Pagi cerah itu menjadi kelam saat Rebecca membuka mata. Matanya membulat sempurna, pun sempat mengerjap-ngerjap ketika berusaha menampik ilusi mimpi yang membuat jantungnya ingin copot.
Tetapi percuma! Kehangatan yang berbaur dari kulit yang saling menempel menegaskan semuanya bukanlah sebuah ilusi mimpi, melainkan sebuah kenyataan. Tidak sama sekali bermimpi.
Rebecca terlonjak kaget! Tangannya segera menyingkirkan lengan kokoh yang memeluknya. Tidak peduli seberapa besar rasa penasarannya, dia harus menyingkir dari sosok yang bertelanjang di dalam satu selimut yang sama dengannya.
Cepat-cepat Rebecca memungut pakaian miliknya di atas lantai untuk kemudian menutupi tubuhnya yang lengket dan terasa pegal. Benaknya yang terguncang oleh keterkejutan itu mulai terisi oleh rangkaian-rangkaian erotis kemarin malam.
Raut wajah Rebecca menegang terkejut di kala menyadari pria di sampingnya bukan calon suaminya, melainkan pria asing yang menawan–yang masih tertidur lelap. Debar jantung Rebecca nyaris berhenti berdetak. Rasa takut dan panik menyelimuti dirinya.
Napas Rebecca memberat dan sesak. Seperti bumi berhenti pada porosnya, tubuh Rebecca hampir ambruk. Apa yang terjadi? Jelas-jelas kemarin malam Rebecca melihat calon suaminya. Mereka saling menyentuh, saling bercumbu, tapi ... siapa pria yang tertidur itu?
Rebecca menarik napas dalam-dalam. Dia berusaha menenangkan diri yang gemetar ketakutan. Rebecca ingat bagaimana dia berakhir di kamar itu. Bahwa orang kepercayaannya yang membawanya.
Perlahan-lahan Rebecca menyadari akan spontanitas perubahan kondisi yang menyiksa kemarin malam. Sehingga tertarik satu kesimpulan jika perubahan tubuhnya bersinggungan dengan makanan atau minuman yang ditelan kemarin malam.
Menjelang hari pernikahan yang sudah di depan mata, tidak mungkin Rebecca rusak hari bahagia itu dengan tindakan konyol. Bercinta dengan pria tak dia kenal, benar-benar sudah gila!
Rebecca tidak akan mencoreng harga diri maupun nama baiknya sendiri. Wanita cantik itu terlahir dari keluarga cukup terpandang di Manchester. Ayahnya memiliki perusahaan manufaktur di bidang industri makanan, sementara Elvis–calon suaminya seorang dokter bedah yang terlahir dari keluarga pemilik rumah sakit di Manchester.
Mungkinkah ada seseorang yang busuk hati terhadap kesempurnaan hidup Rebecca?
‘April? April yang melakukan ini?’ batin Rebecca menjerit.
Untuk apa? Kenapa April mencelakai Rebecca yang merupakan sosok berbaik hati terhadap dirinya? Dan untuk apa April melakukan kejahatan padahal Rebecca tidak pernah berbuat kasar pada dirinya? Napas Rebecca tersengal-sengal, dadanya terasa semakin sesak dan kedua kakinya gemetaran akibat nyeri dan shock yang campur aduk.
Namun Rebecca tidak mau berlarut dalam guncangan shock itu. Dia memutuskan kabur sebelum pria itu terbangun. Lebih baik menganggap kesialan itu sebagai one night stand dan melupakannya.
Sayangnya, keputusan itu diambil pada detik yang salah. Ketika Rebecca membuka pintu langkahnya membeku oleh kehadiran dua sosok pria yang melayangkan tatapan tajam layaknya ingin membunuh.
Mereka adalah Nelson Colvin–ayah kandungnya yang berdiri dengan wajah memerah marah. Bukan hanya beliau, Elvis–calon suami Rebecca juga turut ikut menangkap basah dirinya di kamar itu.
Tidak usah ditanya lagi dari mana mereka mengetahui keberadaan dua pria itu. Adanya April yang berekspresi datar di belakang Elvis sudah menjawab semuanya.
