Share

Bab 2

Penulis: Mulberi Putih
Pertanyaan Santi tadi terus terngiang di telingaku. Berapa lama lagi sampai dia bisa menggantikanku? Padahal sebenarnya, dia sudah lama mengambil alih posisiku. Hatiku sakit sampai-sampai tak mampu mengeluarkan suara. Tak satu pun kata pembelaan diri sanggup kuucapkan.

Saat itu, Santi berjuang bangkit dari lantai. Dengan lututnya yang menyentuh tanah, dia terus bersujud ke arahku tanpa henti.

“Maafkan aku, Kak Diana. Aku tidak menyangka kalau tiga kakak merayakan ulang tahunku, kamu akan semarah ini. Semua ini salahku. Tadi kamu menyuruhku merangkak keluar dari vila ini seperti anjing, kan? Baik, aku akan menuruti perintahmu. Aku mohon, jangan lagi mempersulit aku dan jangan melukai hati ketiga kakak.”

Sambil berkata demikian, Santi benar-benar hendak merangkak keluar dari kamar. Ekspresi tiga bersaudara Keluarga Satria itu beragam, antara pucat dan muram. Namun yang jelas, tatapan mereka padaku dipenuhi amarah yang menyala.

Tubuhku bergetar pelan. Aku membuka mulut, ingin berkata sesuatu. Tapi ketika bertemu dengan pandangan mereka yang seperti menatap musuh bebuyutan, aku seketika merasa hampa dan pedih. Karena aku tahu, apa pun yang kukatakan, mereka tidak akan pernah percaya padaku.

Malam sudah semakin larut, vila yang luas itu justru terasa sempit karena dipenuhi orang. Seluruh tim medis terbaik di kota berkumpul mengelilingi Santi seorang, sedang melakukan pemeriksaan menyeluruh. Sementara itu, tiga bersaudara Keluarga Satria berdiri cemas di sisinya, tak beranjak sedikit pun.

Aku berdiri tidak jauh dari mereka. Rasa sakit di kepalaku begitu hebat, seolah-olah hendak merobek tubuhku menjadi dua. Rasanya seperti sebilah belati yang terus diaduk-aduk di dalam otakku, membuatku nyaris tak mampu berdiri tegak. Dengan menahan rasa sakit, aku menggertakkan gigi dan berjalan tertatih ke hadapan seorang dokter ahli saraf ternama.

“Dokter, aku … kepalaku sakit.”

“Diana, bisakah kamu sedikit mengerti keadaan?” Suara Arka menyeletuk, dipenuhi nada menyalahkan. “Para dokter ini datang khusus untuk memeriksa kondisi Santi. Jangan menambah repot!”

“Sudah tengah malam, profesor-profesor ini sampai harus dipanggil hanya untuk membereskan kekacauan yang kamu buat.”

Melihat aku tak bergerak, Arka melangkah maju, mencengkeram lenganku dan mendorong tubuhku masuk ke kamarku. Pintu ditutup rapat, lalu dikunci tanpa sisa belas kasihan.

Aku kesakitan hingga hampir tak bisa berjalan. Dengan susah payah aku merangkak ke nakas di samping tempat tidur, mengeluarkan obat pereda nyeri. Aku menuang segenggam pil, memasukkannya ke mulut, mengunyahnya hingga hancur, lalu menelannya.

Rasa pahit menyebar di lidah, dan juga merembes ke dalam hatiku.

Setelah orang tuaku meninggal dalam kecelakaan mobil, aku pindah bersama kakek dan nenek ke kota ini, lalu menjadi tetangga Keluarga Satria. Mereka beberapa tahun lebih tua dariku, selalu membawaku ke mana pun dan menjagaku dengan penuh perhatian. Ketika kakek dan nenek menua dan akhirnya meninggal dunia satu per satu, mereka bertiga dengan sukarela mengambil alih tanggung jawab untuk merawatku.

Saat itu aku berusia sembilan belas tahun. Demi menjagaku, mereka menyatukan vila Keluarga Satria dan vilaku, lalu merenovasinya sesuai dengan seleraku. Kami berempat seolah adalah empat sekawan paling dekat di dunia ini. Namun semua itu hancur pada hari Santi muncul.

