Share

Bintang Acara Malam Ini

Author: Risca Amelia
last update publish date: 2026-07-22 23:40:41

Begitu Sabiya memasuki ruang transit di belakang panggung, Nina langsung menyambutnya. Ia bersikap bak seorang bawahan yang sangat menghormati atasannya.

“Bu Rosella, saya terus berjaga di sini untuk memastikan tidak ada orang yang keluar masuk tanpa izin,” ujar Nina dengan nada meyakinkan.

“Terima kasih atas bantuanmu, Nina,” balas Sabiya tulus.

Sabiya kemudian mendekati brankas baja yang berdiri di sudut ruangan. Telunjuknya menekan kode sandi rahasia secara berurutan, hingga pintu brankas i
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Clover
nasibnya Sabiya. udh bener aja gak usah dateng, gak usah pulkam. dapet bawahan tp sirik kasih malapetaka belum lagi ntr ketemu Roman
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Cari Istriku Sekarang Juga!

    “Dante, kenapa kau ada di sini?” tanya Roman.Melihat kehadiran asisten pribadinya di Lisea, kening Roman berkerut dalam. Raut wajahnya dipenuhi tanda tanya besar.“Bukankah aku memberimu perintah untuk tetap berada di Denver dan menjaga keselamatan Sabiya?" tegur Roman dengan nada berat dan tajam. Mendengar bentakan bosnya, Dante langsung menundukkan kepala dalam-dalam. Wajahnya memancarkan rasa bersalah yang amat sangat, bercampur dengan ketakutan."Maafkan saya, Tuan Roman," lapor Dante dengan suara sedikit gemetar. "Nyonya Sabiya yang meminta saya untuk segera menyusul Anda ke Lisea. Nyonya sangat khawatir dengan keselamatan Anda di sini, dan memaksa saya pergi untuk menambah kekuatan perlindungan Anda,” jelas Dante apa adanya.Keheningan sontak melanda seluruh ruangan. Steven dan Sebastian saling berpandangan dengan wajah pucat, menyadari bencana apa yang baru saja terjadi.Bagi Roman, penjelasan Dante bukanlah sebuah bentuk kesetiaan, melainkan sebuah petaka yang paling ia hin

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Strategi Tempur

    Selepas keluar dari rumah sakit, Roman berkumpul dengan anak buahnya di sebuah penginapan yang mereka sewa di pinggiran kota Lisea.Roman duduk bersandar dengan napas yang dikendalikan. Ia berusaha mengabaikan rasa nyeri pada kakinya, yang baru saja ditanamkan pelat titanium beberapa jam lalu.Dengan raut wajah sedingin balok es, pria itu memandang layar laptop yang menampilkan peta topografi wilayah Lisea.Tiba-tiba, nada dering nyaring memecah keheningan yang mencekam. Ponsel cadangan yang digunakan Roman untuk berkomunikasi dengan pihak penculik bergetar.Steven dan Sebastian, yang duduk di seberang Roman, serempak menahan napas.Tanpa ragu sedetik pun, Roman meraih ponsel tersebut dan menekan tombol hijau.Ia menempelkan benda pipih itu ke telinganya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, membiarkan pihak seberang berbicara lebih dulu.Dari balik sambungan, terdengar suara serak seorang pria."Roman Valeriano, kuharap kakimu sudah cukup kuat untuk berjalan. Karena sekarang, di sekita

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Mencari Jalan Keluar

    “Wanita iblis itu, Regina, dia menyingkirkan mamaku dan membuangku ke panti asuhan. Dia juga membuat kakiku cacat,” desis Dominic, rahangnya mengetat keras hingga otot-otot di pipinya menonjol."Aku terpaksa tumbuh dalam penderitaan, kelaparan, dan kegelapan di panti asuhan. Sementara Roman hidup bergelimang harta, dihormati sebagai tuan muda Valeriano, dan mendapatkan semua hal yang seharusnya menjadi milikku!"Sabiya menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha merapatkan tubuhnya ke tiang kanopi ranjang."Sekarang saatnya aku mengambil kembali semua hakku yang direnggut oleh Regina dan Roman," tukas Dominic dengan nada dingin.Tanpa memedulikan tatapan ngeri Sabiya, Dominic tiba-tiba mengubah ekspresinya menjadi tenang. Ia tersenyum dingin, lalu dengan sengaja mengusap permukaan gaun putih yang membalut tubuh Sabiya.Sentuhan itu terasa begitu menjijikkan bagi Sabiya, membuat tubuhnya merinding hebat."Jangan sentuh aku!" teriak Sabiya tertahan.Dominic mengabaikannya. Ia merogoh sa