Kesialan pagi yang ironi! Rebecca tidak diizinkan bernapas tenang sedetik saja sampai-sampai tubuhnya yang pegal menjadi kesemutan. Dia tidak diberi jeda untuk menemukan solusi dari kesalahan fatal itu.
Meski diserang rasa takut yang luar biasa, dia masih bisa berpikir sedikit jernih untuk segera keluar dan menutup rapat-rapat pintu itu. Tetapi Rebecca tidak bisa menyembunyikan kissmark di lehernya hasil gigitan pria asing yang ada di dalam kamar itu.
Plak!
Tangan besar Nelson yang menampar perih di pipi kiri Rebecca lebih dulu menyapa dibandingkan kata-kata. Kemarahan pria paruh baya itu tidak lagi bisa terkendali melihat apa yang ada di depan matanya.
“Di mana otakmu, Rebecca?! Kau diam-diam keluar untuk melakukan hal menjijikkan seperti ini?” Nelson memekik arogan tanpa peduli pada Rebecca yang berkaca-kaca menatapnya.
“Dad ...”
“Don’t call me daddy! Aku malu memiliki putri sepertimu!”
Omong kosong apa itu?
Rebecca tak berkedip menatap ayah kandungnya yang begitu tega bersikap kasar kepada dirinya. Meskipun belakangan waktu hubungan mereka merenggang akibat hadirnya ibu dan saudara tiri, Rebecca menilai Nelson tak pantas menghakimi dia tanpa mendengar penjelasan lewat mulutnya.
Sosok ayahnya benar-benar tak memberikan kesempatan. Dia bertitah tegas menyuruh Rebecca segera pulang sambil membuang muka, seolah-olah menatap Rebecca secara intens begitu sangat menjijikkan.
Kehadiran Elvis yang masih menatap dingin ke arahnya membujuk Rebecca untuk mendekati. Rebecca percaya jika calon suaminya itu akan mendengar bagaimana dia berakhir di kamar itu.
Sama seperti sebelumnya, harapan itu pupus! Tangan Rebecca ditepis kasar saat ingin menggapai pergelangan tangan Elvis.
Plak!
“Jika ingin menutupi kebohongan, tutupi dengan benar!” seru Elvis dengan geraman penuh kemarahan.
Wanita putus asa itu menitihkan air mata oleh perkataan calon suaminya. “Don’t get me wrong, Honey. Aku bisa menjelaskan semuanya,” jelasnya melirih pilu.
Elvis mengangguk, namun bibirnya menyeringai sinis seperti meremehkan ucapan Rebecca. Manik mata pria itu memancarkan jelas rasa kecewa dan amarah yang sudah tak lagi terkendali. “Kalau begitu jelaskan bekas merah-merah di lehermu itu apa?” tuntutnya.
Secara spontan Rebecca menyentuh lehernya. Dia panik dan terkejut ketika tidak menyadari jejak-jejak erotis gigitan pria asing yang tak dikenalnya di sana. Ini memang sudah benar-benar gila! Rebecca tidak menyangka kalau semua ini akan terjadi pada hidupnya.
“Siapa yang ada di dalam?” Elvis kembali menuntut penjelasan.
“Tidak ada siapapun.” Rebecca membantah cepat.
“Kau berselingkuh?” Elvis menuduh keji.
“No!” Rebecca menggeleng cepat, dengan wajah panik.
“Kau bosan denganku selama tiga tahun kita menjalin hubungan?” Elvis mencecar Rebecca.
“No! Never! I always love you, Elvis,” bantah Rebecca mengiba-iba.
“Shut the fuck up! Kau tidak akan merusak kepercayaanku jika kau mencintaiku!” begitu emosionalnya Elvis melontarkan rasa kecewa. Nadanya menekan dan mengintimidasi sampai-sampai dia kembali berucap, “Aku tidak mau menikahi pengkhianat kotor sepertimu!”
Rebecca tertegun terkejut. Dia meragukan telinganya atas pernyataan kejam itu. Akal sehatnya meneriaki batin yang tak percaya pada Elvis. Mulut yang selalu berkata-kata manis itu mencetuskan penghinaan dengan sadarnya?
“M-maksudmu ... kau tidak mau menikahiku?” terbata-bata Rebecca memastikan pernyataan Elvis.
“Kau masih bertanya? Jelas saja aku tidak sudi menikah denganmu!” seru Elvis dengan nada keras.
