مشاركة

Bab 4

مؤلف: Wulan
[Aku akan mengirim Shera dan anak itu pergi, lalu memutuskan semua hubungan dengannya.]

[Setelah tubuhmu pulih, kita pergi bulan madu.]

Aku mematikan layar ponselku dengan dingin, sama sekali tidak berniat membalasnya.

Begitu teringat pada anakku yang telah tiada, air mata seketika membasahi bantal.

Aku tidak memiliki banyak ikatan keluarga. Setelah ayahku meninggal, aku sudah tidak memiliki sanak saudara lagi di dunia ini.

Karena itu, aku selalu membayangkan memiliki seorang anak yang terikat darah denganku sendiri.

Akan tetapi, Diego justru membunuh anakku dengan tangannya sendiri.

Aku terus terjaga dengan mata terbuka lebar hingga fajar menyingsing.

Lalu, kupanggil perawat untuk membantuku mengurus proses administrasi keluar dari rumah sakit.

Tepat di saat itulah, Diego melangkah masuk dengan raut wajah muram dan dipenuhi amarah.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia mengayunkan tangannya dan mendaratkan sebuah tamparan keras di wajahku.

Tamparan itu membuat telingaku berdenging keras dan pikiranku seketika menjadi kosong.

Baru setelah aku mengecap rasa anyir dan manis darah di sudut bibirku, aku menyadari apa yang baru saja terjadi.

Dia menjambak rambutku, lalu menekan wajahku ke layar ponselnya.

Di layar itu, terpampang topik hangat yang sedang meledak di internet.

[Bintang penyanyi yang sedang naik daun, Shera Ardian, melahirkan anak di luar nikah, foto-foto tidak senonoh masa lalunya terbongkar.]

Di bawah topik hangat tersebut, bertebaran foto-foto Shera saat diculik dan diperkosa di masa mudanya.

Suara pria itu terdengar luar biasa dingin.

"Zia, aku bahkan sudah ngalah, tapi kenapa kamu masih tega melakukan ini?"

"Kamu tahu nggak, tindakanmu ini bisa menghancurkannya!"

"Aku butuh waktu sepuluh tahun nemenin dia biar bisa sembuh dari depresi, tapi kamu malah hancurin semuanya!"

Aku mendengarkan semua itu dengan bingung, lalu langsung membantahnya.

"Bukan aku yang lakuin itu."

Akan tetapi, pria itu sudah tidak mau lagi mendengarkan penjelasanku. Dia menyeretku masuk ke sebuah ruangan.

Lampu di dalam ruangan itu menyala terang benderang seperti siang hari.

Di hadapanku, berdiri sebaris pria yang sama sekali tidak mengenakan pakaian.

Di setiap sudut ruangan, terpasang kamera video yang sudah siap merekam.

Jantungku seketika jatuh ke dasar jurang. Aku langsung mencengkeram lengan Diego.

"Kamu mau lakuin apa ke aku?"

Sudut bibirnya terangkat, membentuk seulas senyuman yang terlihat sangat mengerikan.

"Kamu 'kan ada di industri ini, masa nggak paham?"

"Cara paling cepat buat nurunin topik hangat, ya pakai topik hangat lain yang jauh lebih besar buat alihkan perhatian."

Saat mengatakan itu, sorot matanya tampak makin gila.

"Kamu itu aktris terbaik. Begitu foto-foto kamu diperkosa orang tersebar luas, nggak bakal ada lagi yang peduli sama urusan Shera."

Pada detik ini, aku sampai lupa cara bernapas.

Aku menatap pria di hadapanku dengan tidak percaya.

Aku ini istrinya. Aku baru saja kehilangan seorang anak karena ulahnya.

Akan tetapi, demi Shera, dia malah tega menyerahkan tubuhku untuk digilir oleh orang lain.

Diego menyentak tanganku sampai terlepas, lalu berjalan menuju pintu.

Dengan suara dingin, dia memberi perintah kepada para pria itu, "Cepat."

Setelah mengatakan itu, dia melangkah keluar dari ruangan.

Aku langsung menerjang ke depan dan menggedor pintu dengan sekuat tenaga.

"Diego, keluarin aku dari sini!"

"Bukan aku yang lakuin itu, keluarin aku!"

"Aku mohon!"

Akan tetapi, di luar pintu, selain deru mesin mobil yang menjauh, tidak ada satu pun orang yang menyahut.

Tubuhku perlahan merosot jatuh ke lantai, menyusuri dinding.

Saat orang-orang itu mulai mengerumuniku, menindihku, dan menelanjangi pakaianku dengan paksa, aku hanya bisa memejamkan mata dengan penuh keputusasaan.

Entah berapa lama telah berlalu, lampu di dalam ruangan akhirnya meredup.

Aku tergeletak di tengah ruangan seperti seekor ikan yang sudah kehilangan nyawanya.

Tidak ada satu pun bagian tubuhku yang tersisa tanpa luka dan darah di bawah tubuhku terus mengalir, perlahan-lahan mewarnai lantai menjadi merah pekat.

