Share

Bab 3

Author: Mulberi Putih
Setelah memarahiku, mereka berdua pergi lagi secepat hembusan angin, bergegas kembali ke sisi Santi. Aku mengambil laporan pemeriksaan kesehatan yang dilemparkan ke arahku tadi. Tanganku gemetar saat membukanya dan membacanya satu per satu.

Di sana tertulis, Santi mengalami kekerasan jangka panjang, kekurangan gizi, depresi, serta gangguan delusi akibat penganiayaan.

Begitu selesai membaca, aku berlari keluar kamar, berniat membela diriku sendiri. Namun di luar, para dokter sudah pergi. Tiga bersaudara itu berdiri mengelilingi Santi, seolah dunia hanya berputar di sekelilingnya. Arka sedang mengupas apel untuknya, dan Nando merangkul bahunya sambil membisikkan kata-kata penghiburan.

Saat Candra melihatku, wajahnya langsung dipenuhi rasa jijik. “Untuk apa kamu keluar? Mau memastikan kami ada di rumah atau tidak, lalu cari kesempatan untuk menyakiti Santi lagi?”

Mata Santi seketika memerah. Dua bola matanya basah berkilau saat menatapku. “Kak Diana, aku benar-benar tahu aku salah.”

Ketiga bersaudara itu langsung panik. Mereka buru-buru mengeluarkan tisu, menyeka air mata Santi dengan penuh perhatian. Melihat adegan yang begitu mengharukan itu, tiba-tiba aku kehilangan keinginan untuk membuktikan diriku tidak bersalah. Tanpa berkata sepatah kata pun, aku berbalik dan kembali ke kamar.

Aku menurunkan lukisan potret kami berempat yang digambar oleh ketiga bersaudara itu. Dengan gunting, aku menusuk dan merobeknya tanpa ragu. Lalu aku mengambil korek api dan membakarnya hingga hanya tersisa abu.

Segala perasaan yang telah terjalin selama bertahun-tahun telah lenyap seiring kobaran api itu ....

Aku berbaring di tempat tidur dan mengenakan penutup telinga, memutuskan diri dari kehangatan dan keramaian di luar sana, lalu tertidur dalam keadaan setengah sadar. Mungkin karena aku sudah benar-benar kecewa pada tiga bersaudara Keluarga Satria, di dalam mimpiku tak lagi ada bayangan mereka. Untuk pertama kalinya, aku justru tidur dengan nyenyak.

Keesokan paginya, aku bangun sangat pagi dan mulai membereskan barang-barangku. Di ruang ganti yang seharusnya menjadi milikku, tergantung penuh pakaian yang dirancang sendiri oleh anak tertua Keluarga Satria, Arka. Dia pernah berkata aku adalah putri kecil keluarga ini, yang pantas mengenakan pakaian cantik berbeda setiap hari.

Hadiah dari anak kedua, Nando, adalah tiket konser, juga tiket pesawat menuju berbagai penjuru dunia, aku menyimpan semua tiket itu sampai jadi setumpuk penuh. Katanya, dia berharap aku bisa melihat seluruh dunia, dan ketika kembali, tetap menjadi gadis yang mencintai mereka.

Sementara anak ketiga, Candra, menyiapkan semua kebutuhan hidupku. Dia mengurus segalanya tanpa terkecuali, karena katanya dia ingin aku bergantung pada mereka seumur hidup.

Namun kini, aku justru harus membuang semua itu dengan tanganku sendiri, memasukkannya ke dalam tempat sampah di lantai bawah, bersama seluruh kebaikan dan keburukan mereka, tanpa sisa.

Saat aku memasukkan potongan pakaian terakhir ke dalam tong sampah, sebuah seruan kaget terdengar. Arka bertanya dengan suara bergetar, “Diana, kenapa kamu buang pakaian yang aku desain untukmu?”

Aku menoleh. Tiga bersaudara itu berdiri rapi di belakangku, mata mereka memerah, kepanikan jelas terpancar. Nando berlari ke tong sampah, tak peduli kotor dan bau. Dia mengacak-acak isinya, dan tentu saja melihat barang-barang yang dulu dia dan Candra berikan padaku juga ada di sana.

Ketiganya menggertakkan gigi, mata mereka memerah saat menanyai aku, “Diana, bukankah semua ini adalah barang-barang yang paling kamu sayangi? Kenapa kamu membuangnya?”