“Elvis, kau benar-benar salah paham.” Rebecca mencecar panik, sementara tangannya yang gemetaran sudah mencengkram pergelangan tangan Elvis. “Kau mencintaiku, Elvis! Dan aku mencintaimu. Pernikahan ini ... pernikahan ini mimpi kita!” Rebecca begitu mengiba pada Elvis.
Ironisnya, pernyataan Rebecca dibalas oleh perlakuan kasar dari Elvis. Pria itu penuh emosional menepis tangan Rebecca. Belum cukup sampai di situ, Elvis dengan sadarnya menodorong Rebecca hingga punggungnya terbentur sakit ke dinding lorong kamar.
Mata Rebecca terpejam. Tulung punggungnya seperti mau patah akibat benturan keras itu. Ditambah nyeri dan perih di dekat selangkangan membuat Rebecca ambruk terduduk ke lantai.
“Kau adalah wanita paling munafik dan paling egois yang pernah aku temui, Rebecca! Kau selalu melarangku untuk menyentuhmu seutuhnya! Mulutmu selalu bilang padaku ‘akan lebih kita melakukan setelah menikah nanti’! Kau memberikan bibirmu padaku, tapi dengan selingkuhanmu itu kau berikan seluruh tubuhmu!”
Fitnah kejam dari Elvis itu bukan hanya menembus jantung Rebecca, melainkan nyawa Rebecca tercabut kasar sampai seluruh tubuhnya bergetar kesakitan. Namun di balik rasa sakit itu Rebecca tidak mau menyerah. Dia berusaha menepis rasa untuk bisa lembut menggenggam tangan Elvis.
“Apa yang harus aku lakukan agar kau mau mendengarkan dan percaya padaku?” suara serak Rebecca begitu ironis mengiba-iba.
“Aku jijik dan benci padamu, Rebecca. Jangan muncul di hadapanku. Kita selesai! Tidak akan ada pernikahan apalagi cinta diantara kita!”
Kekejaman Elvis dalam menginjak-injak harga diri Rebecca tidak hanya lewat mulutnya saja. Lagi! Dia menepis kasar tangan Rebecca sampai tubuh rapuh itu terdorong sakit ke belakang.
Air mata Rebecca berlinang deras membasahi pipinya di kala Elvis pergi meninggalkannya, tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Pun begitu juga dengan Nelson yang pergi meninggalkan Rebecca. Nelson yang begitu marah memutuskan untuk pergi menjauh.
***
Ketika matanya terbuka, Glenn Romanov mendapati diri yang bangun kesiangan. Anehnya konglomerat menawan itu tidak terkejut. Dia masih betah berbaring di ranjang kusut yang menjadi saksi biksu di mana hampir semalaman dia menguras energi.
Ya, Dia adalah pria menawan yang menghabiskan malam nikmat dengan wanita asing yang tak ia kenali. Padahal kemarin malam Glenn hanya ingin beristirahat dengan tenang. Dia sudah lelah melalui serangkaian jadwal bisnis yang padat pada hari pertama di Manchester.
Ekspektasinya teralihkan oleh realita. Pria lajang berusia 32 tahun itu dengan sederhananya terhasut oleh nafsu. Suara manis yang merendah, bibir basah yang begitu nikmat, kulit putih bersih yang menawan, serta asset vital yang meresahkan.
Glenn tersenyum kecil memikirkan malam penuh perangkap manis yang membuatnya kecanduan. Padahal dia adalah pria dingin yang anti terlibat dalam sebuah kontroversi terhadap wanita.
“Dia sudah pergi,” Glenn bergumam saat terduduk dan menyadari wanita yang ‘digagahi’ olehnya sudah angkat kaki.
Wajah menawan itu menunjukkan kesuraman yang menegakkan bulu-bulu halus di tubuh. Sementara bayangan erotis–manis itu telah terhapus oleh penilaian Glenn terhadap wanita itu yang dinilainya adalah wanita penghibur.
Glenn merasa tak bisa menyalahkan wanita yang hampir sepanjang malam digagahi olehnya itu. Baginya sudah sangat pantas wanita itu pergi sebelum dia terbangun. Karena sepuas-puasnya Glenn pada tubuh itu, dia tetap wanita penghibur.
