Share

Buka Pintunya!

Author: Risca Amelia
last update publish date: 2026-06-05 18:06:34

Clara tampaknya menyadari bahwa Sabiya tidak nyaman dengan kedatangannya. Namun, bukannya mundur, sandiwara persaudaraan palsu wanita itu justru semakin menjadi-jadi.

Dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat, Clara menggenggam telapak tangan Sabiya yang terasa sedingin es.

"Biya, aku sangat prihatin melihat kondisimu yang lemah seperti ini," tutur Clara dengan nada lembut di depan Roman.

"Oh ya, aku membawakan potongan buah segar agar nafsu makanmu kembali."

Clara langsung berdiri dari tepi r
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Inak Asna
sabar sabiya
goodnovel comment avatar
rasha
hadeh...... pergi aja sabiya...diluaran sana masih banyak cowok ganteng... wkwkwk....tinggalin cowok toxic bikin sakit hati aja
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Morning Kiss

    “Roman, apa yang kau lakukan?” tegur Sabiya dengan suara parau. Refleks, Sabiya memundurkan tubuhnya untuk menjauhi pria itu.Melihat raut muka Sabiya yang tegang, Roman buru-buru memberi penjelasan."Maafkan aku, Sabiya... Aku tidak punya pilihan lain,” tutur Roman sedikit menundukkan kepala.“Aku sudah memanggil namamu berkali-kali dan menggoyang lenganmu. Tapi, kau sama sekali tidak bergeming. Bahkan, alarm ponselmu sudah mati sendiri karena kau abaikan,” lanjut Roman“Hanya ide ini yang terpikir olehku. Menciummu agar kau bangun."Sabiya mendelik tajam sambil meraba bibirnya sendiri dengan jemari. "Kau bisa memakai cara lain untuk membangunkanku, Roman. Tidak harus dengan menciumku!"Roman hanya mengangkat bahu dengan ekspresi tanpa dosa. Ia mengubah posisi menjadi duduk."Tapi, cara ini terbukti berhasil," balas Roman santai. "Coba lihat jam berapa sekarang. Waktu sudah hampir pukul tujuh."Mendengar angka tujuh disebutkan, kesadaran Sabiya seketika terkumpul penuh. Kelopak matan

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Bersandar di Bahumu

    Sabiya memilih untuk tidak menanggapi pernyataan penuh tekad dari Roman. Ia khawatir pertahanan hati yang telah ia bangun dengan susah payah selama ini akan runtuh begitu saja."Kita selesaikan makan malam ini, lalu beristirahat," pungkas Sabiya, berusaha mengalihkan topik. "Besok pagi, aku harus memimpin acara grand opening di Flagship Boutique.”Tanpa menunggu balasan, Sabiya mengambil mangkuk sup ikan yang tadi diabaikan Roman. Ia mengambil sendok, meniupnya pelan, lalu menyodorkannya ke bibir pria itu."Makanlah sup ikan ini," ujar Sabiya lembut.Roman menerima tiga suapan pertama dengan patuh. Namun, ketika sendok keempat hendak disodorkan, pria itu menggeleng pelan."Sudah cukup, Sabiya," kata Roman dengan suara serak. "Lebih baik kau simpan tenaga dan tidur lebih awal.”Sabiya meletakkan mangkuk itu kembali ke atas nampan. Tatapannya beralih meneliti pria di hadapannya."Di mana tas obatmu? Kau harus minum obat terlebih dahulu sebelum tidur."Roman menunjuk sebuah tas kulit hi

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Racun dan Obat Penawar

    Tanpa bisa dicegah, ingatan Sabiya kembali pada masa lalu, di mana ia dan Roman masih menjadi suami-istri.Kala itu, Roman selalu memilihkan sendiri setiap gaun, piyama, hingga lingerie yang hendak ia pakai. Ternyata, kebiasaan pria itu belum hilang sampai sekarang.Sabiya menelan ludah, buru-buru mengalihkan pandangan.Sebelum ia semakin terlarut oleh kenangan, Sabiya menyambar paper bag tersebut dan bergegas menuju kamar mandi.Tanpa berlama-lama, Sabiya mengguyur tubuhnya dengan air hangat untuk menghilangkan sisa air hujan yang menempel. Setelah badannya bersih, ia mengenakan pakaian dalam dan piyama pemberian Roman.Meski tubuhnya kini sudah terasa lebih hangat, sisa-sisa dingin akibat badai di luar masih terasa. Karenanya, Sabiya lekas kembali ke dalam kamar.Namun, langkahnya terhenti saat melihat Roman sedang berbicara melalui sambungan telepon hotel. Pria bertubuh tegap itu kini bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek berwarna hitam.Begitu Roman membalikkan badan, p

