FAZER LOGINJangan lupa berikan gems dan ulasan bintang lima ya
Di balik pintu ganda berwarna putih pucat, perjuangan antara hidup dan mati sedang berlangsung.Lampu operasi menyorot terang di atas meja bedah rumah sakit Lisea. Bunyi monoton dari monitor detak jantung menjadi satu-satunya ritme yang menemani para tenaga medis.Di atas meja itu, Roman terbaring tanpa daya. Pria yang beberapa jam lalu merobohkan belasan musuh kini terlihat sangat rapuh dengan berbagai selang yang terhubung ke tubuhnya.Seorang dokter bedah senior memusatkan pandangannya pada luka tembak di bahu kanan Roman.Dengan gerakan tangan yang sangat hati-hati, ia menggunakan pinset bedah untuk menjangkau proyektil logam yang bersarang sangat dekat dengan pembuluh darah utama.Pendarahan dari luka itu terus merembes keluar. Perawat di sebelahnya dengan sigap menyeka darah dan mengganti kantong transfusi untuk kesekian kalinya."Tekanan darah pasien terus menurun, Dokter," lapor ahli anestesi. Matanya terus terpaku pada layar monitor yang menunjukkan angka vital Roman."Sediki
Merasakan kegelisahan dalam hatinya, Sabiya berjalan pelan-pelan mendekati Zavier."Zavier, apa kau mendapat kabar dari Lisea?"Zavier tersentak. Pria itu segera menoleh ke belakang, menatap Sabiya dengan sorot mata yang menyiratkan keterkejutan bercampur kegugupan.Ia buru-buru menjauhkan ponsel dari telinganya sambil menelan ludah kasar."Benar, Nyonya. Ini dari Tuan Dante. Dia menanyakan bagaimana kondisi Nyonya,” kata Zavier. “Katanya... itu adalah pesan khusus dari Tuan Roman."Mendengar nama Roman disebut, dada Sabiya terasa berdesir nyeri. Ada jeda yang sangat ganjil dalam penuturan Zavier."Lalu, bagaimana dengan kondisi Roman?" tanya Sabiya. "Apakah dia baik-baik saja? Apakah pertempuran di pabrik baja itu sudah selesai?"Alih-alih menjawab dengan cepat dan lugas, Zavier justru terdiam. Rahang pengawal tangguh itu tampak mengeras."Jawab aku, Zavier! Kenapa kau diam saja?" desak Sabiya semakin curiga. “Apa yang terjadi pada Roman?”Zavier masih membisu, tampak sangat bimbang
Berbeda dengan Dominic, suasana tegang perlahan mencair bagi Sabiya. Wanita itu menoleh ke belakang untuk kesekian kalinya. Melalui kaca jendela mobil, ia tidak lagi melihat sorot lampu mobil yang mengejar mereka. Yang terlihat hanyalah deretan lampu jalanan serta mobil-mobil penduduk lokal yang melaju santai.Sabiya mengembuskan napas panjang. Udara yang sedari tadi terasa mencekik tenggorokannya kini seakan terlepas. Ia menyandarkan punggung dan kepalanya yang terasa pening ke jok kulit mobil. Kelegaan yang luar biasa besar membanjiri dadanya. Akhirnya, ia berhasil. Ia selamat dari cengkeraman pria psikopat itu."Kita sudah aman, Nyonya Sabiya," ucap Zavier memecah keheningan. Nada suara pria itu kembali tenang dan sopan. "Dominic tidak akan berani mengikuti kita sampai ke sini. Kamera pengawas kota dan patroli polisi terlalu banyak."Sabiya mengangguk lemah, mengusap wajahnya yang kuyu dengan kedua tangan. "Terima kasih, Zavier. Jika kalian tidak datang tepat waktu... aku tid