Glenn memutuskan untuk beranjak dari ranjang dan membersihkan tubuhnya. Jiwanya diserang oleh perasaan aneh ketika melihat bekas cakaran kuku-kuku di lengan kanan.
Sialan! Tidak seharusnya ada jejak yang membuat Glenn teringat.
Segera mungkin Glenn menyudahi pembersihan tubuhnya. Pun cepat-cepat dia menutupi tubuh gagahnya itu dengan setelan formal berjas.
“Selamat pagi, Tuan Glenn.”
Glenn menoleh pada sekretaris yang datang menghampiri ke kamarnya. “Kau sudah lama bekerja untukku. Tapi kenapa kau lupa tentang peraturan yang aku buat?” dia memprotes.
Eric–sekretarisnya tampak kebingungan mencerna ucapan Glenn. “Maksud Anda?”
“Wanita kemarin malam kau yang menyiapkannya, kan? Kau sangat tahu jika aku ini tidak suka hal-hal seperti itu.”
Dahi Eric berkerut dalam diserang oleh pernyataan yang membingungkan. “Wanita? Maksud Anda apa, Tuan Glenn? Saya tidak akan berani melakukan kesalahan seperti itu.”
Keadaan hening sejenak oleh Glenn yang berpikir keras. Jika sekretarisnya tidak menyiapkan wanita kemarin untuknya, bagaimana bisa wanita itu masuk ke kamarnya?
Di tengah dia sedang berpikir keras, matanya teralihkan oleh benda berkilau di lantai. Glenn berjalan mendekati lalu meraihnya. Jemarinya sudah memegang satu anting milik wanita kemarin malam yang terjatuh.
Anastasia Romanov, dia adalah putri cantik Glenn dan Rebecca yang terlahir sempurna. Gadis kecil yang dua tahun lalu menangis kencang itu telah tumbuh menggemaskan.Gadis kecil cantiknya begitu mirip dengan Rebecca. Rambutnya cokelat, lembut dan panjang. Matanya juga indah dan meneduhkan. Hidungnya mancung seperti Glenn, sementara bibirnya tipis dan mungil seperti Rebecca.Sayangnya, di mata Gabriel adiknya itu sosok menggemaskan yang dijahili.Gabriel suka mencubit gemas pipi Anastasia yang gembul. Gabriel memang mengajak Anastasia bermain, tetapi dia juga menjahili Anastasia sampai membuatnya menangis.Suasana taman belakang pagi di momen weekend telah ramai oleh riak suara Gabriel yang tertawa dan Anastasia yang menangis. Keduanya telah bermain di sana dengan diawasi oleh para pengasuh mereka.“Jangan ganggu aku, Kakak!” Anastasia kesal pada Gabriel yang menarik rambutnya. Padahal Anastasia sedang memberi makan anjing kecilnya.“Aku hanya ingin merapikan rambutmu, Ana.” Gabriel mem
Tidak perlu dijelaskan secara terperinci kebahagiaan keluarga ketika Glenn mengumumkan kehamilan kedua Rebecca. Mereka membanjiri ucapan selamat kepada Glenn dan Rebecca, pun Gabriel yang akan menjadi seorang kakak.Emilia dan Abraham langsung menyumbangkan segelintir uang kepada yayasan sosial dan panti asuhan sebagai wujud syukur atas kebahagiaan Glenn dan Rebecca. Nelson pun melakukan kegiatan sosial yang sama di Manchester.Bagaimana dengan Gabriel?Putra tampan Glenn dan Rebecca itu dengan bangga menceritakan perihal dia yang akan menjadi kakak. Dia juga menjadi sosok manis dan perhatian kepada Rebecca.Seperti pagi itu, Gabriel yang telah rapi mengenakan seragam sekolah datang ke kamar tidur Glenn dan Rebecca. Dia membawakan segelas susu untuk dinikmati oleh Rebecca.Hal itu dilakukan karena selama kehamilan yang sudah mengijak lima bulan itu, Rebecca mengalami ngidam yang luar biasa. Wanita cantik itu masih saja mengalami morning sickness yang mengganggu rutinitas pekerjaan.“I