Aku sejenak tak tahu harus menjawab apa. Pandanganku beralih tanpa arah, lalu berhenti pada pakaian di tangan Arka. Kemudian aku pun berbicara pelan, “Aku pikir Kak Arka sudah waktunya membelikanku baju baru. Kak Nando dan Kak Candra juga seharusnya mengganti semua barangku dengan yang baru. Yang lama terlalu memakan tempat, jadi aku buang sebagian.”

Kemudian aku melangkah besar ke arah Nando, menunjuk pakaian di tangannya sambil berkata lembut, “Kak Nando, apa itu baju baru untukku?”

Nando semakin panik. Dia buru-buru menyembunyikan pakaian itu di belakang punggungnya.

Aku menundukkan pandangan, pura-pura kecewa. “Ternyata bukan untukku, ya?”

Melihat sikapku seperti itu, kilatan rasa iba melintas di wajah ketiga bersaudara itu. Mereka pun kehilangan niat untuk terus menanyai soal barang-barang yang aku buang.

Nando menghela napas pelan, lalu menjelaskan, “Diana, Santi tidak punya pakaian di rumah kami. Karena itu Kak Arka mendesainkan baju untuknya. Jangan cemburu lagi padanya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 10

    “Kamu sudah lama tahu Diana sakit. Obat yang kamu jatuhkan di depan kami hari itu adalah obat khusus untuk Diana! Santi, kami sudah memperlakukanmu sebaik itu. Kenapa kamu tega memperlakukan Diana seperti ini?”Wajah Arka dan Nando pun berubah drastis. Mereka segera merebut dan membaca berkas hasil penyelidikan itu. Setiap kali membalik satu halaman, warna wajah mereka semakin memudar. Di bagian akhir, tubuh mereka bahkan gemetar tak terkendali.Saat melakukan semua itu, mungkin mereka merasa wajar. Namun ketika semuanya dicatat dengan rinci, barulah mereka menyadari betapa dalam luka yang telah mereka torehkan padaku.Aku menatap dingin wajah mereka yang penuh penyesalan, dan hanya merasa geli. Saat masih ada kesempatan untuk menyayangi, mereka tidak menghargainya. Kalau sekarang menyesal, untuk siapa penyesalan itu?Aku pun mendorong kursi rodaku, hendak pergi. Namun Santi yang tergeletak tidak jauh dariku tiba-tiba bangkit dan menerjang ke arahku sambil berteriak histeris, “Bukankah

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 9

    Santi bergegas menghampiri mereka dengan wajah penuh kekhawatiran dan bertanya, “Kakak-kakak, kalian pergi ke mana saja beberapa hari ini?”“Aku benar-benar khawatir pada kalian! Apa Kak Diana sudah kembali? Di mana dia sekarang?”“Aku tahu dia marah karena kalian baik padaku, tapi pergi dari rumah tanpa sepatah kata pun seperti ini sungguh kekanak-kanakan. Kakak-kakak jangan marah, ya.”Mendengar perkataan Santi, ketiga bersaudara itu tidak lagi menunjukkan ekspresi menyalahkan seperti biasanya, malah terlihat agak marah.Santi sedikit panik, tanpa sadar memasang raut wajah menyanjung. “Lagipula Kak Diana sedang sakit, wajar kalau dia jadi agak temperamental.”Wajah Arka langsung berubah. Ia tiba-tiba mencengkeram kerah baju Santi. “Bagaimana kamu tahu Diana sakit? Apa yang sudah kamu lakukan padanya?”Ekspresi Santi sempat terdistorsi sesaat, lalu ia kembali memasang wajah menyedihkan itu.“Kak Arka, aku juga baru tahu. Temanku sedang magang di rumah sakit, dia bilang Kak Diana punya

