Share

Bab 8

Author: Alisha Avandra
Jihan tahu, Jevan bukannya tidak ingin bercerai.

Jevan hanya tidak ingin menuruti keinginannya.

Tiga tahun lalu, saat dia memergoki suaminya berselingkuh untuk pertama kalinya, Jihan memilih untuk memaafkannya.

Awalnya, keadaan mereka sudah kembali tenang.

Jevan pulang ke rumah setiap hari, memanggilnya “Sayang” dengan mesra, dan selalu berhati-hati dalam menjaga perasaannya.

Namun, Jihan tetap mengalami insomnia malam demi malam.

Saat itu, dia tidak punya semangat untuk bekerja dan tidak bergairah melakukan apa pun. Jihan mengajukan cuti panjang dari rumah sakit. Pada siang hari, wanita itu mengatakan hendak pergi ke rumah sakit, padahal sebenarnya hanya berjalan-jalan tanpa tujuan.

Dia tidak tahu apakah dirinya beruntung atau justru sial.

Tanpa sengaja, dia melihat Jevan.

Di sampingnya ada seorang sekretaris bernama Lona Puspita.

Wanita muda itulah yang sebulan sebelumnya dipergoki Jihan sedang berciuman dengan Jevan saat datang ke kantor suaminya.

Padahal Jevan jelas-jelas pernah mengatakan bahwa dia sudah memecat wanita itu.

Jihan saat itu tidak melakukan apa-apa.

Namun sebulan kemudian, dia mengirimkan bukti perselingkuhan Jevan ke media. Perselingkuhan Jevan dan Lona pun terbongkar. Perusahaan mereka turut terkena dampak serius, hingga harga sahamnya anjlok drastis.

Jevan mendapat dukungan Keluarga Adiwangsa, sehingga tidak ada yang berani berbuat apa pun terhadapnya.

Lona menjadi sasaran kecaman banyak orang.

Dia adalah seorang sarjana yang baru lulus dan tidak sanggup menanggung semua kecaman tersebut. Akhirnya melompat dari gedung perusahaan Jevan dan meninggal di tempat.

Itu adalah pertama kalinya Jevan mengamuk hebat kepadanya.

"Kondisi keluarganya memang sulit. Dia cuma ingin punya pekerjaan, makanya aku mempertahankannya!"

"Jihan, kenapa? Kenapa kau selalu hanya memikirkan dirimu sendiri dan nggak pernah peduli dengan perasaan orang lain?"

"Kenapa kau sangat kejam?"

Saat itu, Jihan juga tidak menyangka bahwa masalah tersebut akan berujung pada hilangnya nyawa seseorang.

Namun, wanita itu tidak mau mengalah ataupun mengakui kesalahannya. Dia tetap membalas dengan sindiran tajam.

"Kau seharusnya senang, kan? Aku sudah membalasmu dan mengurangi rasa bersalahmu. Dengan begitu, kau bisa lebih mudah mencari wanita berikutnya tanpa merasa bersalah sedikit pun, kan?"

Pada saat itu, Jevan menatapnya penuh dengan sorot kekecewaan.

Jihan tidak mengerti.

Padahal jelas-jelas merekalah yang telah menyakitinya.

Namun, mengapa pada akhirnya, dialah yang dianggap bersalah?

Dan saat itu, Jihan belum menjadi orang yang mati rasa dan tidak lagi peduli seperti sekarang.

Melihat tatapan Jevan seperti itu, dia masih bisa merasakan rasa sakit yang nyata di hatinya.

Namun sekarang, dia sudah tidak merasakan apa-apa lagi.

…

Jevan tidak mau menandatangani surat perjanjian perceraian.

Jihan tidak punya pilihan selain mencari pengacara.

Setelah semua kartu banknya dibekukan oleh Jevan, Jihan sebenarnya sudah bersiap mengeluarkan banyak uang.

Namun tak disangka, semua pengacara di Kota Kencana menolak menangani kasusnya.

Tak perlu dipikirkan pun, pasti Jevan yang mengatur semuanya dari balik layar.

Sejak dulu, Jevan selalu bertindak sesuka hati. Dulu, saat mencintainya, pria itu bisa begitu bergairah dan tulus. Kini, saat menyiksanya, juga bisa menjadi begitu kejam dan tidak berperasaan.

Malam harinya, Jihan kembali ke apartemennya dan mulai mencari pengacara dari luar kota yang bersedia menangani perceraiannya.

