Share

Bab 3

Author: Bibi
Dion tampaknya merasa agak tidak tega. Suaranya semakin pelan. "Tapi, Nyonya baru saja melahirkan dan tubuhnya masih sangat lemah. Selama bertahun-tahun, dia sudah melahirkan lima anak. Kalaupun nggak bisa dibilang berjasa, setidaknya dia sudah banyak berkorban."

"Hamba bisa melihat kalau Nyonya sangat mencintai Pangeran. Pangeran juga bukan ... nggak memiliki perasaan untuk Nyonya. Jadi, kenapa nggak ...."

"Dion!" Suara Rendra tiba-tiba menjadi dingin, disertai sedikit kepanikan. "Jangan asal bicara! Bagaimana mungkin aku punya perasaan terhadap Suci?"

"Aku tinggal di sini hanya untuk memastikan nyawanya nggak terancam. Aku nggak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya, lalu Ibu menjadikannya alasan untuk mempersulit Puspa."

Nada bicaranya tegas tanpa sedikit pun keraguan, seolah sedang meyakinkan diri sendiri. "Dia mencintaiku atau nggak ... itu urusan dia. Di dalam hatiku, hanya ada Puspa seorang."

Dion sepertinya masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya hanya menghela napas dan tidak berkata apa-apa lagi.

Suasana di dalam paviliun kembali hening.

Beberapa saat kemudian, Suci mendengar suara gesekan kain. Sepertinya Rendra berdiri. Pria itu berjalan ke sisi ranjang dan berhenti sejenak. Suci bisa merasakan tatapannya tertuju pada wajahnya.

Kemudian, dia mendengar suara Rendra yang rendah, seolah sedang berbicara kepada diri sendiri, tetapi juga seolah ditujukan kepada Suci yang masih tak sadarkan diri, "Rawat dirimu baik-baik. Jangan bikin masalah lagi."

Terdengar suara langkah kaki yang perlahan menjauh. Setelah memastikan Rendra benar-benar pergi, Suci baru perlahan membuka mata.

Sulaman pada kelambu di atas tampak bergoyang. Pandangannya masih kabur. Wajahnya terasa sangat sakit, sementara hatinya terasa kosong dan mati. Bahkan amarah dan kesedihan pun sudah tak mampu dia rasakan.

Yang tersisa hanya kelelahan yang mendalam dan keinginan yang begitu kuat untuk segera pergi dari sini.

Selama beberapa hari berikutnya, dengan berbagai alasan, Rendra mengirimkan banyak tonik, hadiah, kain sutra, perhiasan, dan berbagai barang berharga lainnya hingga benda-benda itu menumpuk memenuhi separuh ruangan.

Suci bahkan tidak meliriknya. Dia tidak ingin memikirkan apakah semua pemberian itu merupakan bentuk ganti rugi atas perlakuan Puspa, atau karena sedikit kepedulian dan rasa bersalah yang bahkan Rendra sendiri enggan mengakuinya.

Dia hanya ingin segera memulihkan tubuhnya dan pergi dari tempat ini.

Suci menutup pintu kediaman dan menjalani masa pemulihan setelah melahirkan dengan tenang. Dia tidak memedulikan apa pun yang terjadi di luar.

Hingga pada hari ulang tahun Puspa, sebagai seorang selir, dia mau tak mau harus menghadiri acara itu.

Acara itu digelar di aula bunga terbesar di kediaman Putra Mahkota dan dihiasi dengan sangat mewah.

Kasih sayang Rendra kepada Puspa terlihat begitu jelas. Bukan hanya pestanya yang megah, hadiah ulang tahun yang diberikannya kepada Puspa bahkan membuat semua orang terkejut.

Bukan perhiasan yang tak ternilai harganya, bukan pula barang antik langka, melainkan sebuah lukisan sepanjang sepuluh meter.

Di atasnya tergambar kisah yang dilukis sendiri oleh Rendra, tentang berbagai kenangan dirinya dan Puspa sejak mereka tumbuh bersama hingga menjadi pasangan pengantin baru. Setiap goresan kuasnya dipenuhi kesungguhan dan jerih payah.

Di ujung lukisan itu, bahkan tertera sumpah yang ditulis sendiri olehnya.

