Share

Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila
Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila
Penulis: Mulberi Putih

Bab 1

Penulis: Mulberi Putih
Setelah pulang dari rumah sakit, hal pertama yang kulakukan adalah menelepon bibiku yang berada di luar negeri.

“Bibi, aku sudah memutuskan. Aku akan pergi ke luar negeri. Tolong bantu aku hubungi rumah sakit saraf yang berwenang, aku ingin menjalani operasi.”

Begitu mendengar kata "operasi", tenggorokan bibi langsung tercekat, jelas panik, dan buru-buru bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

Aku sengaja tertawa kecil, menekan rasa sakit yang kurasakan, lalu berkata, “Tidak apa-apa, hanya tumor di kepalaku saja.”

“Hanya tumor?” Suara bibi meninggi penuh kekhawatiran. “Diana, itu bukan hal sepele! Apa tiga bersaudara Keluarga Satria tahu?”

Begitu nama mereka disebut, rasa sakit yang sulit dijelaskan langsung menyeruak di dadaku. Beberapa tetes air mata jatuh dari sudut mataku tanpa bisa aku tahan.

“Sudahlah, Bibi tidak perlu beri tahu mereka.”

Bibi terdiam cukup lama, sebelum akhirnya menghela napas pelan. “Baiklah. Aku sudah belikan tiket pesawat untuk keberangkatan 15 hari lagi. Cepatlah kemari, biar aku bisa merawatmu dengan baik.”

Air mataku akhirnya tumpah tanpa henti. Sekarang, selain Bibi, tak ada lagi orang yang benar-benar peduli padaku.

Telepon itu pun terputus. Tiba-tiba, sebuah suara perempuan bernada manis terdengar dari arah pintu.

“Cepat ke mana? Kak Diana, kamu mau berbuat apa lagi, sih?”

Santi berjalan masuk dengan santai, di tangannya tergantung tiga kantong jimat keselamatan berwarna merah.

Aku cepat-cepat berkedip, memaksa air mata kembali masuk ke pelupuk mata, lalu berkata dingin, “Apa urusannya denganmu? Ngapain kamu di rumahku?”

Dia mengerucutkan bibir, wajahnya penuh ekspresi kesakitan yang dibuat-buat.

“Kak Diana, Arka tidak bilang padamu? Aku sedang tidak enak badan, jadi aku akan tinggal di sini beberapa hari.”

Setelah bicara begitu, tiba-tiba Santi mendekat dengan kasar. Wajah memelasnya tadi seketika lenyap, digantikan tatapan penuh provokasi yang menancap tajam ke kedua mataku.

“Ayo tebak, berapa lama lagi aku butuh waktu untuk sepenuhnya menggantikan posisimu?”

Jarak aman milikku dilanggar. Secara refleks aku merasa tidak nyaman dan mendorongnya ringan.

Namun Santi justru terlempar sejauh dua meter seolah menerima benturan hebat. Kepalanya menghantam lemari dengan suara keras duag, darah langsung mengalir deras. Dia menjerit kesakitan dengan suara yang dipenuhi kepedihan.

“Kak Diana, aku ke sini karena mengkhawatirkanmu. Meski kamu tidak menyukaiku, kamu tidak perlu sampai memukulku, kan?”

Teriakannya yang pilu langsung menarik perhatian tiga bersaudara Keluarga Satria di lantai bawah. Anak tertua, Arka, menerobos masuk lebih dulu untuk memeriksa keadaan Santi.

“Santi, kamu tidak apa-apa? Di mana yang sakit? Aku akan segera memanggil dokter untuk periksa kamu!” ucap Arka penuh kekhawatiran.

Anak kedua, Nando, menyusul dengan cemas, seraya berkata, “Panggil juga psikolog. Jangan sampai dia mengalami trauma psikologis.”

