Share

Bab 4

Author: Bibi
Setelah tarian berakhir, Suci membungkuk memberi hormat, lalu kembali ke tempat duduknya. Sejak awal hingga akhir, dia tidak menatap siapa pun.

Acara kembali berlanjut dalam suasana yang aneh. Namun, semua orang tahu, setelah kejadian ini, Suci benar-benar kehilangan martabat di kediaman Putra Mahkota.

Setelah bersusah payah menunggu hingga acara hampir berakhir, para tamu mulai berdiri dan berpamitan.

Rendra memandangi Suci yang sejak tadi terus menunduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kegelisahan dan perasaan samar yang tak mampu dia pahami di dalam hatinya semakin kuat. Dia berdiri dan hendak menghampiri Suci. Setidaknya ... dia perlu mengatakan sesuatu.

Namun, tepat saat itu, sesuatu yang tak terduga tiba-tiba terjadi!

Beberapa sosok berpakaian hitam memelesat masuk dari luar aula, disusul kilatan pedang dan denting senjata.

"Ada pembunuh! Lindungi Putra Mahkota!" Teriakan para pengawal dan suara benturan senjata memenuhi seluruh aula.

Suasana seketika kacau. Para wanita menjerit, sementara para tamu berlarian menyelamatkan diri.

Rendra langsung melindungi Puspa dengan berdiri di depannya. Dia mencabut pedang yang terselip di pinggang dan berteriak dengan tegas, "Jangan pedulikan aku! Lindungi Putri Mahkota!"

Gerakan pedangnya tajam dan cepat. Dalam sekejap, dia menangkis serangan dua pembunuh sekaligus. Dari sudut matanya, dia melihat ke arah Suci. Tampaknya Suci terdorong-dorong oleh kerumunan yang panik dan kini berdiri sendirian tanpa ada yang melindunginya.

Rendra seketika tersentak. Dia baru hendak menyuruh orang melindungi Suci, tetapi tepat pada saat perhatiannya teralihkan, sebuah anak panah dari busur silang memelesat tanpa suara, mengarah tepat ke punggungnya.

Rendra sedang menghadapi dua pembunuh sekaligus dan sama sekali tidak menyadarinya!

Pada saat yang sama, Suci entah didorong siapa dengan kuat. Kakinya kehilangan pijakan dan tubuhnya terhuyung ke depan. Tanpa sengaja, dia justru jatuh tepat ke arah Rendra.

Wuss!

Rendra hanya sempat merasakan tubuhnya tiba-tiba terasa berat dalam pelukan. Cairan hangat seketika membasahi bagian depan pakaiannya.

Dengan wajah tak percaya, dia menunduk dan melihat wajah Suci yang pucat seperti salju di hadapannya. Sebatang anak panah menancap di dadanya, sementara bulu pada ekor anak panah itu masih bergetar.

Wanita ini ... melindunginya dari anak panah?

Kepanikan hebat dan guncangan yang belum pernah dirasakan sebelumnya sontak mencengkeram jantung Rendra. Dia buru-buru memeluk tubuh Suci yang perlahan merosot. Suaranya bahkan berubah karena panik.

"Suci! Kamu gila?! Kamu bahkan nggak peduli dengan nyawamu sendiri?! Kenapa ... kenapa kamu melindungiku dari anak panah?!"

Suci membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu, tetapi yang keluar justru seteguk darah yang membasahi tangan Rendra.

Dia ingin mengatakan bahwa bukan begitu. Dia tidak bermaksud melindungi Rendra dari anak panah. Dia hanya didorong ....

Namun, dia benar-benar lelah. Kelopak matanya terasa begitu berat.

Sebelum kesadarannya sepenuhnya tenggelam dalam kegelapan, samar-samar dia mendengar teriakan Rendra yang nyaris putus asa.

"Panggil tabib sekarang juga! Selamatkan dia! Aku perintahkan kalian untuk menyelamatkannya! Kalau terjadi sesuatu padanya, kalian semua akan ikut dikubur bersamanya!"

Sesaat kemudian, terdengar suara tabib yang gemetar.

"Pangeran ... anak panahnya mengandung racun yang sangat mematikan. Nyonya bisa diselamatkan atau nggak, semuanya tergantung pada takdir ...."

"Takdir?! Aku nggak mau dengar soal takdir! Cari cara! Selamatkan dia! Dia nggak boleh mati!"

Tidak boleh mati .... Dia juga tidak ingin mati. Dia sudah bersusah payah bertahan hingga hari ini. Kebebasan sudah begitu dekat. Bagaimana mungkin dia mati di sini?

Ketakutan dan kepedihan yang begitu besar, ditambah keengganan dan keputusasaan yang sudah terpendam selama lima tahun, berubah menjadi air mata panas yang mengalir dari sudut matanya.

Dalam keadaan tak sadarkan diri, dia merasakan sepasang tangan besar yang dingin dan sedikit gemetar menyentuh pipinya dengan lembut, lalu menghapus air matanya dengan hati-hati.

"Jangan takut .... Aku di sini. Aku pasti akan menyelamatkanmu."