Angin malam di perbukitan seakan terbelah oleh deru mesin bertenaga tinggi.Mobil yang dikemudikan oleh Zavier melesat bak peluru yang baru saja dimuntahkan dari larasnya. Ban mobil berdecit tajam, bergesekan dengan aspal jalanan berkelok yang diterangi cahaya bulan.Di kursi depan, tepat di samping Zavier, Sabiya duduk dengan napas yang memburu. Jantungnya berdebar-debar, memompa adrenalin yang masih tersisa dari pelariannya di vila.Sementara di kursi belakang, tiga orang pengawal rekan Zavier duduk bersiaga dengan senjata di tangan.Sesekali, Sabiya menoleh melalui kaca spion samping. Netranya membelalak cemas saat melihat sepasang lampu sorot yang menyilaukan terus membuntuti mereka dengan kecepatan tinggi.Itu adalah mobil Dominic Sterling. Pria itu menolak melepaskan mangsanya begitu saja."Zavier, Dominic mengejar kita! Jaraknya semakin dekat!" seru Sabiya sembari mencengkeram sabuk pengamannya."Tetap tenang dan berpegangan yang kuat, Nyonya," jawab Zavier dari kursi kemudi.F
Regina menangkap pemandangan mematikan tersebut dengan sudut matanya.Di dalam otak wanita yang biasanya dipenuhi ambisi kekuasaan itu, waktu seolah menyusut. Tidak ada ruang untuk berpikir. Tidak ada jeda untuk menimbang untung dan rugi.Naluri seorang ibu mendadak muncul pada detik-detik terakhir.Dengan sisa tenaga dari raganya yang sudah melemah, Regina memutar posisi secepat mungkin. Ia melempar seluruh bobot tubuhnya untuk menutupi punggung Roman.BAM!Peluru berkecepatan tinggi tidak menghantam Roman, melainkan menembus punggung kiri Regina. Hantamannya membuat perempuan paruh baya itu terlempar ke depan.Roman yang sedang bersiap membalas tembakan, terkejut bukan main. Ia merasakan benturan keras menimpa punggungnya, disertai oleh semburan cairan merah.Refleks, Roman berbalik dan menangkap tubuh ibunya yang merosot jatuh."Mama!"Manik abu-abu Roman membelalak lebar.Di dalam pelukannya, Regina terkulai lemas. Napasnya tersengal-sengal dengan darah segar yang mengaliri sudut
Bunyi letusan senjata api kembali memenuhi kompleks bekas pabrik baja.Di hadapan layar proyektor besar yang baru saja mati, atmosfer pertempuran tak dapat dihindari.Usai mendapat iming-iming hadiah besar dari Dominic, Julian dan anak buahnya menjadikan Roman sebagai target utama.Di sisi lain, daya juang Roman sendiri sudah bangkit tiga kali lipat. Melihat Sabiya telah bebas, beban terberat di pundaknya seakan terangkat.Tiba saatnya ia membalas setiap tetes darah yang tumpah malam ini.Dengan aura seorang pemimpin yang disegani, Roman memberikan komando kepada unit hantu dan tim penjinak bom."Sabiya sudah aman! Habisi mereka semua!" Mendengar instruksi tersebut, Steven dan Sebastian yang semula menyerah kini bagaikan macan yang lepas dari kandang.Namun, situasi di lapangan jauh dari kata menguntungkan.Tatkala Dominic menawan Sabiya di layar beberapa saat lalu, Roman telah memerintahkan anak buahnya untuk menyerahkan senjata demi keselamatan Sabiya.Akibatnya, saat ini pasukan e
Alih-alih memberi sanggahan, Roman justru meletakkan gelasnya di meja. Dengan tatapan lembut yang belum pernah Sabiya lihat sebelumnya, pria itu menoleh kepada Clara."Jangan dengarkan mereka, Clara." Suara Roman rendah dan menenangkan. "Aku punya hadiah untukmu malam ini. Aku tidak mau kau bersedi
Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala
Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me
Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t