Sementara anak ketiga, Candra, menatapku dengan amarah membara dan memarahiku tanpa ampun, “Diana, aku benar-benar tidak menyangka kamu orang seperti ini! Santi hanya ingin berbagi cerita seru tentang ulang tahunnya kemarin, tapi kamu malah memukulnya! Bagaimana bisa kamu sekejam ini?”

Aku hanya bisa menatap ketiga bersaudara itu. Keberpihakan mereka pada Santi sama sekali tak mereka sembunyikan. Di saat itu juga, tubuhku terasa seolah jatuh ke dalam jurang es yang dalam dan dingin.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 10

    “Kamu sudah lama tahu Diana sakit. Obat yang kamu jatuhkan di depan kami hari itu adalah obat khusus untuk Diana! Santi, kami sudah memperlakukanmu sebaik itu. Kenapa kamu tega memperlakukan Diana seperti ini?”Wajah Arka dan Nando pun berubah drastis. Mereka segera merebut dan membaca berkas hasil penyelidikan itu. Setiap kali membalik satu halaman, warna wajah mereka semakin memudar. Di bagian akhir, tubuh mereka bahkan gemetar tak terkendali.Saat melakukan semua itu, mungkin mereka merasa wajar. Namun ketika semuanya dicatat dengan rinci, barulah mereka menyadari betapa dalam luka yang telah mereka torehkan padaku.Aku menatap dingin wajah mereka yang penuh penyesalan, dan hanya merasa geli. Saat masih ada kesempatan untuk menyayangi, mereka tidak menghargainya. Kalau sekarang menyesal, untuk siapa penyesalan itu?Aku pun mendorong kursi rodaku, hendak pergi. Namun Santi yang tergeletak tidak jauh dariku tiba-tiba bangkit dan menerjang ke arahku sambil berteriak histeris, “Bukankah

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 9

    Santi bergegas menghampiri mereka dengan wajah penuh kekhawatiran dan bertanya, “Kakak-kakak, kalian pergi ke mana saja beberapa hari ini?”“Aku benar-benar khawatir pada kalian! Apa Kak Diana sudah kembali? Di mana dia sekarang?”“Aku tahu dia marah karena kalian baik padaku, tapi pergi dari rumah tanpa sepatah kata pun seperti ini sungguh kekanak-kanakan. Kakak-kakak jangan marah, ya.”Mendengar perkataan Santi, ketiga bersaudara itu tidak lagi menunjukkan ekspresi menyalahkan seperti biasanya, malah terlihat agak marah.Santi sedikit panik, tanpa sadar memasang raut wajah menyanjung. “Lagipula Kak Diana sedang sakit, wajar kalau dia jadi agak temperamental.”Wajah Arka langsung berubah. Ia tiba-tiba mencengkeram kerah baju Santi. “Bagaimana kamu tahu Diana sakit? Apa yang sudah kamu lakukan padanya?”Ekspresi Santi sempat terdistorsi sesaat, lalu ia kembali memasang wajah menyedihkan itu.“Kak Arka, aku juga baru tahu. Temanku sedang magang di rumah sakit, dia bilang Kak Diana punya

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 8

    Beberapa orang itu saling tarik-menarik dengan sangat kacau, namun tetap berusaha mencari celah untuk menerobos masuk ke ruang rawat inap. Keributan yang mereka buat menarik perhatian pasien di kamar-kamar sekitar, akibatnya banyak orang keluar untuk menonton.Aku yang tidak tahan, akhirnya berkata dengan wajah dingin, “Biarkan mereka masuk.”Para pengawal pun berhenti bergerak dan melepaskan tangan mereka.Candra melotot ke arah para pengawal dan berkata dengan angkuh, “Kami ini Keluarga Satria. Siapa tahu nanti salah satu dari kami akan menikahi Diana. Kalian berani bersikap seperti ini pada kami, awas nanti dipecat!”Mendengar itu aku justru tertawa dingin karena kesal. “Pamer kuasa di depan kamarku? Aku bahkan tidak kenal kalian, atas dasar apa aku harus menikahi kalian?”Nando lebih dulu berlari ke hadapanku, mencoba menggenggam tanganku, tapi aku menghindar. Matanya jadi merah, seolah baru saja menanggung penderitaan besar.“Diana, aku sudah tanya dokter. Dokter bilang operasi in