Santi pingsan di depan rumah kami pada suatu hari yang sangat biasa. Tubuhnya kurus dan tampak menyedihkan, membuatku tidak tega dan membawanya masuk untuk menolongnya. Dan sejak hari itu pula, tiga bersaudara Keluarga Satria mulai acuh padaku saat pandangan pertama mereka dengan Santi. Di hari-hari berikutnya, seluruh perhatian dan kasih sayang mereka tercurah sepenuhnya pada Santi. Seolah-olah kehadirannya yang tiba-tiba memang ditakdirkan untuk merebut cinta mereka.

Obat pereda nyeri akhirnya mulai bekerja. Aku menopang tubuhku dan hendak berbaring di tempat tidur, ketika tiba-tiba ....

BRAK!

Pintu kamar ditendang terbuka dengan keras. Nando dan Candra masuk dengan wajah penuh amarah. Mereka melemparkan setumpuk kertas ke arahku. Aku belum sempat sadar sepenuhnya ketika rentetan makian menghantam telingaku.

“Aku benar-benar tidak mengerti kenapa rasa cemburu kamu bisa sekuat ini! Sampai-sampai kamu memukul dan memarahi Santi saat kami tidak ada!”

“Kamu sudah merundung Santi sampai dia mengalami depresi! Diana, aku benar-benar tidak menyangka kamu bisa setega ini!”
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 10

    “Kamu sudah lama tahu Diana sakit. Obat yang kamu jatuhkan di depan kami hari itu adalah obat khusus untuk Diana! Santi, kami sudah memperlakukanmu sebaik itu. Kenapa kamu tega memperlakukan Diana seperti ini?”Wajah Arka dan Nando pun berubah drastis. Mereka segera merebut dan membaca berkas hasil penyelidikan itu. Setiap kali membalik satu halaman, warna wajah mereka semakin memudar. Di bagian akhir, tubuh mereka bahkan gemetar tak terkendali.Saat melakukan semua itu, mungkin mereka merasa wajar. Namun ketika semuanya dicatat dengan rinci, barulah mereka menyadari betapa dalam luka yang telah mereka torehkan padaku.Aku menatap dingin wajah mereka yang penuh penyesalan, dan hanya merasa geli. Saat masih ada kesempatan untuk menyayangi, mereka tidak menghargainya. Kalau sekarang menyesal, untuk siapa penyesalan itu?Aku pun mendorong kursi rodaku, hendak pergi. Namun Santi yang tergeletak tidak jauh dariku tiba-tiba bangkit dan menerjang ke arahku sambil berteriak histeris, “Bukankah

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 9

    Santi bergegas menghampiri mereka dengan wajah penuh kekhawatiran dan bertanya, “Kakak-kakak, kalian pergi ke mana saja beberapa hari ini?”“Aku benar-benar khawatir pada kalian! Apa Kak Diana sudah kembali? Di mana dia sekarang?”“Aku tahu dia marah karena kalian baik padaku, tapi pergi dari rumah tanpa sepatah kata pun seperti ini sungguh kekanak-kanakan. Kakak-kakak jangan marah, ya.”Mendengar perkataan Santi, ketiga bersaudara itu tidak lagi menunjukkan ekspresi menyalahkan seperti biasanya, malah terlihat agak marah.Santi sedikit panik, tanpa sadar memasang raut wajah menyanjung. “Lagipula Kak Diana sedang sakit, wajar kalau dia jadi agak temperamental.”Wajah Arka langsung berubah. Ia tiba-tiba mencengkeram kerah baju Santi. “Bagaimana kamu tahu Diana sakit? Apa yang sudah kamu lakukan padanya?”Ekspresi Santi sempat terdistorsi sesaat, lalu ia kembali memasang wajah menyedihkan itu.“Kak Arka, aku juga baru tahu. Temanku sedang magang di rumah sakit, dia bilang Kak Diana punya