[ Menjadi suami istri seumur hidup, menua bersama dalam cinta, tanpa pernah saling meragukan. ]

Dengan kedudukannya yang begitu tinggi, Rendra bersedia merendahkan diri dan mencurahkan begitu banyak tenaga untuk melakukan hal semacam ini. Para tamu tak henti-hentinya mengagumi dan merasa iri melihatnya.

Senyuman Puspa pun semakin merekah, wajahnya berseri-seri. Dia bersandar manja di sisi Rendra, seolah dirinya wanita paling bahagia di dunia.

Suci duduk di tempat yang tidak mencolok di bagian bawah. Dia menunduk dan perlahan menyesap arak buah yang sudah agak dingin di cangkirnya. Hatinya tetap tenang.

Di tengah acara, beberapa penari mempersembahkan tarian. Gerakan mereka anggun. Musik yang mengiringi terdengar sangat merdu.

Puspa menonton sejenak, tetapi tiba-tiba mengerucutkan bibir dan meletakkan cangkir kaca berwarna yang dipegangnya.

Rendra yang selalu memperhatikan setiap gerak-geriknya segera menyadarinya. "Ada apa?"

Puspa mengernyit dan menjawab dengan nada manja, "Pangeran, bukankah tarian yang dibawakan ini adalah Tarian Kecantikan Tiada Tara? Menurutku, wajah penari utamanya cuma bisa dibilang lumayan cantik. Mana pantas disebut kecantikan tiada tara?"

Matanya beralih dan tiba-tiba tertuju pada Suci yang duduk di bagian bawah. Sudut bibirnya pun terangkat membentuk senyum penuh arti.

"Menurutku, wajah Suci sangat cantik. Dia ratusan kali lebih cantik daripada penari ini. Kira-kira ... Suci bersedia mengganti pakaian dan membawakan Tarian Kecantikan Tiada Tara untuk menghibur kita nggak?"

Setelah kata-kata itu terlontar, seluruh aula seketika sunyi. Semua orang saling memandang, bahkan musik dan tarian pun berhenti.

Apalah kedudukan seorang penari? Mereka cuma hiburan untuk menyenangkan orang lain. Jika seorang selir diminta tampil seperti penari untuk menghibur para tamu, Suci mungkin akan menjadi bahan tertawaan di seluruh ibu kota.

Kalau Rendra masih memiliki sedikit saja kepedulian terhadap Suci, sekalipun hanya demi menjaga martabat kediaman Putra Mahkota, dia mungkin tidak akan menyetujui permintaan yang keterlaluan ini.

Semua mata tertuju kepada Rendra.

Benar saja, wajah Rendra langsung muram. Alisnya berkerut erat. Dia menatap Puspa dengan ekspresi tidak setuju.

"Puspa, jangan bikin ulah. Dia ...."

"Pangeran ...," sela Puspa. Matanya seketika memerah, sementara suaranya terdengar manja dan penuh rasa kecewa.

"Hari ini ulang tahunku. Aku hanya ingin menikmati pertunjukan yang menyenangkan. Kemampuan menari Suci pasti sangat bagus. Masa Pangeran nggak mau mengabulkan permintaan kecilku ini? Jangan-jangan sekarang Pangeran mulai memikirkan wanita lain dan nggak lagi peduli dengan perasaanku?"

Kalimat terakhir itu seperti pisau yang langsung menusuk hati Rendra.

Rendra memandang Puspa yang tampak hampir menangis. Dia kembali teringat pada sumpah yang pernah diucapkannya dan rasa bersalahnya karena sudah mengecewakan Puspa selama bertahun-tahun. Keraguan kecil yang sempat muncul dalam hatinya pun seketika lenyap.

"Suci, Putri Mahkota ingin melihatmu menari. Kamu pergi ganti pakaian dan bawakan satu tarian untuknya."

Jari-jari Suci yang menggenggam cangkir mengencang. Ujung jarinya memutih. Dia perlahan meletakkan cangkir, lalu berdiri dan menekukkan lutut untuk memberi hormat kepada Rendra.

"Baik ...."

Dia pergi ke paviliun samping untuk berganti pakaian penari. Gaun itu tipis dan mencolok. Ketika dikenakan di tubuhnya, pakaian itu menonjolkan lekuk tubuhnya. Tubuhnya masih belum pulih sepenuhnya setelah melahirkan, tetapi masih tetap ramping.

