Share

Buka Pintunya!

Author: Risca Amelia
last update publish date: 2026-06-05 18:06:34

Clara tampaknya menyadari bahwa Sabiya tidak nyaman dengan kedatangannya. Namun, bukannya mundur, sandiwara persaudaraan palsu wanita itu justru semakin menjadi-jadi.

Dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat, Clara menggenggam telapak tangan Sabiya yang terasa sedingin es.

"Biya, aku sangat prihatin melihat kondisimu yang lemah seperti ini," tutur Clara dengan nada lembut di depan Roman.

"Oh ya, aku membawakan potongan buah segar agar nafsu makanmu kembali."

Clara langsung berdiri dari tepi r
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Inak Asna
sabar sabiya
goodnovel comment avatar
rasha
hadeh...... pergi aja sabiya...diluaran sana masih banyak cowok ganteng... wkwkwk....tinggalin cowok toxic bikin sakit hati aja
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Pelayan Pribadi

    Hujan gerimis yang membasahi perbukitan San Marino perlahan mereda, menyisakan udara dingin yang menusuk tulang.Setelah rangkaian upacara pemakaman yang menguras emosi, bayi Seraphina akhirnya tertidur pulas di dalam kamar tamu.Ramona pun turun perlahan untuk mengganti pakaiannya yang kotor oleh debu tanah. Namun, baru saja ia menanggalkan baju, terdengar bunyi ketukan di pintu.“Nyonya Ramona, Anda dipanggil oleh Tuan Falcone,” ucap seorang pelayan.Terkejut, Ramona buru-buru mengancingkan bajunya dan berjalan menuju pintu. Di sana, seorang pelayan paruh baya sudah menanti.“Nyonya, silakan Anda segera ke ruang makan. Tuan Falcone menunggu Anda,” ujar pelayan itu.“Tapi, bagaimana dengan Seraphina? Dia bisa menangis kalau….”“Saya yang akan menjaga bayi Anda. Nanti, kalau dia menangis, saya akan membawanya ke ruang makan.”Setelah mendapat jaminan bahwa bayinya aman, Ramona memberanikan diri untuk keluar dari kamar.Ia tidak menyangka bahwa bos besar suaminya, Jetro Falcone, tiba-t

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Sumpah Sang Pemimpin

    Di kawasan perbukitan San Marino, langit mendung menggantung rendah. Suasana di bukit itu sangat suram dan mencekam.Angin perbukitan berembus membawa hawa dingin, diiringi gerimis tipis yang membasahi rerumputan hijau di area pemakaman.Ratusan anggota klan Falcone yang berpakaian serba hitam berdiri berbaris. Mereka membentuk pagar betis, mengelilingi sebuah liang lahad yang baru digali.Payung-payung mengembang di udara, menahan rintik hujan yang membasahi pundak-pundak tegap para pengawal.Tidak ada satu pun suara obrolan yang terdengar. Hanya ada keheningan yang sarat akan duka.Di barisan paling depan, berdiri Jetro Falcone.Sang pemimpin tertinggi mengenakan setelan jas hitam legam, yang dipadukan dengan kemeja kerah tinggi dan mantel panjang berwarna senada.Wajah tampannya yang biasanya memancarkan ketenangan kini terlihat begitu kaku. Matanya menatap lurus ke arah sebuah peti mati berukir lambang elang.Di dalam peti tersebut, terbaring tubuh kaku Cassian, pria muda yang tel

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Kita Langsung Menikah

    Ciuman Sabiya merupakan bentuk penyerahan diri, sebuah permohonan bisu agar pria itu kembali menjejakkan kaki di dunia nyata.Sabiya menyapukan bibirnya dengan lembut, menekan rasa takut dan kepanikannya sendiri demi menjadi tiang penyangga bagi sang mafia.Melalui sentuhan bibir ke bibir, Sabiya seakan mentransfer seluruh kekuatan hidupnya. Mengingatkan Roman bahwa di tengah duka dan kehilangan, pria itu masih memiliki alasan untuk terus bernapas.Masih ada dirinya, masih ada Ares dan Altair.Secara perlahan, efek dari kasih sayang yang diberikan Sabiya mulai bekerja.Napas Roman yang semula memburu berangsur-angsur mereda.Embusan udara dari hidungnya tak lagi terdengar seperti orang yang sedang tercekik. Jari-jari Roman secara refleks mengusap lemah di pinggang Sabiya.Menyadari ritme jantung Roman telah teratur, Sabiya melepaskan ciumannya dengan sangat perlahan."Tarik napasmu, Roman," bisik Sabiya seraya mengusap rahang tegas pria itu yang ditumbuhi akar-akar tipis cambang."Tan