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Satu Kamar Berdua

    Bersamaan dengan pintu mobil yang terbuka, sorot lampu mobil memantulkan bayangan seseorang yang turun dari dalam kabin.Sabiya berdiri mematung di samping mobilnya. Ia membiarkan butiran air hujan mengalir di sekujur tubuhnya yang sudah basah kuyup.Dari balik derai air, ia melihat sebuah payung hitam besar dibentangkan untuk menaungi sosok pria yang melangkah perlahan.Suara derit kruk logam yang berpadu dengan ketukan sepatu pantofel, menggema di atas aspal jalan tol.Diiringi oleh Dante yang memegang payung, Roman Valeriano berdiri tepat di hadapan Sabiya."Roman...?" gumam Sabiya tertahan. Matanya sampai mengerjap beberapa kali karena ia takut salah melihat."Kenapa kau ada di sini?"Tanpa memedulikan guyuran air hujan yang menciprat ke celananya, pria itu maju mendekat. Ia mengangkat tangan dan merangkul pundak Sabiya yang bergetar karena kedinginan."Karena aku khawatir padamu," jawab Roman dengan suara baritonnya yang serak. Sorot matanya tidak menunjukkan amarah sedikit pun,

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Di Tengah Badai

    Mendengar kabar bahwa sang ibu tidak kunjung kembali ke mansion, Roman tertegun sesaat. Dahinya berkerut dalam, menimbang-nimbang kebenaran berita tersebut.Namun, alih-alih diliputi kepanikan seperti yang Dante harapkan, sudut bibir Roman justru membentuk seringai sinis. Pengalaman pahit di masa lalu membuat rasa curiganya jauh lebih mendominasi."Lagi-lagi Diana..." ucap Roman tertawa dingin, nada suaranya menyiratkan kegetiran sekaligus ketidakpercayaan."Dulu, sepupuku itu pernah sengaja merekayasa cerita bahwa Mama terkena serangan jantung, hanya demi mengurungku secara paksa di rumah sakit jiwa. Dan sekarang? Dia datang membawa berita kalau Mama hilang?” sarkas Roman.“Berita ini hanya akal-akalan mereka saja. Apa mereka sudah kehabisan cara untuk menjebakku, agar aku mau patuh dan pulang kembali ke Aldena?"Mendengar sang tuan menanggapi situasi genting ini dengan prasangka, Dante menelan ludah dengan susah payah. Wajahnya menyiratkan kecemasan yang mendalam."Tuan, saya menger

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Kejadian Tak Terduga

    Mendengar Roman melontarkan kalimat putus asa, darah Sabiya mendadak seperti berhenti mengalir. Ada rasa cemas yang bergolak di dalam rongga dadanya.Akan tetapi, kegelisahan itu seketika terkikis oleh gelombang amarah yang membakar. Sabiya pun menatap Roman dengan sorot mata yang menajam."Perlu aku perjelas sekali lagi, Roman? Sekali pun kau menyerahkan nyawamu di hadapanku saat ini, hal itu tidak akan berpengaruh apa-apa untukku,” tukas Sabiya. “Berhentilah mencari belas kasihan dengan cara yang murahan. Seharusnya, kau memikirkan tanggung jawabmu sebagai ketua klan daripada sibuk berkhayal di sini.”Tanpa menunggu pembelaan dari pria itu, Sabiya langsung berbalik. Ia berjalan meninggalkan taman, meski di balik punggungnya Sabiya masih bisa merasakan tatapan Roman dari kejauhan.Sabiya tahu, kata-katanya barusan mungkin terdengar sangat kejam dan tanpa belas kasihan. Namun, ia tidak punya pilihan lain.Ia harus menegakkan batasan, agar Roman tidak lagi memupuk harapan palsu.Denga

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Berlari untuk Wanita Lain

    Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menginginkan Tubuhmu

    Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Bantu Aku, Paman

    Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menghilang dari Hidupmu

    Alih-alih memberi sanggahan, Roman justru meletakkan gelasnya di meja. Dengan tatapan lembut yang belum pernah Sabiya lihat sebelumnya, pria itu menoleh kepada Clara."Jangan dengarkan mereka, Clara." Suara Roman rendah dan menenangkan. "Aku punya hadiah untukmu malam ini. Aku tidak mau kau bersedi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status