Share

Bab 5

Author: Mulberi Putih
Aku menggertakkan gigi, menatap obat di tangannya tanpa berkedip. “Santi, kembalikan obat itu padaku!”

Seolah melihat dengan jelas penderitaanku, Santi justru memutar tutup botol obat, menuangkan dua pil ke telapak tangannya, lalu mundur dua langkah. Bibirnya melengkung tipis saat dia mengeluarkan suara panggilan seperti memanggil anjing. “Diana, sini merangkak dan mohon padaku. Dengan begitu, aku akan memberikannya.”

Tak ada seorang pun yang sanggup menahan provokasi semacam itu, terlebih lagi saat akal sehatku hampir sepenuhnya dilahap oleh rasa sakit. Amarah langsung meledak dari dadaku. Aku berteriak serak dan menerjang ke arahnya untuk merebut obat itu.

Namun entah disengaja atau tidak, saat Santi mundur, seluruh obat milikku justru dilemparkannya ke dalam air mancur kecil di lobi rumah sakit. Dia memasang wajah menyesal, tetapi sorot matanya dipenuhi cahaya provokatif yang semakin terang.

Aku tak kuasa menahan diri dan mengangkat tangan, namun sebelum sempat melakukan apa pun, sebuah dorongan kuat menghantam tubuhku, disusul bunyi tamparan keras yang mendarat di pipiku.

Plak!

Kepalaku mendadak terasa kosong.

Arka menatapku dengan wajah penuh amarah, lalu membentak aku, “Diana, kamu benar-benar sudah gila! Berani-beraninya kamu menyakiti Santi saat kami tidak ada!”

Nando dan Candra segera berlari ke sisi Santi, memeriksa kondisinya dengan panik. Saat melihat tangan Santi tergores dan berdarah, ekspresi mereka langsung berubah drastis. “Kakak! Jangan urusi dia dulu! Cepat lihat tangan Santi, dia berdarah!”

Arka seketika panik dan buru-buru menghampiri Santi.

Dengan wajah muram, Nando menatapku tajam dan mengancam tanpa ragu, “Diana, Santi itu calon dokter! Kalau tangannya sampai cedera, kamu tidak perlu tinggal di sini lagi! Sekarang juga, cepat kembali ke kamar dan renungkan perbuatanmu!”

Kepalaku terasa seperti hendak pecah, dan aku masih dituduh tanpa ampun. Akhirnya aku tak tahan lagi dan membela diri dengan suara gemetar, “Dia yang sengaja membuang obatku ke dalam air! Apa kalian tahu, tanpa obat itu aku bisa mati?”

Candra menyunggingkan senyum mengejek di sudut bibirnya. “Diana, demi menarik perhatian kami, kamu bahkan sampai mengutuk dirimu sendiri seperti ini. Haruskah aku memujimu?”

Arka mendengus dingin, kemudian menimpali, “Kamu benar-benar membuat kami sangat kecewa.”

Setelah mengatakan itu semua, mereka membawa Santi pergi begitu saja, bahkan tidak memberiku satu lirikan pun. Rasa sakit membuatku meringkuk di lantai. Pada akhirnya, air mataku pun jatuh tanpa bisa ditahan.

Obat khusus itu sebenarnya mampu menekan pertumbuhan tumor di kepalaku, namun obat tersebut sangat sulit didapatkan. Jika aku mengajukan permohonan lagi, mungkin sebelum obat itu sampai ke tanganku, aku sudah lebih dulu mati.

Menahan rasa sakit yang hampir membuat kepalaku meledak, aku meraba-raba untuk mengambil ponsel dan menelepon bibiku. Suaraku pecah bercampur tangis, “Bibi, aku ingin mengubah jadwal. Aku berangkat besok. Tolong segera atur operasi untukku.”

Aku pun terhuyung-huyung kembali ke kamar, menelan segenggam obat pereda nyeri, lalu menyeret koper dan langsung menuju bandara. Di perjalanan, tiga bersaudara Keluarga Satria mengirimkan pesan, memintaku pergi meminta maaf pada Santi.