Sebuah ciuman hangat Rebecca hadiahkan ke dahi Gabriel. Putra tampannya itu sudah terlelap tidur akibat lelah seharian merayakan ulang tahunnya. Selimut yang menghangatkan tubuh Gabriel telah dirapikan kembali oleh Rebecca. Namun, ada kejadian lucu yang menahan langkah Rebecca ketika ingin beranjak dari kamar Gabriel.Putra tampannya itu mengigau. “Mom, aku mau adik,” gumamnya.Rebecca geleng-geleng kepala menatap putranya. Gabriel tidak hanya mewarisi ketampanan Glenn, tetapi sikap keras kepala Glenn juga menurun pada Gabriel.Rebecca akhirnya memadamkan lampu kamar Gabriel untuk kemudian menyusul Glenn yang sudah menunggu di kamar mereka. Glenn teralihkan oleh kehadiran Rebecca. iPad yang dipergunakan memeriksa beberapa email penting telah Glenn letakkan ke meja nakas di sebelahnya.“Gabriel sudah tidur?” tanya Glenn berbasa-basi pada Rebecca yang merangkak naik ke ranjang tidur.Rebecca berdehem singkat. “Dia sangat kelelahan, tapi dia masih saja ingat pada keinginannya memiliki ad
Suara mobil yang berhenti di depan kediaman mewah telah memanggil langkah gadis kecil di ruangan tamu. Dia berlari tergesa-gesa, begitu tidak sabar ingin menghampiri seseorang yang mengendarai mobil di depan itu.Baginya, momen kehadiran itu sudah dinanti-nanti. Dia sudah menunggu sejak pagi hari tanpa rasa bosan–sampai waktu telah menunjukkan pukul empat sore.Pintu yang tertutup terbuka, bola mata cantiknya telah berbinar bahagia menyambut sosok tampan yang muncul dari balik pintu.“Daddy sudah pulang?” seru gadis cantik itu menyapa hangat.Sayang, kehangatan itu dibalas oleh sikap dingin dari sosok yang disapa ‘Daddy’ itu. Kehadirannya yang begitu menyambut tidak dianggap, seolah-olah gadis kecil itu tidak terlihat oleh mata.Tanpa rasa peduli apalagi menghargai, sosok ayah itu berjalan meninggalkan gadis kecil yang masih berharap belas kasihnya. Dia benar-benar mengacuhkan, sedikit pun dia tidak melirik ke belakang untuk sekadar melihat gadis kecil yang mulai terengah-engah menyus
Glenn dan Rebecca akhirnya pergi bersama Gabriel sesuai rencana mereka siang itu. Mereka menuju sebuah toko yang menjual lengkap permainan anak-anak. Anehnya, Gabriel tampak berbeda ketika tiba di sana. Dia tidak antusias seperti biasanya. Padahal ketika Glenn dan Rebecca berjanji akan membebaskannya memilih hadiah permainan, bocah laki-laki sangat antusias luar biasa.“Apa mainan yang kau cari tidak ada?” Rebecca menegur Gabriel yang termenung di salah satu rak mainan.Gabriel menggelengkan kepalanya. “Aku mau makan steak di restoran–hotel favoritku, Mom.”Rebecca terheran dengan permintaan putranya. Benaknya tidak menyalahkan dikarenakan Gabriel memang menyukai menu steak di restoran–hotel favorit mereka.“Kenapa tiba-tiba?” Rebecca memastikan.“Tiba-tiba aku ingin makan steak di sana,” pinta Gabriel setengah merengek.“Kita akan ke sana setelah kau selesai memilih hadiah mainanmu. Tapi sebelum ke sana, Mommy akan memantau persiapan perayaan ulang tahunmu besok di ballroom hotel itu
Note: Holla, karena pada minta extra part tampil di Goodnovel, jadi abi tampilin di sini juga. Selamat membaca yaaa :) ~ Lima tahun kemudian ~Kedamaian jiwa Glenn terusik oleh gerakan yang menggelitik di lengannya. Matanya yang lama terpejam perlahan terbuka, dengan gerakan tidak memburu mulai berusaha menjernihkan pandangan mata yang samar-samar.Ujung bibirnya tertarik dan menyimpulkan senyuman tampan. Jiwanya yang terusik seketika tersapu oleh kehangatan yang menggelitik pikiran untuk tertawa geli.Tepat di depan mata, Glenn mendapati tersangka utama yang mengusik kedamaian jiwanya dari dunia mimpi. Namun, dia sama sekali tidak berniat untuk menegur.Pria tampan yang bertelanjang di dalam selimut itu malah berniat untuk menenangkan tersangka utama yang gelisah tertidur dalam pelukannya. Dengan gerakan lembut, dia membelai kepala yang menjadikan lengannya sebagai bantal. Gerakan tangannya berlanjut turun ke bahu telanjang tersangka utama untuk menebarkan kehangatan lewat belaian m
~ Satu bulan kemudian ~Handphone yang lama menempel, akhirnya menjauh dari sisi telinga kiri Rebecca. Wanita cantik itu meletakkan handphone yang digunakan menelepon itu di meja nakas–bersebelahan dengan ranjang yang sedang Rebecca duduki.Menjelang jadwal persalinannya, Rebecca memutuskan untuk mengontrol perusahaan di Manchester by phone dan online. Dia menaruh kepercayaan pada wakil direktur yang ditunjuk langsung oleh Rebecca. Dan seperti biasa, malam itu Rebecca mendapatkan telepon dari wakil direktur yang melaporkan informasi mengenai perusahaan pada hari itu. Percakapan yang terjadi cukup lama dan membuat Glenn yang duduk di dekat Rebecca diserang rasa kesal.“Aku memang mengizinkanmu aktif bekerja, tapi tidak sampai seperti ini juga, Rebecca.” Glenn memprotes ketus sikap Rebecca, sementara tangannya menyerahkan segelas susu vanila ke tangan Rebecca.Rebecca hanya tersenyum senang dan tidak berkata-kata lebih. Dia lebih berkeinginan untuk menengguk habis susu vanila buatan su
Tangis Martha semakin keras melihat tubuh Rowena sudah kaku terselimuti oleh kain. Wanita paruh baya itu menjerit meminta putrinya untuk membuka mata, tapi sayangnya putrinya tetap tidak membuka mata.Tubuh Rowena sudah sangatlah dingin. Itu semua menandakan bahwa sudah tidak ada lagi aliran darah mengalir di tubuh wanita itu. Pun wajah cantik Rowena telah memucat.“Bangun, Nak! Bangun! Jangan tinggalkan Mommy!” Martha meraung meminta Rowena untuk membuka mata. Akan tetapi hasilnya tetap saja tidak mengubah kenyataan—di mana Rowena tidak lagi bernyawa.Bukan hanya Martha yang menangis. Tapi Rebecca yang berada di pelukan Glenn juga menangis melihat Rowena sudah tidak bernyawa. Meskipun Rowena telah berbuat jahat pada Rebecca, namun kenyataan ini sangatlah memilukan.Rowena pergi meninggalkan putri kecilnya sendiri di dunia ini. Sungguh sangat ironi. Bayi yang lahir ke dunia sudah harus kehilangan ibunya. Bayi tak berdosa itu tak lagi memiliki sosok ibu kandung.Sebagai calon ibu, tent
Rebecca sengaja tidak banyak bertanya dikarenakan tempat dan situasi yang tidak mendukung. Dia lebih tertarik mengajak Glenn beserta Nelson untuk pulang. Tetapi setibanya di penthouse, Rebecca tidak menunda-nunda untuk menagih penjelasan dari Nelson yang duduk bersebrangan dengan dirinya di ruangan tamu. Sementara Glenn menjadi pendamping setia di sebelah Rebecca.“Daddy ingin bercerai?” tanya Rebecca sangat serius.Nelson mengangguk. “Lawyer-ku sudah mengurus perceraian ini.”“Kenapa?” Rebecca menyahut cepat.Nelson tersenyum samar mendengar jawaban Rebecca. “Kau tidak yakin pada keputusanku ini?”“Bukan seperti itu, Dad. Aku sangat tahu jika Daddy sangat mencintai Bibi Martha.”Rebecca terdiam canggung ketika ragu-ragu mengeluarkan kalimat yang sudah terangkai di ujung lidah, namun ada keinginan yang lebih besar sehingga dia melanjutkan kalimatnya.“Apa keputusan Daddy itu karena aku?” suara Rebecca sedikit merendah dengan nada melambat yang ragu-ragu.Nelson membantah tegas lewat k