Jenderal Kael.
Dia adalah selir pertama, sekaligus pria yang paling sulit ditaklukkan oleh Arischa asli. Kael mengenakan pakaian militer hitam yang ketat, menonjolkan tubuhnya yang tinggi tegap dan gagah. Rambutnya hitam legam, dan matanya setajam elang, menatap Lia bukan dengan pengabdian, melainkan dengan kebencian yang murni.
"Hamba memberikan salam kepada matahari Aridonia," ucap mereka serempak sambil membungkuk, kecuali Kael yang hanya menundukkan kepala sedikit, sebuah tindakan yang sangat tidak sopan.
Lia menyesap tehnya perlahan, matanya tidak lepas dari Kael. "Jenderal Kael, sepertinya lehermu sangat kaku pagi ini. Apakah kau lupa cara menghormati Ratumu?"
Suasana taman seketika menjadi dingin. Para selir lainnya menahan napas. Biasanya, Arischa akan langsung memerintahkan Kael dicambuk jika dia bersikap begini.
Kael mendongak, seringai tipis muncul di wajah tampannya yang dingin. "Hamba hanya berpikir, untuk apa memberikan hormat kepada seorang wanita yang hanya tahu cara bersenang-senang di atas ranjang sementara rakyat di perbatasan kelaparan?"
“Di atas ranjang? Seliar itu kah tubuh yang aku tempati sekarang?” batin Lia.
Lia meletakkan cangkir tehnya dengan dentingan keras. Dia bangkit dari kursinya dan melangkah perlahan menuju Kael. Gaun hitamnya berkibar, memperlihatkan kakinya yang jenjang di setiap langkah. Dia berhenti tepat di depan Kael. Jarak mereka begitu dekat hingga Lia bisa mencium aroma kayu pinus dan besi dari tubuh pria itu.
Kael tidak mundur. Dia justru menunduk, menatap Lia dengan tatapan merendahkan, meskipun dia tahu wanita di depannya ini bisa memenggal kepalanya kapan saja.
"Kau membenciku, Jenderal?" bisik Lia. Suaranya rendah dan serak, sangat menggoda sekaligus mengancam.
"Sangat," jawab Kael tanpa ragu. "Aku lebih baik mati daripada harus menjadi peliharaanmu di istana ini."
Lia justru tersenyum. Dia mengangkat tangannya, jemarinya yang lentik menyusuri rahang tegas Kael, lalu turun ke lehernya yang kuat, merasakan denyut nadi Kael yang berdetak cepat. Kael tegang, otot-otot tubuhnya mengeras seperti batu di bawah sentuhan Lia.
"Kematian itu terlalu mudah untuk pria sepertimu, Kael," ucap Lia sambil mendekatkan wajahnya ke dada Kael. Dia bisa merasakan panas tubuh pria itu menembus kain pakaiannya. "Aku lebih suka melihatmu berlutut, memohon padaku untuk menyentuhmu, sementara kebencianmu itu perlahan berubah menjadi gairah yang menyiksa."
Tiba-tiba, Kael kehilangan kendali. Dia mencengkeram pergelangan tangan Lia dengan sangat kuat. tindakan yang merupakan pengkhianatan besar. Para pengawal hendak bergerak maju, tapi Lia mengangkat tangan satunya, memberi kode agar mereka diam.
Kael menarik tubuh Lia hingga menempel padanya. Napasnya yang panas menerpa kening Lia. "Jangan bermain api, Arischa. Aku bukan Rian yang bisa kau taklukkan dengan cambuk. Jika kau terus memancingku, aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu sebelum kau sempat menghancurkanku."
Lia tidak takut. Dia justru tertawa kecil, suara tawa yang membuat Kael semakin geram. "Kalau begitu, hancurkan aku sekarang, Jenderal."
Lia melepaskan diri dari cengkeraman Kael, lalu berbalik membelakangi mereka semua.
"Audiensi selesai. Jenderal Kael, aku menunggumu saat lonceng tengah malam berbunyi. Jika kau tidak datang, aku akan memastikan sembilan selir lainnya melihatmu diseret ke alun-alun kota tanpa sehelai benang pun."
***
Malam itu, istana terasa begitu sunyi. Lia duduk di tepi ranjangnya, hanya mengenakan jubah mandi sutra yang sangat longgar. Jantungnya berdebar tidak keruan. Dia hanya menggertak, tapi dia tidak menyangka Kael benar-benar akan datang.
Cklek.
Pintu kamar terbuka. Kael berdiri di sana. Dia tidak lagi mengenakan seragam militernya. Dia hanya mengenakan celana hitam panjang, tanpa atasan. Tubuhnya dipenuhi bekas luka perang yang justru membuatnya terlihat sangat jantan dan berbahaya.