Jevan memiliki tim pengacara elit yang lengkap, hanya sedikit yang mampu menandinginya.

Jihan duduk di depan meja dan termenung menatap layar komputer selama beberapa saat.

Dari sudut matanya, dia melihat sebuah kartu nama berlapis emas tergeletak di atas meja.

Itu adalah kartu nama yang diberikan Sean kepadanya malam itu.

Jihan mengambil kartu nama itu.

Matanya melirik sudut kiri atas. Ternyata, kartu tersebut berasal dari firma hukum ternama di dalam negeri yang memiliki cabang di Kota Kencana.

Dua hari sebelumnya, dia bahkan pernah mendatangi firma hukum itu.

Tentu saja, hasilnya tetap penolakan.

Jihan menatap nama Haris Prasetya yang tercetak di kartu nama itu. Setelah berpikir sejenak, dia akhirnya tetap menghubungi nomor telepon tersebut.

Tak disangka, orang itu dengan mudah menyetujui untuk bertemu dengannya.

Jihan agak terkejut.

Dia langsung mengatur jadwal pertemuan dengan Haris.

Namun, setelah bertemu, Haris tampaknya sudah menduga maksud kedatangan Jihan. Dia langsung berbicara terus terang terlebih dahulu, "Bu Jihan, maafkan saya. Ada instruksi dari atasan, jadi kami hanya bisa mengikuti perintah."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 50

    Jihan terdiam sejenak saat mengingat masa lalu, tetapi akhirnya tetap berkata kepada Sean."Ada satu hal lagi, alasan kenapa Jevan menghalangiku datang ke sidang hari itu adalah karena dia tiba-tiba tahu …."Jihan berhenti sejenak, lalu melanjutkan perkataannya, "Dulu aku pernah menyukaimu."Pilihan katanya benar-benar tepat.Dulu.Pernah menyukai.Dua kata sederhana itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa sekarang dia tidak lagi memiliki perasaan terhadap pria tersebut.Sosok dan wajah Sean menyatu dengan kegelapan malam, membuat Jihan semakin sulit melihat ekspresinya dengan jelas.Setelah hening sejenak, barulah Jihan mendengar suaranya yang dingin."Kenapa? Apa kau malu mengakui kalau dulu pernah menyukaiku?"Bukan itu maksud Jihan."Aku cuma merasa dalam situasi seperti sekarang, sebaiknya kita lebih berhati-hati."Dia menatap Sean dengan lekat, lalu dengan serius mengungkapkan apa yang ada di benaknya, "Aku nggak mau ada masalah lain yang menghambat proses perceraianku."Setelah

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 49

    Begitu Fajar selesai berbicara, Jihan belum sempat menjawab, dia justru merasakan udara di sekitarnya mendadak menjadi jauh lebih dingin dari biasanya.Dia menoleh. Saat melihat Sean, matanya kembali berbinar, lalu menyapanya, "Kak Sean, kenapa kau juga ada di sini?"Dia lalu melirik ke dalam restoran dan bertanya, "Kak Jevan masih di dalam ya? Aku mau masuk sebentar menyapanya!""Dia nggak ada di sini.”Sean menjawab dengan datar.Fajar terkejut sejenak.Jihan pun melirik Sean dengan sedikit heran.Bukankah ini sama saja dengan memberitahu Fajar secara terang-terangan bahwa mereka berdua makan bersama tanpa orang lain?Jihan memang tidak merasa bersalah saat berduaan dengan Sean. Namun, bagaimanapun juga, surat cerainya dengan Jevan belum resmi keluar. Jika sampai muncul masalah baru di saat seperti ini, tentu bukan hal yang baik.Begitu memikirkannya, rasa heran di mata Jihan perlahan berubah menjadi sedikit ketidaksetujuan.Sean melirik ke samping dan melihat jelas perubahan emosi d

