Share

Bab 6

Penulis: Aldo Kapak
"Tentu saja. Bisa dibilang, aku cuma sedang beruntung. Pemilik sebelumnya itu teman pamanku, jadi aku bisa mengambil alih perusahaan itu tanpa hambatan."

Rosie menyandarkan siku di atas meja, matanya yang lebar dan jernih menatap Radit dengan tatapan tidak biasa.

Gadis ini sama sekali tidak menyembunyikan ketertarikannya pada Radit.

Radit menatapnya selama lima detik, lalu menyerah.

Dia berbalik ke samping dan mengambil sebuah buku, berkata, "Kamu itu direktur perusahaan, punya tanggung jawab perkembangan perusahaan. Selama ada proyek, harus dikerjakan dengan baik. Apalagi perusahaan yang baru diambil alih, nggak boleh lengah. Pembukuan dan perpajakan itu sangat penting. Jangan sampai ada masalah tersembunyi yang tiba-tiba muncul di kemudian hari. Dalam bisnis, jangan terlalu percaya pada hubungan kerabat yang berbelit-belit."

"Hehe, Pak Radit, kamu mengkhawatirkan aku, ya?"

Mata Rosie berbinar, tidak bisa menahan diri untuk mengulurkan tangan ingin mencubit pipi Radit.

"Jangan bercanda."

Wajah Radit datar. Dia menghentikan tangan Rosie dan mendorongnya perlahan.

Tak disangka, Rosie memanfaatkan kesempatan itu untuk menggenggam tangan Radit dan berkata dengan nada sedikit terharu, "Pak Radit, aku belum punya pacar selama empat tahun kuliah. Kamu tahu perasaanku. Istrimu nggak cocok untukmu. Ceraikan saja dia. Aku suka ...."

"Rosie."

Radit menarik tangannya, nada suaranya menjadi lebih serius. "Ada beberapa hal yang sebaiknya nggak kita ucapkan. Kita masih bisa berteman."

Wajah Rosie mendadak muram.

"Kamu bilang istriku nggak cocok untukku? Apa maksudmu?" tanya Radit tiba-tiba.

Rosie meliriknya, seolah ingin bicara tapi menahan diri.

Melihat raut wajahnya yang ingin bicara tapi tidak berani, hati Radit tersentak tajam. Dia memaksa diri untuk tenang kembali, lalu berkata dengan nada datar, "Jangan takut, katakan saja apa yang kamu pikirkan."

"Kalau begitu, aku bilang saja, tapi jangan salahkan aku. Pertama-tama, aku tegaskan kalau semua ini cuma gosip yang aku dengar. Aku nggak bisa memastikan kebenarannya."

Rosie meliriknya dengan hati-hati. Setelah melihat Radit mengangguk, barulah dia mulai berbicara perlahan.

"Istrimu cukup terkenal di kalangan bisnis Selanta, kamu pasti tahu."

Dengan penampilan dan tubuh yang sempurna, ditambah lagi sebagai direktur grup senilai puluhan triliun, sulit baginya untuk tidak jadi terkenal. Lilian bisa dibilang adalah impian banyak pria di Selanta.

"Karena sedang mengakuisisi perusahaan, pamanku mengadakan jamuan makan malam untukku. Di jamuan itulah aku nggak sengaja dengar orang-orang membicarakan istrimu. Mereka bilang ...."

Rosie ragu-ragu lagi, dan hati Radit semakin tegang. Dia agak tidak ingin tahu dan ingin menghindar, tapi akal sehatnya membuatnya membuka mulut dengan wajah serius. "Lanjutkan."

"Mereka bilang istrimu punya pergaulan bebas dan suka main! Dan ... dan masuk keluar hotel bersama orang penting. Bahkan ada orang lihat langsung istrimu dansa dengan orang penting itu di jamuan makan malam."

Hati Radit terasa tercabik, rasa sakit yang tak terlukiskan menyebar, dan tinjunya langsung mengepal, urat-uratnya menonjol.

Rosie tidak akan berbohong padanya, setidaknya dia masih punya kepercayaan itu.

Mengingat kembali apa yang telah disaksikannya kemarin, Radit merasakan berbagai macam emosi. Seolah-olah sebuah lukisan sempurna telah disobek, memperlihatkan sisi lain yang kotor dan menjijikkan.

Apakah Lilian benar-benar orang seperti itu?

Apakah selama ini hanya pura-pura?

Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika kata-kata Rosie memang benar. Keluarganya pasti akan hancur berantakan.

"Pak Radit, kamu ... kamu nggak apa-apa?" Rosie mengulurkan tangannya, meletakkan di atas tangan Radit yang terkepal, bertanya dengan penuh kekhawatiran.

Radit sedang sangat kalut, tapi memaksakan senyuman, berkata, "Aku baik-baik saja, Rosie. Pulanglah dulu, lain kali aku akan traktir kamu makan."

Rosie merasa khawatir, tapi dia juga tahu bahwa tidak pantas baginya untuk tetap di sini. Dia harus memberi Radit sedikit ruang. Dia menggigit bibir merahnya dan berbisik, "Jangan terlalu dipikirkan. Semuanya pasti akan berlalu. Apa pun yang terjadi di masa depan, setidaknya ... setidaknya masih ada aku menemanimu."

Setelah mengatakan itu, dia melangkah pergi sambil terus menoleh ke belakang, meninggalkan perpustakaan.

Radit merasa kacau balau, duduk terpaku sambil melamun, pikirannya berkeliaran.

Perpustakaan mulai ramai.

Bunyi dering telepon membangunkannya, dan dia baru menyadari bahwa satu jam telah berlalu.

Melihat istrinya menelepon, hati Radit terasa sakit. Dia tidak tahu apakah semua itu benar atau tidak, tapi tidak akan ada asap tanpa api ....

Dia menarik napas dalam-dalam, mengangkat telepon. "Halo."

"Sayang, kamu sudah sampai di kampus?"

"Sudah sampai sejak tadi. Aku barusan ketemu Rosie."

"Huh, bicaramu nggak ada manis-manisnya sama sekali! Rosie yang naksir kamu itu, 'kan? Haha, dia belum menyerah juga. Sayang sekali, kamu suamiku. Dia nggak punya kesempatan!"

Radit tidak tahu harus menjawab apa, terdiam sejenak.

Dia orang yang sangat rasional. Dia tahu betul perasaan Rosie kepadanya, jadi dia menjaga jarak dan tidak menyembunyikan apa pun dari istrinya.

"Halo! Halo! Kenapa kamu diam saja? Jangan-jangan, kamu juga punya perasaan ke dia ...." Lilian terkejut, merasakan ada yang aneh dari perilaku Radit, dan nada suaranya terdengar agak cemas.

"Nggak mungkin, jangan mikir yang nggak-nggak." Radit menjawab dengan tenang.

"Hmph, menurutku juga begitu. Aku nanti malam nggak lembur, jadi masak saja di rumah. Aku sudah lama nggak makan masakan suamiku."

"Oke."

"Ya sudah, aku pergi rapat dulu. Sampai jumpa malam ini, aku tutup dulu."

"Tunggu!" seru Radit tanpa sadar.

"Sayang, kenapa? Kamu agak aneh hari ini." Lilian bertanya dengan bingung.

Radit menarik napas dalam-dalam dan berbicara dengan tenang.

"Kamu ... nggak menyembunyikan apa pun dariku, 'kan? Atau melakukan sesuatu yang mengkhianatiku?"

Dia tidak bisa menahan diri. Dia harus bertanya.

Dia tidak bisa pura-pura sayang sambil diam-diam mengumpulkan bukti untuk menyergap perselingkuhan.

Mendengar pertanyaan ini, wajah Lilian sedikit memucat, seolah ketakutan.

Setelah beberapa saat, dia baru berbisik, "Sayang, kamu masih menyalahkanku soal kemarin? Kemarin beneran cuma kecelakaan. Aku minta maaf, aku nggak mempertimbangkan perasaanmu. Aku janji nggak akan melakukannya lagi, percayalah padaku."

"Oke."

Radit tidak bertanya lagi, langsung menutup telepon.

Kemudian, dia berdiri dan langsung keluar dari perpustakaan.

Kembali ke mobil, tatapannya berubah.

Sebelumnya jernih dan teguh, kini menjadi tajam dan tenang.

Dari sosok yang tenang dan rendah hati, menjelma menunjukkan taringnya yang mematikan.

"Lilian, kamu bohong lagi."

"Aku suamimu, aku kenal kamu. Kamu mandiri, kuat, dan keras kepala. Kejadian kemarin sudah berlalu. Kenapa sikapmu hati-hati waktu aku tanyai lagi? Kalau kamu memang nggak menyembunyikan apa-apa, kamu pasti akan menuntut penjelasan dan memaksaku minta maaf."