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Dua Pilihan Maut

    Kelopak mata Sabiya terasa berat, saat ia memaksa dirinya untuk siuman. Di luar, cahaya matahari sudah berganti dengan cakrawala senja, dan udara semakin dingin.Ketika kesadarannya perlahan terkumpul, Sabiya mendapati dirinya terbaring di atas ranjang berhias kelambu putih. Cahaya dari lampu gantung di kamar menjadi satu-satunya penerang di dalam ruangan tersebut.Masih sedikit linglung, Sabiya mencoba menggerakkan tubuhnya untuk duduk. Namun, ia langsung terhempas lagi ke atas kasur, sebab kedua pergelangan kakinya terikat oleh borgol.Saat itulah tatapan Sabiya memandangi tubuhnya sendiri.Pakaian kerja yang ia kenakan telah lenyap. Sebagai gantinya, sebuah gaun malam berwarna putih membalut tubuhnya dengan sangat pas.Sensasi terhina dan ngeri langsung merayap di punggung Sabiya. Siapa yang telah mengganti pakaiannya ketika ia tidak sadarkan diri?Dengan kalut, Sabiya meraba bagian depan tubuhnya. Tidak ada tanda-tanda pelecehan maupun kekerasan."Anda sudah sadar, Nona Rosella?"

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Kau adalah Kunci Kemenanganku

    Entah mengapa, saat mendengar gema derak pintu vila yang terbuka di lantai bawah, semacam perasaan tidak nyaman merayap di relung hati Sabiya.Ada firasat buruk yang samar-samar mengetuk kesadarannya, membuat tengkuknya terasa dingin.Namun, Sabiya bergegas menepis gejolak ganjil itu. Ia mencoba berpikir rasional.Wajar saja bila Violet Shadow memanggil sang kakak untuk melihat hasil sketsanya, sebab wanita itu adalah seorang penyandang tunanetra. Dengan keterbatasannya, Violet tidak mampu melihat gambar secara langsung.Tentu saja, ia membutuhkan bantuan dan penilaian orang terdekatnya untuk mengambil keputusan. Terlebih, menyangkut desain perhiasan yang akan dipersembahkan sebagai hadiah pernikahan kakaknya.Mengingat hal tersebut, Sabiya tidak lagi menaruh rasa curiga. Ia memoles senyum tipis di wajahnya, lalu berucap lembut.“Sketsa yang saya buat berada di atas meja ruang kerja, Nona Violet."Violet tersenyum manis, memiringkan kepalanya sedikit seolah menangkap nada ragu dari su

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Kakak Angkat yang Dipuja

    Selesai membaca satu halaman novel, Sabiya mengangkat pandangan dan menatap wanita di sampingnya dengan kening berkerut."Nona Violet, deskripsi perhiasan ini terkesan sangat kelam. Apakah Anda yakin ingin membuat bentuk perhiasan semacam ini untuk kakak ipar Anda?"Wanita itu mengangguk pasti. Senyuman di bibirnya semakin melebar memancarkan aura yang sulit diartikan oleh Sabiya."Ya. Aku sangat serius, Rosella. Gunakan berlian hitam dengan ukiran duri mawar yang melilit," jawab wanita itu tenang. "Gambarlah sketsa perhiasannya sekarang. Nanti, setelah jam makan siang, kakakku akan datang ke vila ini untuk melihat hasil kerjamu.” Walau merasa heran, Sabiya tetap bersikap profesional. Ia segera membuka tas kerjanya, mengeluarkan sebuah buku sketsa berukuran sedang, serta sebuah pensil mekanik berujung tajam.Di bawah sorotan cahaya lampu meja, Sabiya mulai menggoreskan pensilnya di atas kertas putih. Mengandalkan imajinasi tajam dan deskripsi mendetail dari novel tersebut, jemariny

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menghilang dari Hidupmu

    Alih-alih memberi sanggahan, Roman justru meletakkan gelasnya di meja. Dengan tatapan lembut yang belum pernah Sabiya lihat sebelumnya, pria itu menoleh kepada Clara."Jangan dengarkan mereka, Clara." Suara Roman rendah dan menenangkan. "Aku punya hadiah untukmu malam ini. Aku tidak mau kau bersedi

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Wanita yang Dicintai Suamiku

    Tiga tahun menikah dengan Roman Alister, pewaris tunggal keluarga Valeriano, Sabiya tidak pernah diajak ke acara publik.Meski begitu, ia tidak pernah merajuk atau menuntut. Sabiya percaya sang suami melakukan itu sebagai bentuk cintanya yang luar biasa."Klan musuh selalu mencari kelemahanku, Saya

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Acuh Tak Acuh

    Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menghapus Jejakmu

    Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status