Dia berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa mengintimidasi. Kael berhenti tepat di depan Lia yang duduk di ranjang. Tanpa kata, dia mencengkeram kedua bahu Lia dan mendorongnya hingga terbaring di kasur.
Kael merangkak naik ke atas tubuh Lia, mengurungnya dengan kedua lengannya yang besar. Matanya berkilat gelap, penuh dengan campuran antara amarah dan hasrat yang tertahan selama bertahun-tahun.
"Kau menginginkan ini, kan?" desis Kael. Tangannya mulai membuka ikatan jubah mandi Lia dengan kasar. "Kau ingin melihat pria yang paling membencimu menyentuhmu seolah dia mencintaimu?"
Tangan Kael mulai menjelajahi kulit paha Lia yang halus, merambat naik dengan sentuhan yang menuntut. Napas Lia tersengal, matanya mulai sayu saat bibir Kael mulai menciumi ceruk lehernya dengan rakus, meninggalkan tanda merah di sana.
Tepat saat tangan Kael mencapai area yang paling sensitif, dan Lia sudah hampir mengeluarkan erangan pertamanya...
Kael mendadak berhenti. Dia mengeluarkan sebuah pisau kecil yang disembunyikan di balik pinggang celananya dan menodongkan mata pisau yang dingin itu tepat di urat nadi leher Lia.
"Katakan padaku, Ratu..." Kael berbisik dengan suara parau tepat di depan bibir Lia. "Apakah aku harus menusukkan ini ke lehermu sekarang, atau aku harus menusukmu dengan cara yang lain?"
Lia menahan napas. Ujung pisau itu terasa sangat tajam di kulitnya, sementara tubuh bagian bawah Kael menekan miliknya dengan sangat keras dari balik celananya, menunjukkan bahwa pria itu sedang berada di puncak ketegangannya.
*********
Begitu pintu jati besar itu tertutup dan terkunci, suasana kamar langsung berubah drastis. Kael tidak menunggu lama. Dia membalikkan tubuh Lia dengan satu gerakan cepat, menekan punggung Lia ke pintu hingga terdengar bunyi debum halus. Kedua tangan Kael mengunci di sisi kepala Lia, mengurungnya sepenuhnya.Lia mendongak, napasnya memburu. Bukannya takut, dia justru menyeringai tipis, tangannya merayap naik ke leher baju zirah Kael yang dingin. "Dan apakah itu berhasil, Jenderalku? Apakah kau sudah gila sekarang?""Aku sudah gila sejak pertama kali melihatmu di laboratorium itu, Lia!" geram Kael.Kael merunduk, mencium leher Lia dengan sangat posesif. Bukan ciuman lembut, melainkan ciuman yang menuntut, menghisap kulit tipis Lia di sana hingga meninggalkan tanda kemerahan yang mencolok—sebuah klaim mutlak bahwa Ratu ini sudah ada yang punya."Akhh... Kael," Lia mendesah, kepalanya tertengadah ke belakang. "Pelan sedikit...""Tidak ada kata pelan untuk pengkhianat kecil sepertimu," bisi
Kael berdiri kokoh seperti tembok baja di antara Lia dan Alaric. Matanya berkilat, tangan kanannya masih mengepal bekas menyeret Julian tadi. Aroma kemarahan terpancar jelas dari tubuhnya."Minyak zaitunmu tidak akan menyembuhkan apa pun, Pendeta," geram Kael. "Keluar sebelum aku membuatmu menyusul Julian ke Menara Hitam."Alaric tidak mundur. Dia justru tersenyum tipis, senyum yang terlihat suci tapi matanya menatap Lia dengan lapar. Sebagai Selir Pertama yang sudah "diretas kembali" ke sistem, dia punya insting bahwa Lia yang sekarang jauh lebih berharga daripada Ratu Arischa yang dulu hanya tahu cara menyiksa."Jenderal, kau terlalu kasar," ucap Alaric halus. Dia menoleh ke arah Lia, melewati bahu Kael. "Yang Mulia, Anda baru saja melakukan tugas besar dengan membongkar korupsi Julian. Otak Anda pasti sangat panas. Di Kuil Air, aku punya kolam dengan pemanas alami. Biarkan aku membimbing Anda ke sana... sendirian."Lia menyandarkan punggungnya di kursi takhta yang keras. Kursi ini
