INICIAR SESIÓNBunyi letusan senjata api kembali memenuhi kompleks bekas pabrik baja.Di hadapan layar proyektor besar yang baru saja mati, atmosfer pertempuran tak dapat dihindari.Usai mendapat iming-iming hadiah besar dari Dominic, Julian dan anak buahnya menjadikan Roman sebagai target utama.Di sisi lain, daya juang Roman sendiri sudah bangkit tiga kali lipat. Melihat Sabiya telah bebas, beban terberat di pundaknya seakan terangkat.Tiba saatnya ia membalas setiap tetes darah yang tumpah malam ini.Dengan aura seorang pemimpin yang disegani, Roman memberikan komando kepada unit hantu dan tim penjinak bom."Sabiya sudah aman! Habisi mereka semua!" Mendengar instruksi tersebut, Steven dan Sebastian yang semula menyerah kini bagaikan macan yang lepas dari kandang.Namun, situasi di lapangan jauh dari kata menguntungkan.Tatkala Dominic menawan Sabiya di layar beberapa saat lalu, Roman telah memerintahkan anak buahnya untuk menyerahkan senjata demi keselamatan Sabiya.Akibatnya, saat ini pasukan e
Di dalam ruang kendali yang dipakai Dominic, suasana yang tadinya diliputi euforia kemenangan mendadak berubah menjadi kepanikan.Dominic berdiri terpaku di depan deretan layar monitor. Sepasang matanya yang semula menikmati setiap detik penderitaan Roman, kini membelalak lebar. Seringai di bibirnya membeku, digantikan oleh gelombang amarah yang membakar.Di salah satu layar utama yang menyorot kamar vila, gambar memperlihatkan perubahan drastis pada Sabiya.Ia tak lagi terpuruk di ranjang dalam kondisi kaki yang terbelenggu, melainkan berdiri tegak di hadapan lensa kamera. Wanita itu melambaikan tangan, jelas sedang memberikan isyarat kepada Roman di seberang sana.Namun, yang lebih membuat darah Dominic mendidih adalah keberadaan seorang pria dengan lencana serigala di sampingnya. Itu adalah ciri khas dari pengawal elit klan Valeriano."Sialan!" umpat Dominic. Ia menghantamkan kepalan tangannya ke atas meja, hingga monitor di depannya bergetar hebat."Bagaimana bisa anak buah Roman
Dengan mata kepalanya sendiri, Sabiya masih melihat hantaman demi hantaman yang harus diterima Roman. Pria itu tampak kesakitan, tetapi ia tidak melakukan perlawanan sama sekali.Sementara itu, Violet masih bergeming di kursi sudut ruangan. Meskipun penulis novel thriller itu sudah berhenti mengetik, ia hanya duduk mematung dengan pikiran yang berkecamuk.Isak tangis Sabiya pun terus terdengar seiring dengan kehancuran hatinya.Ia tahu bekas luka dan pukulan yang diterima Roman di Monela belum sepenuhnya pulih. Dan sekarang, pria itu malah menerima penyiksaan keji berikutnya dari Dominic.Jika keadaan ini terus dibiarkan, niscaya tubuh Roman tidak akan sanggup bertahan lebih lama.“Roman, kenapa kau mengingkari janji? Kau bilang akan pulang untuk menikahiku, tapi kau malah membiarkan dirimu disiksa oleh Dominic,” lirih Sabiya di sela-sela tangisnya.Dengan sisa tenaganya, Sabiya berusaha menggeser tubuh agar dia bisa turun dari ranjang. Saat ini, kebebasannya adalah kunci keselamatan