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menenangkan dengan Cinta

    "Dokter, bisakah saya tetap berdiri di sini? Saya tidak akan mengganggu proses pemeriksaan,” pinta Sabiya.Sang dokter mengangguk paham, menyadari bahwa keberadaan Sabiya adalah penenang terbaik bagi pasien yang baru saja melewati trauma berat."Tentu, Nyonya. Anda bisa tetap menemani Tuan Valeriano."Tim medis mulai bekerja dengan cepat. Dokter menyorotkan senter kecil ke arah pupil mata Roman untuk mengecek respons saraf otaknya.Roman mengernyitkan dahi karena silau. Namun, ia membiarkan dokter itu melakukan tugasnya asalkan matanya tetap bisa menangkap sosok Sabiya.Setelah memeriksa mata, dokter mendengarkan detak jantung dan pernapasan Roman menggunakan stetoskop. Kemudian, ia memeriksa jahitan pada luka tembak serta pelat penyangga di kaki Roman.Sepanjang proses pemeriksaan yang tidak nyaman itu, Roman hanya diam, tidak mengatakan apa-apa."Tuan Valeriano berhasil melewati masa kritis. Kesadarannya sudah kembali penuh, dan respons sarafnya bekerja dengan baik."Sabiya mengusap

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Aku Tidak Akan Pergi

    Panggilan yang familiar itu sontak menghancurkan sisa-sisa kantuk Sabiya.Tubuhnya tersentak hebat. Ia membuka matanya lebar-lebar, lantas bangkit dari posisi berbaring.Tanpa memedulikan kakinya yang masih lemas, Sabiya berlari semampunya. Ia langsung berdiri di samping brankar, tempat Roman berbaring.Di bawah pendar cahaya temaram ruangan, Sabiya bisa melihat sepasang mata kelabu milik Roman telah terbuka. Tatapan pria itu tampak sangat sayu, kosong, dan tidak fokus.Efek obat bius dosis tinggi dan ketidaksadaran selama berhari-hari membuat Roman kehilangan orientasi ruang dan waktu.Kelopak mata Roman bergerak lambat, mengerjap beberapa kali seolah cahaya lampu di atasnya menyiksa retina matanya.Napas pria itu tiba-tiba berubah memburu. Dada bidangnya yang dibalut perban naik turun dengan cepat, mengembunkan bagian dalam masker oksigen yang menutupi separuh wajahnya.Di dalam alam bawah sadar Roman yang masih kacau, memori terakhir yang terekam adalah penculikan dan pertempuran d

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Ancaman Manis

    Usai berpamitan, dokter dan perawat berjalan keluar dari kamar rawat, menyisakan Sabiya bersama para pengawal. "Nyonya, kami bertiga akan berjaga di depan kamar ini. Jika Nyonya membutuhkan sesuatu, cukup panggil kami,” ujar Dante.Sabiya memandang ke arah Dante. Ia bisa melihat dengan jelas betapa kacaunya kondisi pria di hadapannya ini.Dante telah mengatur pertempuran, mengevakuasi Roman, mengurus jenazah Nyonya Regina, hingga terbang melintasi samudra tanpa memejamkan mata sedetik pun. Begitu pula dengan Liam dan Nathan yang telah bersiaga sejak pagi."Kalian tidak perlu menunggu di luar malam ini," ucap Sabiya. Ia menatap Dante, Liam, dan Nathan secara bergantian."Sebaiknya, kalian bertiga pulang. Kembalilah ke rumah, bersihkan diri, dan beristirahatlah dengan tenang.""Tapi, Nyonya, keamanan Tuan Roman—""Lantai ini sangat aman, Dante. Aku sendiri yang akan menemani Roman sepanjang malam,” potong Sabiya meyakinkan. “Kalian bisa kembali besok.”Mendengar ketegasan dari istri bo

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menghapus Jejakmu

    Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Berlari untuk Wanita Lain

    Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menginginkan Tubuhmu

    Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Bantu Aku, Paman

    Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status