Share

Bab 7

Author: Alisha Avandra
Jevan melonggarkan dasinya dan menatap Jihan dengan wajah masam, lalu bertanya, "Kau mengganti kode akses rumah ini jadi apa?"

Dia sudah mencoba tanggal ulang tahun pernikahan mereka, hari jadi hubungan mereka, serta tanggal ulang tahun Jihan dan dirinya.

Semuanya salah.

Jihan bahkan sudah menghapus sidik jarinya dari sistem kunci pintu.

Jevan sangat marah.

"Mengganti kata sandi itu tujuannya supaya orang lain nggak sembarangan masuk. Jadi, bagaimana mungkin aku memberitahumu?"

Jihan bahkan tidak sudi meliriknya. Dia berjalan ke pintu dan baru saja mengangkat tangan untuk membuka kunci dengan sidik jari.

Pergelangan tangannya tiba-tiba ditarik dengan keras.

Jevan menekannya kuat-kuat ke pintu, lalu berkata dengan nada kasar dan penuh amarah.

"Kau tau kenapa hubungan kita sampai seperti ini, Jihan? Karena kau nggak pernah mau introspeksi diri! Yang bisa kau lakukan cuma menginjak-injak harga diri orang lain."

Punggung Jihan yang ramping menempel pada pintu.

Rasanya seperti menempel pada bongkahan es yang dinginnya menusuk hingga ke sumsum tulang.

"Ternyata kau masih tahu apa itu harga diri."

Dia menyunggingkan senyum sinis yang dingin.

"Saat kau tidur dengan wanita lain, kenapa kau nggak pernah berpikir soal harga diri?"

Jevan mengabaikan kata-katanya dan menundukkan kepala, tetapi dia justru mencium aroma parfum pria dari tubuh Jihan.

Suaranya tiba-tiba menjadi berat, "Kau tadi pergi bertemu siapa?"

"Aku menemui Malaikat Pencabut Nyawa dan menanyakan kapan dia akan mengambil nyawa laki-laki brengsek sepertimu."

Suasana hening.

Wajah Jevan semakin muram.

Jihan mengangkat kelopak matanya dan melirik pria itu tajam, lalu berkata, "Jevan, ini terakhir kalinya aku mengingatkanmu soal surat perjanjian cerai. Kalau kau terus mengulur waktu, jangan salahkan aku kalau menyewa pengacara dan menempuh jalur hukum."

Jevan menatapnya selama beberapa detik.

Tiba-tiba dia tersenyum kecil, lalu berkata, "Jihan, sepertinya sudah lama kita nggak melakukannya."

"Jevan, kau membuatku muak."

Mata Jihan yang dingin penuh dengan rasa jijik.

Jevan pura-pura tidak melihatnya.

Tangan besarnya dengan berani melingkari pinggang Jihan.

Jihan mengangkat tas tangannya, hendak menghantamkannya ke kepala Jevan, ketika terdengar bunyi "ding" dari lift.

Pintu lift terbuka.

Di bawah cahaya lampu jingga, Sean melangkah keluar dari lift.

"Sean?"

Jevan mengerutkan kening, melepaskan Jihan, lalu menatap Sean dengan curiga, dan bertanya, "Kenapa kau ada di sini?"

"Kebetulan bertemu di rumah sakit, dan kami searah."

Sean menyerahkan tas hadiah bermerek mewah yang dibawanya kepada Jihan dan berkata, "Barangmu tertinggal di mobilku."

Jihan melirik tas itu.

Dia mengatupkan bibir lalu menerimanya, "Terima kasih."

Jevan tahu bahwa Sean selalu meluangkan waktu setiap minggu untuk menjenguk ibunya sendiri. Dia tidak mencurigai apa pun dan tidak bertanya lebih jauh.

Sean melirik Jevan dan bertanya dengan nada datar, "Apa aku mengganggu kalian?"

"Nggak ada."

Sebesar apa pun pertengkaran antara Jevan dan Jihan, mereka tidak mungkin sampai membuat keributan di depan Sean yang merupakan orang luar.

Dia menarik napas untuk meredakan emosi, lalu melirik Jihan.

Di balik tatapan matanya yang gelap, badai seolah siap menerjang.

Wajah Jihan tidak menunjukkan sedikit pun gejolak.

Dia berbalik dan langsung masuk rumah.

…

Di bawah gedung apartemen, lampu jalan memancarkan dua bayangan pria yang tinggi dan tegap.

"Dia meminta cerai padaku."

Jevan berkata sambil mengisap beberapa batang rokok berturut-turut.

Sean meliriknya sekilas dan berkata, "Baru sekarang mengajukan, sepertinya dia cukup sabar."

Jevan tertegun.

