Se connecterSabiya mengerjap heran, sebelah alisnya terangkat."Syarat apa yang harus saya penuhi, Samantha?"Samantha menatap ke dalam mata Sabiya tanpa berkedip."Setelah pertemuan hari ini selesai, Anda tidak akan pernah membocorkan identitas asli, wajah, maupun lokasi vila ini kepada dunia luar. Baik itu kepada rekan kerja Anda, media, maupun kepada para penggemar Violet di luar sana."Sabiya tertegun mendengar permintaan yang sangat ketat itu.Sungguh, kedatangannya kali ini tidak seperti kunjungan kerja klien pada umumnya, melainkan seperti perjanjian kerahasiaan tingkat tinggi militer.Namun, Sabiya bisa memahami betapa tingginya tingkat privasi yang diinginkan oleh seorang figur publik yang sangat tertutup. Ia pun mengangguk dengan penuh keyakinan."Saya mengerti," jawab Sabiya mantap. "Sebagai desainer profesional, menjaga kerahasiaan klien adalah etika nomor satu bagi saya.”Samantha menghela napas lega mendengar jawaban Sabiya. Senyuman kembali terukir di bibirnya."Bagus sekali. Saya
Ruang rawat VIP di Lisea Central Medical Center tampak tenang dan steril.Di atas pembaringan rumah sakit, Roman duduk tegak dengan raut wajah mengeras. Sementara di hadapannya, Dr. Hannes, seorang ahli bedah ortopedi, baru saja selesai memeriksa hasil pemindaian sinar-X terbaru dari kaki Roman.Dr. Hannes meletakkan lembar hasil rontgen itu ke atas meja dengan helaan napas panjang. Ia melepas kacamata bacanya, lalu menatap sang pemimpin klan Valeriano dengan sorot keberatan."Tuan Roman, patah tulang tibia di kaki kanan Anda baru menyatu sekitar lima puluh persen. Jaringan tulangnya masih sangat rapuh. Jika Anda memaksa melepaskan gips ini sekarang dan langsung mengenakannya untuk berjalan, risikonya sangat besar.”Mendengar peringatan medis tersebut, Steven dan Sebastian yang berdiri di sisi brankar langsung menegang.Namun, Roman sedikit pun tidak bergeming."Dokter Hannes, saya di sini untuk meminta solusi medis tercepat agar kaki saya bisa digerakkan secara normal."Dr. Hannes men
Setelah menempuh perjalanan pulang dari kantor, mobil Sabiya memasuki area parkir khusus penghuni apartemen. Ia mematikan mesin, lalu keluar dari kabin mobil sambil membawa sebuah kotak berukuran sedang, yang diikat dengan pita biru.Itu adalah puding buah lembut, yang sengaja dibeli Sabiya untuk menyenangkan hati kedua buah hatinya.Ketika Sabiya tiba di depan pintu unit apartemennya, Zavier dan Liam sudah berdiri siaga di kedua sisi lorong. Kedua pengawal kepercayaan Roman itu langsung mengangguk hormat."Selamat malam, Nyonya," sapa Zavier sopan.Sabiya tersenyum tipis, membalas anggukan mereka. "Selamat malam. Terima kasih kalian sudah berjaga di sini.”"Sudah menjadi tugas kami, Nyonya," jawab mereka serempak.Begitu Sabiya membuka pintu, Ares dan Altair berlari menghambur keluar. Mereka menyambut kepulangan sang ibu dengan wajah berseri-seri."Wah, apa itu yang dibawa Mama? Sepertinya enak sekali!" seru Ares penasaran.Sabiya tersenyum hangat sambil menyerahkan kotak tersebut ke
