แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Wulan
Sepasang mata Diego tampak merah, menyeramkan bak iblis dari neraka.

"Zia, Shera bunuh diri."

"Karena ucapanmu itu."

Aku terpaku di tempat. "Apa maksudmu?"

Pria itu berteriak marah ke arahku dengan emosi meluap-luap, "Kamu tahu sendiri dia baru saja melahirkan dan emosinya nggak stabil, kenapa kamu harus memprovokasinya?"

Belum sempat aku menjawab, dia sudah menyeretku masuk ke dalam mobil.

"Golongan darahmu dan dia sama-sama Rhesus Negatif, cuma kamu yang bisa menyelamatkannya!"

Dia menerobos beberapa lampu merah berturut-turut, lalu menyeret tubuhku masuk ke rumah sakit.

"Dokter, golongan darah dia Rhesus Negatif. Dia bisa mendonorkan darahnya!"

Saat bicara, seluruh tubuh pria itu gemetar hebat.

Aku tidak pernah melihat sosok Diego yang begitu kacau seperti ini.

Aku hanya berdiri terpaku, pikiranku kosong sepenuhnya.

Seperti boneka yang ditarik benang, aku membiarkan dia menyeretku ke ruang pengambilan darah.

Membiarkan tangan kasarnya menggulung lengan bajuku dengan paksa.

Aku tidak bereaksi pada apa pun di sekitarku. Seluruh pikiranku hanya dipenuhi oleh bayangan betapa panik dan cemasnya Diego demi Shera.

Sampai akhirnya, suara dokter terdengar di telingaku, "Maaf, Tuan, Nona ini sedang hamil. Dia nggak cocok untuk mendonorkan darah."

Aku refleks menyentuh perutku, masih linglung.

Akan tetapi, di detik berikutnya, yang terdengar justru teriakan penuh amarah dari Diego.

"Aku bilang ambil darahnya! Aku nggak butuh anak itu. Aku cuma mau Shera!"

Seluruh darah di tubuhku seakan membeku seketika, tetapi air mata langsung mengalir tanpa bisa dibendung.

"Diego, anak ini darah dagingmu sendiri."

Akan tetapi, pria itu masih saja berteriak, menyuruh orang-orang untuk menusukkan jarum donor itu ke tanganku.

"Diego!"

"Diego!"

"Kamu nggak boleh menyentuh anakku!"

Aku langsung mencabut jarum itu lalu berbalik hendak lari.

Akan tetapi, baru melangkah satu langkah, tubuhku sudah dicengkeram dengan sangat kuat hingga tak bisa bergerak.

Diego benar-benar sudah seperti orang kesurupan.

Pria itu menangkup wajahku. Nadanya terdengar tenang, tetapi begitu dingin hingga membuat sekujur tubuhku gemetar.

"Zia, pergilah dan donorkan darahmu untuk Shera."

Aku ditekan dan ditahan oleh empat orang pengawal di dalam ruang pengambilan darah.

Kantong demi kantong darah diambil dari tubuhku, lalu dikirimkan ke dalam ruang instalasi gawat darurat tempat Shera diselamatkan.

Wajahku perlahan-lahan berubah pucat pasi.

Hingga akhirnya aku tidak sanggup lagi bertahan dan langsung jatuh tak sadarkan diri.

Saat aku terbangun, tiga hari telah berlalu.

Dokter memberi tahu dengan hati-hati bahwa akibat kehilangan darah yang sangat parah, aku sempat mengalami koma dan anakku tidak bisa diselamatkan.

Tatapanku kosong dan mati rasa, tepat saat sepasang mata Shera yang berlinang air mata menatap ke arahku.

"Zia, kamu sudah tahu semuanya, 'kan?"

"Maafkan aku. Aku merasa sangat bersalah kepadamu. Waktu itu aku lagi kalap makanya nekat. Aku bener-bener nggak nyangka Diego bakal bertindak sejauh itu."

Dia menangis tersedu-sedu di tepi ranjang rumah sakitku.

Tangisannya terdengar begitu nyaring, sementara luka di pergelangan tangannya hanya dibalut dengan selembar plester luka.

Sama sekali tidak terlihat seperti kondisi kritis yang digembar-gemborkan oleh Diego.

Dia tiba-tiba menegakkan tubuhnya, seolah-olah baru saja mengambil sebuah keputusan bulat.

"Zia, mulai sekarang, anakku adalah anakmu juga."

Sebuah gelombang amarah membuncah di dadaku, membuatku berteriak dengan suara yang parau.

"Pergi!"

Shera tersentak kaget.

Dia menatapku dengan tatapan mata yang terluka.

Tiba-tiba, dia mencengkeram tanganku dan menggunakannya untuk menampar pipinya sendiri.