Jevan mengertakkan gigi, lalu berkata, "Istriku membuat kesal, itu sudah cukup. Kau itu sahabatku sendiri, bisa nggak berhenti menambah masalah?"

"Menyampaikan fakta juga dianggap menambah masalah?"

"Itu karena kau belum menikah. Kalau sudah, kau pasti akan mengerti perasaanku."

Sean tidak menanggapi.

Jevan mematikan rokoknya, lalu menyalakan sebatang lagi, sambil menengadah melihat apartemen Jihan, di mana lampu berwarna jingga masih menyala.

Entah mengapa, hatinya mendadak terasa gelisah.

Dia tidak ingin membicarakan terlalu banyak hal yang berkaitan dengan Jihan, lalu bertanya kepada Sean, "Ngomong-ngomong, selama bertahun-tahun ini aku nggak pernah melihatmu bersama wanita. Apa kau nggak berencana menikah?"

Sean menjawab dengan nada datar, "Ada rencana, tapi belum waktunya."

Jevan meliriknya dengan sedikit terkejut.

Apakah itu berarti dia sudah memiliki seseorang yang disukai?

"Aku benar-benar penasaran," ujar Jevan sambil menyeringai, "Wanita seperti apa yang bisa membuatmu jatuh hati."

Sean tidak berkata apa-apa.

Dia hanya diam-diam melirik jendela apartemen di lantai atas yang masih diterangi cahaya jingga.

…

Sebenarnya, Jihan tidak meninggalkan barang apa pun di mobil Sean.

Jelas sekali, Sean memberikan tas itu kepada Jihan hanya untuk membantunya keluar dari situasi canggung tersebut.

Jihan belum membuka isi tas itu, tetapi dia memiliki kalung berlian dari merek tersebut dan tahu bahwa semua produknya merupakan edisi terbatas yang sangat berharga.

Selain itu, dari kemasannya saja sudah jelas bahwa barang itu ditujukan sebagai hadiah untuk seorang wanita.

Keesokan harinya, Jihan pergi ke perusahaan Sean.

Karena harus membuat janji terlebih dahulu untuk bisa bertemu Sean, Jihan menitipkan tas hadiah itu di resepsionis dan meminta agar diserahkan kepada Sean.

Setelah kembali ke mobil, Jihan berniat mentransfer uang ganti rugi senilai miliaran itu kepada Sean atas insiden tabrakan mobil mereka.

Namun, saat hendak melakukan transaksi, dia mendapati bahwa kartu banknya telah dibekukan.

Hati Jihan langsung terasa berat.

Dia memeriksa kartu-kartunya yang lain, tetapi semuanya tidak bisa digunakan.

Tanpa ragu, dia menginjak pedal gas dan melajukan mobil menuju Griya Cendana.

Saat Jihan tiba di Griya Cendana, lampu-lampu di rumah itu menyala terang dan kemewahan memenuhi seluruh tempat itu. Ketika masuk, dia melihat sepasang sepatu hak tinggi wanita.

Terakhir kali dia bertemu Nadya di rumah sakit, wanita itu mengenakan sepatu yang sama.

Tebakan Jihan tidak salah.

Nadya memang datang lagi ke Griya Cendana.

Hanya saja, yang tidak disangka Jihan adalah melihat Nadya turun dari tangga dengan mengenakan pakaiannya.

"Bu Jihan."

Begitu melihat Jihan, wajah Nadya memerah karena salah tingkah.

Jihan mengamatinya tanpa mengubah ekspresi wajah.

Gaun yang dikenakan Nadya adalah gaun milik Jihan saat masih kuliah. Modelnya modis dan membuat pemakainya terlihat penuh semangat masa muda.

Dipadukan dengan wajah Nadya yang masih kencang dan segar serta penampilannya yang baru berusia awal dua puluhan, gaun itu memang membuatnya terlihat cukup mirip dengan Jihan saat muda.

"Bu Jihan, saya nggak sengaja memakai pakaian Anda."

Nadya menjelaskan dengan suara pelan.

"Pak Jevan yang menyuruh saya."

Jihan mengangkat kelopak matanya sedikit, tetap tanpa ekspresi, lalu berkata, "Kalau dia menyuruhmu makan kotoran, apa kau juga akan menurutinya?"

Hening.

Nadya tercekat. Sudut matanya mulai memerah.

Namun, tatapan Nadya justru melewati Jihan dan tertuju pada seseorang di belakangnya.

Jihan tak perlu menoleh untuk mengetahui bahwa orang yang sedang ditatap Nadya adalah Jevan.

Niat Nadya pun mudah ditebak, tak lebih dari sekadar berpura-pura lemah untuk mendapatkan simpati dan belas kasihan Jevan, sehingga membuat dirinya yang sebagai istri resmi Jevan terlihat seperti penyihir tua jahat.