Sambil menahan sakit, aku memblokir kontak mereka satu per satu.

Lebih dari sepuluh jam penerbangan kulalui hanya dengan bergantung pada obat pereda nyeri. Begitu mendarat, bibi tidak banyak bertanya tentang keadaanku. Dia langsung membawaku ke rumah sakit tanpa menunda sedetik pun.

Sesaat sebelum aku didorong masuk ke ruang operasi, ponselku terus berdering tanpa henti. Dengan mata berkaca-kaca dan amarah yang tertahan, bibi menolak satu per satu panggilan itu.

Tubuhku sudah sangat lemah, aku menggenggam tangan bibi dan memaksakan sebuah senyum. “Bibi, jangan marah.”

“Sejak aku memutuskan pergi ke luar negeri untuk operasi ini, aku sudah memutuskan aku tidak menginginkan mereka lagi.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 10

    “Kamu sudah lama tahu Diana sakit. Obat yang kamu jatuhkan di depan kami hari itu adalah obat khusus untuk Diana! Santi, kami sudah memperlakukanmu sebaik itu. Kenapa kamu tega memperlakukan Diana seperti ini?”Wajah Arka dan Nando pun berubah drastis. Mereka segera merebut dan membaca berkas hasil penyelidikan itu. Setiap kali membalik satu halaman, warna wajah mereka semakin memudar. Di bagian akhir, tubuh mereka bahkan gemetar tak terkendali.Saat melakukan semua itu, mungkin mereka merasa wajar. Namun ketika semuanya dicatat dengan rinci, barulah mereka menyadari betapa dalam luka yang telah mereka torehkan padaku.Aku menatap dingin wajah mereka yang penuh penyesalan, dan hanya merasa geli. Saat masih ada kesempatan untuk menyayangi, mereka tidak menghargainya. Kalau sekarang menyesal, untuk siapa penyesalan itu?Aku pun mendorong kursi rodaku, hendak pergi. Namun Santi yang tergeletak tidak jauh dariku tiba-tiba bangkit dan menerjang ke arahku sambil berteriak histeris, “Bukankah

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 9

    Santi bergegas menghampiri mereka dengan wajah penuh kekhawatiran dan bertanya, “Kakak-kakak, kalian pergi ke mana saja beberapa hari ini?”“Aku benar-benar khawatir pada kalian! Apa Kak Diana sudah kembali? Di mana dia sekarang?”“Aku tahu dia marah karena kalian baik padaku, tapi pergi dari rumah tanpa sepatah kata pun seperti ini sungguh kekanak-kanakan. Kakak-kakak jangan marah, ya.”Mendengar perkataan Santi, ketiga bersaudara itu tidak lagi menunjukkan ekspresi menyalahkan seperti biasanya, malah terlihat agak marah.Santi sedikit panik, tanpa sadar memasang raut wajah menyanjung. “Lagipula Kak Diana sedang sakit, wajar kalau dia jadi agak temperamental.”Wajah Arka langsung berubah. Ia tiba-tiba mencengkeram kerah baju Santi. “Bagaimana kamu tahu Diana sakit? Apa yang sudah kamu lakukan padanya?”Ekspresi Santi sempat terdistorsi sesaat, lalu ia kembali memasang wajah menyedihkan itu.“Kak Arka, aku juga baru tahu. Temanku sedang magang di rumah sakit, dia bilang Kak Diana punya

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 8

    Beberapa orang itu saling tarik-menarik dengan sangat kacau, namun tetap berusaha mencari celah untuk menerobos masuk ke ruang rawat inap. Keributan yang mereka buat menarik perhatian pasien di kamar-kamar sekitar, akibatnya banyak orang keluar untuk menonton.Aku yang tidak tahan, akhirnya berkata dengan wajah dingin, “Biarkan mereka masuk.”Para pengawal pun berhenti bergerak dan melepaskan tangan mereka.Candra melotot ke arah para pengawal dan berkata dengan angkuh, “Kami ini Keluarga Satria. Siapa tahu nanti salah satu dari kami akan menikahi Diana. Kalian berani bersikap seperti ini pada kami, awas nanti dipecat!”Mendengar itu aku justru tertawa dingin karena kesal. “Pamer kuasa di depan kamarku? Aku bahkan tidak kenal kalian, atas dasar apa aku harus menikahi kalian?”Nando lebih dulu berlari ke hadapanku, mencoba menggenggam tanganku, tapi aku menghindar. Matanya jadi merah, seolah baru saja menanggung penderitaan besar.“Diana, aku sudah tanya dokter. Dokter bilang operasi in