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 7

    Raut wajah Nando berubah, ia langsung berdiri dan berjalan keluar. Arka dan Candra pun menyadari hal itu, lalu segera bergegas menuju bandara. Mereka harus segera berada di samping Diana, dan menemani Diana melewati masa tersulit untuk menebus dosa mereka kepadanya.…Saat kesadaranku kembali setelah operasi, waktu sudah berlalu tiga hari. Bibi mengenakan pakaian steril dan berjaga di sampingku. Begitu melihatku bangun, air matanya langsung jatuh.“Diana, sakit tidak?”Aku menyeringai sambil tersenyum. “Kalau masih bisa hidup, berarti tidak sakit.”Bibi tertawa kecil sambil menangis, lalu berkata, “Diana pasti panjang umur!”Operasinya sangat berhasil. Dokter mengatakan aku mungkin akan mengalami kehilangan ingatan, tetapi untuk sementara semua orang yang kulihat masih kukenal. Meski memang terasa ada beberapa hal yang tidak bisa kuingat, aku juga tidak berniat mengingatnya kembali. Bahkan, aku merasa melupakan semuanya justru membuatku lebih bahagia.Setelah melewati masa kritis, aku

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 6

    (Sudut Pandang Orang Ketiga)Operasi masih berlangsung.Di luar ruang operasi, bibi berdiri dengan cemas. Ponsel milik Diana yang ada di tangannya terus berdering tanpa henti, membuat suasana semakin menyesakkan. Melihat nama tiga bersaudara Keluarga Satria muncul berulang kali di layar, bibi akhirnya tak tahan lagi dan mengangkat telepon itu.Namun yang menyusul kemudian adalah makian tanpa ampun.“Kalian jangan menelepon lagi! Dan jangan pernah mengganggu keponakanku lagi! Dia tumbuh besar bersama kalian, demi kalian, nyawanya hampir melayang! Kalian masih punya muka untuk meneleponnya?”“Kalau hati nurani kalian belum dimakan anjing, seharusnya kalian berlutut dan bertobat setiap hari untuk menebus dosa kalian!”Usai berkata demikian, bibi langsung menutup panggilan....Di ujung telepon sana, ketiga bersaudara itu saling memandang. Wajah mereka dipenuhi kepanikan yang belum pernah ada sebelumnya. Wajah Arka pucat pasi. Dengan bibir yang kehilangan warna, dia menoleh kaku ke arah sa

  • Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila   Bab 5

    Aku menggertakkan gigi, menatap obat di tangannya tanpa berkedip. “Santi, kembalikan obat itu padaku!”Seolah melihat dengan jelas penderitaanku, Santi justru memutar tutup botol obat, menuangkan dua pil ke telapak tangannya, lalu mundur dua langkah. Bibirnya melengkung tipis saat dia mengeluarkan suara panggilan seperti memanggil anjing. “Diana, sini merangkak dan mohon padaku. Dengan begitu, aku akan memberikannya.”Tak ada seorang pun yang sanggup menahan provokasi semacam itu, terlebih lagi saat akal sehatku hampir sepenuhnya dilahap oleh rasa sakit. Amarah langsung meledak dari dadaku. Aku berteriak serak dan menerjang ke arahnya untuk merebut obat itu.Namun entah disengaja atau tidak, saat Santi mundur, seluruh obat milikku justru dilemparkannya ke dalam air mancur kecil di lobi rumah sakit. Dia memasang wajah menyesal, tetapi sorot matanya dipenuhi cahaya provokatif yang semakin terang.Aku tak kuasa menahan diri dan mengangkat tangan, namun sebelum sempat melakukan apa pun, se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status