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 8

    Beberapa orang itu saling tarik-menarik dengan sangat kacau, namun tetap berusaha mencari celah untuk menerobos masuk ke ruang rawat inap. Keributan yang mereka buat menarik perhatian pasien di kamar-kamar sekitar, akibatnya banyak orang keluar untuk menonton.Aku yang tidak tahan, akhirnya berkata dengan wajah dingin, “Biarkan mereka masuk.”Para pengawal pun berhenti bergerak dan melepaskan tangan mereka.Candra melotot ke arah para pengawal dan berkata dengan angkuh, “Kami ini Keluarga Satria. Siapa tahu nanti salah satu dari kami akan menikahi Diana. Kalian berani bersikap seperti ini pada kami, awas nanti dipecat!”Mendengar itu aku justru tertawa dingin karena kesal. “Pamer kuasa di depan kamarku? Aku bahkan tidak kenal kalian, atas dasar apa aku harus menikahi kalian?”Nando lebih dulu berlari ke hadapanku, mencoba menggenggam tanganku, tapi aku menghindar. Matanya jadi merah, seolah baru saja menanggung penderitaan besar.“Diana, aku sudah tanya dokter. Dokter bilang operasi in

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 7

    Raut wajah Nando berubah, ia langsung berdiri dan berjalan keluar. Arka dan Candra pun menyadari hal itu, lalu segera bergegas menuju bandara. Mereka harus segera berada di samping Diana, dan menemani Diana melewati masa tersulit untuk menebus dosa mereka kepadanya.…Saat kesadaranku kembali setelah operasi, waktu sudah berlalu tiga hari. Bibi mengenakan pakaian steril dan berjaga di sampingku. Begitu melihatku bangun, air matanya langsung jatuh.“Diana, sakit tidak?”Aku menyeringai sambil tersenyum. “Kalau masih bisa hidup, berarti tidak sakit.”Bibi tertawa kecil sambil menangis, lalu berkata, “Diana pasti panjang umur!”Operasinya sangat berhasil. Dokter mengatakan aku mungkin akan mengalami kehilangan ingatan, tetapi untuk sementara semua orang yang kulihat masih kukenal. Meski memang terasa ada beberapa hal yang tidak bisa kuingat, aku juga tidak berniat mengingatnya kembali. Bahkan, aku merasa melupakan semuanya justru membuatku lebih bahagia.Setelah melewati masa kritis, aku

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 6

    (Sudut Pandang Orang Ketiga)Operasi masih berlangsung.Di luar ruang operasi, bibi berdiri dengan cemas. Ponsel milik Diana yang ada di tangannya terus berdering tanpa henti, membuat suasana semakin menyesakkan. Melihat nama tiga bersaudara Keluarga Satria muncul berulang kali di layar, bibi akhirnya tak tahan lagi dan mengangkat telepon itu.Namun yang menyusul kemudian adalah makian tanpa ampun.“Kalian jangan menelepon lagi! Dan jangan pernah mengganggu keponakanku lagi! Dia tumbuh besar bersama kalian, demi kalian, nyawanya hampir melayang! Kalian masih punya muka untuk meneleponnya?”“Kalau hati nurani kalian belum dimakan anjing, seharusnya kalian berlutut dan bertobat setiap hari untuk menebus dosa kalian!”Usai berkata demikian, bibi langsung menutup panggilan....Di ujung telepon sana, ketiga bersaudara itu saling memandang. Wajah mereka dipenuhi kepanikan yang belum pernah ada sebelumnya. Wajah Arka pucat pasi. Dengan bibir yang kehilangan warna, dia menoleh kaku ke arah sa

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 5

    Aku menggertakkan gigi, menatap obat di tangannya tanpa berkedip. “Santi, kembalikan obat itu padaku!”Seolah melihat dengan jelas penderitaanku, Santi justru memutar tutup botol obat, menuangkan dua pil ke telapak tangannya, lalu mundur dua langkah. Bibirnya melengkung tipis saat dia mengeluarkan suara panggilan seperti memanggil anjing. “Diana, sini merangkak dan mohon padaku. Dengan begitu, aku akan memberikannya.”Tak ada seorang pun yang sanggup menahan provokasi semacam itu, terlebih lagi saat akal sehatku hampir sepenuhnya dilahap oleh rasa sakit. Amarah langsung meledak dari dadaku. Aku berteriak serak dan menerjang ke arahnya untuk merebut obat itu.Namun entah disengaja atau tidak, saat Santi mundur, seluruh obat milikku justru dilemparkannya ke dalam air mancur kecil di lobi rumah sakit. Dia memasang wajah menyesal, tetapi sorot matanya dipenuhi cahaya provokatif yang semakin terang.Aku tak kuasa menahan diri dan mengangkat tangan, namun sebelum sempat melakukan apa pun, se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status