"Tapi nggak. Kamu malah minta maaf. Kamu nggak begitu."

"Jadi, kamu bohong!"

"Kamu sedang mengujiku. Kamu menyembunyikan sesuatu, sesuatu ... yang kamu takut aku ketahui."

Radit bergumam pelan di dalam mobil, matanya memerah, bahkan air mata mulai menggenang.

Kenapa berbohong? Apa yang dia sembunyikan?

Hanya ada satu kemungkinan. Yaitu, hal-hal ini kotor dan memalukan. Jika terungkap, pasti akan menodai perasaan dan menodai pernikahan mereka.

Itulah mengapa Lilian tidak berani memberitahunya. Itulah mengapa Liana begitu berhati-hati dan ketakutan.

Sambil menarik napas dalam-dalam, mata Radit menajam. Pikirannya telah terbentuk, dan dia siap untuk bertindak.

Dia tidak ingin mencari kebenaran apa pun.

Hanya ada satu jalan yang dia pilih, yaitu memperkuat dirinya sendiri.

Jika suatu hari nanti dia menjadi orang terkaya di Selanta, dia akan menginjak-injak para orang penting itu di bawah kakinya.

Saat itu, kebenaran apa pun, fakta apa pun, akan tergeletak gamblang di hadapannya!
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 50

    Pukul 10 pagi, Radit tiba di depan kantor Bahtera Konstruksi.Begitu masuk, pemandangannya menakjubkan. Para karyawan tampak sangat bersemangat, bekerja dengan giat.Area kantor dipenuhi suara ketikan keyboard.Tampaknya, pernyataan Rosie dalam konferensi pers itu sangat efektif dan menginspirasi.Radit menggelengkan kepala, berpikir dalam hati, ‘Kalian belum tahu, bos kalian sebenarnya sudah kehabisan uang. Semua itu cuma janji-janji kosong.’‘Tapi, selama aku ada di sini, aku akan mengubah janji-janji kosong itu menjadi kenyataan.’Setelah masuk ke ruang kantor Rosie, gadis itu berseru gembira, "Pak Radit!"Radit mengangguk dan bertanya, "Bagaimana situasinya sekarang?"Rosie menggelengkan kepala. "Kurang optimis. Di rekening perusahaan cuma ada 20 miliar, dan aku sendiri punya 40 miliar. Ditotal pun cuma 60 miliar. Belum ada apa-apanya sama sekali, nggak cukup untuk memulai proyek."Bahkan chef terhebat pun tidak bisa memasak tanpa nasi. Sebagus apa pun rancangan arsitekturnya, tida

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 49

    Sambil berbicara, Lilian mengulurkan jari-jarinya yang halus dan menggambar lingkaran-lingkaran di dada Radit.Radit tidak bergeming. Dia hanya mengeluarkan kotak itu dan memperlihatkannya. "Lihat, ini gaun tidurmu bukan? Aku dapat paket ini tadi siang."Lilian merasa bingung. Dia membuka kotak itu, dan ekspresinya seketika berubah. Dia langsung membuangnya ke tempat sampah sambil berkata, "Siapa kirim barang begitu? Menjijikkan.""Harusnya aku yang tanya. Itu kan gaun tidurmu?" Radit menanyai dengan nada menuduh.Sikapnya membuat Lilian marah. Sambil menuding tempat sampah, dia berkata, "Apa maksudmu? Kamu nggak bisa lihat jebakan segampang itu? Itu cuma baju bekas, bahkan belum tentu milikku, tapi kamu langsung curiga dan ingin memancingku bicara. Aku bahkan sudah lupa gaun tidur ini, mungkin sudah kubuang sejak lama. Kalau nanti orang lain mengirim celana dalam padamu, apa kamu akan menceraikanku? Radit, kamu benar-benar membuatku kecewa!"Radit mengibaskan tangannya. "Jangan marah.