Dipadukan dengan wajahnya yang pucat tetapi tetap cantik, penampilannya justru menghadirkan keindahan yang rapuh dan begitu memukau hingga membuat hati bergetar.

Mengikuti alunan musik, Suci mulai menari. Gerakannya ringan dan mengalir. Setiap kali dia menoleh atau berputar, keanggunan yang seolah telah menyatu secara alami dengan dirinya pun terpancar. Dia terlihat jauh lebih memukau daripada penari yang tampil sebelumnya.

Namun, tak seorang pun dari para tamu bertepuk tangan. Yang terdengar hanya bisikan pelan dan tatapan yang sebagian dipenuhi rasa iba. Sebagian orang bahkan menunjukkan penghinaan.

Rendra duduk di tempat kehormatan, memandangi sosok yang menari dengan anggun di tengah aula.

Kenapa dia tidak menangis? Kenapa dia tidak membuat keributan? Bahkan untuk menolak pun dia tidak melakukannya? Apakah Suci ... benar-benar begitu mencintainya? Sampai-sampai apa pun yang dia katakan, itulah yang akan dilakukannya?

Anak-anaknya diambil, dia menurut. Disuruh menari di depan semua orang, dia juga menurut.

Rasa gelisah dan sesak yang tak dapat dijelaskan tiba-tiba memenuhi hati Rendra, membuatnya merasa sedikit sulit bernapas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 24

    Tabib istana terkejut dan segera berlutut."Yang Mulia! Jangan! Tubuh Yang Mulia sangat berharga dan ini menyangkut keberlangsungan negara! Cara sesat seperti ini akan membahayakan tubuh Yang Mulia. Hamba rela mati berkali-kali, tapi nggak berani melakukannya!""Aku bilang, pakai darahku." Rendra mengulanginya dengan nada tegas. "Nggak perlu banyak bicara. Segera persiapkan semua. Kalau dia nggak berhasil diselamatkan, kamu akan dikubur bersamanya. Kalau satu kata saja bocor, seluruh keluargamu akan dihukum mati."Wajah tabib istana seketika pucat pasi, lalu tubuhnya lunglai di lantai.Selama tujuh hari berikutnya, Rendra menutup diri dengan alasan sedang menjalani pertapaan dan tidak menemui siapa pun.Setiap hari, dengan tangan gemetar ketakutan, tabib istana mengambil semangkuk penuh darah hangat dari jantungnya.Setiap kali darah diambil, rasanya seperti berjalan melewati gerbang kematian. Rasa sakit yang luar biasa, tubuh yang semakin lemah, hawa dingin yang menusuk, kesadaran yan

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 23

    Tak lama kemudian, kabar datang dari kota perbatasan.Di sebuah kediaman jenderal yang sederhana tetapi hangat di perbatasan, Suci dan Wira melangsungkan upacara pernikahan.Saat upacara selesai, salju tipis yang jarang turun di perbatasan mulai berjatuhan. Kepingan salju beterbangan, jatuh di gaun pengantin dan rambut Suci.Dia mendongak, memandangi salju yang memenuhi langit. Dalam keadaan linglung, dia seakan kembali melihat sosok Putra Mahkota yang ditemuinya bertahun-tahun lalu di Istana Timur, berdiri di tengah aula megah dan memandangnya dengan dingin dan penuh keangkuhan.Dia sempat tertegun, tetapi segera tersenyum lega.Segala yang telah berlalu, cinta dan kebencian yang berbelit, perjuangan yang penuh penderitaan, perpisahan dan kematian, semuanya ikut jatuh bersama salju di perbatasan ini, mencair, lalu meresap ke dalam tanah.Kaisar baru naik takhta. Keadaan pemerintahan perlahan kian kokoh.Para pejabat dan panglima perang berkali-kali mengajukan petisi, meminta agar ista

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 22

    Suci berdiri terpaku, menatap mulut prajurit yang bergerak membuka dan menutup untuk menyampaikan kabar itu. Telinganya berdenging, membuatnya tak mampu mendengar apa pun dengan jelas.Hanya beberapa kata seperti "jatuh dari tebing" dan "hidup atau mati belum diketahui" yang terus menghantam gendang telinganya berulang kali.Dia perlahan duduk, tepat di tengah kekacauan itu, lalu diam tak bergerak. Dari siang hingga larut malam, dari larut malam hingga fajar.Pada petang hari ketiga, Wira kembali ke perkemahan utama dengan tubuh penuh luka dan kelelahan.Dia menemukan Rendra tersangkut di sebatang pohon kering di pertengahan tebing. Seluruh tubuh Rendra berlumuran darah, beberapa tulangnya patah, dan napasnya begitu lemah hingga nyaris tak terasa.Namun di tangannya, dia menggenggam erat sebuah tusuk konde giok yang berlumuran darah.Wira mengenalinya. Itu milik Suci.Dengan perasaan yang rumit, Wira menyelamatkan Rendra dan kemudian mengutus orang untuk mempertaruhkan nyawa mengambil