Pagi itu, cahaya matahari Aridonia menerobos masuk melalui celah gorden beludru. Lia duduk di depan cermin besar berbingkai emas. Dia menatap pantulan dirinya: Ratu Arischa. Wajah ini sangat cantik, dengan mata emas dan bibir merah delima. Sangat berbeda dengan wajah aslinya di dunia nyata (Lia yang seorang mahasiswi biasa dengan wajah mungil dan kacamata).Kael mendekat, membantu Lia merapikan jubah sutranya. Dia melihat kegelisahan di mata Lia."Kenapa kau menatap cermin itu seolah dia musuhmu?" tanya Kael lembut.Lia menghela napas, berbalik menghadap Kael. "Kael... kau tahu kan, di dunia sana wajahku tidak seperti ini? Aku tidak secantik ini, tidak seberani ini. Kenapa waktu di laboratorium... saat aku masih memakai baju pasien dan wajahku jauh berbeda... kau langsung tahu itu aku?"Kael tersenyum kecil, senyum langka yang hanya ditujukan untuk Lia. Dia menangkup wajah Lia dengan kedua tangannya yang besar."Di dunia itu, semuanya palsu, Lia. Tapi detak jantungmu, caramu menatapku
Aula Besar masih membeku. Tatapan Lia yang tajam membuat para selir yang tadinya sombong kini menunduk. Kael, yang merasakan tangan Lia di rambutnya, hanya bisa memejamkan mata sesaat dan menikmati aroma mawar yang kini terasa nyata, bukan sekadar data digital."Malam ini," suara Lia memecah kesunyian, "Aku tidak butuh teman tidur. Aku butuh hiburan."Lia berdiri dari pangkuan Kael, melangkah menuju Dimas (Xenon). Pria yang di laboratorium tadi begitu angkuh sebagai arsitek sistem, kini hanya seorang pemuda tampan yang gemetar."Xenon," panggil Lia lembut, namun jari-jarinya mencengkeram rahang Dimas dengan kuat. "Kau bilang kau ingin memilikiku selamanya? Mari kita lihat seberapa tahan kau menjadi anjing penjagaku.""Y-yang Mulia... saya tidak mengerti..." rintih Dimas. Ingatannya tentang dunia nyata memang sudah dihapus oleh Lia, tapi rasa takut primalnya pada sosok Lia tetap tertinggal."Kau tidak perlu mengerti," Lia melepaskan rahangnya dengan kasar. "Mulai sekarang, kau bertugas
Mobil sport hitam itu melaju kencang mendaki bukit menuju Menara Transmisi. Di samping Lia, Kael mencengkeram kemudi dengan urat-urat tangan yang menonjol. Luka bakar di bahunya masih mengepulkan asap tipis, tapi dia tidak peduli."Jika kita menghancurkan server itu, Lia... kita mungkin tidak akan punya jalan pulang lagi," ucap Kael, suaranya parau tertutup deru mesin."Dunia ini bukan rumah kita, Kael. Rumah kita adalah tempat di mana aku adalah Ratumu," jawab Lia tajam.Mereka tiba di puncak. Kael menabrakkan mobil itu ke dinding kaca gedung pusat data.BRAKK!Pecahan kaca berhamburan. Mereka melompat keluar, disambut oleh Dimas yang berdiri di depan superkomputer raksasa."Selamat datang di akhir dunia, Lia!" teriak Dimas gila. Dia menekan tombol Delete. "Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak akan ada yang bisa!"Tiba-tiba, seluruh ruangan bergetar. Kode-kode digital di layar mulai pecah dan berubah menjadi kelopak mawar hitam, kekuatan anomali Lia di simulasi ternyata terbawa
Alarm peringatan melengking memekakkan telinga, lampu-lampu merah berputar menciptakan suasana distopia di dalam laboratorium bawah tanah itu. CEO Neuro-Core yaitu ayah Arlan berteriak histeris memerintahkan pengawal untuk mengamankan aset mereka.Namun, mereka lupa satu hal... Kael bukan lagi sekadar data. Tubuh Bio-Vessel itu diciptakan dengan spesifikasi militer tingkat tinggi, dan memori di dalamnya adalah memori seorang Jenderal yang telah memenangkan ribuan pertempuran.Kael bergerak seperti badai. Meskipun tubuhnya baru saja keluar dari tabung, insting tempurnya tidak bisa dibendung. Dia menyambar sebatang pipa besi dari reruntuhan tabung dan dalam hitungan detik, tiga pengawal bersenjata sudah terkapar di lantai dengan tulang rusuk hancur."Ayo, Lia!" Kael menyambar tangan Lia.Sentuhan itu... tidak lagi menyakitkan. Tidak ada sengatan listrik dan tidak ada rasa sesak. Hanya kehangatan kulit bertemu kulit yang begitu nyata. Kael menarik Lia melewati lorong-lorong laboratorium