Di dalam kamar vila, udara terasa semakin dingin menggigit tulang. Sabiya masih terduduk lemas di atas ranjang dengan kedua kaki terborgol. Setelah gagal membujuk Violet, Sabiya memilih untuk berdiam diri. Ia bahkan menolak makan malam yang diberikan oleh Samantha.Di dalam hati, Sabiya berharap para pengawal Roman akan datang membebaskan dirinya.Akan tetapi, harapan itu pupus ketika Samantha menyalakan layar monitor besar di kamar. Hanya dalam hitungan menit, siaran langsung dari dalam pabrik baja Lisea tampil di hadapan Sabiya.Begitu melihat figur pria yang menjadi sorotan utama, jantung Sabiya seakan berhenti berdetak.Itu adalah Roman, ayah dari si kembar, sekaligus pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Meskipun jarak mereka terbentang sangat jauh, mata tajam Sabiya langsung menangkap detail kecil yang membuat hatinya mencelus. Cara Roman berdiri tampak begitu kaku, menahan beban tubuh dengan sebelah kaki.Sontak, Sabiya menebak bahwa pria itu telah nekat melepaskan g
“Tandatangani dokumen yang sudah aku siapkan, lalu serahkan Cincin Stempel Serigala Obsidian dari jarimu. Terhitung dari malam ini, aku yang akan memegang komando atas pasukan klan Valeriano!” titah Dominic tanpa jeda.Julian bergegas maju dan menyerahkan sebuah dokumen beserta pena ke tangan Roman. Isi dokumen tersebut berisi surat pengalihan kepemilikan atas Valeriano Corp dan seluruh asetnya ke tangan Dominic.Melihat Roman tak kunjung melakukan perintahnya, Dominic kembali memberikan tekanan.“Lakukan sekarang, atau ibumu akan meledak di depan matamu!”Roman mengepalkan kedua tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Seluruh urat di lehernya menonjol.Terperangkap di antara keselamatan sang ibu dan harga diri klan Valeriano, Roman tidak memiliki banyak pilihan.“Karena kau sangat menginginkan kekuasaan dan kekayaan, aku akan memberikannya padamu,” pungkas Roman.“Asal kau tahu, Dominic, seorang pecundang tidak akan berubah menjadi penguasa yang disegani, walau dia memakai gelar dan
Ban mobil berdecit keras saat bergesekan dengan permukaan halaman pabrik baja yang berkerikil. Cahaya lampu utama kendaraan itu menyorot bangunan industri yang terbengkalai, menciptakan bayangan-bayangan panjang menyerupai monster.Tak berselang lama, pintu mobil terbuka. Roman melangkah keluar, menapakkan kakinya ke tanah dingin berdebu.Begitu ia berdiri tegak di samping mobil, terlihat pergerakan serempak dari balik pilar.Dalam hitungan detik, belasan pengawal bayaran bersenjata lengkap keluar dari persembunyian. Mereka mengepung Roman dari segala penjuru.Roman tidak menunjukkan secuil pun rasa gentar. Wajahnya sedingin es, matanya menatap tajam para pengepung tersebut dengan aura seorang penguasa. Dari tengah kerumunan itu, Julian, yang bertindak sebagai komandan lapangan, melangkah dengan ekspresi sinis. "Selamat datang, Tuan Valeriano," sapa Julian dengan nada penuh sindiran. "Kau benar-benar datang sendirian. Sungguh, anak yang sangat berbakti.”"Bawa aku ke tempat kalian m
Alih-alih memberi sanggahan, Roman justru meletakkan gelasnya di meja. Dengan tatapan lembut yang belum pernah Sabiya lihat sebelumnya, pria itu menoleh kepada Clara."Jangan dengarkan mereka, Clara." Suara Roman rendah dan menenangkan. "Aku punya hadiah untukmu malam ini. Aku tidak mau kau bersedi
Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de
Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan
Tiga tahun menikah dengan Roman Alister, pewaris tunggal keluarga Valeriano, Sabiya tidak pernah diajak ke acara publik.Meski begitu, ia tidak pernah merajuk atau menuntut. Sabiya percaya sang suami melakukan itu sebagai bentuk cintanya yang luar biasa."Klan musuh selalu mencari kelemahanku, Saya