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 7

    Raut wajah Nando berubah, ia langsung berdiri dan berjalan keluar. Arka dan Candra pun menyadari hal itu, lalu segera bergegas menuju bandara. Mereka harus segera berada di samping Diana, dan menemani Diana melewati masa tersulit untuk menebus dosa mereka kepadanya.…Saat kesadaranku kembali setelah operasi, waktu sudah berlalu tiga hari. Bibi mengenakan pakaian steril dan berjaga di sampingku. Begitu melihatku bangun, air matanya langsung jatuh.“Diana, sakit tidak?”Aku menyeringai sambil tersenyum. “Kalau masih bisa hidup, berarti tidak sakit.”Bibi tertawa kecil sambil menangis, lalu berkata, “Diana pasti panjang umur!”Operasinya sangat berhasil. Dokter mengatakan aku mungkin akan mengalami kehilangan ingatan, tetapi untuk sementara semua orang yang kulihat masih kukenal. Meski memang terasa ada beberapa hal yang tidak bisa kuingat, aku juga tidak berniat mengingatnya kembali. Bahkan, aku merasa melupakan semuanya justru membuatku lebih bahagia.Setelah melewati masa kritis, aku

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 6

    (Sudut Pandang Orang Ketiga)Operasi masih berlangsung.Di luar ruang operasi, bibi berdiri dengan cemas. Ponsel milik Diana yang ada di tangannya terus berdering tanpa henti, membuat suasana semakin menyesakkan. Melihat nama tiga bersaudara Keluarga Satria muncul berulang kali di layar, bibi akhirnya tak tahan lagi dan mengangkat telepon itu.Namun yang menyusul kemudian adalah makian tanpa ampun.“Kalian jangan menelepon lagi! Dan jangan pernah mengganggu keponakanku lagi! Dia tumbuh besar bersama kalian, demi kalian, nyawanya hampir melayang! Kalian masih punya muka untuk meneleponnya?”“Kalau hati nurani kalian belum dimakan anjing, seharusnya kalian berlutut dan bertobat setiap hari untuk menebus dosa kalian!”Usai berkata demikian, bibi langsung menutup panggilan....Di ujung telepon sana, ketiga bersaudara itu saling memandang. Wajah mereka dipenuhi kepanikan yang belum pernah ada sebelumnya. Wajah Arka pucat pasi. Dengan bibir yang kehilangan warna, dia menoleh kaku ke arah sa

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 5

    Aku menggertakkan gigi, menatap obat di tangannya tanpa berkedip. “Santi, kembalikan obat itu padaku!”Seolah melihat dengan jelas penderitaanku, Santi justru memutar tutup botol obat, menuangkan dua pil ke telapak tangannya, lalu mundur dua langkah. Bibirnya melengkung tipis saat dia mengeluarkan suara panggilan seperti memanggil anjing. “Diana, sini merangkak dan mohon padaku. Dengan begitu, aku akan memberikannya.”Tak ada seorang pun yang sanggup menahan provokasi semacam itu, terlebih lagi saat akal sehatku hampir sepenuhnya dilahap oleh rasa sakit. Amarah langsung meledak dari dadaku. Aku berteriak serak dan menerjang ke arahnya untuk merebut obat itu.Namun entah disengaja atau tidak, saat Santi mundur, seluruh obat milikku justru dilemparkannya ke dalam air mancur kecil di lobi rumah sakit. Dia memasang wajah menyesal, tetapi sorot matanya dipenuhi cahaya provokatif yang semakin terang.Aku tak kuasa menahan diri dan mengangkat tangan, namun sebelum sempat melakukan apa pun, se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status