"Aku tahu penjelasan apa pun sekarang sudah terlambat, tapi aku nggak mau kehilangan kamu sebagai sahabatku."

"Pukul saja aku! Asalkan kamu bisa memaafkanku, kamu boleh meluapkan amarahmu sesukamu!"

Saat dia kembali mencengkeram tanganku untuk dilayangkan ke wajahnya, entah sejak kapan Diego sudah berdiri di ambang pintu.

Pria itu melangkah maju dengan tergesa-gesa, lalu menarik Shera menjauh dariku.

Di tengah aksi tarik-menarik itu, tubuhku ikut terseret hingga jatuh terjerembab dengan keras ke lantai.

Darah kembali merembes dari bawah tubuhku. Aku mengerang kesakitan sambil memanggil dokter.

Baru saat itulah, Diego seolah tersadar. Dia melepaskan pelukannya pada Shera dan hendakn maju untuk membantuku berdiri.

Akan tetapi, tangisan Shera langsung menghentikannya.

"Diego, ini semua gara-gara kamu, Bajingan! Zia benar-benar marah padaku! Aku bakal kehilangan satu-satunya temanku!"

Diego bergegas menenangkannya, "Iya, iya, ini semua salahku. Kamu jangan emosi dulu."

"Aku antar kamu pulang dulu. Bayimu nggak bisa jauh darimu."

Sembari menatap punggung mereka yang menjauh, aku menggertakkan gigi dan berkata, "Diego, seumur hidup aku nggak akan pernah memaafkan kalian."

Langkah kaki pria itu sempat berhenti, tetapi dia sama sekali tidak menoleh.

Sepuluh menit kemudian, tanpa diduga, dia mengirimkan sebuah pesan singkat.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Setelah Badai Berlalu, Hidup Ini Belum Terlambat   Bab 10

    "Semua ini berkat Paul yang tiba-tiba muncul dan menghajarku waktu itu.""Alasan aku nggak langsung datang buat nemuin kamu, karena ...."Dia menarik sedikit ujung celananya ke atas, memperlihatkan sebuah gelang kaki elektronik yang terpasang di sana.Dengan nada pasrah, dia berkata, "Aku sudah sewa pengacara ternama dan menjalani proses hukum yang panjang.""Cuma demi bisa dapat masa percobaan satu tahun.""Supaya punya kesempatan untuk datang dan nemuin kamu.""Aku tahu, apa pun yang aku katakan atau lakukan sekarang, mungkin kamu tetap nggak akan memaafkanku.""Tapi, aku tetap ingin datang buat menemuimu.""Ingin mastiin sendiri, apa kamu hidup dengan baik atau nggak.""Maafkan aku, semua ini salahku.""Aku mencintaimu, Zia. Harusnya aku bisa lebih cepat menyadari isi hatiku yang sebenarnya.""Orang yang aku cintai itu kamu. Waktu dengar kabar kematianmu dulu, aku ....""Cindy, ayo cepat ke sini!"Teman satu rombonganku berteriak memanggil dari depan.Ucapan Diego belum sepenuhnya s

  • Setelah Badai Berlalu, Hidup Ini Belum Terlambat   Bab 9

    Dua tahun kemudian, aku sedang duduk di sebuah kafe di Negara Oakhaven.Aku sedang mendengarkan siaran radio dari tanah air.[Dikabarkan bahwa mantan Presiden Direktur Grup Bastian, Diego Bastian, telah didakwa oleh pihak kejaksaan atas kasus penghasutan pemerkosaan dan pembunuhan berencana. Setelah proses persidangan yang panjang selama dua tahun, hakim akhirnya menjatuhkan vonis hukuman penjara seumur hidup dengan masa percobaan satu tahun, serta pencabutan hak politik seumur hidup.]Mendengar berita itu, kopi di tanganku sempat sedikit bergoyang.Akan tetapi, permukaan kopi itu kembali tenang.Suara langkah kaki Paul yang tergesa-gesa terdengar dari arah belakangku."Kak Zia, barangmu ada yang ketinggalan lagi nih."Sambil berkata begitu, dia menyodorkan tas milikku."Yakin nggak mau aku temenin?"Aku tersenyum, lalu menggelengkan kepala."Rombongan pendakianku ini isinya perempuan semua, kamu yakin mau ikut?"Paul langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.Dia paling malas kala

  • Setelah Badai Berlalu, Hidup Ini Belum Terlambat   Bab 8

    "Keluarin aku! Keluarin aku dari sini! Aku nggak mau tinggal di sini!"Pintu pun ditutup dan dikunci rapat-rapat.Diego kemudian melangkah masuk ke ruangan lain.Tanpa basa-basi, dia langsung menendang tubuh Rian dengan keras.Diego melirik laporan hasil tes DNA dibuat secara kilat.Dia kembali tertawa sinis."Berani-beraninya kalian bersekongkol menipuku!"Rian mengerang kesakitan, tetapi dia masih memaksakan seulas senyum sinis."Pak Diego, mau Anda percaya atau nggak, saya juga dibohongi sama dia."Diego tidak menyahut.Sembari berbalik untuk pergi, Diego mengucapkan setiap kalimatnya dengan penekanan yang tajam."Bawa anakmu dan enyah dari sini."Rian buru-buru bertanya."Terus, gimana sama dia?"Langkah kaki Diego seketika terhenti.Suaranya terdengar sedingin es."Dia harus menyusul Zia untuk menebus dosanya."Diego hanya duduk diam di luar pintu.Dari dalam ruangan, terdengar jelas suara makian dan jeritan histeris Shera."Jangan sentuh aku! Pergi! Jangan sentuh aku!""Diego, ak

  • Setelah Badai Berlalu, Hidup Ini Belum Terlambat   Bab 7

    Diego sama sekali tidak memedulikannya. Dia justru menyodorkan layar ponsel yang menampilkan email waktu itu ke hadapan Shera.Suaranya terdengar tenang dan lambat, tetapi mampu mengalirkan rasa dingin yang menusuk tulang."Email ini kamu yang kirim, 'kan?"Mata Shera seketika membelalak, dia bergumam lirih."Padahal sudah aku hapus, kok bisa ...."Diego tidak bisa menahan tawa getirnya.Akan tetapi, sepasang matanya mulai merah.Dia benar-benar tidak bisa menerima kenyataan bahwa hanya karena trik murahan seperti ini.Dia telah menyudutkan istrinya sendiri ke jalan kematian.Tiba-tiba dia mencekik leher Shera."Kenapa kamu tega lakuin ini? Dia itu sahabat terbaikmu, kenapa kamu harus bikin dia mati!""Zia nggak punya salah apa-apa! Kita yang selingkuh dan berkhianat. Kita yang salah!""Kamu pantas mati! Aku bakal bunuh kamu buat menebus dosa ke Zia!"Wajah Shera merah padam karena tercekik. Dia sudah hampir kehabisan napas.Rian segera menarik paksa Diego agar melepaskan cengkeramanny

  • Setelah Badai Berlalu, Hidup Ini Belum Terlambat   Bab 6

    Barulah saat itu dia menyadari, orang yang kemarin masih hidup di sisinya, kini telah berubah menjadi sebuah kotak kecil.Tangis Diego mendadak pecah, dia terisak hebat."Maaf, maafin aku!"Akan tetapi, sudah tidak ada lagi yang menjawabnya.Tidak akan ada lagi orang yang menatapnya dengan mata berbinar, lalu membawakannya semangkuk sup hangat di tengah malam.Dia membiarkan rasa sakit di lambungnya terus bergejolak.Seolah-olah dia sengaja menghukum dirinya sendiri.Padahal obat pereda nyeri ada di dalam laci tepat di samping ranjang, tetapi dia sama sekali tidak bergerak.Dia hanya mendekap erat kotak itu, sangat takut kalau benda itu akan lenyap di detik berikutnya.Sampai akhirnya, terdengar suara kunci pintu yang diputar.Sang asisten melangkah masuk ke dalam.Dengan kikuk, dia berkata, "Pak Diego, Nona Shera mencari Anda."Kedua mata Diego yang semula tak bernyawa baru bergerak sedikit.Dengan suara serak, dia bertanya."Kenapa masalahnya bisa jadi seperti ini?"Asisten itu menja

  • Setelah Badai Berlalu, Hidup Ini Belum Terlambat   Bab 5

    Saat Diego tiba di rumah duka, upacara pemakamannya sudah dimulai.Di tengah suara tangisan yang bersahut-sahutan, dia mendongak dan menatap foto hitam-putih yang terpajang di altar.Secara refleks, dia mengucek kedua matanya.Dia mengira dirinya salah lihat.Akan tetapi, begitu dia melangkah mendekat, dia tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri.Diego menatap semua yang ada di hadapannya dengan tatapan kosong dan linglung.Dia bergumam lirih, "Nggak mungkin. Ini nggak mungkin!""Aku nggak pernah menyangka dia akan meninggal."Sang manajer, Yola, dengan mata yang merah karena menangis, menatapnya dengan penuh amarah."Ngapain kamu ke sini?""Pergi kamu! Pergi dari sini!""Kak Zia nggak sudi lihat muka kamu. Cepat pergi!"Diego masih tenggelam dalam rasa syok setelah mendengar kabar kematianku.Dia sama sekali tidak marah mendengar usiran itu.Sebaliknya, dia malah menatap Yola dengan penuh harap."Dia belum mati, 'kan? Di mana kamu sembunyiin Zia?""Panggil dia keluar dan suruh dia

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status