LOGIN“Tandatangani dokumen yang sudah aku siapkan, lalu serahkan Cincin Stempel Serigala Obsidian dari jarimu. Terhitung dari malam ini, aku yang akan memegang komando atas pasukan klan Valeriano!” titah Dominic tanpa jeda.Julian bergegas maju dan menyerahkan sebuah dokumen beserta pena ke tangan Roman. Isi dokumen tersebut berisi surat pengalihan kepemilikan atas Valeriano Corp dan seluruh asetnya ke tangan Dominic.Melihat Roman tak kunjung melakukan perintahnya, Dominic kembali memberikan tekanan.“Lakukan sekarang, atau ibumu akan meledak di depan matamu!”Roman mengepalkan kedua tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Seluruh urat di lehernya menonjol.Terperangkap di antara keselamatan sang ibu dan harga diri klan Valeriano, Roman tidak memiliki banyak pilihan.“Karena kau sangat menginginkan kekuasaan dan kekayaan, aku akan memberikannya padamu,” pungkas Roman.“Asal kau tahu, Dominic, seorang pecundang tidak akan berubah menjadi penguasa yang disegani, walau dia memakai gelar dan
Ban mobil berdecit keras saat bergesekan dengan permukaan halaman pabrik baja yang berkerikil. Cahaya lampu utama kendaraan itu menyorot bangunan industri yang terbengkalai, menciptakan bayangan-bayangan panjang menyerupai monster.Tak berselang lama, pintu mobil terbuka. Roman melangkah keluar, menapakkan kakinya ke tanah dingin berdebu.Begitu ia berdiri tegak di samping mobil, terlihat pergerakan serempak dari balik pilar.Dalam hitungan detik, belasan pengawal bayaran bersenjata lengkap keluar dari persembunyian. Mereka mengepung Roman dari segala penjuru.Roman tidak menunjukkan secuil pun rasa gentar. Wajahnya sedingin es, matanya menatap tajam para pengepung tersebut dengan aura seorang penguasa. Dari tengah kerumunan itu, Julian, yang bertindak sebagai komandan lapangan, melangkah dengan ekspresi sinis. "Selamat datang, Tuan Valeriano," sapa Julian dengan nada penuh sindiran. "Kau benar-benar datang sendirian. Sungguh, anak yang sangat berbakti.”"Bawa aku ke tempat kalian m
Layar di hadapan Dominic bergerak, saat Julian berjalan menyusuri lantai pabrik baja yang berdebu. Bunyi langkah sepatu bot mengiringi pergerakan kamera, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah pilar penyangga.Di sana, duduk Nyonya Regina dan keponakannya, Diana, dalam kondisi tangan dan kaki terikat oleh rantai.Kondisi ibu dari pemimpin mafia di Aldena itu tampak sangat menyedihkan. Pakaian mahalnya kotor oleh debu dan oli pabrik, rambutnya yang biasanya disanggul rapi kini acak-acakan dan lepek oleh keringat dingin. Wajah perempuan paruh baya itu pucat pasi, dipenuhi guratan kelelahan luar biasa. Di dekat kaki Regina dan Diana, terdapat sebuah kotak metalik berisi bahan peledak. Angka timer digital berwarna merah yang berkedip di atasnya telah siap menghitung mundur.Julian berdiri menjulang di hadapan Regina. Dengan gerakan kasar, ia menarik paksa sumpal kain yang sedari tadi membungkam mulut wanita itu.Regina langsung terbatuk-batuk, berusaha meraup oksigen dengan rakus. Nap
Angin malam Lisea berembus membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Udara beku itu menyapu halaman berkerikil di luar penginapan, yang kini beralih fungsi menjadi markas sementara klan Valeriano. Di bawah pendar temaram lampu jalan, sebuah mobil berwarna hitam berkaca gelap telah disiapkan.Roman berjalan keluar dari pintu utama penginapan. Setiap kali telapak kaki kanannya menjejak tanah, rasa ngilu yang menusuk kembali mendera.Meski begitu, Roman menganggap remeh semua penderitaan fisik itu. Ia tidak membiarkan satu pun kelemahan terlihat di mata lawannya.Di belakang Roman, Dante berlari kecil menghampiri sang bos. "Tuan Roman, saya baru saja mendapat konfirmasi dari Steven, Sebastian, dan juga Zavier,” lapor Dante.“Operasi Senyap Tiga Lapis sudah mulai berjalan sesuai rencana. Sedangkan Zavier sedang dalam perjalanan menyusul Nyonya Sabiya. Dia berhasil mendapatkan alamat vila, tempat Nyonya Sabiya melakukan kunjungan kerja.”Roman menghentikan langkahnya sejenak. Di dalam hati
Altair dan Ares masih berada di dalam kamar mereka. Buku-buku catatan dan lembar tugas sekolah sudah dimasukkan ke tas, menandakan bahwa rutinitas belajar mereka telah selesai.Ares meregangkan kedua lengannya ke atas sambil menguap lebar, lalu melompat turun dari kursi belajar. Tanpa membuang waktu, bocah berusia lima tahun itu menyambar tablet miliknya dan duduk di atas karpet.Jemari kecil Ares bergerak lincah menekan layar, membuka aplikasi game sepak bola favoritnya untuk melepas penat.Di sisi lain meja, Altair menunjukkan gestur yang jauh berbeda. Bocah cerdas berwajah mirip Roman itu tidak tertarik pada permainan digital. Dengan rasa penasaran yang bergelayut di benaknya, Altair justru membuka laptop. Ia mengetik cepat pada keyboard, memasukkan kata kunci “Kota Lisea” ke pencarian browser internet.Bocah cilik itu terpaku menatap layar, membaca satu per satu informasi mengenai kota yang menjadi tempat tujuan sang ayah.Tok! Tok! Tok!Bunyi ketukan pintu kamar yang terdengar c
“Dante, kenapa kau ada di sini?” tanya Roman.Melihat kehadiran asisten pribadinya di Lisea, kening Roman berkerut dalam. Raut wajahnya dipenuhi tanda tanya besar.“Bukankah aku memberimu perintah untuk tetap berada di Denver dan menjaga keselamatan Sabiya?" tegur Roman dengan nada berat dan tajam. Mendengar bentakan bosnya, Dante langsung menundukkan kepala dalam-dalam. Wajahnya memancarkan rasa bersalah yang amat sangat, bercampur dengan ketakutan."Maafkan saya, Tuan Roman," lapor Dante dengan suara sedikit gemetar. "Nyonya Sabiya yang meminta saya untuk segera menyusul Anda ke Lisea. Nyonya sangat khawatir dengan keselamatan Anda di sini, dan memaksa saya pergi untuk menambah kekuatan perlindungan Anda,” jelas Dante apa adanya.Keheningan sontak melanda seluruh ruangan. Steven dan Sebastian saling berpandangan dengan wajah pucat, menyadari bencana apa yang baru saja terjadi.Bagi Roman, penjelasan Dante bukanlah sebuah bentuk kesetiaan, melainkan sebuah petaka yang paling ia hin
Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan
Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala
Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me
Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t







