Se connecterRoman tidak menyangka di usianya yang masih kecil, Altair berani melontarkan ancaman sekeras itu. Apalagi, Altair menyinggung soal “Papa” yang tidak akan terima bila ia mendekati Sabiya.Kalimat itu bagai sembilu tajam yang menghantam dada Roman. Membuat kerongkongannya terasa amat kering. Ia yakin sosok yang selama ini dipanggil 'Papa' oleh darah dagingnya sendiri adalah Jetro Falcone. Pria itu dianggap oleh Altair sebagai pelindung utama ibunya.Namun, bukannya menunjukkan amarah atau tersinggung, netra Roman justru meredup. Ia melepaskan tangan Altair dengan lembut, lalu perlahan merendahkan tubuh tegapnya.Roman berlutut dengan satu kaki di atas lantai, agar pandangannya sejajar dengan sepasang mata bulat Altair. Pria itu mengulurkan tangannya untuk mengusap pelan puncak kepala Altair."Paman tidak takut...Paman akan tetap di sini," tutur Roman "...Paman hanya ingin menjaga kalian berdua, sampai Mama sadar.”Altair menyipitkan mata, terpana oleh tatapan Roman yang serupa dengan
Sesudah menerima telepon dari Dante, Roman segera melangkah ke sudut ruangan. Di situ, Dante meletakkan koper kecil yang berisi beberapa pakaian.Dengan cepat, Roman mengambil sebuah kemeja putih. Ia mengancingkan kemejanya, lalu menyisir ulang rambut di depan cermin. Bagaimanapun, ia harus tampil rapi sebelum bertatap muka dengan Altair.Roman sempat menatap Sabiya yang masih terpejam di atas ranjang.Melihat gaun hitam Sabiya yang kusut, Roman berinisiatif membungkus tubuh wanita itu dengan jasnya.Setelah memastikan Sabiya nyaman, Roman memasukkan ponsel dan kartu akses kamarnya ke dalam saku. Kemudian, ia menyusupkan kedua lengannya ke bawah tubuh Sabiya, mengangkatnya ke dalam dekapan yang kokoh. Dengan mantap, Roman berjalan menyusuri koridor hotel yang sepi.Ia baru berhenti ketika melihat Dante yang berdiri tegap di depan pintu sebuah kamar. Sementara di sebelahnya, ada Andreas serta seorang anak kecil yang wajahnya sangat familiar.Detik itu juga, denyut jantung Roman terasa
Di Aldena Heritage Hotel, jarum jam hampir menunjuk pukul sebelas malam. Altair berbaring seorang diri di atas kasur dalam kesunyian kamar. Bocah kecil itu sudah mengenakan piyama garis-garis putih, tetapi sinar matanya memancarkan kegelisahan yang besar. Sudah dua jam berlalu sejak ia kembali dari Executive Lounge, tetapi ibunya tak kunjung membuka pintu.Altair melirik tablet miliknya yang tergeletak di atas nakas. Ia sudah mencoba mengirimkan pesan singkat, bahkan memanggil nomor Sabiya berkali-kali. Namun, hanya nada tidak aktif yang ia dapatkan.Bagaimanapun, anak seusianya tidak akan tenang bila harus tidur sendirian di kamar hotel.Tak sanggup lagi membendung rasa cemas, Altair melompat turun dari ranjang. Bocah itu meraih kartu akses kamar, lalu berjalan menyusuri lorong berkarpet tebal.Tujuan Altair hanya satu: kamar tempat Andreas menginap, yang hanya berjarak dua pintu dari kamarnya.Dengan jemari mungilnya, Altair mengetuk pintu beberapa kali. Ia harus menunggu sejenak,
Di dalam kamar mandi, gemericik air dingin yang menyembur dari shower perlahan mereda.Merasa cukup, Roman mematikan keran shower lalu menyapu rambut gelapnya yang basah ke belakang. Ia mengeringkan tubuh seadanya, sebelum kembali ke kamar. Begitu memandangi sosok Sabiya yang masih tergolek di atas kasur, sorot mata Roman melunak. Namun, meski tubuh wanita itu sudah tertutup oleh bedcover tebal, lenguhan kecil yang digumamkan Sabiya bak sebuah alarm berbahaya.Roman pun berjalan mendekat, tetapi ia dengan sengaja menjaga jarak aman sekitar dua pijakan dari tepi ranjang.Pria itu sadar betul bahwa gairah di dalam darahnya belum sepenuhnya sirna. Satu sentuhan fisik saja bisa memicu kembali api, yang susah payah ia padamkan di bawah pancuran air dingin.Tok, tok, tok.Ketukan teratur tiga kali pada pintu suite memecah keheningan kamar.Roman tersentak. Tanpa membuang waktu, ia melangkah cepat menuju pintu dan membukanya lebar-lebar. Di hadapannya, Dante berdiri berdampingan dengan seo
Langit di kota Aldena sudah berwarna hitam legam.Sebuah mobil berwarna merah memasuki pelataran kediaman pribadi Roman Valeriano. Pintu mobil terbuka, memperlihatkan sosok Clara yang berjalan dengan gemulai. Malam ini, penampilan Clara sangat berbeda dari tadi sore. Ia telah menanggalkan pakaian bersahaja serba hitam, lalu berganti dengan sebuah gaun merah menyala. Gaun berbahan sutra tipis itu melekat ketat di tubuhnya, memperlihatkan belahan dada yang rendah serta bagian punggung yang polos. Riasan wajah yang dipakai Clara semakin mempertegas kesan menggoda.Di tangannya, Clara menggenggam sebuah wadah makanan yang tahan panas. Wadah tersebut berisi sup kaldu hangat—sebuah alibi sempurna yang ia siapkan untuk menjenguk Roman.Bibir merah Clara menyunggingkan senyuman, saat ia berjalan menuju teras. Angin malam yang bertiup dingin menyapu kulitnya, tetapi ambisi di dadanya jauh lebih membara.Clara membayangkan skenario yang telah ia susun dengan rapi. Obat yang ia campurkan ke da
Begitu denting pintu lift terdengar, Dante keluar dengan setengah berlari menuju sudut lobi. Langkah lebarnya melambat drastis saat melihat kondisi majikannya. Roman kini hanya mengenakan kemeja sutra biru yang lembap oleh keringat, sementara kedua tangannya merengkuh tubuh Sabiya yang terus bergerak gelisah.Dante lekas merogoh saku dalam jasnya, dan menarik selembar kartu akses berwarna emas. "Mari kita naik ke lantai empat, Tuan.”Tanpa membuang waktu, Roman kembali menggendong Sabiya ala bridal style. Meski jahitan di lengannya terasa ngilu, pria itu membiarkan otot-otot tangannya tertarik dengan kuat.Bersama Dante, Roman memasuki lift yang baru saja terbuka beberapa menit lalu. Usai kotak besi tersebut terbuka di lantai empat, Dante bergegas memimpin langkah di depan. Ia menempelkan kartu akses pada panel sensor pintu suite, lalu mendorongnya hingga terbuka lebar.Dengan hati-hati, Roman membawa Sabiya masuk dan meletakkan tubuh wanita itu di atas kasur berukuran king-size.D
Tiga tahun menikah dengan Roman Alister, pewaris tunggal keluarga Valeriano, Sabiya tidak pernah diajak ke acara publik.Meski begitu, ia tidak pernah merajuk atau menuntut. Sabiya percaya sang suami melakukan itu sebagai bentuk cintanya yang luar biasa."Klan musuh selalu mencari kelemahanku, Saya
Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de
Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan
Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala