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 48

    Pengirimnya tidak diketahui, membuat Radit merasa bingung. Dia tidak membeli apa-apa.Tanpa berpikir lebih lama lagi, dia langsung membuka kotak itu dan menemukan sebuah gaun tidur sutra yang kusut, dengan secarik kertas di dalamnya.[Gaun tidur Lilian nggak sengaja tertinggal di tempatku. Tolong bantu kembalikan padanya, terima kasih.]Mata Radit berkedut, wajahnya mendung.Ini adalah gaun tidur berwarna merah muda, bahannya lembut dan sangat halus, tapi sekarang dipenuhi noda-noda yang mengeras, membuat gaun tidur itu kusut dan berkerut-kerut.Ini gaun tidur milik istrinya, tentu saja dia tahu.Karena istrinya dulu sangat menyukai gaun tidur tanpa lengan ini. Radit juga suka melihatnya mengenakan ini, membungkus tubuhnya yang montok, sangat cantik dan seksi.Namun, dia sudah lama tidak pernah melihat istrinya mengenakan gaun tidur ini.Tak disangka, hari ini muncul lagi."Awas saja kalau aku tahu siapa orangnya!" Radit mendesis tajam.Kemungkinan besar bukan Victor, karena istrinya k

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 47

    Seseorang seperti ayah Rosie seharusnya tidak berpikiran sempit, bukan?Seorang tokoh besar di dunia bisnis seharusnya dapat melihat keuntungan di balik ini, apalagi gambar desainnya sudah diberikan kepadanya.Dia pun berkata, "Oke, aku mengerti. Soal uang, kita tunda dulu. Hari ini istirahat, besok kita bicarakan lagi."Dia menutup telepon, masih benar-benar bingung.Jika proyek ini berjalan lancar dan hasil rancangan dapat ditampilkan dengan sempurna, manfaatnya bagi Bahtera Konstruksi tentu saja sangat besar.Bahkan bisa menjadi tolok ukur industri konstruksi.Karena ini adalah proyek yang akan mengangkat nama Selanta, bahkan gubernur dan pejabat pemerintah tidak akan berpandangan sempit.Nantinya, Bahtera Konstruksi akan jadi terkenal. Semua orang tahu akan tahu perusahaan ini hanya mengerjakan bangunan berkualitas tinggi. Dengan begitu, proyek-proyek yang diterima di masa depan pasti juga berkualitas tinggi. Menghasilkan uang pun akan menjadi hal yang mudah.Empat ratus miliar ini

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 46

    "Ketiga, kapan proyek ini akan selesai?""Ini adalah satu hal yang sangat saya sesalkan. Karena Bahtera Konstruksi mengutamakan kualitas, Panti Jompo Asri tidak dapat diresmikan tepat waktu. Saya akan bertanggung jawab penuh atas segala konsekuensi yang timbul akibat keterlambatan ini. Mari kita lihat bersama ...."Sambil berbicara, Rosie menekan tombol remot di tangannya.Di layar besar di belakangnya, muncul gambar-gambar visualisasi desain Panti Jompo Asri setelah selesai dibangun nanti.Seketika itu juga, suasana menjadi riuh.Seiring bergulirnya gambar-gambar tersebut, para hadirin semakin terkejut, bahkan terpesona!Sebuah pikiran muncul di benak mereka. Jika selesai dibangun, pasti akan menjadi bangunan ikonik di Selanta!Dibandingkan dengan rancangan sebelumnya, bisa dibilang perbedaannya bagaikan langit dan bumi.Para pejabat pun tercengang, mulut mereka menganga lebar.Rosie tersenyum lembut dan berkata, "Ini rancangan yang dipesan oleh Bahtera Konstruksi dengan biaya sepuluh

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 45

    Luna masuk dan tersenyum tipis kepada Rosie.Wajah Rosie pun memerah, dia batuk pelan dan berkata, "Gambar rencananya sudah ada, jadi selanjutnya bagaimana?"Radit mengembuskan napas panjang, perasaannya yang bergejolak perlahan mereda. Dia berkata, "Saatnya keluarkan kartu as kita. Besok kita adakan konferensi pers, perlihatkan rancangannya, dan tekankan bahwa semua biaya pembangunan ditanggung oleh Bahtera Konstruksi. Setelah konferensi pers, semua opini negatif akan mereda, dan selanjutnya akan berjalan lancar!""Ya!"Rosie setuju, lalu mereka mendiskusikan beberapa detail lagi sebelum Radit pergi.Dia tidak berani berlama-lama di sana. Luna tidak bisa diandalkan, dan dia sendiri cacat. Dia harus waspada hadapan Rosie, tidak boleh ada kesempatan untuk berdua saja.Setelah keduanya pergi, Rosie buru-buru berlari ke ruang istirahat di dalam kantor.Dia mengingat kejadian tadi dan menunduk malu-malu. "Pantas saja istrinya nggak mau melepaskannya ...."Tiba-tiba, dia terpikir sesuatu da

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status