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 21

    Demam tinggi membuat pandangannya kabur, tetapi pendengarannya justru menjadi jauh lebih tajam.Dari tenda di sebelah, samar-samar terdengar suara yang tertahan. Isak tangis lirih seorang wanita, napas berat seorang pria, serta suara ranjang yang bergoyang pelan ....Semua itu seperti pisau-pisau membara yang mengiris gendang telinga dan jantungnya perlahan.Dia menggigit bibir bawahnya erat-erat hingga bau amis darah menyebar di dalam mulut. Kukunya mencengkeram erat kasur di bawah tubuhnya. Dia nyaris melukai telapak tangannya sendiri.Dia ingin menerjang ke sana, ingin berteriak, ingin membunuh. Namun, seluruh tubuhnya terasa luar biasa sakit. Demam tinggi membuatnya tak berdaya, bahkan menggerakkan satu jari pun terasa begitu sulit.Dengan mata merah menyala, dia hanya bisa terbaring di sana, mendengarkan suara yang menandakan bahwa dirinya sudah kehilangan segalanya, mendengarkan wanita yang dicintainya menikmati tubuh pria lain.Sepanjang malam, dia seolah disiksa di dalam kuali

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 20

    Amarah yang tak jelas asalnya bercampur dengan kekhawatiran yang begitu kuat. Keduanya pun seketika membara di hati Rendra. Tanpa berpikir panjang, dia langsung memacu kudanya ke arah Suci, berniat menariknya dari sana dan mengantarkannya ke tempat yang aman di garis belakang.Namun, tepat ketika dia memacu kudanya ke depan, sesuatu yang tak terduga terjadi.Sebuah anak panah yang dilepaskan dari sudut yang sulit ditebak memelesat dari tengah pasukan yang kacau di sisi medan perang. Anak panah itu langsung mengarah ke punggung Wira.Wira sedang mengerahkan seluruh tenaganya menghadapi beberapa pasukan berkuda musuh di depannya dan sama sekali tidak menyadarinya."Wira!" Pupil mata Suci menyempit. Dia berteriak panik dan berlari sekuat tenaga ke depan, tetapi terhalang oleh kerumunan yang kacau.Dalam sekejap, sesosok berpakaian hitam tiba-tiba menerjang dari samping dan menghantam Wira dengan keras, menjatuhkannya dari punggung kuda.Jleb! Suara anak panah yang menembus daging terdenga

  • Setelah Melahirkan Anak Kelima, Selir Meminta Kebebasan   Bab 19

    Rendra perlahan mengangkat kepala dan menatapnya. Di bawah cahaya lilin, wajah Suci tampak tenang, dingin, bahkan menyiratkan sedikit rasa muak.Di sana, tidak ada lagi kelembutan dan kesabaran yang dulu selalu ditunjukkannya. Terlebih lagi, tidak ada cinta yang selama ini Rendra kira diam-diam tersimpan di hati Suci.Yang tersisa hanyalah ketidakpedulian yang sepenuhnya dingin.Akhirnya, dia menyadari dengan sangat jelas, dia sudah kehilangan Suci untuk selamanya.Dengan berpegangan pada tepi ranjang, dia terhuyung bangkit. Untuk terakhir kalinya, dia menatap Suci dalam-dalam, seolah ingin mengukir wajahnya jauh ke dalam jiwa.Kemudian, dia berbalik. Seperti tubuh kosong yang sudah kehilangan jiwanya, dia berjalan sempoyongan meninggalkan kamar dan menyatu dalam kegelapan yang terbentang tanpa batas.Malam itu, Rendra berjalan tanpa tujuan di jalanan dingin daerah perbatasan. Pada akhirnya, dia masuk ke sebuah kedai arak sederhana yang belum tutup. Dia mengeluarkan semua barang berhar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status