FAZER LOGINUdara di dalam ruang kerja Jetro terasa sesak, terkuras habis oleh ketegangan yang sedang terjadi.Jetro menyuruh Luca menyimpan kembali surat perceraian itu, sementara Roman masih berdiri tegak dengan sisa-sisa tenaganya. "Aku tidak ingin lantai ruang kerjaku kotor oleh darah," tegas Jetro memecah keheningan. "Bawa dia ke ruang eksekusi!”Luca mengangguk patuh. Ia melangkah maju, lalu mempersilakan Roman keluar dari ruangan. Mereka menuruni tangga besi berputar, menuju tingkat yang lebih dalam di markas besar klan Falcone. Sebuah ruangan isolasi khusus, yang dirancang untuk memberi hukuman pada para pengkhianat.Ruangan tersebut berdinding baja tebal dengan penerangan lampu gantung tunggal. Di tengah ruangan, terdapat meja panjang yang di atasnya terhampar sebuah kotak hitam. Kotak tersebut berisi empat bilah pistol semi-otomatis yang identik. Dari balik salah satu dinding ruangan, terpasang panel kaca dua arah—tempat di mana Jetro Falcone nantinya akan duduk di kursi pengamat. I
Jari-jari Sabiya terasa sedingin es saat ia memegang ponsel. Sementara Dante menatapnya dengan penuh harap.Tut... tut... tut...Nada sambung itu berbunyi lambat, seolah sengaja mempermainkan irama jantung Sabiya yang berdegup kencang. Tidak ada jawaban. Panggilan pertama itu berakhir dengan suara operator otomatis. "Tidak diangkat, Tuan Dante," bisik Sabiya."Coba lagi, Nyonya," pinta Dante dengan nada parau. "Tuan Roman mungkin sedang dalam bahaya.”Dengan telapak tangan yang berkeringat, Sabiya kembali menekan layar ponsel. Ia mengulang panggilan yang sama untuk kedua kalinya, sambil menahan napas.Di dalam hati, Sabiya berdoa agar Jetro bersedia mengangkat teleponnya di tengah ketegangan yang menyelimuti markas besar klan Falcone.Akhirnya, suara sambungan berubah. Nada tunggu terputus, digantikan oleh helaan napas berat dari seberang sana."Ada apa, Biya?" Suara bariton Jetro yang rendah menyapa indra pendengaran Sabiya.Tenggorokan Sabiya tiba-tiba terasa perih. Ia membuka bib
Sabiya mematikan mesin mobilnya, lalu menarik napas dalam-dalam. Ia turun dari mobil dengan langkah kaki yang ditegaskan, meski rongga dadanya berdebar sangat kencang.Ketika Sabiya mendorong pintu kaca kafe, seorang pramusaji bergegas menghampirinya dengan senyuman ramah."Selamat sore, Nona. Apakah Anda teman dari Tuan Dante?" tanya pramusaji itu sopan, seolah kedatangan Sabiya sudah dipersiapkan khusus.Sabiya mengangguk. "Ya, benar.""Silakan ikuti saya. Tuan Dante menunggu Anda di area privat lantai dua," ujar sang pramusaji seraya mempersilakan Sabiya menaiki tangga melingkar.Mereka menaiki anak tangga kayu satu per satu. Lantai dua kafe tersebut ternyata telah dikosongkan dari pengunjung lain. Di dekat jendela besar yang menghadap ke jalan raya kota Denver, duduk seorang pria dengan kemeja hitam.Itu adalah Dante. Asisten pribadi Roman yang selama bertahun-tahun menjadi saksi atas setiap keputusan keras kepala sang kepala klan.Mendengar derap langkah kaki di tangga, Dante la
Telepon dari Dante telah mengusik ketenangan hati Sabiya. Meski raganya berada di dalam gedung kantor, pikirannya melayang jauh menyeberangi batas negara.Sabiya berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya. Ia merapikan berkas-berkas digital, mencetak ulang lembar lampiran, dan memeriksa setiap klausul kontrak dengan teliti. Akan tetapi, jemarinya terasa dingin dan kaku.Sabiya merutuk kesal di dalam hati. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh Roman? Sudah ditolak mentah-mentah, ditampar, bahkan nomor teleponnya diblokir. Namun, pria itu masih saja tidak mau menyerah untuk mengejarnya dan malah nekat pergi ke Monela. Mungkinkah Roman sudah kehilangan akal sehatnya?Mendadak, Sabiya teringat akan kejadian siang tadi di jalanan sepi Caspia. Insiden mencekam saat mobilnya diblokade oleh preman bertopeng, hingga kedatangan Dominic yang menyelamatkannya secara dramatis.Sebuah kecurigaan sontak memenuhi benak Sabiya. Tunggu dulu... mungkinkah para penjahat itu adalah orang suruhan Dante? Ata
Usai perbincangan maut yang mempertaruhkan seluruh hidupnya, pintu ruang kerja Jetro terbuka kembali. Luca melangkah masuk dengan gestur tenang, membawa serta selembar kain hitam di tangannya. Tidak ada kata-kata yang terucap di antara mereka; segalanya sudah disepakati."Waktunya tiba, Tuan Valeriano," ucap Luca datar, mengingatkan aturan mutlak dari ujian pertama yang harus dilalui oleh Roman.Roman tidak membantah. Ia mengangkat dagunya dengan angkuh, lantas menerima kain hitam itu dari tangan Luca. Tanpa diminta dua kali, ia melilitkan kain tersebut ke sekeliling kepalanya, menutup rapat indra penglihatannya dari dunia luar. "Ikuti saya," perintah Luca sambil menuntun lengan Roman keluar dari ruangan.Begitu mereka menyusuri lorong panjang, telinga Roman langsung bekerja bagai radar. Ia terus menghitung langkah demi langkah di dalam kepalanya. Bunyi derit engsel pintu yang berat, menandakan mereka baru saja menerobos batas antara ruang tertutup dan alam bebas.Seketika, hembus
Karena Dominic masih berdiri begitu dekat di sampingnya, Sabiya memutuskan untuk menahan diri. Ia tetap mengabaikan dering yang terus mendesak itu, hingga pintu lift terbuka di lantai delapan. Akan tetapi, seolah tak mau menyerah, benda pipih di dalam tas tangan Sabiya kembali berbunyi.Dominic, yang berjalan di belakang Sabiya, menghentikan langkah. Pria bermata abu-abu itu menatap Sabiya dengan sorot mata penuh selidik."Nona Rosella, silakan angkat teleponnya terlebih dahulu," ucap Dominic. "Saya tidak keberatan menunggu. Jangan biarkan urusan penting Anda terlewat hanya karena kehadiran saya."Sabiya tersenyum kaku, merasa tidak enak karena tamu pentingnya harus terganggu oleh panggilan telepon. "Tidak apa-apa, Tuan Dominic. Saya bisa menerima panggilan itu nanti. Mari, saya antarkan ke ruang meeting," ujar Sabiya sopan.Tanpa menunda lagi, Sabiya memimpin jalan menyusuri koridor menuju ruang meeting. Ia membuka pintu lebar-lebar, lalu mempersilakan sang investor menunggu di dal
Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de
Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan
Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala
Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me