Apakah itu Rendra? Namun, bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin dia bersikap selembut itu kepadanya? Pasti pendengarannya keliru.

Kesadaran Suci pun sepenuhnya tenggelam ke dalam kegelapan.

Ketika kembali sadar, Suci sudah berada di kamar tidurnya sendiri. Dia membuka mata dengan susah payah. Pandangannya masih kabur selama beberapa saat sebelum dia akhirnya bisa melihat dengan jelas keadaan di sisi ranjang.

Rendra ternyata berjaga di sana. Satu tangannya menopang dahi, matanya terpejam. Sepertinya dia tertidur.

Dia masih mengenakan pakaian sehari-hari berwarna hitam yang sama. Hanya saja, kini pakaiannya tampak kusut, rambutnya juga sedikit berantakan. Lingkaran hitam tampak jelas di bawah matanya, sementara dagunya mulai ditumbuhi janggut pendek.

Putra Mahkota yang biasanya selalu rapi, berwibawa, dan begitu memperhatikan penampilan, kini justru memperlihatkan sisi dirinya yang begitu lelah dan berantakan.

Seolah menyadari gerakan Suci, Rendra tiba-tiba terbangun dan mengangkat kepala.

Pandangan mereka bertemu.

Mata Rendra seketika dipenuhi kegembiraan yang luar biasa. "Kamu sudah sadar? Bagaimana keadaanmu? Masih sakit? Ada bagian tubuhmu yang nggak nyaman? Tabib! Cepat panggil tabib!"

Pertanyaannya meluncur bertubi-tubi. Mata Rendra yang memerah karena kurang tidur dan kepedulian yang sama sekali tidak dia sembunyikan membuat Suci terpaku sejenak.

"Pangeran ...." Suaranya lemah dan serak. "Pangeran ... terus berjaga di sini?"

Mendengar pertanyaannya, ekspresi Rendra sempat membeku. Tampaknya dia merasa sedikit canggung. Matanya bergerak dengan gelisah. Namun, pada akhirnya dia tidak menyangkalnya. Dia hanya berkata pelan.

"Kamu melindungiku dari anak panah itu. Kalau bukan karena kamu, orang yang terbaring dalam keadaan sekarat seharusnya adalah aku."

Dia terdiam sejenak, lalu menatap Suci dengan tatapan yang sulit dijelaskan. "Selama bertahun-tahun, selalu aku yang melindungi orang lain. Aku melindungi Ayah dan Ibu, melindungi Puspa, melindungi negeri ini. Ini pertama kalinya ada seseorang yang rela mempertaruhkan nyawanya untuk melindungiku."

"Suci, kamu nggak takut mati? Atau ... kamu begitu mencintaiku ... sampai kamu bahkan nggak takut mati?"

Suci benar-benar terpaku. Pria ini salah paham. Dia benar-benar salah paham.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 24

    Tabib istana terkejut dan segera berlutut."Yang Mulia! Jangan! Tubuh Yang Mulia sangat berharga dan ini menyangkut keberlangsungan negara! Cara sesat seperti ini akan membahayakan tubuh Yang Mulia. Hamba rela mati berkali-kali, tapi nggak berani melakukannya!""Aku bilang, pakai darahku." Rendra mengulanginya dengan nada tegas. "Nggak perlu banyak bicara. Segera persiapkan semua. Kalau dia nggak berhasil diselamatkan, kamu akan dikubur bersamanya. Kalau satu kata saja bocor, seluruh keluargamu akan dihukum mati."Wajah tabib istana seketika pucat pasi, lalu tubuhnya lunglai di lantai.Selama tujuh hari berikutnya, Rendra menutup diri dengan alasan sedang menjalani pertapaan dan tidak menemui siapa pun.Setiap hari, dengan tangan gemetar ketakutan, tabib istana mengambil semangkuk penuh darah hangat dari jantungnya.Setiap kali darah diambil, rasanya seperti berjalan melewati gerbang kematian. Rasa sakit yang luar biasa, tubuh yang semakin lemah, hawa dingin yang menusuk, kesadaran yan

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 23

    Tak lama kemudian, kabar datang dari kota perbatasan.Di sebuah kediaman jenderal yang sederhana tetapi hangat di perbatasan, Suci dan Wira melangsungkan upacara pernikahan.Saat upacara selesai, salju tipis yang jarang turun di perbatasan mulai berjatuhan. Kepingan salju beterbangan, jatuh di gaun pengantin dan rambut Suci.Dia mendongak, memandangi salju yang memenuhi langit. Dalam keadaan linglung, dia seakan kembali melihat sosok Putra Mahkota yang ditemuinya bertahun-tahun lalu di Istana Timur, berdiri di tengah aula megah dan memandangnya dengan dingin dan penuh keangkuhan.Dia sempat tertegun, tetapi segera tersenyum lega.Segala yang telah berlalu, cinta dan kebencian yang berbelit, perjuangan yang penuh penderitaan, perpisahan dan kematian, semuanya ikut jatuh bersama salju di perbatasan ini, mencair, lalu meresap ke dalam tanah.Kaisar baru naik takhta. Keadaan pemerintahan perlahan kian kokoh.Para pejabat dan panglima perang berkali-kali mengajukan petisi, meminta agar ista