Sedikit demi sedikit, aku merangkak menuju vas bunga yang berada di dekat pintu.

Dengan seluruh sisa tenagaku, aku mendorongnya hingga jatuh dan pecah.

Begitu mendengar suara vas itu pecah berkeping-keping, aku memungut sepotong pecahannya, dan tanpa ragu sedikit pun, langsung kusayat pergelangan tanganku.

Di tengah kesadaranku yang mulai berangsur kabur, tiba-tiba pintu itu didobrak dari luar.

Sebuah bayangan tubuh yang tinggi besar menerobos masuk. Dia mengangkat dan mendekap tubuhku, lalu berteriak dengan putus asa.

"Siapa yang lakuin ini? Siapa? Aku akan membunuhnya!"

Sementara itu, di tempat lain, Diego baru saja melangkah masuk ke rumah sakit ketika dia tiba-tiba melihat layar besar di pusat perbelanjaan seberang.

Layar itu sedang menayangkan sebuah video tanpa sensor dan suara jeritan kesakitanku langsung menggema, menusuk gendang telinganya.

Kedua matanya terbelalak lebar, menatap layar besar itu dengan tidak percaya.

Dia hanya memerintahkan mereka untuk mengambil foto sebagai formalitas, tetapi kenapa yang tersebar malah video?

Rasa panik seketika menjalar ke dalam hatinya. Dengan jari-jari yang gemetar hebat, dia langsung menelepon asistennya.

Dia membentak ke seberang telepon, "Hapus! Cepat hapus semua video Zia sekarang juga!"

Akan tetapi, di saat yang sama, layar besar itu mendadak menyiarkan sebuah berita duka.

[Aktris terbaik peraih tiga penghargaan utama, Zia Irawan, memilih mengakhiri hidupnya karena malu pasca diperkosa. Korban dinyatakan meninggal dunia setelah upaya penyelamatan gagal.]

Tubuh pria itu seketika limbung, hampir tidak mampu berdiri.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Setelah Badai Berlalu, Hidup Ini Belum Terlambat   Bab 10

    "Semua ini berkat Paul yang tiba-tiba muncul dan menghajarku waktu itu.""Alasan aku nggak langsung datang buat nemuin kamu, karena ...."Dia menarik sedikit ujung celananya ke atas, memperlihatkan sebuah gelang kaki elektronik yang terpasang di sana.Dengan nada pasrah, dia berkata, "Aku sudah sewa pengacara ternama dan menjalani proses hukum yang panjang.""Cuma demi bisa dapat masa percobaan satu tahun.""Supaya punya kesempatan untuk datang dan nemuin kamu.""Aku tahu, apa pun yang aku katakan atau lakukan sekarang, mungkin kamu tetap nggak akan memaafkanku.""Tapi, aku tetap ingin datang buat menemuimu.""Ingin mastiin sendiri, apa kamu hidup dengan baik atau nggak.""Maafkan aku, semua ini salahku.""Aku mencintaimu, Zia. Harusnya aku bisa lebih cepat menyadari isi hatiku yang sebenarnya.""Orang yang aku cintai itu kamu. Waktu dengar kabar kematianmu dulu, aku ....""Cindy, ayo cepat ke sini!"Teman satu rombonganku berteriak memanggil dari depan.Ucapan Diego belum sepenuhnya s

  • Setelah Badai Berlalu, Hidup Ini Belum Terlambat   Bab 9

    Dua tahun kemudian, aku sedang duduk di sebuah kafe di Negara Oakhaven.Aku sedang mendengarkan siaran radio dari tanah air.[Dikabarkan bahwa mantan Presiden Direktur Grup Bastian, Diego Bastian, telah didakwa oleh pihak kejaksaan atas kasus penghasutan pemerkosaan dan pembunuhan berencana. Setelah proses persidangan yang panjang selama dua tahun, hakim akhirnya menjatuhkan vonis hukuman penjara seumur hidup dengan masa percobaan satu tahun, serta pencabutan hak politik seumur hidup.]Mendengar berita itu, kopi di tanganku sempat sedikit bergoyang.Akan tetapi, permukaan kopi itu kembali tenang.Suara langkah kaki Paul yang tergesa-gesa terdengar dari arah belakangku."Kak Zia, barangmu ada yang ketinggalan lagi nih."Sambil berkata begitu, dia menyodorkan tas milikku."Yakin nggak mau aku temenin?"Aku tersenyum, lalu menggelengkan kepala."Rombongan pendakianku ini isinya perempuan semua, kamu yakin mau ikut?"Paul langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.Dia paling malas kala