Sebenarnya, hal itu sama sekali tidak perlu.

Di mata Jevan, citranya sudah hancur berkeping-keping.

"Kau naik dulu."

Jevan berkata kepada Nadya.

Nadya menggigit bibirnya. Dia ingin tetap tinggal, namun tak berani menentang Jevan, sehingga hanya bisa berbalik dan naik ke lantai atas.

"Bukannya kau sudah pindah? Kenapa balik lagi?"

Jevan menyalakan rokoknya, lalu bersandar malas di sofa.

Jihan mencium bau asap rokok yang menyengat, lalu mengerutkan kening.

Jevan menyadarinya. Jari-jarinya yang menjepit rokok sempat terhenti sejenak sebelum dia mematikan rokok itu dan membuangnya ke asbak.

"Apa maksudmu membekukan semua kartu bankku?" tanya Jihan dengan nada dingin.

"Memangnya apa lagi?"

Jevan tersenyum tanpa beban.

"Jihan, tentu saja aku nggak mau bercerai darimu."

"Kau membawa wanita lain ke rumah dan membiarkan dia memakai pakaianku. Lalu, sekarang kau bilang padaku nggak ingin bercerai."

Jihan mengangkat sudut bibirnya dengan sinis, "Jevan, kalau lobus frontal otakmu kurang berkembang, pergilah ke rumah sakit untuk diperiksa. Jangan memainkan trik murahan seperti ini denganku."

Jevan mencibir sinis, matanya tampak dingin dan berkata, "Di antara kita berdua, sebenarnya siapa yang lebih dulu bertingkah nggak masuk akal?"

"Kalau menurutmu, cuma aku yang membuat keributan tanpa alasan, tandatangani saja surat cerai itu, dan sandiwara ini pun akan berakhir. Bukannya itu lebih baik?"

"Apanya yang baik?"

Jevan balik bertanya.

"Bukannya kau bersumpah nggak akan membiarkanku hidup tenang seumur hidup? Kalau aku membiarkanmu bercerai semudah itu, itu sama saja aku sudah menyia-nyiakan niat baikmu, kan?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 50

    Jihan terdiam sejenak saat mengingat masa lalu, tetapi akhirnya tetap berkata kepada Sean."Ada satu hal lagi, alasan kenapa Jevan menghalangiku datang ke sidang hari itu adalah karena dia tiba-tiba tahu …."Jihan berhenti sejenak, lalu melanjutkan perkataannya, "Dulu aku pernah menyukaimu."Pilihan katanya benar-benar tepat.Dulu.Pernah menyukai.Dua kata sederhana itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa sekarang dia tidak lagi memiliki perasaan terhadap pria tersebut.Sosok dan wajah Sean menyatu dengan kegelapan malam, membuat Jihan semakin sulit melihat ekspresinya dengan jelas.Setelah hening sejenak, barulah Jihan mendengar suaranya yang dingin."Kenapa? Apa kau malu mengakui kalau dulu pernah menyukaiku?"Bukan itu maksud Jihan."Aku cuma merasa dalam situasi seperti sekarang, sebaiknya kita lebih berhati-hati."Dia menatap Sean dengan lekat, lalu dengan serius mengungkapkan apa yang ada di benaknya, "Aku nggak mau ada masalah lain yang menghambat proses perceraianku."Setelah

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 49

    Begitu Fajar selesai berbicara, Jihan belum sempat menjawab, dia justru merasakan udara di sekitarnya mendadak menjadi jauh lebih dingin dari biasanya.Dia menoleh. Saat melihat Sean, matanya kembali berbinar, lalu menyapanya, "Kak Sean, kenapa kau juga ada di sini?"Dia lalu melirik ke dalam restoran dan bertanya, "Kak Jevan masih di dalam ya? Aku mau masuk sebentar menyapanya!""Dia nggak ada di sini.”Sean menjawab dengan datar.Fajar terkejut sejenak.Jihan pun melirik Sean dengan sedikit heran.Bukankah ini sama saja dengan memberitahu Fajar secara terang-terangan bahwa mereka berdua makan bersama tanpa orang lain?Jihan memang tidak merasa bersalah saat berduaan dengan Sean. Namun, bagaimanapun juga, surat cerainya dengan Jevan belum resmi keluar. Jika sampai muncul masalah baru di saat seperti ini, tentu bukan hal yang baik.Begitu memikirkannya, rasa heran di mata Jihan perlahan berubah menjadi sedikit ketidaksetujuan.Sean melirik ke samping dan melihat jelas perubahan emosi d

