Short
Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila

Setelah Hilang Ingatan, Teman Masa Kecilku Menggila

By:  Mulberi PutihCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
4views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Tiga bersaudara Keluarga Satria, yang selama ini menganggap aku berharga di hidup mereka, justru tidak ada di sampingku saat aku tersiksa oleh tumor otak ganas. Dokter mengatakan prosedur operasi bisa menyebabkan hilang ingatan. Aku yang tidak ingin melupakan mereka, langsung menelepon dan memohon bantuan. Namun yang kudapat justru makian tanpa ampun. “Diana, hari ini ulang tahun Santi. Bisakah kamu berhenti membuat masalah?” Aku menahan sakit hingga pingsan. Saat sadar di rumah sakit, aku melihat pesan dari Santi di ponselku. [Diana, para kakak memberiku tiga jimat keselamatan untuk melindungiku.] Di foto itu, jelas terlihat jimat-jimat yang dulu kudapatkan dengan cara bersujud selangkah demi selangkah, berlutut di tengah hujan selama tujuh jam. Semua itu kulakukan demi keselamatan tiga bersaudara tersebut. Saat itu juga aku benar-benar menyerah. Aku pergi seorang diri ke luar negeri untuk menjalani operasi dan memilih melupakan mereka. Hingga suatu hari, aku melihat tiga pria asing berlutut di depan rumahku, memohon maaf dengan gila-gilaan.

View More

Chapter 1

Bab 1

Setelah pulang dari rumah sakit, hal pertama yang kulakukan adalah menelepon bibiku yang berada di luar negeri.

“Bibi, aku sudah memutuskan. Aku akan pergi ke luar negeri. Tolong bantu aku hubungi rumah sakit saraf yang berwenang, aku ingin menjalani operasi.”

Begitu mendengar kata "operasi", tenggorokan bibi langsung tercekat, jelas panik, dan buru-buru bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

Aku sengaja tertawa kecil, menekan rasa sakit yang kurasakan, lalu berkata, “Tidak apa-apa, hanya tumor di kepalaku saja.”

“Hanya tumor?” Suara bibi meninggi penuh kekhawatiran. “Diana, itu bukan hal sepele! Apa tiga bersaudara Keluarga Satria tahu?”

Begitu nama mereka disebut, rasa sakit yang sulit dijelaskan langsung menyeruak di dadaku. Beberapa tetes air mata jatuh dari sudut mataku tanpa bisa aku tahan.

“Sudahlah, Bibi tidak perlu beri tahu mereka.”

Bibi terdiam cukup lama, sebelum akhirnya menghela napas pelan. “Baiklah. Aku sudah belikan tiket pesawat untuk keberangkatan 15 hari lagi. Cepatlah kemari, biar aku bisa merawatmu dengan baik.”

Air mataku akhirnya tumpah tanpa henti. Sekarang, selain Bibi, tak ada lagi orang yang benar-benar peduli padaku.

Telepon itu pun terputus. Tiba-tiba, sebuah suara perempuan bernada manis terdengar dari arah pintu.

“Cepat ke mana? Kak Diana, kamu mau berbuat apa lagi, sih?”

Santi berjalan masuk dengan santai, di tangannya tergantung tiga kantong jimat keselamatan berwarna merah.

Aku cepat-cepat berkedip, memaksa air mata kembali masuk ke pelupuk mata, lalu berkata dingin, “Apa urusannya denganmu? Ngapain kamu di rumahku?”

Dia mengerucutkan bibir, wajahnya penuh ekspresi kesakitan yang dibuat-buat.

“Kak Diana, Arka tidak bilang padamu? Aku sedang tidak enak badan, jadi aku akan tinggal di sini beberapa hari.”

Setelah bicara begitu, tiba-tiba Santi mendekat dengan kasar. Wajah memelasnya tadi seketika lenyap, digantikan tatapan penuh provokasi yang menancap tajam ke kedua mataku.

“Ayo tebak, berapa lama lagi aku butuh waktu untuk sepenuhnya menggantikan posisimu?”

Jarak aman milikku dilanggar. Secara refleks aku merasa tidak nyaman dan mendorongnya ringan.

Namun Santi justru terlempar sejauh dua meter seolah menerima benturan hebat. Kepalanya menghantam lemari dengan suara keras duag, darah langsung mengalir deras. Dia menjerit kesakitan dengan suara yang dipenuhi kepedihan.

“Kak Diana, aku ke sini karena mengkhawatirkanmu. Meski kamu tidak menyukaiku, kamu tidak perlu sampai memukulku, kan?”

Teriakannya yang pilu langsung menarik perhatian tiga bersaudara Keluarga Satria di lantai bawah. Anak tertua, Arka, menerobos masuk lebih dulu untuk memeriksa keadaan Santi.

“Santi, kamu tidak apa-apa? Di mana yang sakit? Aku akan segera memanggil dokter untuk periksa kamu!” ucap Arka penuh kekhawatiran.

Anak kedua, Nando, menyusul dengan cemas, seraya berkata, “Panggil juga psikolog. Jangan sampai dia mengalami trauma psikologis.”

Sementara anak ketiga, Candra, menatapku dengan amarah membara dan memarahiku tanpa ampun, “Diana, aku benar-benar tidak menyangka kamu orang seperti ini! Santi hanya ingin berbagi cerita seru tentang ulang tahunnya kemarin, tapi kamu malah memukulnya! Bagaimana bisa kamu sekejam ini?”

Aku hanya bisa menatap ketiga bersaudara itu. Keberpihakan mereka pada Santi sama sekali tak mereka sembunyikan. Di saat itu juga, tubuhku terasa seolah jatuh ke dalam jurang es yang dalam dan dingin.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status