  • Setelah Badai Berlalu, Hidup Ini Belum Terlambat   Bab 8

    "Keluarin aku! Keluarin aku dari sini! Aku nggak mau tinggal di sini!"Pintu pun ditutup dan dikunci rapat-rapat.Diego kemudian melangkah masuk ke ruangan lain.Tanpa basa-basi, dia langsung menendang tubuh Rian dengan keras.Diego melirik laporan hasil tes DNA dibuat secara kilat.Dia kembali tertawa sinis."Berani-beraninya kalian bersekongkol menipuku!"Rian mengerang kesakitan, tetapi dia masih memaksakan seulas senyum sinis."Pak Diego, mau Anda percaya atau nggak, saya juga dibohongi sama dia."Diego tidak menyahut.Sembari berbalik untuk pergi, Diego mengucapkan setiap kalimatnya dengan penekanan yang tajam."Bawa anakmu dan enyah dari sini."Rian buru-buru bertanya."Terus, gimana sama dia?"Langkah kaki Diego seketika terhenti.Suaranya terdengar sedingin es."Dia harus menyusul Zia untuk menebus dosanya."Diego hanya duduk diam di luar pintu.Dari dalam ruangan, terdengar jelas suara makian dan jeritan histeris Shera."Jangan sentuh aku! Pergi! Jangan sentuh aku!""Diego, ak

  • Setelah Badai Berlalu, Hidup Ini Belum Terlambat   Bab 7

    Diego sama sekali tidak memedulikannya. Dia justru menyodorkan layar ponsel yang menampilkan email waktu itu ke hadapan Shera.Suaranya terdengar tenang dan lambat, tetapi mampu mengalirkan rasa dingin yang menusuk tulang."Email ini kamu yang kirim, 'kan?"Mata Shera seketika membelalak, dia bergumam lirih."Padahal sudah aku hapus, kok bisa ...."Diego tidak bisa menahan tawa getirnya.Akan tetapi, sepasang matanya mulai merah.Dia benar-benar tidak bisa menerima kenyataan bahwa hanya karena trik murahan seperti ini.Dia telah menyudutkan istrinya sendiri ke jalan kematian.Tiba-tiba dia mencekik leher Shera."Kenapa kamu tega lakuin ini? Dia itu sahabat terbaikmu, kenapa kamu harus bikin dia mati!""Zia nggak punya salah apa-apa! Kita yang selingkuh dan berkhianat. Kita yang salah!""Kamu pantas mati! Aku bakal bunuh kamu buat menebus dosa ke Zia!"Wajah Shera merah padam karena tercekik. Dia sudah hampir kehabisan napas.Rian segera menarik paksa Diego agar melepaskan cengkeramanny

  • Setelah Badai Berlalu, Hidup Ini Belum Terlambat   Bab 6

    Barulah saat itu dia menyadari, orang yang kemarin masih hidup di sisinya, kini telah berubah menjadi sebuah kotak kecil.Tangis Diego mendadak pecah, dia terisak hebat."Maaf, maafin aku!"Akan tetapi, sudah tidak ada lagi yang menjawabnya.Tidak akan ada lagi orang yang menatapnya dengan mata berbinar, lalu membawakannya semangkuk sup hangat di tengah malam.Dia membiarkan rasa sakit di lambungnya terus bergejolak.Seolah-olah dia sengaja menghukum dirinya sendiri.Padahal obat pereda nyeri ada di dalam laci tepat di samping ranjang, tetapi dia sama sekali tidak bergerak.Dia hanya mendekap erat kotak itu, sangat takut kalau benda itu akan lenyap di detik berikutnya.Sampai akhirnya, terdengar suara kunci pintu yang diputar.Sang asisten melangkah masuk ke dalam.Dengan kikuk, dia berkata, "Pak Diego, Nona Shera mencari Anda."Kedua mata Diego yang semula tak bernyawa baru bergerak sedikit.Dengan suara serak, dia bertanya."Kenapa masalahnya bisa jadi seperti ini?"Asisten itu menja

  • Setelah Badai Berlalu, Hidup Ini Belum Terlambat   Bab 5

    Saat Diego tiba di rumah duka, upacara pemakamannya sudah dimulai.Di tengah suara tangisan yang bersahut-sahutan, dia mendongak dan menatap foto hitam-putih yang terpajang di altar.Secara refleks, dia mengucek kedua matanya.Dia mengira dirinya salah lihat.Akan tetapi, begitu dia melangkah mendekat, dia tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri.Diego menatap semua yang ada di hadapannya dengan tatapan kosong dan linglung.Dia bergumam lirih, "Nggak mungkin. Ini nggak mungkin!""Aku nggak pernah menyangka dia akan meninggal."Sang manajer, Yola, dengan mata yang merah karena menangis, menatapnya dengan penuh amarah."Ngapain kamu ke sini?""Pergi kamu! Pergi dari sini!""Kak Zia nggak sudi lihat muka kamu. Cepat pergi!"Diego masih tenggelam dalam rasa syok setelah mendengar kabar kematianku.Dia sama sekali tidak marah mendengar usiran itu.Sebaliknya, dia malah menatap Yola dengan penuh harap."Dia belum mati, 'kan? Di mana kamu sembunyiin Zia?""Panggil dia keluar dan suruh dia

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status