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 8

    Beberapa orang itu saling tarik-menarik dengan sangat kacau, namun tetap berusaha mencari celah untuk menerobos masuk ke ruang rawat inap. Keributan yang mereka buat menarik perhatian pasien di kamar-kamar sekitar, akibatnya banyak orang keluar untuk menonton.Aku yang tidak tahan, akhirnya berkata dengan wajah dingin, “Biarkan mereka masuk.”Para pengawal pun berhenti bergerak dan melepaskan tangan mereka.Candra melotot ke arah para pengawal dan berkata dengan angkuh, “Kami ini Keluarga Satria. Siapa tahu nanti salah satu dari kami akan menikahi Diana. Kalian berani bersikap seperti ini pada kami, awas nanti dipecat!”Mendengar itu aku justru tertawa dingin karena kesal. “Pamer kuasa di depan kamarku? Aku bahkan tidak kenal kalian, atas dasar apa aku harus menikahi kalian?”Nando lebih dulu berlari ke hadapanku, mencoba menggenggam tanganku, tapi aku menghindar. Matanya jadi merah, seolah baru saja menanggung penderitaan besar.“Diana, aku sudah tanya dokter. Dokter bilang operasi in

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 7

    Raut wajah Nando berubah, ia langsung berdiri dan berjalan keluar. Arka dan Candra pun menyadari hal itu, lalu segera bergegas menuju bandara. Mereka harus segera berada di samping Diana, dan menemani Diana melewati masa tersulit untuk menebus dosa mereka kepadanya.…Saat kesadaranku kembali setelah operasi, waktu sudah berlalu tiga hari. Bibi mengenakan pakaian steril dan berjaga di sampingku. Begitu melihatku bangun, air matanya langsung jatuh.“Diana, sakit tidak?”Aku menyeringai sambil tersenyum. “Kalau masih bisa hidup, berarti tidak sakit.”Bibi tertawa kecil sambil menangis, lalu berkata, “Diana pasti panjang umur!”Operasinya sangat berhasil. Dokter mengatakan aku mungkin akan mengalami kehilangan ingatan, tetapi untuk sementara semua orang yang kulihat masih kukenal. Meski memang terasa ada beberapa hal yang tidak bisa kuingat, aku juga tidak berniat mengingatnya kembali. Bahkan, aku merasa melupakan semuanya justru membuatku lebih bahagia.Setelah melewati masa kritis, aku

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 6

    (Sudut Pandang Orang Ketiga)Operasi masih berlangsung.Di luar ruang operasi, bibi berdiri dengan cemas. Ponsel milik Diana yang ada di tangannya terus berdering tanpa henti, membuat suasana semakin menyesakkan. Melihat nama tiga bersaudara Keluarga Satria muncul berulang kali di layar, bibi akhirnya tak tahan lagi dan mengangkat telepon itu.Namun yang menyusul kemudian adalah makian tanpa ampun.“Kalian jangan menelepon lagi! Dan jangan pernah mengganggu keponakanku lagi! Dia tumbuh besar bersama kalian, demi kalian, nyawanya hampir melayang! Kalian masih punya muka untuk meneleponnya?”“Kalau hati nurani kalian belum dimakan anjing, seharusnya kalian berlutut dan bertobat setiap hari untuk menebus dosa kalian!”Usai berkata demikian, bibi langsung menutup panggilan....Di ujung telepon sana, ketiga bersaudara itu saling memandang. Wajah mereka dipenuhi kepanikan yang belum pernah ada sebelumnya. Wajah Arka pucat pasi. Dengan bibir yang kehilangan warna, dia menoleh kaku ke arah sa

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 5

    Aku menggertakkan gigi, menatap obat di tangannya tanpa berkedip. “Santi, kembalikan obat itu padaku!”Seolah melihat dengan jelas penderitaanku, Santi justru memutar tutup botol obat, menuangkan dua pil ke telapak tangannya, lalu mundur dua langkah. Bibirnya melengkung tipis saat dia mengeluarkan suara panggilan seperti memanggil anjing. “Diana, sini merangkak dan mohon padaku. Dengan begitu, aku akan memberikannya.”Tak ada seorang pun yang sanggup menahan provokasi semacam itu, terlebih lagi saat akal sehatku hampir sepenuhnya dilahap oleh rasa sakit. Amarah langsung meledak dari dadaku. Aku berteriak serak dan menerjang ke arahnya untuk merebut obat itu.Namun entah disengaja atau tidak, saat Santi mundur, seluruh obat milikku justru dilemparkannya ke dalam air mancur kecil di lobi rumah sakit. Dia memasang wajah menyesal, tetapi sorot matanya dipenuhi cahaya provokatif yang semakin terang.Aku tak kuasa menahan diri dan mengangkat tangan, namun sebelum sempat melakukan apa pun, se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status