Roman sudah menautkan ponselnya dengan akun perusahaan, sehingga ia bisa mengetahui setiap surel baru yang masuk.Begitu ia membukanya, terdapat sebuah lampiran video pendek berdurasi sepuluh detik.Roman menekan tombol putar dan di layar terlihat Diana yang tampak tertunduk lemas dengan tangan terikat.Seketika, darah Roman mendidih hingga ke ubun-ubun. Kepalan tangannya bergetar hebat.Tidak berhenti sampai di situ, di bawah video tersebut tertulis sebuah kalimat tantangan yang dingin:[Jika kau ingin ibumu dan sepupumu tetap bernyawa, hentikan seluruh pergerakan pasukanmu. Datanglah dan selamatkan mereka sendirian. Atau mungkin, kau ingin aku mengambil anggota keluargamu yang lain?Hubungi nomor ini sekarang juga: xxxx. Waktumu terbatas.]Melihat nomor telepon khusus yang sengaja dicantumkan di dalam email tersebut, Roman tidak membuang waktu sedetik pun. Ia meminta ponsel cadangan, lalu tanpa ragu menekan deretan angka tersebut dan menempelkannya ke telinga.Hanya butuh sepuluh de
Suasana di depan gerbang utama Bright School tampak begitu sibuk. Kendaraan jemputan sekolah berbaris rapi, sementara para orang tua dan pengasuh tampak lalu-lalang menjemput anak-anak.Di antara kerumunan tersebut, Bibi Elma sudah berdiri menanti kedatangan Ares dan Altair."Bibi Elma!" panggil Ares ceria sambil melambaikan tangan kecilnya. Altair menyusul di belakang dengan membawa ensiklopedia sains. Bibi Elma tersenyum hangat, membentangkan tangan untuk menyambut kedua bocah kembar itu. Namun, sebelum Ares dan Altair sempat mendekat, langkah mereka mendadak terhenti.Sebuah mobil dengan kaca gelap tiba-tiba menepi tepat di samping trotoar. Pintu mobil terbuka secara bersamaan, dan keluarlah Zavier bersama dua orang pengawal berpakaian hitam.Mereka adalah pengawal kepercayaan yang langsung ditugaskan oleh Roman untuk memperketat pengamanan si kembar.Zavier menghalangi jalur si kembar menuju mobil jemputan, lalu membungkuk hormat."Selamat siang, Tuan Muda Ares dan Tuan Muda Alta
Suasana di halaman Bright School menjadi riuh rendah begitu bel istirahat berbunyi. Anak-anak bersorak gembira, berlarian ke sana ke mari untuk menikmati waktu bebas mereka sebelum jam pelajaran berikutnya dimulai.Di bawah rindangnya pohon besar, Ares duduk di atas bangku taman. Ia menikmati sekotak susu cokelat dan sepotong sandwich sambil bersenandung kecil. Tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang terus mengawasi gerak-geriknya tanpa berkedip.Sejak tadi, Clara memperhatikan Ares untuk mencari kesempatan mendekatinya. Dan, sekarang-lah waktu yang paling tepat untuknya bergerak, tanpa harus terganggu oleh anak-anak lain.Dengan senyuman paling ramah yang bisa ia pasang di wajahnya, Clara berjalan melintasi lapangan rumput. Ia menghampiri bangku taman tempat Ares duduk."Halo, Ares." Melihat guru musik baru berdiri di sampingnya, bocah itu sontak bangkit berdiri. "Miss Clara! Halo!" sapa Ares riang.Clara pun menepuk ruang kosong di sebelahnya agar Ares duduk kembali. Ia memasang ek
Alih-alih memberi sanggahan, Roman justru meletakkan gelasnya di meja. Dengan tatapan lembut yang belum pernah Sabiya lihat sebelumnya, pria itu menoleh kepada Clara."Jangan dengarkan mereka, Clara." Suara Roman rendah dan menenangkan. "Aku punya hadiah untukmu malam ini. Aku tidak mau kau bersedi
Tiga tahun menikah dengan Roman Alister, pewaris tunggal keluarga Valeriano, Sabiya tidak pernah diajak ke acara publik.Meski begitu, ia tidak pernah merajuk atau menuntut. Sabiya percaya sang suami melakukan itu sebagai bentuk cintanya yang luar biasa."Klan musuh selalu mencari kelemahanku, Saya
Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de
Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan