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 22

    Suci berdiri terpaku, menatap mulut prajurit yang bergerak membuka dan menutup untuk menyampaikan kabar itu. Telinganya berdenging, membuatnya tak mampu mendengar apa pun dengan jelas.Hanya beberapa kata seperti "jatuh dari tebing" dan "hidup atau mati belum diketahui" yang terus menghantam gendang telinganya berulang kali.Dia perlahan duduk, tepat di tengah kekacauan itu, lalu diam tak bergerak. Dari siang hingga larut malam, dari larut malam hingga fajar.Pada petang hari ketiga, Wira kembali ke perkemahan utama dengan tubuh penuh luka dan kelelahan.Dia menemukan Rendra tersangkut di sebatang pohon kering di pertengahan tebing. Seluruh tubuh Rendra berlumuran darah, beberapa tulangnya patah, dan napasnya begitu lemah hingga nyaris tak terasa.Namun di tangannya, dia menggenggam erat sebuah tusuk konde giok yang berlumuran darah.Wira mengenalinya. Itu milik Suci.Dengan perasaan yang rumit, Wira menyelamatkan Rendra dan kemudian mengutus orang untuk mempertaruhkan nyawa mengambil

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 21

    Demam tinggi membuat pandangannya kabur, tetapi pendengarannya justru menjadi jauh lebih tajam.Dari tenda di sebelah, samar-samar terdengar suara yang tertahan. Isak tangis lirih seorang wanita, napas berat seorang pria, serta suara ranjang yang bergoyang pelan ....Semua itu seperti pisau-pisau membara yang mengiris gendang telinga dan jantungnya perlahan.Dia menggigit bibir bawahnya erat-erat hingga bau amis darah menyebar di dalam mulut. Kukunya mencengkeram erat kasur di bawah tubuhnya. Dia nyaris melukai telapak tangannya sendiri.Dia ingin menerjang ke sana, ingin berteriak, ingin membunuh. Namun, seluruh tubuhnya terasa luar biasa sakit. Demam tinggi membuatnya tak berdaya, bahkan menggerakkan satu jari pun terasa begitu sulit.Dengan mata merah menyala, dia hanya bisa terbaring di sana, mendengarkan suara yang menandakan bahwa dirinya sudah kehilangan segalanya, mendengarkan wanita yang dicintainya menikmati tubuh pria lain.Sepanjang malam, dia seolah disiksa di dalam kuali

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 20

    Amarah yang tak jelas asalnya bercampur dengan kekhawatiran yang begitu kuat. Keduanya pun seketika membara di hati Rendra. Tanpa berpikir panjang, dia langsung memacu kudanya ke arah Suci, berniat menariknya dari sana dan mengantarkannya ke tempat yang aman di garis belakang.Namun, tepat ketika dia memacu kudanya ke depan, sesuatu yang tak terduga terjadi.Sebuah anak panah yang dilepaskan dari sudut yang sulit ditebak memelesat dari tengah pasukan yang kacau di sisi medan perang. Anak panah itu langsung mengarah ke punggung Wira.Wira sedang mengerahkan seluruh tenaganya menghadapi beberapa pasukan berkuda musuh di depannya dan sama sekali tidak menyadarinya."Wira!" Pupil mata Suci menyempit. Dia berteriak panik dan berlari sekuat tenaga ke depan, tetapi terhalang oleh kerumunan yang kacau.Dalam sekejap, sesosok berpakaian hitam tiba-tiba menerjang dari samping dan menghantam Wira dengan keras, menjatuhkannya dari punggung kuda.Jleb! Suara anak panah yang menembus daging terdenga

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 19

    Rendra perlahan mengangkat kepala dan menatapnya. Di bawah cahaya lilin, wajah Suci tampak tenang, dingin, bahkan menyiratkan sedikit rasa muak.Di sana, tidak ada lagi kelembutan dan kesabaran yang dulu selalu ditunjukkannya. Terlebih lagi, tidak ada cinta yang selama ini Rendra kira diam-diam tersimpan di hati Suci.Yang tersisa hanyalah ketidakpedulian yang sepenuhnya dingin.Akhirnya, dia menyadari dengan sangat jelas, dia sudah kehilangan Suci untuk selamanya.Dengan berpegangan pada tepi ranjang, dia terhuyung bangkit. Untuk terakhir kalinya, dia menatap Suci dalam-dalam, seolah ingin mengukir wajahnya jauh ke dalam jiwa.Kemudian, dia berbalik. Seperti tubuh kosong yang sudah kehilangan jiwanya, dia berjalan sempoyongan meninggalkan kamar dan menyatu dalam kegelapan yang terbentang tanpa batas.Malam itu, Rendra berjalan tanpa tujuan di jalanan dingin daerah perbatasan. Pada akhirnya, dia masuk ke sebuah kedai arak sederhana yang belum tutup. Dia mengeluarkan semua barang berhar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status