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 48

    Semakin Sean mengabaikannya, semakin Jihan menjadi-jadi.Sampai akhirnya, Sean benar-benar menjauh darinya dan bahkan tidak mau berbicara dengannya.Baru saat itulah dia menyadari, ternyata Sean benar-benar membencinya.Jihan melamun sambil mengingat masa lalu.Tanpa disadari, beberapa helai rambut di dekat telinganya terurai dan jatuh perlahan, menyapu bahu Sean seperti bulu yang ringan.Meski terhalang kain jas, sentuhan itu tetap menimbulkan rasa geli yang mengusik hati.Ketika tersadar dari lamunannya, dia melihat Sean tiba-tiba berdiri dan menjauh darinya.Sepertinya sama seperti dulu, dia tidak mau berada terlalu dekat dengan Jihan.Jihan mengedipkan mata, melirik jam, lalu bertanya, "Kau sudah makan malam?"Sean tidak menatapnya dan menjawab, "Aku sedang menunggumu."Jihan sedikit tertegun.Lalu tersenyum sambil berkata, "Kalau begitu, tunggu aku sebentar, aku mau menyerahkan giliran jaga dulu, nanti kita makan malam bersama."…Setelah keluar dari rumah sakit, Sean mengemudi, s

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 47

    Jihan terkejut sejenak, lalu bertanya, "Kenapa kau datang ke sini?""Ganti perban."Suara Sean terdengar datar.Mendengar jawaban pria itu, Jihan tanpa sadar menatap bahu kirinya dengan penuh perhatian. Namun, Sean mengenakan setelan jas dan tampak begitu tenang sehingga tidak terlihat ada yang salah.Dia berkata, "Kalau begitu, tunggu sebentar, aku ambilkan obatnya."Jihan berbalik hendak pergi ke apotek. Kebetulan Sonia juga sedang turun. Saat mereka masuk ke lift bersama, Sonia berkata dengan nada penuh arti, "Pria tampan itu cuma pasien? Kulihat kalian berdua kelihatannya lumayan akrab."Jihan berpikir dalam hati bahwa sebenarnya mereka belum terlalu akrab sekarang, tetapi entah bagaimana hubungan mereka nanti, itu belum bisa dipastikan."Dia teman Jevan, terluka dua hari yang lalu, kebetulan saja bertemu denganku."Jihan menjelaskan.Sonia mengangkat alisnya sambil berkata, "Temanmu ini memang sangat tampan. Bahkan lebih tampan daripada calon mantan suamimu."Jevan adalah tipe pri

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 46

    Saat melihat Jevan turun dari mobil Maibara, Jihan sempat bertatapan dengannya sesaat, lalu dengan tenang berbalik dan lebih dahulu memasuki Kantor Catatan Sipil.Jevan mengikutinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Keduanya mengisi formulir permohonan cerai di meja pelayanan.Saat mendengar petugas menjelaskan tentang masa tunggu perceraian selama tiga puluh hari, Jihan mengernyit, lalu bertanya, "Maksud Anda, kalau salah satu pihak tiba-tiba berubah pikiran, permohonan cerai ini bisa dicabut?""Benar, Bu."Jihan melirik Jevan.Matanya penuh dengan keraguan."Aku sudah menandatanganinya, apa lagi yang kau khawatirkan?"Jevan menyerahkan kembali formulir yang sudah diisi kepada petugas, lalu berkata pada Jihan, "Tanda tangan nggak bisa ditarik lagi. Sekarang, kau bahkan nggak percaya padaku?"Jihan menjawab dengan datar, "Orang yang kemarin memaksaku nggak hadir di sidang, apa pantas bilang begitu?"Suasana canggung.Baik dari raut wajah maupun nada bicaranya, Jihan tampak begitu din

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 45

    Apa lagi yang bisa dikatakan? Mantan istri dan mantan suami justru merupakan ancaman yang lebih besar daripada orang ketiga.Jevan tetap diam.Haris tahu kapan harus berhenti. Setelah selesai berbicara, dia menunggu dengan tenang di samping, tanpa mendesak ataupun pergi.Rumah besar Keluarga Adiwangsa begitu luas dan sunyi sampai suara jarum jatuh pun seolah bisa terdengar. Hanya ada suara pelan para pelayan yang berlalu-lalang sambil bekerja.Entah sudah berapa lama waktu berlalu.Jevan mengambil surat perjanjian perceraian itu, lalu berjalan ke ruang kerja di sebelah. Dari tempat alat tulis, dia mengambil acak sebuah pena.Pena itu terbuat dari bahan berkualitas, berwarna hitam pekat, dan sangat sesuai dengan selera gayanya.Tangan Jevan terhenti saat hendak membuka tutup pena.Pena ini adalah hadiah dari Jihan saat mereka masih kuliah.Dulu, Jihan sering memuji tulisan tangannya yang indah. Karena itu, pada ulang tahun pertama Jevan yang dirayakan bersamanya, dia menghadiahkan pena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status