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 48

    Semakin Sean mengabaikannya, semakin Jihan menjadi-jadi.Sampai akhirnya, Sean benar-benar menjauh darinya dan bahkan tidak mau berbicara dengannya.Baru saat itulah dia menyadari, ternyata Sean benar-benar membencinya.Jihan melamun sambil mengingat masa lalu.Tanpa disadari, beberapa helai rambut di dekat telinganya terurai dan jatuh perlahan, menyapu bahu Sean seperti bulu yang ringan.Meski terhalang kain jas, sentuhan itu tetap menimbulkan rasa geli yang mengusik hati.Ketika tersadar dari lamunannya, dia melihat Sean tiba-tiba berdiri dan menjauh darinya.Sepertinya sama seperti dulu, dia tidak mau berada terlalu dekat dengan Jihan.Jihan mengedipkan mata, melirik jam, lalu bertanya, "Kau sudah makan malam?"Sean tidak menatapnya dan menjawab, "Aku sedang menunggumu."Jihan sedikit tertegun.Lalu tersenyum sambil berkata, "Kalau begitu, tunggu aku sebentar, aku mau menyerahkan giliran jaga dulu, nanti kita makan malam bersama."…Setelah keluar dari rumah sakit, Sean mengemudi, s

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 47

    Jihan terkejut sejenak, lalu bertanya, "Kenapa kau datang ke sini?""Ganti perban."Suara Sean terdengar datar.Mendengar jawaban pria itu, Jihan tanpa sadar menatap bahu kirinya dengan penuh perhatian. Namun, Sean mengenakan setelan jas dan tampak begitu tenang sehingga tidak terlihat ada yang salah.Dia berkata, "Kalau begitu, tunggu sebentar, aku ambilkan obatnya."Jihan berbalik hendak pergi ke apotek. Kebetulan Sonia juga sedang turun. Saat mereka masuk ke lift bersama, Sonia berkata dengan nada penuh arti, "Pria tampan itu cuma pasien? Kulihat kalian berdua kelihatannya lumayan akrab."Jihan berpikir dalam hati bahwa sebenarnya mereka belum terlalu akrab sekarang, tetapi entah bagaimana hubungan mereka nanti, itu belum bisa dipastikan."Dia teman Jevan, terluka dua hari yang lalu, kebetulan saja bertemu denganku."Jihan menjelaskan.Sonia mengangkat alisnya sambil berkata, "Temanmu ini memang sangat tampan. Bahkan lebih tampan daripada calon mantan suamimu."Jevan adalah tipe pri

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 46

    Saat melihat Jevan turun dari mobil Maibara, Jihan sempat bertatapan dengannya sesaat, lalu dengan tenang berbalik dan lebih dahulu memasuki Kantor Catatan Sipil.Jevan mengikutinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Keduanya mengisi formulir permohonan cerai di meja pelayanan.Saat mendengar petugas menjelaskan tentang masa tunggu perceraian selama tiga puluh hari, Jihan mengernyit, lalu bertanya, "Maksud Anda, kalau salah satu pihak tiba-tiba berubah pikiran, permohonan cerai ini bisa dicabut?""Benar, Bu."Jihan melirik Jevan.Matanya penuh dengan keraguan."Aku sudah menandatanganinya, apa lagi yang kau khawatirkan?"Jevan menyerahkan kembali formulir yang sudah diisi kepada petugas, lalu berkata pada Jihan, "Tanda tangan nggak bisa ditarik lagi. Sekarang, kau bahkan nggak percaya padaku?"Jihan menjawab dengan datar, "Orang yang kemarin memaksaku nggak hadir di sidang, apa pantas bilang begitu?"Suasana canggung.Baik dari raut wajah maupun nada bicaranya, Jihan tampak begitu din

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 45

    Apa lagi yang bisa dikatakan? Mantan istri dan mantan suami justru merupakan ancaman yang lebih besar daripada orang ketiga.Jevan tetap diam.Haris tahu kapan harus berhenti. Setelah selesai berbicara, dia menunggu dengan tenang di samping, tanpa mendesak ataupun pergi.Rumah besar Keluarga Adiwangsa begitu luas dan sunyi sampai suara jarum jatuh pun seolah bisa terdengar. Hanya ada suara pelan para pelayan yang berlalu-lalang sambil bekerja.Entah sudah berapa lama waktu berlalu.Jevan mengambil surat perjanjian perceraian itu, lalu berjalan ke ruang kerja di sebelah. Dari tempat alat tulis, dia mengambil acak sebuah pena.Pena itu terbuat dari bahan berkualitas, berwarna hitam pekat, dan sangat sesuai dengan selera gayanya.Tangan Jevan terhenti saat hendak membuka tutup pena.Pena ini adalah hadiah dari Jihan saat mereka masih kuliah.Dulu, Jihan sering memuji tulisan tangannya yang indah. Karena itu, pada ulang tahun pertama Jevan yang dirayakan bersamanya, dia menghadiahkan pena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status